LOGIN"Leo, apa yang kau katakan? Bisa-bisanya kau bilang akan mengundurkan diri?" omel Elisa saat mereka sudah keluar dari ruangan Darmawan. Elisa cemas sekali memikirkan Leo yang akan kehilangan pekerjaan, tapi Leo tetap tenang. "Berarti kau meragukan aku?" "Apa maksudmu?" "Aku kan bilang kalau aku salah, aku siap mengundurkan diri. Tapi aku tidak mungkin salah, Sayang." Elisa mengerjapkan matanya. Hatinya menghangat mendengar Leo memanggilnya sayang, tapi juga berdebar mendengar bahwa pria itu tidak mungkin salah. Elisa membenci Hilda dan Susan, tapi lagi-lagi membayangkan mereka melakukan kecurangan besar membuatnya berdebar. Sungguh, Elisa hanya wanita polos dibanding orang-orang di sekelilingnya."Jadi itu benar? Jadi benar Tante Hilda dan Susan juga bermain di perusahaan ini, Leo?" lirih Elisa. "Mereka bersikap sok bijak, sok hebat, merendahkan aku, padahal apa yang mereka lakukan lebih rendah!" geram Elisa lagi. Leo mengangguk. "Ya, dan kita akan membongkar semuanya. Kita a
"Sekarang jelaskan semuanya dan ceritakan apa saja yang kau tahu tentang semua ini, Leo!" Suara Darmawan terdengar begitu tegas dan penuh emosi. Tatapannya pun tajam menatap Leo. Setelah napasnya lebih lega, Darmawan memanggil Leo dan Elisa ke ruangannya. Tidak ada Wira di sana karena Wira masih mengurus Eddy dan Fabian di kantor polisi, tapi ada Arman di sana. Berdua mereka menatap Leo penuh tanya tanpa curiga apa pun. "Ayah, Grandpa, sudah jelas Eddy melakukan penggelapan dana, apa lagi yang mau dijelaskan?" sahut Elisa duluan. Dalam sekejap, Elisa kembali melow. "Bukan hanya berselingkuh dariku, tapi dia juga mengkhianati kita semua. Entah dosa apa yang sudah kulakukan di kehidupan sebelumnya sampai aku bisa menikah dengan pria seperti itu!" "Itu kebodohanmu sendiri yang begitu tergila-gila pada pria tidak berguna seperti itu!" sahut Arman kesal. "Sejak awal, Ayah tidak pernah menyukainya karena dia tidak setara dengan kita! Otaknya tidak berjalan, hanya gayanya yang tinggi! S
Pintu ruang rapat tertutup setelah Eddy dan Fabian diseret keluar.Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bicara. Suasana yang tadi begitu panas mendadak berubah menjadi sunyi.Elisa duduk diam dengan tangan yang masih gemetar. Walaupun ia ingin lepas dari Eddy setelah diselingkuhi dan dimanfaatkan, Elisa tidak pernah menyangka Eddy bisa melakukan hal sebesar ini. Selama dua tahun memanipulasi semuanya dan menggelapkan dana perusahaan itu bukan kejahatan biasa. Bahkan Elisa ingin sekali menampar Eddy tadi, tapi tubuhnya kaku. Peserta rapat lain juga diam dan saling melirik, tidak ada yang berani bicara sama sekali. Sementara Darmawan masih berdiri dengan wajah yang merah padam karena amarahnya. Napasnya mulai tersengal. Satu tangannya memegang dadanya sambil mengentakkan tongkatnya keras ke lantai. "Memalukan! Benar-benar memalukan!"Tidak ada yang berani menyahut."Ayah ...," panggil Arman pelan. "Tidak usah bicara!" Darmawan memotongnya, sebelum dadanya makin berdenyu
"Bukan! Bukan!" Eddy langsung berteriak keras. "Semuanya bohong!" "Itu benar!" sahut salah seorang manager yang membuka laporannya. "Di laporan ini memang tertulis nama rekening perantara itu atas nama CV Chandra Perkasa. Nama pemilik CV itu adalah Yuliana Chandra, persis seperti yang Leo katakan!" Semua tatapan mengarah pada Leo dan Eddy sekarang. Sedangkan Arman tidak bisa menahan amarahnya dan menggebrak mejanya. Brak!Semua orang tersentak kaget mendengarnya. "Apa maksudnya ini, Eddy? Yuliana Chandra itu benar sepupumu, hah? Kau mencuri dari perusahaanmu sendiri?" "Itu bohong, Ayah! Itu bohong! Leo merekayasa semuanya! Aku bersumpah, Ayah! Aku ...." "Ada orang IT di sini," sela Wira sambil melirik Eddy tajam. "Kita bisa langsung meminta mereka memeriksa mana yang asli dan mana yang palsu." Eddy makin tegang, sedangkan orang IT langsung memeriksa laporan milik Leo dan Eddy. "Ayah, ini tidak seperti yang Leo katakan! Ini tidak ada hubungannya dengan aku maupun Fabian!" "Leb
Ruangan masih hening. Mata Eddy dan Fabian pun membelalak sempurna, sementara Wira masih menatap layar dengan wajah serius.Suara-suara peserta rapat kembali terdengar, bukan hanya berbisik, tapi makin lama makin keras. "Komputer finance? Bagaimana bisa? Leo bukan orang finance." Wira sendiri langsung melirik Fabian. Sebagai asisten kepercayaan Darmawan yang mengerjakan semuanya tanpa cela, Wira sangat teliti, cakap, dan tanggap. Ia langsung curiga pada seseorang yang jelas merupakan orang finance yang sangat dekat dengan Eddy. "Apa mungkin ada orang finance yang berkomplot dengan Leo atau siapa pun itu yang sudah menggelapkan dana perusahaan?" seru Wira tajam. Fabian menelan saliva merasakan lirikan Wira. Seharusnya ia tidak perlu menjawab, tapi saking tegangnya, Fabian malah menjawab dengan gugup. "Aku ... aku tidak tahu, Pak," jawab Fabian gelagapan. "Kau yakin tidak tahu?" tanya Wira lagi yang membuat Fabian makin tegang. "Apa maksudnya ini?" bentak Arman tajam. "Sebenarnya
Eddy berhenti bicara sejenak, tapi semua bisa melihat username Leo di sana. Sontak tatapan mengarah pada Leo. Suasana langsung ribut. "Leo yang melakukannya? Leo mengubah data proyek dan melakukan penggelapan dana?" bisik orang-orang di sana. "Jadi selama enam bulan terakhir ini, kau sudah mencuri dari perusahaan ini, Leo?" geram salah seorang manager lainnya. "Nilainya bahkan mencapai puluhan miliar!" Ruangan langsung gaduh. Beberapa manager saling berbisik. Bahkan Arman terlihat mengernyit.Darmawan yang duduk di ujung meja menatap Leo dengan tajam."Kau melakukan semua ini? Kau yang mencuri dari perusahaan ini?" Darmawan mengentakkan tongkatnya."Astaga, ternyata kau memang pencuri! Bagaimana Eddy bisa mempunyai asisten pencuri sepertimu?" celetuk Hilda keras. Susan juga tertawa kesal menatap Leo yang jauh dari bayangannya, tapi ia makin puas melihat pria yang diandalkan Elisa ternyata hanya sampah. Elisa sendiri langsung menggeleng panik. Ia sangat percaya pada Leo. "Itu tida
Perjalanan mereka baru benar-benar berakhir menjelang sore. Begitu mobil memasuki kawasan Danau Aruna, Elisa langsung terpukau oleh pemandangan yang membentang di depan mata. Danau luas berwarna kebiruan itu dikelilingi perbukitan hijau yang masih asri. Kabut tipis menggantung di atas permukaan air
"Siapkan semua yang dibutuhkan oleh ibu hamil, Gary! Aku dan Elisa akan berangkat ke Danau Aruna akhir pekan besok!" titah Leo malam itu. "Eh, apa saja yang harus kusiapkan, Bos?" "Air hangat, cemilan, vitamin, apa saja. Lihat catatan itu dan cari tahu sisanya, aku tidak mau ada yang ketinggalan.
Leo dan Elisa sontak menoleh kaget melihat Eddy yang sudah masuk ke ruangan itu. "Aku tanya apa yang kau lakukan pada istriku, Leo? Berani sekali kau dekat sekali dengannya?" Eddy kaget, kaget sekali. Eddy pikir Elisa selalu ketus pada Leo, tapi ternyata ia salah. "Eddy? Kau di sini?" tanya Elisa
"Kau pernah bilang kau mengenal karyawan dari Hartono Group itu kan? Aku tidak berani bicara di depan Ayah dan Grandpa, tapi aku tahu kau mengenal mereka!" Giliran Eddy yang protes pada Elisa di kamar mereka malam itu. Namun, Elisa menanggapi biasa saja. "Aku mengenal salah satu karyawannya, bukan







