LOGINSusan menutup teleponnya sambil menyeringai. Rasanya bahagia sekali karena kakak iparnya itu selalu mencarinya dan membutuhkannya lebih dari membutuhkan istrinya sendiri. Ya, Susan dan Eddy memang berhubungan diam-diam. Dan hubungan mereka sudah berjalan selama dua tahun. Yang artinya, baru satu tahun pernikahan, Eddy sudah mengkhianati Elisa. Dan itu adalah keberhasilan bagi Susan. Susan sudah menyukai Eddy sejak Elisa pertama kali mengenalkan Eddy pada keluarga Wijaya. Entahlah, itu sungguhan suka atau hanya karena ingin menang dari Elisa. Menjadi anak kedua itu tidak pernah enak, apalagi menjadi anak dari istri kedua. Walaupun banyak yang membully Elisa karena ibunya, tapi Elisa tetap anak pertama dan Susan tetap bukan satu-satunya. Elisa masih berumur lima tahun saat ibunya ketahuan berselingkuh. Tidak butuh waktu lama bagi Arman untuk menikahi Hilda tanpa menceraikan ibu Elisa karena dulu bercerai itu aib. Ibu Elisa disiksa batinnya sampai depresi, sakit, tertekan, hingga m
"Si brengsek itu bilang begitu, Bos? Mau menyingkirkanmu lebih cepat? Huh, dia benar-benar halu!" Gary tertawa kesal begitu mendengar cerita Leo malam itu. Eddy pulang lebih cepat, sehingga Leo juga bisa pulang lebih cepat. Namun, Leo pulang diam-diam karena sejak tadi, Velia tidak berhenti mencuri pandang padanya. "Bukan hanya itu, dia juga ingin menyerahkan Elisa pada Fabian untuk dinikmati setelah dia tidak butuh. Eddy adalah pria paling brengsek yang pernah kutemui!" "Oh, kupikir menjadi bagian dari keluarga Wijaya adalah kesialan terbesar dalam hidup Bu Elisa, ternyata dia jauh lebih sial karena menikah dengan pria seperti Eddy! Membuatku ingin mengumpat saja." Gary terus mengomel, sebelum ia teringat sesuatu. "Tapi kau tahu, Bos, aku curiga sesuatu." Leo mengernyit. "Apa itu?" "Kita tahu bersama kalau Eddy bukan suami yang suci, tapi aku curiga ada permainan yang lebih besar di sini." Leo makin mengernyit. "Apa maksudmu? Jangan bertele-tele. Permainan apa yang lebih besa
Elisa membelalak dengan kedua tangan yang bergantung di dada Leo, menahan agar pria itu tidak maju lagi. "Jangan gila, Leo! Aku sama sekali tidak cemburu! Kau bebas dengan wanita mana pun dan itu tidak ada hubungannya dengan aku. Aku hanya tidak suka melihat sesama karyawan yang bersikap genit di kantor." Leo kembali tersenyum kecil, sebelum ia mengangguk. "Baiklah, aku mengerti, Bu. Tapi Anda tenang saja karena aku juga tidak tertarik pada Velia. Di mataku, Anda jauh lebih menarik," sahut Leo yang membuat Elisa menahan napasnya sejenak. Leo memujinya dan membuatnya salah tingkah, tapi ia harus tetap menjaga ekspresinya. "Apa pun itu, aku tidak peduli! Sekarang menyingkirlah dariku! Kau tahu ini masih di kantor kan? Aku ... aku tidak mau kita terlihat bersama!" sahut Elisa lagi dengan kegugupan yang terlihat jelas. Tepat saat itu, pintu lift terbuka di lantai yang lain. Namun, saking gugupnya, Elisa malah keluar dari sana. "Anda tidak mau turun lagi ke lantai 5, Bu?" "Aku akan m
"Kerja bagus, Leo! Kau sudah menyelamatkan harga diriku di rapat barusan," bisik Eddy begitu rapat bubar. "Itu sudah tugasku, Pak." "Bagaimana kau bisa tahu tentang proyek itu?" "Aku sempat mempelajarinya dan aku sudah memikirkan solusi. Hanya saja, aku tidak berani mengatakan apa pun kalau Anda tidak memintanya. Aku hanya akan patuh pada Anda, Pak." Eddy terdiam sejenak. Pria penurut seperti Leo tidak mungkin bisa berkhianat seperti ucapan Fabian. Selama ini, Eddy selalu percaya, hanya Fabian yang membuatnya goyah. "Bagus, Leo! Kau memang paling bisa diandalkan! Setelah membereskan semua di ruang rapat, temui aku di ruanganku." "Baik, Pak!" Eddy melangkah duluan, sedangkan Fabian memicingkan matanya mendekati Leo."Kau tahu kalau Eddy tidak pernah memintamu mengurus proyek Amerta kan? Kau melakukan hal di luar jobdeskmu." "Apa itu salah, Pak Fabian? Pada akhirnya mau itu jobdesku atau bukan, aku tetap menyelamatkan harga diri Pak Eddy dan juga perusahaan. Aku tidak melihat di
Leo menatap laptopnya dengan sangat serius, seolah ia begitu fokus bekerja, padahal telinganya sedang mendengarkan sesuatu. Ya, Leo yang memasang alat perekam secara diam-diam di ruang kerja Eddy. Sejak Leo mendengarkan kebusukan Eddy di The Vault waktu itu, Leo mulai makin waspada. Ia memasang rekaman agar ia tahu semua yang Eddy rencanakan, termasuk bagaimana brengseknya Fabian yang menginginkan Elisa untuk dirinya sendiri. "Leo tidak akan berani, Fabian! Tidak akan berani." Suara Eddy kembali terdengar. "Kita tidak bisa menebak hatinya, Eddy! Semua orang akan berkhianat juga saat ada kesempatan. Orang miskin tidak bisa dipercaya karena matanya akan selalu hijau melihat uang. Apalagi kau memberinya uang dan kenikmatan istrimu sendiri." Hening sejenak. Eddy mengepalkan tangannya geram. "Kalau dia berani berkhianat, aku bersumpah akan menyingkirkannya, Fabian." "Lebih baik kau mulai waspada dan jangan bergantung padanya agar kau lebih mudah menyingkirkannya." Leo mendengarkan s
Elisa pasti sudah gila saat ia akhirnya dibonceng oleh Leo pagi itu. Elisa masih menolak tadi, tapi Gary muncul begitu cepat dengan sepeda motornya dan semuanya terjadi begitu saja. "Pegangan, Bu! Aku akan agak ngebut karena aku sudah terlambat," seru Leo, sebelum menutup helm teropongnya dan melajukan motornya. Ngung ....Elisa yang kaget terhentak sedikit ke depan sampai tubuh depannya menabrak punggung Leo. "Maaf, Bu," ucap Leo sambil tersenyum kecil merasakan sesuatu yang lunak di punggungnya. Elisa menahan dirinya. "Tidak apa," sahutnya sambil langsung berpegangan pada pegangan belakang agar mereka tidak bersentuhan lagi. Dan motor itu pun melaju makin jauh, meninggalkan Gary dan Bik Imah yang masih berdiri di depan rumah menyaksikan semuanya. "Apa menurut Bibik, Bos sengaja melakukannya, hah? Dia mengambil kesempatan agar dada Bu Elisa menempel di punggungnya! Oh, aku tidak bisa melihat ini. Seorang CEO, tapi mengambil kesempatan layaknya anak SMA!" omel Gary. Bik Imah ha







