ログイン"Bawa dia ke rumah sakit! Tolong bawa dia ke rumah sakit!" Gary terus berteriak cemas, sebelum akhirnya ambulans datang untuk mengangkut orang-orang yang terluka. Petugas pemadam kebakaran sendiri sudah datang di lokasi dan mengatasi kebakaran dengan sangat tidak mudah. Tapi semua orang sudah tidak peduli lagi dengan isi di dalam, yang mereka pedulikan hanyalah bagaimana semua sandera yang akhirnya selamat. "Gary ...," lirih Leo. "Bagaimana Elisa? Bagaimana Elisa?" Bahkan dalam tubuh yang begitu lelah, Leo masih memikirkan Elisa. "Dia sudah di ambulans, Bos. Tenang saja, semua akan baik-baik saja! Kau juga akan segera dibawa ke rumah sakit!" "Pastikan dia selamat, Gary! Pastikan dia selamat!" "Pasti, Bos!" Leo mengangguk dan untuk sesaat, memejamkan matanya menikmati bernapas dengan lega setelah sejak tadi tidak bisa bernapas di dalam gudang. Nila dan Rahmat sendiri juga dibawa ke rumah sakit dengan ambulans dengan Rahmat yang tidak berhenti menangis. Lega, syukur, takut, da
Wira menatap tajam pada semua orang di sana. Masih beberapa orang belum keluar dari gudang, termasuk Arman dan Darmawan, tapi Wira tidak bisa menunggu lagi. Ia harus membalaskan dendamnya. Tanpa peduli apa pun lagi, saat orang lain malah berusaha keras untuk keluar, Wira malah berusaha masuk lagi. Wira berlari melewati api sampai ia tiba di dalam. Ia terdiam sejenak menatap ruangan yang penuh api itu. Padahal rasanya panas, tapi mungkin beginilah saat iblis meminta kita berbuat jahat. Ia akan selalu membuat kita terlena dan nyaman. Di sisi lain, Leo sendiri masih menggendong Elisa begitu erat, ia menapak anak tangga yang rapuh itu setapak demi setapak. Bahkan saat ia sudah tiba di anak tangga terakhir, mendadak anak tangga di atasnya ambruk. "Sial!" geram Leo lagi. Elisa sudah pingsan dan lemas, membuatnya makin berat. Leo melangkah makin cepat ke arah pintu keluar, tapi ia segera mematung melihat siapa yang sedang berdiri di sana. "W-Wira?" Leo tegang, Leo pikir Wira akan men
Gary mematung. Bahkan untuk sepersekian detik, ia tetap mematung setelah mendengar perintah Leo. Leo sendiri langsung berlari, menyingkirkan orang-orang yang berusaha menabraknya. Kondisi masih sangat kacau, tapi Leo berlari ke tangga yang sudah mulai rapuh itu. "Bos! Bos!" teriak Gary. Bukannya ia membenci Elisa. Tentu saja Gary mendengar semuanya dan ia ikut sakit hati, tapi tidak bisa semudah itu ia membenci Elisa. Ia hanya tidak menyangka setelah mengetahui fakta itu, bosnya masih tetap peduli pada Elisa. Itulah yang membuat Gary sangat setia pada Leo, hatinya. "Gary, ayo keluar! Kita tidak punya waktu lagi!" seru Handi yang sudah membantu Rahmat menggendong Nila di punggungnya. "Lari, Rahmat! Lari sekencang mungkin, aku akan menghalau api apa pun!" seru Handi. "Baik, Pak!" seru Rahmat yang langsung berlari keluar menembus api yang sudah berdiri gagah di depan pintu. "Akhh!" pekik Rahmat saat merasakan panas di bagian kakinya setelah menembus api. "Itu Pak Handi dan Gary!
"Arman, cepat kita keluar dari sini! Panas sekali!" "Aku sedang berusaha, Ayah!" Dengan panik, Arman berusaha melihat ke depan. Semua listrik padam, hanya penerangan dari nyala api. Dan pemandangan yang ia lihat di sana sangat mengerikan. Api menyambar dengan cepat karena semua barang yang ada di dalam gudang cukup mudah terbakar. Dinding mulai mengelupas dan plafon mulai ambruk, tapi yang paling mengerikan adalah beberapa anak buah yang berlarian, saling menabrak dengan tubuh penuh api. Arman gemetar sesaat sampai mematung, ia berkeringat dan hampir buang air di celananya. Ia ketakutan, sangat ketakutan. Kalau dulu Arman bisa tertawa melihat orang yang tidak disukai terpanggang di dalam gudang, tapi kali ini, ia sendiri yang mungkin akan terpanggang hidup-hidup. Arman menggeleng, Arman menggeleng dengan napas ngos-ngosan, ia tidak mau mati dengan cara seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara dari atas. Arman menoleh ke atas dan langsung membelalak melihat plafon di atasnya mulai
Suara letusan senjata tidak hanya membuat semua orang di luar terdiam, tapi juga di dalam gudang. Mereka kaget mendengat ada suara tembakan, bahkan Arman dan Darmawan langsung panik. "Sial! Ada polisi? Memang dasar Leo brengsek! Brengsek! Sudah kubilang jangan memanggil polisi! Semuanya kacau! Semuanya kacau!" pekik Darmawan yang akhirnya duduk kembali di kursi rodanya. Arman pun makin cemas. "Kita harus segera pergi dari sini, Ayah! Kita harus ... uhuk! Uhuk! Bau apa ini? Asap? Ada banyak asap, Ayah!" Arman dan Darmawan menoleh ke sekeliling. Dari jendela kecil di sudut gudang, mereka melihat kobaran api yang menyala. "Apa ini? Api? Mengapa bisa ada api?" Belum sempat ada yang bicara lagi, sebuah ledakan terdengar dari sisi belakang gudang. Duar!Semua orang sontak berhenti bergerak dan menoleh ke arah sumber ledakan. Mereka pun langsung membelalak saat melihat kobaran api yang mulai masuk dengan cepat. Bau bensin menyeruak di mana-mana sampai semua orang panik. "Kebakaran! K
Suasana makin kacau saat Gary dan Handi berhasil masuk ke dalam gudang. Fokus anak buah terbelah. "Sialan, bagaimana mereka bisa masuk?" geram Arman yang masih berusaha keras mengangkat Darmawan. Tubuh tua itu berat, ditambah Darmawan mulai lemah, membuat bebannya makin berat. "Ah, angkat aku, Arman!" "Aku sudah berusaha, Ayah!" "Kalian yang lain, cepat singkirkan para penyusup itu!" Darmawan masih bisa memerintah dengan penuh amarah sekalipun seluruh tubuhnya sakit. "Baik, Pak!" Para anak buah masuk dalam perkelahian, sedangkan Arman membantu Darmawan kembali ke kursi rodanya. Sementara di atas sana, Rahmat masih berdiri di balkon dengan tangan yang terikat. Dua anak buah masih memeganginya, tapi melihat bagaimana situasi kacau, satu anak buah langsung ikut turun membantu. Hanya tinggal satu pria yang berdiri di samping Rahmat dan Rahmat tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. "Mati kau!" seru Rahmat yang langsung mendorong keras pria itu dengan bahunya. "Akhh!" "Brengse
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







