LOGINElisa membelalak dengan kedua tangan yang bergantung di dada Leo, menahan agar pria itu tidak maju lagi. "Jangan gila, Leo! Aku sama sekali tidak cemburu! Kau bebas dengan wanita mana pun dan itu tidak ada hubungannya dengan aku. Aku hanya tidak suka melihat sesama karyawan yang bersikap genit di kantor." Leo kembali tersenyum kecil, sebelum ia mengangguk. "Baiklah, aku mengerti, Bu. Tapi Anda tenang saja karena aku juga tidak tertarik pada Velia. Di mataku, Anda jauh lebih menarik," sahut Leo yang membuat Elisa menahan napasnya sejenak. Leo memujinya dan membuatnya salah tingkah, tapi ia harus tetap menjaga ekspresinya. "Apa pun itu, aku tidak peduli! Sekarang menyingkirlah dariku! Kau tahu ini masih di kantor kan? Aku ... aku tidak mau kita terlihat bersama!" sahut Elisa lagi dengan kegugupan yang terlihat jelas. Tepat saat itu, pintu lift terbuka di lantai yang lain. Namun, saking gugupnya, Elisa malah keluar dari sana. "Anda tidak mau turun lagi ke lantai 5, Bu?" "Aku akan
"Kerja bagus, Leo! Kau sudah menyelamatkan harga diriku di rapat barusan," bisik Eddy begitu rapat bubar. "Itu sudah tugasku, Pak." "Bagaimana kau bisa tahu tentang proyek itu?" "Aku sempat mempelajarinya dan aku sudah memikirkan solusi. Hanya saja, aku tidak berani mengatakan apa pun kalau Anda tidak memintanya. Aku hanya akan patuh pada Anda, Pak." Eddy terdiam sejenak. Pria penurut seperti Leo tidak mungkin bisa berkhianat seperti ucapan Fabian. Selama ini, Eddy selalu percaya, hanya Fabian yang membuatnya goyah. "Bagus, Leo! Kau memang paling bisa diandalkan! Setelah membereskan semua di ruang rapat, temui aku di ruanganku." "Baik, Pak!" Eddy melangkah duluan, sedangkan Fabian memicingkan matanya mendekati Leo."Kau tahu kalau Eddy tidak pernah memintamu mengurus proyek Amerta kan? Kau melakukan hal di luar jobdeskmu." "Apa itu salah, Pak Fabian? Pada akhirnya mau itu jobdesku atau bukan, aku tetap menyelamatkan harga diri Pak Eddy dan juga perusahaan. Aku tidak melihat di
Leo menatap laptopnya dengan sangat serius, seolah ia begitu fokus bekerja, padahal telinganya sedang mendengarkan sesuatu. Ya, Leo yang memasang alat perekam secara diam-diam di ruang kerja Eddy. Sejak Leo mendengarkan kebusukan Eddy di The Vault waktu itu, Leo mulai makin waspada. Ia memasang rekaman agar ia tahu semua yang Eddy rencanakan, termasuk bagaimana brengseknya Fabian yang menginginkan Elisa untuk dirinya sendiri. "Leo tidak akan berani, Fabian! Tidak akan berani." Suara Eddy kembali terdengar. "Kita tidak bisa menebak hatinya, Eddy! Semua orang akan berkhianat juga saat ada kesempatan. Orang miskin tidak bisa dipercaya karena matanya akan selalu hijau melihat uang. Apalagi kau memberinya uang dan kenikmatan istrimu sendiri." Hening sejenak. Eddy mengepalkan tangannya geram. "Kalau dia berani berkhianat, aku bersumpah akan menyingkirkannya, Fabian." "Lebih baik kau mulai waspada dan jangan bergantung padanya agar kau lebih mudah menyingkirkannya." Leo mendengarkan s
Elisa pasti sudah gila saat ia akhirnya dibonceng oleh Leo pagi itu. Elisa masih menolak tadi, tapi Gary muncul begitu cepat dengan sepeda motornya dan semuanya terjadi begitu saja. "Pegangan, Bu! Aku akan agak ngebut karena aku sudah terlambat," seru Leo, sebelum menutup helm teropongnya dan melajukan motornya. Ngung ....Elisa yang kaget terhentak sedikit ke depan sampai tubuh depannya menabrak punggung Leo. "Maaf, Bu," ucap Leo sambil tersenyum kecil merasakan sesuatu yang lunak di punggungnya. Elisa menahan dirinya. "Tidak apa," sahutnya sambil langsung berpegangan pada pegangan belakang agar mereka tidak bersentuhan lagi. Dan motor itu pun melaju makin jauh, meninggalkan Gary dan Bik Imah yang masih berdiri di depan rumah menyaksikan semuanya. "Apa menurut Bibik, Bos sengaja melakukannya, hah? Dia mengambil kesempatan agar dada Bu Elisa menempel di punggungnya! Oh, aku tidak bisa melihat ini. Seorang CEO, tapi mengambil kesempatan layaknya anak SMA!" omel Gary. Bik Imah ha
Elisa buru-buru memalingkan wajahnya. "Hmm, sudah lebih baik. Terima kasih. Tapi ... kau bilang mau mencuci piringnya kan? Kau ... lanjutkan saja!" seru Elisa yang saking canggungnya mendadak mencuci tangannya. Lagipula ia adalah bos dan Leo bawahan. Tidak mungkin ia yang mencuci piring untuk bawahannya. Elisa pun langsung menjauh dari Leo dan meninggalkan dapur.Leo sendiri hanya menatap wanita itu yang kembali duduk di meja makan, sebelum ia mencuci beberapa piring itu hingga bersih. Namun, tatapan Elisa tidak hentinya melirik sepanjang Leo melakukannya. Gerakannya sangat cepat, sangat terampil, dan pria itu tetap gagah saat melakukannya. Tapi tidak, Elisa sama sekali tidak mengagumi asisten suaminya itu. Ia hanya berusaha jujur mengagumi ciptaan Tuhan. Elisa pun buru-buru bersikap tenang lagi saat Leo selesai dan kembali duduk di meja makan menemaninya. "Anda ingin minum sesuatu, Bu? Atau kita langsung ke kantor saja?" "Itu ... sebenarnya aku ... bolehlah aku bertanya dulu, Le
"Selamat pagi semua. Aku datang untuk menjemput Rara." Gary datang tepat saat sarapan baru saja selesai pagi itu. Gary naik sepeda motor ke rumah karena Leo sudah berpesan agar jangan menunjukkan mobil di depan Elisa. Gary yang biasanya memang mengantar Rara sekolah setiap pagi itu pun menurut. Dan ia datang dengan senyum sumringahnya. "Oh, Kak Gary sudah datang, Rara. Ayo cepat siap-siap!" seru Bik Imah yang langsung mengajak Rara bersiap dengan tasnya. Elisa sendiri yang melihat Gary pun mengernyit karena ia merasa belum pernah melihat pria itu sebelumnya. "Siapa ini, Leo?" bisik Elisa pelan. Belum sempat Leo menjawabnya, suara Gary sudah terdengar lagi sambil melangkah masuk ke rumah. "Oh, ada tamu ya. Apa kabar, Bu? Kenalkan aku Gary, aku adalah teman baik Bos ... "Hmm, maksudku teman baiknya Leo. Haha!" imbuh Gary yang langsung tertawa nyengir menatap Leo lalu memeluk bahu bosnya itu dengan akrab."Oh, teman Leo ya? Kau yang mengantar adik Leo ke sekolah?" tanya Elisa ramah







