Share

Rasa yang Mendalam

Author: Mommykai22
last update publish date: 2026-07-12 17:25:09

Leo membeku dan menghentikan langkahnya. Tatapannya terpaku pada semangkuk mie yang berada tepat di tengah meja.

Kuah bening, mie buatan tangan yang tidak sama ketebalannya. Di atasnya terhampar irisan telur tipis berwarna keemasan, disusun seperti benang-benang halus.

Untuk sesaat, Leo benar-benar tidak bergerak, seolah waktu berhenti.

Tatapannya goyah, tapi tidak berkedip sama sekali. Tidak ada suara, tidak ada ucapan, hanya keheningan yang mendadak memenuhi ruang makan.

Elisa yang sejak tadi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Awal yang Baru

    "P-pemilik baru? Apa maksudnya, Pak?" "Silakan dibaca dulu, Bu." Elisa kembali menatap Leo dengan tatapan goyah, sebelum ia mulai membaca dokumennya. Matanya bergerak dengan cepat membaca semuanya dan air matanya mendadak menggenang di pelupuk matanya. "Leo, apa maksudnya ini? Mengapa kau mempertahankan nama Wijaya Group dan mengapa bisa aku yang menjadi pemiliknya? Aku ...." "Aku hanya mempertahankan apa yang berarti untuk istriku. Itu namamu, Sayang. Jadi nama itu akan selalu ada." "Tapi ...." "Jangan tanya lagi, Bu Bos. Cepat tanda tangan!" goda Leo. "Leo, aku serius! Aku benar-benar tidak membutuhkan perusahaan itu, aku sudah bahagia dengan melepas semua masa lalu itu."Leo mengusap air mata di pipi Elisa. "Aku juga tidak mau mengembalikan masa lalu, Sayang." Ia menatap mata Elisa dalam-dalam. "Aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk memiliki sesuatu yang baru.”Elisa menutup mulutnya, tangisnya makin pecah. Leo menariknya ke dalam pelukan."Wijaya Group yang dulu sudah

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pemilik Baru

    "Sudah bicara dengan ayahmu, Sayang?"Leo menitipkan Alden kepada Bik Imah dan menghampiri istrinya begitu Elisa kembali ke taman. Elisa mengangguk, lalu tanpa ragu langsung memeluk suaminya."Ada apa memelukku begitu manja?""Terima kasih banyak, Leo."Leo mengernyit. "Ada apa, Sayang? Terima kasih untuk apa lagi?""Ayahku bilang, sampaikan rasa terima kasih darinya karena kau sudah meratukan aku."Leo semakin mengernyit. "Benarkah dia bilang begitu?"Elisa mengangguk lagi. "Dia terharu sekali sampai tidak berhenti menangis saat aku membawanya melihat rumah kita. Entah apa jadinya kalau bukan kau suamiku. Aku benar-benar tidak mau yang lain lagi, Leo."Leo tergelak. "Seperti ada yang lain saja. Sekali kau bersamaku, jangan harap bisa pergi.""Hmm, aku juga tidak mau pergi."Elisa terus mendongak menatapnya dengan ekspresi manja yang membuat Leo tersenyum."Berhenti menatapku seperti itu atau aku akan menggendongmu ke kamar sekarang, Sayang.""Bisa-bisanya mengancam seperti itu. Tamu

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Diratukan Suaminya

    Dua hari berlalu dan hari itu, mereka mengadakan open house sekaligus syukuran rumah baru dan perayaan tiga bulanan Alden.Sebelum mereka resmi tinggal di sana sebenarnya mereka sudah melakukan doa bersama dengan lebih formal, tapi kali ini mereka ingin berbagi kebahagiaan dengan lebih banyak orang. Leo pun mengudang beberapa kerabat dekat, teman, tetangga, dan beberapa karyawan kantor. Sejak pagi, rumah pun sudah dipenuhi tawa. Mereka menyulap taman belakang sebagai tempat pesta dan begitu banyak makanan yang disajikan di sana. Para pelayan bekerja dengan wajah bahagia. Mereka sesekali bercanda sambil menyelesaikan pekerjaan, sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan saat bekerja di rumah keluarga Wijaya dulu karena suasananya selalu formal dan menegangkan. "Bu Elisa, kue Alden sudah siap." Elisa menghampiri. "Cantik sekali."Di atas kue kecil itu tertulis "Happy 3 Months, Alden." Elisa tersenyum lebar. "Terima kasih sudah bekerja keras membuat kue-kue ini."Salah satu pelayan ter

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Hasrat Sudah di Ujung

    Pagi pertama di rumah baru mereka terasa jauh lebih hangat daripada yang Elisa bayangkan.Biasanya, pindah ke rumah baru membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Mencari letak barang, membiasakan diri dengan ruangan yang berbeda, bahkan terkadang membutuhkan waktu untuk benar-benar merasa bahwa tempat itu adalah rumah sendiri.Namun tidak bagi Elisa. Begitu membuka pintu kamar pagi itu, ia langsung mendengar suara-suara yang sudah begitu akrab."Bu Nila, kopinya tolong letakkan di meja makan saja." "Sudah, Bik. Sarapannya juga sebentar lagi siap.""Gary! Jangan makan dulu sebelum yang lain!""Bik Imah, aku hanya mencicipi sedikit." "Kalau mencicipi lima kali namanya sarapan!" Elisa spontan tertawa. Ia menatap suasana rumah yang sejak pagi sudah begitu hidup. Beberapa pelayan terlihat mondar mandir membawa makanan. Yang lain sedang membuka tirai dan merapikan ruang keluarga.Dari arah dapur tercium aroma masakan. Di halaman terdengar suara orang yang sedang merawat taman.Bahkan suara

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Rumahku Istanaku

    Elisa dan keluarga Wijaya kehilangan segalanya, termasuk rumah besar yang ditempati Darmawan, termasuk juga rumah yang ditempati Eddy dan Elisa setelah menikah. Semuanya disita, rekening mereka diblokir, dan mereka tidak punya apa-apa. Bahkan hanya untuk memberi pesangon yang layak pada para pelayan yang sudah bekerja di sana pun Elisa tidak mampu. Elisa sendiri menghadapi banyak masalah hingga tidak bisa berpamitan dengan benar pada para pelayan yang sudah sangat berjasa baginya. Terakhir yang Elisa dengar, para pelayan itu dirumahkan tiba-tiba, mendadak menjadi pengangguran, tanpa pernah dibayarkan gajinya. Elisa sempat merasa sangat bersalah pada semua orang yang sudah terdampak dan ia berdoa agar suatu hari nanti, para pelayan itu diberikan rejeki yang lebih berlipat untuk menggantikan rejeki yang hilang. Dan Tuhan menjawab doanya saat ia melihat para pelayan lamanya berdiri berjajar di depan pintu rumah barunya saat ini. "Ini ... kalian ...." Para pelayan itu pun tersenyum

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Kejutan Tanpa Henti

    Tiga bulan pertama kehidupan Alden berlalu tanpa terasa.Setelah pesta satu bulanan yang sederhana itu, hari-hari Elisa dan Leo kembali dipenuhi rutinitas sebagai orang tua baru.Bulan kedua terasa sedikit lebih mudah. Alden mulai lebih sering terjaga di siang hari dan tidur lelap di malam hari. Bayi mungil itu mulai mengenali suara kedua orang tuanya, dan semakin sering memberikan senyum kecil yang selalu berhasil membuat Leo dan Elisa berebut perhatian."Dia tersenyum kepadaku.""Tidak, dia tersenyum kepadaku.""Jelas-jelas dia melihat Papanya." "Leo, aku yang sedang menggendongnya."Begitulah mereka hampir setiap hari. Saat bulan ketiga datang, Alden semakin gemuk, pipinya semakin berisi, dan tangannya mulai gemar meraih apa saja yang berada di dekatnya. Gary pun selalu menjadi korbannya.Seperti malam itu saat Gary sedang menggendong Alden. Bayi mungil itu tertawa sambil menepuk-nepuk wajah Gary, sebelum tangan itu mendadak mencengkeram hidungnya."Auw, Alden, itu sakit!" protes

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Milikku Besar

    Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Aku Akan Memulainya

    Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status