LOGINHilda berlari cepat keluar dari kamar begitu mendengar teriakan Darmawan. Dan ia pun langsung memekik kaget saat melihat Susan dan Eddy ditampar. "Akhh! Jangan, Ayah! Jangan!" Hilda langsung menarik Susan bersamanya. "Bagaimana caramu membesarkan anakmu, hah, Hilda? Kau membesarkannya agar menjadi sama sepertimu? Perebut suami orang, hah?" Hilda membelalak dan terdiam. Semua cerita masa lalunya memang sudah diketahui oleh Darmawan. "Grandpa, maafkan aku! Maafkan aku! Tapi Elisa hanya salah sangka, ini tidak seperti yang dikatakannya, Grandpa!" Susan masih berusaha membela dirinya dan menyentuh tangan Darmawan. Namun, Darmawan langsung mengempaskan tangan itu sampai Susan terhuyung. "Semua sudah ketahuan, tapi kalian masih berani membela diri, hah? Kalian ... akhh ...." Darmawan memegangi dadanya yang berdenyut."Ayah!" "Grandpa!" "Cukup! Cukup untuk hari ini karena kalian sudah memberikan tekanan yang begitu berat untuk Grandpa! Lebih baik kalian kembali ke kamar dan jangan
"Apa yang kau katakan, Leo?" Setelah terdiam cukup lama mendapatkan pertanyaan mengejutkan dari Leo, akhirnya Elisa menjawabnya. Ia salah tingkah dan wajahnya makin panas. Elisa pun memalingkan wajahnya. "Aku serius, Bu. Kalau aku menyukai Anda, apa Anda akan menerimaku? Atau aku terlalu rendah untuk bersama Anda?" Leo menatap Elisa lekat-lekat. Elisa sendiri langsung menoleh lagi menatap Leo dan menggeleng. "Tidak, Leo! Jangan pernah merasa dirimu rendah, kau sama sekali tidak rendah." "Kalau begitu, aku bisa bersama Anda?" "Tidak!" jawab Elisa cepat. "Maksudku, kau tahu sendiri aku sudah menikah kan? Pertanyaanmu itu sangat tidak masuk akal," jawab Elisa lagi dengan suara bergetar. Di satu sisi hatinya, tentu saja ia tidak berpikir berakhir dengan Leo. Namun, di sisi lain hatinya, mengapa ia menginginkannya. Leo sendiri terus memicingkan matanya menatap Elisa. Ada semburat di pipinya yang menandakan Elisa salah tingkah. "Bukankah Anda yang bilang akan bercerai dari Pak Eddy?
Elisa tahu Leo di sana, menemaninya sejak tadi. Leo sudah biasa melakukannya. Tapi Elisa tidak pernah berpikir untuk meminta Leo menginap dan menemaninya. Elisa sampai menatap Leo tidak percaya. "Apa? Kau mau menginap, Leo? Tapi bagaimana dengan nenek dan adikmu? Jangan meninggalkan mereka sendirian!" seru Elisa tanpa bisa dicegah. Leo tampak tenang. "Mereka aman, Bu. Justru menjaga Anda adalah tugasku." Darmawan mengangguk mendengarnya. Ternyata Leo lebih baik daripada yang ia pikir. "Baguslah kalau ada yang menemani Elisa, ayo kita pulang saja, Ayah! Ayah tidak boleh terlalu lelah!" seru Arman lagi yang sama sekali tidak peduli Elisa ditemani siapa. Terkadang, seorang ayah bisa khawatir kalau anak perempuannya sendirian. Mereka juga bisa khawatir kalau anak perempuannya ditemani oleh pria asing. Namun, itu tidak berlaku untuk Arman. Entah sebenci apa Arman sebenarnya pada Elisa sampai pria itu bisa tidak peduli sama sekali. "Ayah benar lagi, Grandpa! Leo akan menemaniku, jadi
"Bagaimana ini, Ibu? Bagaimana? Elisa sialan! Elisa brengsek!" geram Susan yang terus berjalan mondar-mandir di kamarnya. Tadinya Hilda dan Susan ingin ikut ke rumah sakit, tapi Darmawan melarangnya. "Kalian hanya akan membuat semuanya makin ribut, diam saja kalian di rumah! Dan jangan lupa kalau semua terjadi karena kau, Susan! Jadi Hilda, awasi anakmu di rumah!" geram Darmawan tadi. Namun, setelah semua orang pergi, Susan dan Hilda makin gelisah karena yang paling mereka takutkan adalah Darmawan yang marah. "Kau masih berani bertanya, hah? Mengapa saat melakukannya kau tidak pernah mau mendengar Ibu, tapi setelah semua seperti ini kau baru bertanya pada Ibu bagaimana? Ibu tidak tahu, Susan! Ibu tidak tahu!" bentak Hilda. "Ini semua gara-gara Elisa, Ibu!" "Ini semua karena kau sendiri yang salah memilih pria, Susan! Ibu sudah bilang Eddy itu pria tidak berguna. Sekarang semua sudah jadi seperti ini, kau juga mengapa harus memukul Elisa, hah? Berharap saja Grandpa tidak mengusir
Elisa benar-benar tidak menyangka Susan akan melakukan hal nekat dengan menyerangnya di depan keluarganya. Tapi Susan melakukannya. Elisa membelalak lebar saat melihat Susan membawa vas bunga ke arahnya, tapi mendadak kakinya membeku. Sebelum ia sempat menghindar, Susan sudah melayangkan vas bunga itu ke kepalanya. "Akhh!" pekik Elisa kaget. Pukulan itu begitu keras sampai vas bunganya pecah. Ada pecahan yang mengenai pipinya. Elisa tidak tahu bagian mana tepatnya yang terkena pukulan tapi untuk sesaat, semuanya mendadak gelap dan berputar. Hanya terdengar suara pekikan, mungkin suara Hilda, mungkin juga suara Arman, sebelum akhirnya Elisa limbung dan terjatuh ke lantai. "Akhh, apa yang kau lakukan, Susan?" pekik Hilda ketakutan. "Kau sudah gila, Susan!" geram Arman juga. Susan sendiri langsung menjatuhkan sisa pecahan vas bunga di tangannya dengan gemetar. Napasnya tersengal. Ia juga refleks saking marahnya. Sementara Eddy masih melotot tidak percaya menatap Susan. Wira yang
Suasana seketika hening saat Elisa membongkar perselingkuhan itu. Suara napas tertahan masih tetap terdengar, seolah kalau napas itu dihembuskan, semua dosa itu akan terbongkar. Namun, Darmawan sudah tidak tahan lagi. "Apa yang kau katakan, Elisa? Katakan yang jelas! Eddy selingkuh dengan Susan? Jangan bercanda! Yang satu suamimu dan yang satu adikmu!" "Kak Elisa sudah memfitnah aku, Grandpa!" sela Susan keras. "Aku tidak pernah melakukan apa pun yang dia katakan!" "Benar, Grandpa! Ini tidak benar! Elisa, ayo kita pergi saja!" Lagi-lagi Eddy mau menarik Elisa, tapi Elisa memberontak. "Lepaskan aku, Eddy!" "Kita pergi, Elisa!" Eddy mulai makin kasar sampai Darmawan makin marah. "Wira!" panggil Darmawan kesal. Wira segera datang. "Jangan biarkan Eddy mendekati cucuku!" titahnya. Wira mengangguk dan langsung sigap menarik Eddy menjauh dari Elisa. "Apa ini? Lepaskan aku!" pekik Eddy. "Jangan menarikku seperti tahanan begini! Grandpa, aku tidak bermaksud buruk." "Beraninya kau me







