LOGIN"P-pemilik baru? Apa maksudnya, Pak?" "Silakan dibaca dulu, Bu." Elisa kembali menatap Leo dengan tatapan goyah, sebelum ia mulai membaca dokumennya. Matanya bergerak dengan cepat membaca semuanya dan air matanya mendadak menggenang di pelupuk matanya. "Leo, apa maksudnya ini? Mengapa kau mempertahankan nama Wijaya Group dan mengapa bisa aku yang menjadi pemiliknya? Aku ...." "Aku hanya mempertahankan apa yang berarti untuk istriku. Itu namamu, Sayang. Jadi nama itu akan selalu ada." "Tapi ...." "Jangan tanya lagi, Bu Bos. Cepat tanda tangan!" goda Leo. "Leo, aku serius! Aku benar-benar tidak membutuhkan perusahaan itu, aku sudah bahagia dengan melepas semua masa lalu itu."Leo mengusap air mata di pipi Elisa. "Aku juga tidak mau mengembalikan masa lalu, Sayang." Ia menatap mata Elisa dalam-dalam. "Aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk memiliki sesuatu yang baru.”Elisa menutup mulutnya, tangisnya makin pecah. Leo menariknya ke dalam pelukan."Wijaya Group yang dulu sudah
"Sudah bicara dengan ayahmu, Sayang?"Leo menitipkan Alden kepada Bik Imah dan menghampiri istrinya begitu Elisa kembali ke taman. Elisa mengangguk, lalu tanpa ragu langsung memeluk suaminya."Ada apa memelukku begitu manja?""Terima kasih banyak, Leo."Leo mengernyit. "Ada apa, Sayang? Terima kasih untuk apa lagi?""Ayahku bilang, sampaikan rasa terima kasih darinya karena kau sudah meratukan aku."Leo semakin mengernyit. "Benarkah dia bilang begitu?"Elisa mengangguk lagi. "Dia terharu sekali sampai tidak berhenti menangis saat aku membawanya melihat rumah kita. Entah apa jadinya kalau bukan kau suamiku. Aku benar-benar tidak mau yang lain lagi, Leo."Leo tergelak. "Seperti ada yang lain saja. Sekali kau bersamaku, jangan harap bisa pergi.""Hmm, aku juga tidak mau pergi."Elisa terus mendongak menatapnya dengan ekspresi manja yang membuat Leo tersenyum."Berhenti menatapku seperti itu atau aku akan menggendongmu ke kamar sekarang, Sayang.""Bisa-bisanya mengancam seperti itu. Tamu
Dua hari berlalu dan hari itu, mereka mengadakan open house sekaligus syukuran rumah baru dan perayaan tiga bulanan Alden.Sebelum mereka resmi tinggal di sana sebenarnya mereka sudah melakukan doa bersama dengan lebih formal, tapi kali ini mereka ingin berbagi kebahagiaan dengan lebih banyak orang. Leo pun mengudang beberapa kerabat dekat, teman, tetangga, dan beberapa karyawan kantor. Sejak pagi, rumah pun sudah dipenuhi tawa. Mereka menyulap taman belakang sebagai tempat pesta dan begitu banyak makanan yang disajikan di sana. Para pelayan bekerja dengan wajah bahagia. Mereka sesekali bercanda sambil menyelesaikan pekerjaan, sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan saat bekerja di rumah keluarga Wijaya dulu karena suasananya selalu formal dan menegangkan. "Bu Elisa, kue Alden sudah siap." Elisa menghampiri. "Cantik sekali."Di atas kue kecil itu tertulis "Happy 3 Months, Alden." Elisa tersenyum lebar. "Terima kasih sudah bekerja keras membuat kue-kue ini."Salah satu pelayan ter
Pagi pertama di rumah baru mereka terasa jauh lebih hangat daripada yang Elisa bayangkan.Biasanya, pindah ke rumah baru membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Mencari letak barang, membiasakan diri dengan ruangan yang berbeda, bahkan terkadang membutuhkan waktu untuk benar-benar merasa bahwa tempat itu adalah rumah sendiri.Namun tidak bagi Elisa. Begitu membuka pintu kamar pagi itu, ia langsung mendengar suara-suara yang sudah begitu akrab."Bu Nila, kopinya tolong letakkan di meja makan saja." "Sudah, Bik. Sarapannya juga sebentar lagi siap.""Gary! Jangan makan dulu sebelum yang lain!""Bik Imah, aku hanya mencicipi sedikit." "Kalau mencicipi lima kali namanya sarapan!" Elisa spontan tertawa. Ia menatap suasana rumah yang sejak pagi sudah begitu hidup. Beberapa pelayan terlihat mondar mandir membawa makanan. Yang lain sedang membuka tirai dan merapikan ruang keluarga.Dari arah dapur tercium aroma masakan. Di halaman terdengar suara orang yang sedang merawat taman.Bahkan suara
Elisa dan keluarga Wijaya kehilangan segalanya, termasuk rumah besar yang ditempati Darmawan, termasuk juga rumah yang ditempati Eddy dan Elisa setelah menikah. Semuanya disita, rekening mereka diblokir, dan mereka tidak punya apa-apa. Bahkan hanya untuk memberi pesangon yang layak pada para pelayan yang sudah bekerja di sana pun Elisa tidak mampu. Elisa sendiri menghadapi banyak masalah hingga tidak bisa berpamitan dengan benar pada para pelayan yang sudah sangat berjasa baginya. Terakhir yang Elisa dengar, para pelayan itu dirumahkan tiba-tiba, mendadak menjadi pengangguran, tanpa pernah dibayarkan gajinya. Elisa sempat merasa sangat bersalah pada semua orang yang sudah terdampak dan ia berdoa agar suatu hari nanti, para pelayan itu diberikan rejeki yang lebih berlipat untuk menggantikan rejeki yang hilang. Dan Tuhan menjawab doanya saat ia melihat para pelayan lamanya berdiri berjajar di depan pintu rumah barunya saat ini. "Ini ... kalian ...." Para pelayan itu pun tersenyum
Tiga bulan pertama kehidupan Alden berlalu tanpa terasa.Setelah pesta satu bulanan yang sederhana itu, hari-hari Elisa dan Leo kembali dipenuhi rutinitas sebagai orang tua baru.Bulan kedua terasa sedikit lebih mudah. Alden mulai lebih sering terjaga di siang hari dan tidur lelap di malam hari. Bayi mungil itu mulai mengenali suara kedua orang tuanya, dan semakin sering memberikan senyum kecil yang selalu berhasil membuat Leo dan Elisa berebut perhatian."Dia tersenyum kepadaku.""Tidak, dia tersenyum kepadaku.""Jelas-jelas dia melihat Papanya." "Leo, aku yang sedang menggendongnya."Begitulah mereka hampir setiap hari. Saat bulan ketiga datang, Alden semakin gemuk, pipinya semakin berisi, dan tangannya mulai gemar meraih apa saja yang berada di dekatnya. Gary pun selalu menjadi korbannya.Seperti malam itu saat Gary sedang menggendong Alden. Bayi mungil itu tertawa sambil menepuk-nepuk wajah Gary, sebelum tangan itu mendadak mencengkeram hidungnya."Auw, Alden, itu sakit!" protes
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







