LOGIN"Dua minggu, Susan! Dua minggu aku berusaha mendekatinya dan hasilnya nihil. Ditambah dengan satu minggu sebelumnya sejak pertama kali aku bertemu dengannya lagi, berarti total sudah tiga minggu lebih!" Velia mengunjungi Susan lagi di penjara untuk berkeluh kesah, dan kali ini, Velia sangat berapi-api."Mendekati dia benar-benar seperti mendekati Pastor, kau tahu itu! Bahkan Pastor masih ramah dan akan menanggapi kita, tapi Leo sangat dingin dan terus mengoper aku pada karyawan yang lain, padahal yang kuinginkan hanya dia! Hanya dia, Susan!" imbuh Velia penuh kesal. Namun, ekspresi Susan tampak biasa saja, malahan Susan lega. "Syukurlah kalau kau belum berhasil, Velia!" Velia membelalak kesal. "Susan, mengapa kau bukannya membelaku malah ada di pihak mereka, hah? Jangan lupa apa yang sudah Elisa lakukan padamu! Pasti dia senang melihatmu di penjara bahkan mengolokmu di luar sana! Lihat saja, bahkan satu kali pun, dia tidak pernah menjengukmu kan? Dia pasti tidak menganggapmu lagi!
Dua minggu berlalu, pasangan Leo dan Elisa makin mesra. Mereka mulai giat melakukan olahraga ranjang karena setelah merasakan satu kali, keduanya sama-sama ketagihan. Alden pun makin sering tidur di kamar bayi ditemani oleh Bik Imah. Dan bayi montok itu makin mandiri. Alden jarang menangis, sering tertawa, setiap minta susu, ia akan memanggil dengan suara lucunya. Leo dan Elisa pun menjadi makin tenang bekerja meninggalkan sang buah hati di rumah. Sementara itu, pertemuan Leo dan Velia sendiri juga makin sering karena pembahasan tentang proyek juga makin serius. Dan Velia pun berusaha makin dekat dan makin dekat. Dalam dua minggu terakhir ini, Velia terus berusaha mencari celah untuk mendekati Leo.Namun, semakin ia berusaha mendekat, semakin pria itu terasa seperti dinding tinggi yang tidak memiliki celah sedikit pun.Awalnya Velia mengira semuanya akan mudah karena hampir setiap hari dirinya ke kantor Leo untuk berunding bersama pria itu. Velia pikir akan ada celah mereka saling
Elisa membuka matanya pagi itu dan mendapati suaminya yang sedang menatapnya intens. Leo sudah bangun duluan, tapi bukannya melihat bayi mereka, Leo malah menatap istrinya yang masih tertidur pulas itu. "Selamat pagi, Sayang." "Leo! Selamat pagi! Kau sudah bangun dari tadi?" "Cukup lama untuk menatap berbagai ekspresi tidurmu." "Astaga, Leo! Haha! Kita sudah menikah dan punya anak, jadi jangan membuatku terus tersipu seperti anak remaja!" Leo tergelak dan langsung memeluk istrinya itu. Elisa pun bersandar nyaman di pelukan Leo. Saking nyamannya rasanya ia ingin memejamkan mata lagi. "Hmm, jam berapa ini? Aku masih ngantuk, kau membuatku begadang semalam," ucap Elisa dengan suara yang masih serak. Leo memang membuatnya begadang semalam. Setelah mereka menyelesaikan satu ronde, Leo masih belum puas. "Aku sudah puasa sangat lama, Sayang. Jadi buka puasanya harus dengan makan besar." "Seberapa besar, Leo?" Leo tidak pernah menjawabnya dengan kata-kata karena Leo langsung menyera
Unboxing jahitan dokter ....Elisa benar-benar tersipu mendengar ucapan Leo yang begitu vulgar. "Haha, bahasamu makin menggila, Leo!" protes Elisa. "Apanya yang menggila, Sayang? Aku benar kan? Aku penasaran sesempit aja rasanya." "Leo!" Elisa tergelak dan memukul manja dada suaminya itu. Leo pun menangkap tangan Elisa, sebelum ia menggeser tubuhnya makin dekat. Keduanya saling tertawa sambil menatap intens. "Jadi pintu kamarnya sudah dikunci atau belum? Jangan sampai mendadak Bik Imah membawa Alden masuk," bisik Elisa tepat di depan wajah Leo. "Tentu saja sudah, Sayang." "Haha, kapan kau melakukannya, hah?" "Tadi begitu masuk." "Kau sudah merencanakan ini ya?" Leo tidak menjawab dan mulai mencium Elisa di pipinya. "Hmm, Leo ...," desah Elisa, apalagi saat tangan besar Leo mulai menyusuri lengan Elisa, bahunya, turun ke pergelangan tangan, lalu mengaitkan jari-jari mereka.Elisa memejamkan mata dengan jantung yang menderu kencang. "Kau tahu, Leo. Aku tegang sekali." "Apa
Velia benar-benar ingin berteriak saat mendapat pesan tersirat dari Elisa. Ia bukan orang bodoh yang tidak mengerti apa maksud Elisa, tapi sebisa mungkin, ia tetap bersikap tenang dan memaksakan senyumnya. "Tentu saja, Elisa. Kalau aku jadi kau, aku juga akan menjaga baik-baik suamiku dan tidak akan membiarkan wanita lain mendekatinya." Lagi-lagi Elisa tersenyum dan mengangkat gelasnya. "Kalau begitu, mari kita bersulang untuk pikiran kita yang sejalan, Velia. Aku sedih sekali memikirkan para wanita seperti Susan dulu yang harus mencintai pria yang salah, pria yang sudah terikat dengan wanita lain." Elisa mengembuskan napas panjangnya. "Masih banyak pria single yang bisa dikejar, yang jelas, jangan suami orang!" tegas Elisa yang lagi-lagi membuat senyuman Velia memudar. Tangannya mengepal lagi di bawah meja dan hatinya panas. Untung saja, sebelum ia sempat menyahut, Leo sudah datang duluan. "Apa yang kalian bicarakan, hmm?" Lagi-lagi Leo membelai singkat punggung Elisa. Elisa la
Makan siang yang awalnya sudah dibayangkan Velia sebagai kesempatan emas untuk mendekati Leo kini berubah menjadi mimpi buruk kecil yang tidak pernah ia bayangkan.Mereka bertiga tiba di sebuah restoran yang cukup eksklusif tidak jauh dari gedung Hartono Group.Begitu sampai di meja, Velia langsung memilih kursi yang berhadapan dengan Leo.Namun, baru saja ia menarik kursinya, Elisa sudah duduk di sebelah Leo dan mereka saling bertatapan mesra. Velia sudah menahan dirinya dan mencoba bersikap biasa. "Ah, restoran ini ramai sekali. Tapi mari kita pesan dulu!" seru Velia untuk memisahkan Leo dan Elisa. "Aku dan Leo suka sekali makan di restoran ini, Velia. Dan Leo lebih tahu apa yang aku suka dibanding aku sendiri. Benar kan, Sayang?" Elisa sengaja menunjukkan kemesraannya dengan Leo. Elisa sendiri sudah tahu Velia akan datang ke kantor dari Leo dan Elisa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan wanita itu. Leo pun langsung memesan makanan pada pelayan, sampai Velia lagi-
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







