LOGINKetua Bayang diikat pada batang pohon tua di tepi sungai. Tali kasar melilit pergelangan dan dadanya, cukup kuat untuk menahan, cukup ketat untuk membuatnya sulit bernapas. Topeng besinya sudah dilepas dan tergeletak di tanah, dingin dan tak berguna.Raras berdiri di hadapannya.Wajahnya pucat, rambutnya basah oleh air sungai dan keringat, tapi sorot matanya tajam. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir tumbang.“Siapa yang menyuruhmu,” ulang Raras. Tidak keras. Tidak mengancam.Ketua Bayang tersenyum miring, darah mengering di sudut bibirnya.“Kau selalu bertanya hal yang sama,” katanya serak. “Dan selalu lupa orang sepertiku tidak bekerja untuk satu nama.”Rakai berdiri di sisi Raras, pedang masih di tangan. Urat di rahangnya menegang.“Kau memimpin Bayang. Tidak ada yang menggerakkanmu tanpa bayaran besar.”Ketua Bayang tertawa kecil, batuk di akhir tawanya.“Bayaran?” Ia menggeleng pelan. “Kalian raja-raja kecil tidak pernah paham. Ada hal yang lebih mahal d
Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika mereka tiba di bibir sungai perbatasan.Airnya lebar, arusnya tenang tapi dalam, jenis sungai yang tampak ramah namun menyimpan kematian bagi yang lengah.Sebuah perahu kayu tua terikat di batang pohon, siap dipakai menyeberang. Di seberang sana, tanah Pasren benar-benar berakhir. Setelah itu, wilayah netral yang tidak tunduk pada siapa pun.Rakai menurunkan ransel. Arya memeriksa tali perahu. Reyas berdiri agak jauh, masih pucat tapi memaksa diri tetap tegak. Raras berdiri paling belakang, satu tangannya menekan bahu yang masih nyeri, wajahnya pucat namun fokus.“Kita menyeberang cepat,” kata Rakai. “Sekali di tengah sungai—”Anak panah menancap di papan perahu.Bukan peringatan.Serangan.Kabut di seberang sungai bergerak.Bukan karena angin, tapi karena langkah.Satu sosok maju lebih dulu, tubuhnya tinggi, dibalut pakaian hitam tanpa lambang. Wajahnya tertutup setengah topeng besi tipis. Di belakangnya, bayangan lain bermunculan sepuluh,
Kabut sudah benar-benar menipis ketika mereka melanjutkan perjalanan menjauh dari sungai. Pasren kembali sunyi, seolah pertemuan barusan hanyalah gema yang sengaja dilupakan tanah itu.Raras berjalan beberapa langkah di depan, lalu tiba-tiba melambat. Tangannya naik ke pelipis.“Raras?” panggil Rakai cepat.Ia tidak menjawab. Napasnya terdengar pendek. Dunia di sekelilingnya terasa miring, suara air sungai menjauh, lalu mendekat lagi seperti ditarik.“Kepalaku…” gumamnya pelan.Langkahnya goyah.Rakai sudah di sisinya sebelum lutut Raras benar-benar melemah. Ia memegang bahunya, lalu lengan, menopang dengan refleks yang lahir dari ketakutan yang tidak ia sembunyikan.“Berhenti. Jangan jalan dulu,” katanya tegas, tapi nada suaranya pecah di ujung.Raras mengangguk kecil, tapi wajahnya semakin pucat. Keringat dingin muncul di pelipisnya.“Tiba-tiba berputar,” katanya lirih. “Seperti… ada yang menarik dari dalam.”Ia menutup mulutnya cepat-cepat.Mual itu datang keras dan tanpa peringata
Kabut belum sepenuhnya buyar ketika derap langkah lain muncul dari arah timur.Bukan langkah sembunyi. Bukan langkah pemburu.Ini langkah pasukan terlatih yang tidak berniat bersembunyi.Rakai langsung tahu. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. Arya menegang. Alin memeluk Reyas lebih erat. Udara berubah lebih berat.Dari balik tirai kabut, barisan muncul.Perisai berukir. Tombak tegak. Panji Indragiri berkibar rendah tidak tinggi seperti perang, tapi cukup jelas untuk menyatakan kekuasaan.Dan di tengah mereka, Raja Wijaya.Ia turun dari kudanya perlahan. Tidak mengenakan zirah penuh. Hanya mantel gelap dan mahkota tipis. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang datang melintasi wilayah tanpa izin.Matanya langsung menemukan Raras.Ia berhenti beberapa langkah dari mereka semua, lalu berkata dengan suara yang tidak perlu ditinggikan,“Akhirnya.”Raras tidak bergerak.Tubuhnya kaku, bukan karena takut, melainkan karena nama itu. Cara ia mengucapkannya. Seolah semu
Kabut menggantung rendah di atas sungai, seperti tirai yang sengaja diturunkan agar rahasia tidak mudah terbaca. Api unggun dipadamkan. Mereka bergerak dalam diam, menyebrangi air sedingin logam, menahan napas setiap kali arus menghantam betis.Raras berjalan terakhir.Setiap langkahnya berat. Bukan karena lelah—melainkan karena suara-suara yang mulai muncul di kepalanya.Bukan suara Reyas.Bukan suara Rakai.Suara lain.—Jangan lihat ke belakang, Ajeng.—Kalau kau ragu, kita mati.Ia tersentak.Tangannya refleks meraih gagang pedang. Jari-jarinya hafal lekukannya, bahkan sebelum pikirannya menyusul.Rakai yang berjalan di depan langsung berhenti.“Ada apa?” bisiknya.“Tidak apa-apa,” jawab Raras cepat.Sekali lagi terlalu cepat.Mereka tiba di tepi Perbatasan pasren saat fajar belum lahir sepenuhnya. Daratan berbatu itu sunyi, liar, tanpa penanda kekuasaan. Tidak ada bendera. Tidak ada menara. Hanya tanah yang menolak tunduk.Arya membantu Alin menaikkan Reyas ke bebatuan. Reyas meng
Raden Wijaya berdiri kaku beberapa detik setelah Reyas pergi.Lorong itu kembali sunyi, menyisakan napas yang belum sepenuhnya turun dan bayangan masa lalu yang belum mau pergi. Ia menoleh perlahan ke arah Raras. Perempuan itu berdiri tegak, tangan terlipat di depan dada, jarak di antara mereka hanya beberapa langkah namun terasa seperti lintas negeri.“Raras…” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Ia melangkah mendekat, satu langkah yang ragu, lalu satu lagi yang lebih berani. Ketika jarak itu lenyap, ketika aroma obat dan kayu paviliun menyentuh ingatannya, sesuatu di dalam dirinya runtuh.Raden Wijaya langsung memeluknya.Bukan pelukan yang sopan. Bukan pelukan bangsawan. Tapi pelukan seseorang yang kehilangan terlalu banyak dan takut kehilangan sekali lagi.“Aku rindu,” katanya terbata, dahi menempel di rambut Raras. “Aku menyesal. Setiap malam. Setiap langkah. Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu.”Raras tidak mendorong. Tidak membalas. Tidak bergerak sama sekali.Tubuhnya kaku







