MasukLeo langsung bergerak cepat mengetahui Elisa sudah mengeluarkan darah. Dalam sekejap, mereka pun sudah ada di mobil Leo dalam perjalanan ke rumah sakit. Tas persalinan yang selama berminggu-minggu hanya menjadi pajangan di dekat pintu akhirnya benar-benar digunakan.Leo terus melirik Elisa sepanjang perjalanan, memastikan istrinya itu baik-baik saja. Hingga tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit di mana kamarnya memang sudah disewa untuk melahirkan. Namun, mereka harus mendapati bahwa bukaan Elisa masih sangat awal. "Masih bukaan satu, prosesnya masih sangat panjang untuk melahirkan. Disarankan Bu Elisa banyak berjalan dulu agar bukaannya makin cepat." "Ah, begitu ya, baiklah, kami akan masuk ke kamar malam ini." Mereka pun masuk ke kamar rawat inap di sana dan Elisa mulai berjalan mondar-mandir. Tidak lama kemudian, Bik Imah dan Gary menyusul tiba di rumah sakit. "Bagaimana kata dokter? Kapan bayinya akan lahir?" "Sepertinya prosesnya masih lama, Bik. Masih bukaan sa
Memasuki bulan terakhir kehamilan, perut Elisa semakin besar. Bahkan bangun dari tempat tidur saja terkadang membutuhkan bantuan Leo."Pelan-pelan, Sayang." Leo berdiri di sisi ranjang sambil mengulurkan tangan.Elisa menerima tangannya dan perlahan bangkit. "Aku masih bisa sendiri, Leo.""Aku tahu.""Lalu mengapa kau selalu membantuku?" "Karena aku suamimu."Elisa mendengus geli. "Jawabanmu selalu itu.""Memangnya salah?""Tidak." Elisa tersenyum. "Justru aku suka. Aku suka kenyataan bahwa aku istrimu dan kau suamiku." Leo langsung tersenyum puas. "Aku juga menyukai kenyataan itu, Sayang." Keduanya pun saling menatap dan menyatukan bibir mereka singkat. Begitulah perubahan yang terlihat paling mencolok sejak mereka menikah, yaitu makin sering mengumbar kemesraan kapan saja dan di mana saja. Setiap pagi, rutinitas mereka selalu sama. Leo selalu memastikan Elisa mengonsumsi semua yang sudah disiapkan untuknya. Setelah itu, mereka akan menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga se
Serangkaian acara pernikahan yang melelahkan akhirnya selesai juga.Tiga hari terakhir terasa seperti mimpi bagi Elisa. Pesta pernikahan, menerima ucapan selamat, berfoto bersama keluarga dan tamu, kemudian menjamu orang-orang yang masih berdatangan untuk memberikan selamat kepada mereka.Bahkan setelah malam pertama sebagai suami istri, Leo sama sekali tidak menuntut apa pun. Pria itu justru lebih sibuk memastikan istrinya beristirahat.Elisa masih ingat bagaimana malam itu Leo memijat kakinya, mengusap punggungnya, lalu menarik selimut sampai menutupi tubuhnya."Tidur, Sayang.""Aku belum mengantuk.""Kalau begitu, pejamkan matamu saja, nanti kau juga akan tertidur." "Hmm, kau sendiri?""Aku di sini dan tidak akan ke mana-mana." Leo kemudian memeluknya sepanjang malam. Tidak ada tuntutan, tidak ada keintiman seperti yang mungkin dibayangkan orang dari sepasang pengantin baru.Leo hanya ingin Elisa tidur dengan nyaman dan aman. Keesokan harinya pun sama. Mereka masih harus menjamu
Pesta berlanjut dengan jamuan makan siang bersama sekaligus Leo menyapa semua undangannya. Para tamu pun bergantian mendatangi meja Leo karena mereka ingin berkenalan dengan istri Leo, sedangkan Leo sendiri sudah tidak mengijinkan istrinya berdiri karena ia tidak mau Elisa terlalu lelah."Sekali lagi selamat, Pak Leo. Senang berkenalan dengan Anda, Bu Elisa!" Para tamu menyapa dalam bahasa Inggris dan Mandarin karena sebagian besar berasal dari Singapore dan Malaysia, negara tempat Leo berbisnis. "Terima kasih, senang berkenalan dengan Anda juga." Elisa membalas dengan bahasa Inggris dan Mandarin yang fasih. Sebagai pebisnis, Elisa juga menguasai beberapa bahasa asing. Leo pun begitu bangga mengenalkan istrinya pada semua orang. Acara perkenalan itu pun cukup lama karena banyaknya orang yang ingin berkenalan dengan Elisa. Hingga akhirnya acaranya selesai dan mereka lanjut makan siang. "Baru segini temanmu, tapi sudah berasa banyak sekali, Leo.""Ini belum seberapa, Sayang. Masih
Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kessalahan. Tapi pemenang sejati adalah mereka yang mau mengaku bersalah, bertobat, dan menjadi lebih baik. Elisa tidak pernah menyangka hari itu akan tiba. Bukan hanya hari pernikahannya, tapi hari di mana Arman menunjukkan ketulusan yang paling dalam untuk mendoakan kebahagiaannya. Bahkan Arman rela menukar umurnya demi kebahagiaan Elisa. Sungguh, Elisa tidak bisa mengungkapkan rasa bangga dan bahagianya. Dalam pernikahannya kali ini, semua memberikan restu yang full, tanpa kecuali. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih. Aku akan bahagia kali ini, aku janji," ucap Elisa. "Aku juga bersumpah akan mencintainya dengan hidupku, tidak perlu takut sedikit pun," timpal Leo yang masih enggan memanggil Arman dengan sebutan Ayah. Tapi jawaban itu sudah cukup membuat Arman puas. Ia terus mengusap air matanya, sebelum ia mengangguk, menyerahkan Elisa pada Leo, lalu kembali ke bangku penonton. Sementara Elisa dan Le
"Kau gagah sekali, Bos!" Gary tidak bisa menyembunyikan tatapan kagum dan harunya saat melihat Leo dalam balutan jas formalnya pagi itu. Tentu saja ini bukan pertama kalinya Gary melihat Leo serapi ini. Sebagai seorang bos besar, Leo sudah terbiasa tampil rapi, tapi kali ini, momennya berbeda. Leo akan menikah dan itu membuat Gary terharu. "Aku masih tidak menyangka kau menikah juga, Bos. Selama bersamamu, yang aku tahu hanya ada dendam di hatimu, sampai kau tidak pernah memikirkan masa depan bersama wanita. Aku terharu sekali, Bos. Akhirnya ada Bu Elisa yang akan mengurusmu seumur hidupmu." Leo memicingkan mata mendengarnya. "Ada Elisa? Lalu kau sendiri? Kau sudah lelah mengurusku sampai mau menyerahkan aku pada Elisa, hmm?" Gary tertawa sambil mengusap matanya. "Siapa yang bilang aku lelah? Aku hanya bersyukur ada yang bisa kuajak berbagi karena kau sangat merepotkan! Menjadi asistenmu harus siap 24 jam, siap kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala, harus siap mendaki gunung
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







