Masuk"Elisa ... kau ...." Leo menelan salivanya lagi, terlalu kaget untuk berkata-kata, tapi tatapannya benar-benar melahap Elisa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cantik dan selalu sempurna. Elisa sendiri menatap Leo dengan salah tingkah. "Kau ... kau yang memintaku memakai lingerie ini kan?" Leo tidak menjawab saking kagumnya. Jantungnya memacu kencang dan hasratnya dengan cepat bangkit. Namun, melihat ekspresi Leo membuat Elisa mendadak ragu sampai ia menunduk, menatap dirinya sendiri. "Hmm, apa ada yang salah? Atau ... aku pasti tampak aneh memakai ini? Sudah kubilang aku pasti kelihatan seperti bola." Elisa membalikkan tubuhnya, mendadak malu karena Leo tidak mengatakan apa pun. Ia pun berniat kembali ke kamar mandi untuk mengganti baju. Namun, sebelum Elisa sempat melangkah, Leo buru-buru menghampirinya. "Tunggu, Sayang! Siapa yang bilang kau seperti bola, Sayang? Aku hanya terkejut," sahut Leo yang langsung memeluk Elisa dari belakang dan mencium bahu wanita itu. Elisa me
Malam menjelang dengan cepat setelah Leo dan Elisa menghabiskan harinya di pantai. Mereka minum kelapa bersama, makan cemilan, dan bergandengan tangan sambil melangkah di pasir. Cuaca sedang bersahabat sepanjang hari itu, panasnya tidak terlalu terik dan anginnya pun tidak terlalu besar. Mereka sangat menikmati hari mereka. Beberapa kali ponsel Leo berbunyi dan terlihat seperti telepon penting, tapi Leo tidak ragu menolaknya dengan mengatakan ada hal yang lebih penting yang sedang dikerjakan. Cara Leo meratukannya benar-benar membuat Elisa melambung. Bahkan setelah mengetahui identitas asli pria itu, Elisa malah semakin kagum padanya. Dan sekarang Elisa tahu apa tugasnya. Tanpa perlu Leo memintanya lagi, Elisa sudah melirik lingerie yang tadi diletakkan asal di meja. "Sayang, kau benar-benar tidak mau mandi duluan?" tanya Leo. Leo sudah memaksa Elisa mandi duluan karena Elisa hamil dan hari sudah malam, tapi Elisa menolaknya karena ia ingin memberi kejutan untuk Leo nanti. "Kau
Elisa masih menahan napasnya sejenak mendengar permintaan nakal Leo. Ia pun menelan salivanya dan mendadak salah tingkah. "Memakai lingerie ini? Jangan bercanda, Leo! Aku pasti akan tampak seperti bola," tolak Elisa. Namun, Leo tertawa dan langsung mendekati wanita itu. "Siapa yang bilang kau akan seperti bola, Sayang? Aku yakin kau akan seksi sekali. Tapi itu nanti malam, Sayang. Sekarang ayo kita cari makan dulu karena calon istriku dan anak kita ini pasti sedang sangat kelaparan." Leo meraih lingerie itu dari tangan Elisa dan meletakkannya asal ke meja. Ia menggandeng Elisa pergi mencari makan, tapi Elisa malah makin tersipu mendengar kata calon istri. Sementara itu, Gary masih terus terkikik setelah menutup teleponnya dari Leo. Ia sudah mencari lingerie itu berhari-hari agar bisa dipakai oleh Elisa dengan perut besarnya. "Woah, kalau Bos puas, aku pasti akan dapat bonus kan?" Gary terkikik lagi. Tidak lama kemudian, pintu ruang kerjanya diketuk dan seorang sekretaris masuk k
"Bayinya sehat dan aktif, tidak ada masalah dengan kandungannya, dan kalian boleh berangkat babymoon, bahkan hubungan ranjang juga diperbolehkan." Ucapan dokter pagi itu membuat senyum Leo dan Elisa mengembang begitu lebar. Sebelum mereka berangkat ke Bali, mereka harus memastikan kondisi kandungan Elisa dulu, dan syukurnya semuanya sangat baik. "Sekali lagi, kandungan Anda sangat kuat, Bu Elisa. Dan Anda harus bersyukur untuk itu. Tidak ada masalah yang berarti dan semuanya aman untuk menikmati trisemester kehamilan Anda." "Ah, syukurlah, Dokter," sahut Elisa sambil mengulum senyumnya malu. Leo sendiri ikut tertawa. "Terima kasih untuk ijinnya, Dokter." Sang dokter terkekeh. Ia langsung memberikan resep cadangan kalau diperlukan dan memberikan surat ijinnya untuk Elisa naik pesawat. Dan di sinilah mereka, duduk berdua di kursi kelas bisnis pesawat pagi itu. Elisa pun tidak bisa berhenti tersenyum sendiri sampai Leo yang melihatnya, mengernyit gemas. "Apa ada yang lucu sampai k
"Selamat datang kembali, Pak Rahmat." Leo dan Elisa menyambut Rahmat dan Nila hari itu. Setelah keluar dari rumah sakit, Rahmat dan Nila sempat pulang kampung diantar oleh sopir Leo. Mereka pulang ke rumah terakhir mereka untuk mengemasi sisa barang mereka karena mereka akan pindah ke kota. Mereka juga sempat pulang ke kampung halaman yang sudah lama mereka tinggalkan untuk menjenguk keluarga mereka, keluarga yang sudah lama tidak pernah dijenguk karena mereka menjadi buron begitu lama. Pertemuan itu mengharukan dan meninggalkan rasa lega serta kebahagiaan di hati Rahmat dan Nila. Keduanya kembali ke kota untuk mengikuti serangkaian sidang kasus keluarga Wijaya. Dan setelah semuanya selesai, Rahmat akan mulai bekerja bersama Leo. Mereka pun akan menempati unit apartemen di samping Leo, tempat yang dulunya ditinggali Handi dan Daisy. "Pak Leo, Bu Elisa!" Rahmat menjabat tangan keduanya, begitu juga Nila yang menjabat dan mencium tangan Elisa saking bersyukurnya. "Kami masih tida
Air mata Elisa makin meleleh begitu mendengar kata seumur hidup yang itu berarti ia tidak akan pernah berkumpul lagi dengan ayahnya itu. "Ayah!" panggil Elisa akhirnya setelah hakim meninggalkan tempatnya. Arman sempat menoleh ke arah Elisa dan mengangguk. Bahkan Arman pikir ia akan dihukum mati, tapi semua ini lebih baik, sangat baik. "Semua sudah berakhir, Elisa! Pulanglah! Semua sudah selesai!" Elisa tersenyum lagi dan tetap mendekati Arman, menggenggam tangan Arman seperti tadi sebelum persidangan dimulai. "Tidak apa, Ayah! Tidak apa! Tetaplah bersemangat dan menjadi orang yang lebih baik di penjara. Mungkin, kita tidak bisa berkumpul lagi di rumah, tapi aku akan sering berkunjung, aku akan menunjukkan foto cucu Ayah saat dia lahir nanti. Tidak apa, Ayah! Tidak apa!" Arman yang mendengarnya pun kalah, air matanya menetes juga menatap perut besar Elisa. Ya, ia akan punya cucu. Terlepas dari siapa pun ayah anak itu, itu tetap cucu Arman. Elisa anak kandungnya, Arman tidak per
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya







