Se connecterHilda tidak pernah menyangka ia akan melihat Wira di sana, diserang oleh anak buahnya sendiri sampai Wira mati-matian melawan. "Itu Om Wira kan, Ibu? Itu Om Wira?" pekik Susan tertahan. "Iya, Susan! Dan orang yang melawannya adalah anak buahnya sendiri." "Bagaimana bisa, Ibu?" "Tentu saja bisa kalau Darmawan brengsek itu yang memerintahkan." Susan membelalak menatap Hilda. "Grandpa? Maksud Ibu, Grandpa yang mau membunuh Om Wira? Tapi mengapa? Selama ini Om Wira adalah orang kepercayaannya." "Ibu sering mendengar Darmawan brengsek itu mulai mengeluh tentang Wira. Sepertinya Wira sudah tidak bisa diandalkan lagi. Mungkin Wira sudah tua. Tapi ayo!" Hilda dan Susan sejak tadi mengintip. Hilda pun berdiri dan berniat melangkah, tapi Susan menghentikannya. "Ibu mau apa? Kita bisa ketahuan, Ibu!" "Ibu akan menyelamatkan Wira agar dia berhutang pada kita." Susan mengernyit tidak setuju. "Apa? Untuk apa Ibu menyelamatkan Om Wira? Tidak ada untungnya buat kita karena Ibu tahu sendiri
Bagaikan disambar petir, Leo langsung lemas mendengar semuanya. Elisa? Elisa adalah anak yang diselamatkan kedua orang tuanya sampai mereka akhirnya meninggal?Perasaan Leo tidak bisa dijelaskan. Sebagaimana ia berusaha untuk tegar dan mencerna semuanya, ia tetap tidak bisa berpikir. Semua terlalu mengejutkan dan mengerikan. "Tidak mungkin! Tidak mungkin!" lirih Leo yang alih-alih marah malah lemas."Kalian pasti berbohong dan mencoba mempengaruhi aku kan? Kalian pasti berbohong! Pak Rahmat, kau sudah bersembunyi selama belasan tahun dan kau muncul lagi hanya untuk menjadi pembohong, hah?" bentak Leo, kali ini mulai marah lagi. Air mata Rahmat ikut menetes, ia bisa memahami perasaan Leo karena ia juga sakit hati melihatnya. Bagaimana tidak? Rahmat melihat semuanya mati terbakar tepat di depan matanya sendiri. "Aku sudah bersumpah pada istriku, hanya akan mengatakan kebenaran, Pak Leo. Maafkan aku. Tapi semuanya tidak akan terjadi kalau bukan karena Darmawan, Arman, dan Wira. Mereka
Rahmat menggeleng. Ia menatap Elisa dan Leo secara bergantian. Untuk sesaat, tidak tahu apa yang harus diucapkan. Leo sendiri mendadak diangkat berdiri oleh para anak buah sampai Leo bisa menatap Rahmat dengan lebih jelas. "Apa maksudnya ini? Apa ada cerita yang belum aku tahu? Katakan padaku! Katakan padaku sekarang!" bentak Leo. Rahmat menelan salivanya. Tatapannya masih goyah. "Itu ... itu ...." "Langsung saja ceritakan siapa yang membuat Anton dan Lily mati, Rahmat! Kau tahu sendiri seharusnya Anton dan Lily bisa selamat dari api, tapi mereka memilih menyelamatkan seseorang, itu yang membuat mereka akhirnya mati dilalap api kan?" Jantung Leo nyaris meledak saking debarannya terlalu kencang. Tubuhnya gemetar memikirkan kemungkinan itu. Siapa yang diselamatkan oleh orang tuanya sampai membuat mereka tidak sempat menyelamatkan diri? "Siapa? Apa itu benar? Ada yang diselamatkan orang tuaku sampai mereka tidak sempat keluar? Tidak! Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kau yang
"Lepaskan aku, Brengsek!" Wira terus memberontak saat ia dibawa keluar dari gudang. Alih-alih dilepaskan, Wira malah terus dibawa sampai ke gudang samping. Bukan hanya dua anak buah yang membawanya, tapi dua anak buah lain mengikutinya, entah apa maksud mereka. "Kalian tidak ingat siapa bos kalian, hah? Aku bos kalian! Aku yang memberi kalian perintah dan menjaga kalian selama ini!" geram Wira. "Yang menggaji kami adalah Pak Darmawan, jadi kami harus patuh padanya." "Sial! Darmawan brengsek itu!" "Sekarang kami juga akan menjalankan perintahnya." "Apa maksudmu?" Wira masih dipegangi sampai ia tidak bisa bergerak, tapi matanya yang awas selalu siaga membaca semua situasi dan ia melihat satu di antara anak buah itu mengeluarkan sebuah pisau yang berkilat. Wira membelalak. Pasti Darmawan menyuruh mereka menghabisi dirinya. "Tugasmu sudah selesai, Wira!" Pisau itu pun dihunuskan ke arah Wira, tapi beruntung, latihannya bertahun-tahun membuat ia bisa menghindar dengan cepat. "Si
"Bos! Sial, mana anak buah Albert yang tadi menyusul kita? Mengapa belum tiba juga, Pak Handi? Aku sudah tidak tahan lagi masuk ke sana!" Gary dan Handi sudah tiba di lokasi gudang dan sengaja memarkir mobilnya di tempat yang strategis dan aman. Dari posisi mereka, mereka bisa melihat dengan jelas dan dekat apa yang dilakukan para anak buah di sana. Selain itu, monitor di mobil Gary tetap menyala dan ia melihat serta mendengar semua yang terjadi di gudang itu. "Tahan, Gary! Ada kecelakaan di jalan, sehingga mereka tertahan dan terlambat." "Sial, mengapa harus di saat seperti ini? Para polisi kita persis seperti polisi India yang selalu datang terlambat!" Gary terus mengomel sambil menatap monitor, sedangkan Handi hanya bisa terus menelpon Albert dan memintanya segera datang karena kondisi sudah mulai tidak terkendali. Sementara di dalam gudang, Darmawan sudah kalap melihat kekacauan di sana. Ia memanggil lebih banyak anak buah untuk menangkap Leo dan Wira. Apalagi tidak lama k
"Selamat malam! Kami diberi perintah untuk menggeledah rumah ini sekali lagi! Ini surat perintahnya!" Empat orang anak buah Albert mendatangi rumah keluarga Wijaya malam itu. Mereka sengaja bergerak cepat saat tidak ada orang di rumah karena mereka masih harus mencari tentang Susan dan Hilda. Di rumah sendiri tersisa dua orang pelayan dan tiga anak buah yang langsung tegang melihat para polisi. "Sedang tidak ada orang di rumah, kami tidak bisa mengijinkan siapa pun masuk!" seru salah satu anak buah Darmawan. "Kami tidak akan membuat keributan, kami hanya menjalankan sesuai surat perintah dan harus malam ini!" "Kami tidak bisa membiarkannya," seru anak buah Darmawan ngotot. "Kalau begitu, kami akan memakai cara kasar."Tiga anak buah Darmawan langsung saling melirik mendengarnya. Mendadak ketiganya menyerang duluan dan 4 anak buah polisi itu langsung membalasnya. Suasana di rumah mendadak begitu kacau sampai pelayan pun ketakutan dan langsung mencari nomor ponsel Darmawan. Seme
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







