تسجيل الدخولElisa tidak pernah menyangka kedatangannya kemari akan sangat berguna untuknya. Sungguh, ia tidak bisa memikirkan apa yang ingin Susan katakan padanya. Bahkan saat sudah berhadapan dengan Susan tadi, sebagian dari diri Elisa masih takut Susan akan melakukan hal buruk. Tangan Elisa basah karena berdebar dan ponselnya terus merekam setiap percakapan mereka. Hingga akhirnya Susan menyebutkan nama itu. Nico Ardhana yang katanya adalah Papa dari anak yang dikandung Velia. "Nico ... kau ... Susan, kau tidak bercanda kan?" lirih Elisa dengan suara bergetar. Susan menatap Elisa dengan ketenangan yang tidak berubah. "Aku sudah bilang aku tidak mengatakan omong kosong kan? Nico itu adalah teman Velia dan temanku juga. Sesekali Velia memanggilnya saat mereka bertemu di klub dan mereka akan menghabiskan malam bersama." "Tapi jangan salah, aku tidak pernah melakukannya dengan Nico juga karena dulu aku ...." Tatapan Susan goyah sejenak. "Aku bersama pria lain cukup lama," lanjut Susan akhirny
Jantung Elisa menderu saat ia melangkah ke ruang tunggu untuk mengunjungi para napi. Bukan karena Elisa takut, tapi ia merinding. Ia akan bertemu Susan lagi setelah sekian lama. Semua orang mengatakan Susan sudah berubah dan hidup lebih baik, tapi tetap saja, Elisa belum pernah melihatnya sendiri. Karena itu, Elisa masih sangat berdebar. Pak Rahmat sendiri sudah menawarkan diri untuk menemani Elisa ke dalam, tapi Elisa menolak. Ia dan Susan butuh waktu pribadi. Selain itu, ada petugas yang berjaga dan Elisa sudah siap merekam semua pembicaraan Susan. Elisa pun mengembuskan napas panjangnya dan menunggu, hingga tidak lama kemudian, Susan keluar. Elisa mematung saat tatapan mereka bertemu. "Elisa?" lirih Susan."Susan?" lirih Elisa juga. Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak atau berbicara lagi. Keduanya hanya saling menatap lama, sebelum akhirnya Susan yang bicara duluan. "Kau ... datang, Elisa ...." Elisa tersentak dan tersenyum kaku. "Kau yang memintaku datang kan?" "Ya, kupi
"Siapa yang menelepon, Elisa?" Elisa akhirnya kembali ke ruang tamu untuk bermain dengan Alden, tapi ekspresinya begitu aneh sampai Bik Imah mengernyit melihatnya. "Apa Velia? Apa wartawan? Rekan bisnis? Siapa yang menelepon? Mengapa wajahmu seperti itu?" tanya Bik Imah cemas. Elisa pun menatap Bik Imah cukup lama, sebelum akhirnya ia bicara. "Itu ... Susan yang menelepon." Bik Imah menahan napasnya sejenak. "Siapa? Susan? Susan adikmu itu? Bukannya dia dipenjara? Atau jangan-jangan dia kabur dari penjara dan meneleponmu untuk mengancam? Elisa, kita harus memberitahu Leo." Bik Imah mendadak panik sendiri, tapi Elisa segera menenangkannya. "Tahan dulu, Bik! Ini tidak seperti yang kita pikirkan dan Susan masih di dalam penjara, dia meneleponku dengan ponsel petugas tadi." "Eh, lalu apa yang dia inginkan? Mengapa mendadak dia meneleponmu seperti ini?""Itu ... dia ingin aku mengunjunginya." "Apa? Apa yang dia mau, Elisa? Bibik tahu di dalam penjara seharusnya lebih aman, tapi kau
Susan terus berpikir keras hari itu. Sejak tahu Velia hamil, Susan sudah mulai berpikir tapi sampai detik ini, ia belum yakin apa yang harus ia lakukan. Hingga saat mendengar berita heboh tentang Leo, akhirnya Susan pun yakin harus melakukan apa. Setelah pergi meninggalkan Hilda, Susan langsung mengejar petugas dan memanggilnya. "Hei!" Petugas itu menoleh. "Ada apa lagi?" "Apa aku ... boleh meminjam ponselmu lagi?" "Untuk menelepon lagi? Pikirkan dulu apa kau benar-benar ingin menelepon! Jangan seperti waktu itu, sudah diangkat, tapi kau malah tidak bicara!" Susan menunduk. "Maafkan aku, kemarin aku hanya belum yakin." "Lalu apa sekarang kau sudah yakin?" Susan menelan salivanya dan mengangguk. "Aku sudah yakin." Sang petugas mengangguk mendengarnya. "Tapi ... apa ini ada hubungannya dengan cerita yang kau ceritakan itu? Ini ulah temanmu itu? Kalau memang ini ulahnya, aku akan dengan senang hati menerimanya di penjara ini. Dasar wanita gila!" Susan mengembuskan napas panjan
Sebuah berita heboh terdengar keesokan harinya. Leo dan Elisa masih sarapan berdua di ruang makan saat Gary melaporkan beritanya. "Ada berita tentang Leo Hartono dan Hartono Group.' "Berita apa itu, Gary?" Gary terdiam sejenak, sebelum ia menunjukkan beritanya di internet. "Leo Hartono yang terkenal sebagai family man ternyata berselingkuh dan menghamili wanita lain." Leo langsung mengepalkan tangannya geram. "Sial, bagaimana bisa ada berita seperti ini?" Elisa sendiri ikut cemas. "Siapa yang menyebarkan berita ini? Seharusnya berita ini tidak pernah keluar kan? Dan semuanya bohong! Suamiku tidak pernah menghamili wanita mana pun selain istrinya!" "Aku belum tahu siapa yang menyebarkan beritanya, tapi sejak pagi, berita ini sudah begitu heboh tersebar di grup chat para pebisnis dan masuk ke internet. Tinggal menunggu beritanya meledak saja!" Leo tidak berkomentar, tapi ia langsung meraih ponselnya untuk menelepon Liandro. Di saat yang sama, Liandro sendiri juga sudah membelala
"Sial, kau belum mau menyerah, hah?" Leo kehilangan kesabarannya. Tapi kali ini, Elisa langsung memeluk suaminya itu dan menenangkannya. Elisa yang sejak tadi diam, akhirnya ikut bicara. "Velia, saat semuanya sudah terbongkar, kau masih belum mau menyerah?" "Untuk apa aku menyerah?" tantang Velia lagi. "Aku tidak pura-pura kali ini. Aku memang salah menjebak Leo, tapi seperti yang aku bilang, kehamilan ini bukan rekayasa. Ini tetap anak Leo dan bagaimana dia mau bertanggung jawab." "Kau halu sekali dan berharap hamil anak Leo, aku kasihan sekali padamu!" seru Elisa tajam.Lagi-lagi Velia bangkit berdiri. "Tutup mulutmu, Elisa! Aku tidak butuh kasihan darimu, aku hanya butuh anak ini diakui oleh Leo!" "Kalau kau memang ingin diakui, mengapa kau menolak visum waktu itu?" geram Leo juga. "Dengar, Velia! Aku sudah sering bertemu dengan wanita sepertimu dan aku tidak takut. Aku tidak melakukan apa pun padamu dan kalau bukti yang kubawa hari ini belum cukup, maka aku akan mencari bukti
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya







