LOGIN"Tidak, itu tidak benar, Grandpa! Itu tidak benar!" elak Velia lagi. "Ibu, tolong bantu aku bicara, itu sama sekali tidak benar!" Velia menatap Melda, tapi kali ini Melda sudah tidak berani bicara lagi. "Maaf kalau aku ikut bicara, Pak," kata sang manager hotel. "Tapi waktu itu, Pak Leo sempat meminta rekaman CCTV hotel, kami tidak menemukan apa pun. Namun, setelah kami mengeceknya kembali beberapa hari yang lalu, ada hal yang kami temukan, tapi belum kami laporkan." Manager hotel membuka laptopnya dan menunjukkan rekaman CCTV dari sudut lain, sudut yang tidak disangka, tapi akhirnya merekam interaksi antara Velia dan Heri di sana. "Ini adalah sudut saat Bu Velia menghentikan Heri lalu membawanya menjauh. Terlihat Bu Velia melakukan sesuatu pada minuman itu di meja, sebelum memberikannya lagi pada Heri. Kau masih mau menyangkalnya, Heri? Kau bisa kutuntut karena menjebak tamu dan lalu kabur dengan resign!" ancam sang manager hotel. Heri yang mendengarnya sontak berlutut. "Jangan,
Sumpah Velia tidak pernah berniat masuk ke ruang keluarga atau menunjukkan dirinya. Justru ia ingin tahu siapa yang datang dan begitu melihat Heri, rasanya Velia ingin menghilang saja. Velia pun sudah mengendap-endap dengan sangat hati-hati, tapi sialnya, entah bagaimana Gary melihatnya dan menariknya dengan kurang ajar. Hingga akhirnya Velia terpaksa masuk ke ruang keluarga, berdiri mematung di tengah dengan tegang, apalagi saat ia melihat Heri di sana. "Bu, Anda di sini?"Suara Heri terdengar bergetar dan Velia membeku saat tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.Namun, perubahan wajah Heri sudah cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu memahami bahwa pria tersebut mengenal Velia.Leo menyipitkan mata. "Kau masih ingat dengan wanita ini kan?" Heri langsung menundukkan kepala, sedangkan Velia buru-buru menarik tangannya dari cengkeraman Gary."Sudah kubilang lepaskan aku, Brengsek! Kau tidak sopan dan kau menyakiti aku!"
"Selamat pagi, Pak Liandro. Aku datang seperti janjiku." Leo dan Elisa bertamu ke rumah Liandro pagi itu bersama beberapa orang. Heri, satu pelayan lain yang membantu Heri, dua dokter yang dibawa untuk visum, dan manager hotel. "Apa kabar, Pak Liandro. Aku manager hotel tempat Pak Leo menginap waktu itu dan aku minta maaf atas hal tidak mengenakkan yang terjadi di sana." "Silakan duduk, kita bicara di dalam." Liandro mengajak semua orang masuk ke ruang keluarga. Ada Garren dan Melda juga di sana, tapi Melda masih memasang ekspresi bermusuhan. Sejak Velia hamil dan mual-mual karena kehamilannya, Melda jadi sangat protektif pada anaknya itu. "Jadi ini Heri dan ini Egy. Keduanya merupakan pelayan di hotel pada malam kejadian itu terjadi. Sedangkan sekarang, hanya Egy yang masih bekerja di sana. Heri sendiri sudah keluar dari hotel keesokan harinya sejak kejadian itu." Leo memperkenalkan, tapi semua mata langsung tertuju pada Heri. Heri menelan salivanya, ia sangat tegang. Bahkan sa
"Apa, Velia hamil?" Bik Imah begitu kaget saat Leo dan Elisa pulang lalu menceritakan semuanya. "Dia hamil sungguhan atau pura-pura?" tanya Bik Imah lagi. "Entahlah, tapi itu bukan poinnya, Bik. Yang penting, kehamilannya tidak ada hubungannya denganku!" Leo menatap Gary. "Siapkan semua, Gary! Besok kita akan berangkat ke Bali dan mendengarkan kesaksian para saksi di sana." "Baik, Bos!" Gary langsung menelepon anak buahnya di sana. Untungnya, mereka selalu sigap walau di malam hari. "Syukurlah saat masalah ini meledak, kita sudah menemukan saksinya," seru Leo lagi. "Ya, semua sudah diatur, Leo. Aku yakin permainan Velia ini akan segera berakhir." "Ya, Sayang!" Leo memeluk Elisa dengan sama leganya. Di saat Elisa lega, Velia malah sedang panik memikirkan Leo yang akan membawa pelayan hotel. Velia makin panik saat ia tidak menemukan nomor Heri. Velia pun segera menelepon Rosie. "Apa pun yang terjadi, jangan katakan apa pun, Rosie! Pergi saja ke mana pun dulu, pokoknya jangan
Ruangan itu mendadak hening.Ucapan Leo barusan seolah memutus seluruh suara yang sejak tadi memenuhi ruang keluarga.Tidak ada bantahan, tidak ada teriakan.Leo hanya berdiri tegak di samping Elisa, dengan tatapan tenang meskipun pipinya masih menyisakan bekas kemerahan akibat tamparan Melda.Elisa menatap suaminya dari samping. Ada rasa bangga sekaligus sedih di dalam dadanya.Leo sama sekali tidak terlihat panik, membuktikan bahwa kepercayaan Elisa sama sekali tidak salah. Bahkan setelah diuji berkali-kali, suaminya tetap tidak goyah. "Pak Liandro," lanjut Leo. "Aku menghormati Anda. Aku juga menghormati keluarga Anda. Karena itu, aku datang ketika Anda memintaku datang, meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."Tatapan Leo kemudian beralih kepada Velia. "Dan aku akan mengatakan hal yang sama di depan semua orang kalau aku tidak pernah menyentuh Velia.""Jangan berbohong!" Melda kembali hendak maju, tetapi Garren langsung menahan lengannya."Melda, cukup.""Bag
Leo mematung sejenak. Selama ini Liandro tidak pernah membentaknya, apalagi memakai panggilan seperti itu. "Maaf, apa maksudnya, Pak? Aku tidak mengerti. Ada apa dengan Velia?" Elisa sudah mengernyit menatap suaminya. Ia bisa mendengar bentakan Liandro, apalagi Leo menyebut nama Velia. Suara Liandro kembali terdengar. "Kau masih berani bertanya, hah? Kau tidak ingat apa yang sudah kau lakukan padanya? Datang ke rumahku sekarang juga dan kita selesaikan semuanya!" Blep!Liandro langsung menutup teleponnya sampai Leo makin kebingungan. "Halo, Pak Liandro? Pak Liandro?" Leo mencoba menelepon Liandro balik, tapi Liandro sudah tidak mengangkat teleponnya lagi. Liandro sengaja tidak mengangkatnya karena hal ini tidak bisa dibicarakan di telepon. Liandro pun sudah duduk di ruang keluarga dengan semua anggota keluarganya yang sudah berkumpul di sana. "Grandpa sudah memanggilnya kemari dan kita selesaikan semua malam ini juga, Velia!" geram Liandro. Melda masih menangis memeluk anakny
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak







