LOGIN
Pagi itu, langkah seorang gadis memasuki gedung tinggi. Kenanga namanya, gadis manis berdarah Sunda yang tengah mengepakkan sayapnya di ibu kota Jakarta. Senyuman lembut, kala ia menyapa rekan-rekan kerjanya.
Rutinitas kantor yang sibuk selalu menjadi teman akrabnya dalam mengisi hari-harinya. Kenanga meletakkan tas di atas meja kerjanya dan mulai merapikan beberapa dokumen. Sesekali ia membuat catatan kecil di sticky note dan menempelkannya di antara lembar dokumen. “Pagi, Kenanga.” Sania menyeruput kopinya dan duduk di samping Kenanga. “Hai, Sania. Pagi,” ucap Kenanga. “Udah denger belom? Katanya hari ini kita kedatangan ketua tim baru,” tutur Sania. “Pagi-pagi udah gosip aja nih.” Seorang pria berkacamata menghampiri mereka, senyumannya yang manis menampakkan lesung pipinya. “Kita gak lagi ngegosip ya. Eh, iya, Ar. Emang bener ya ketua tim yang baru datang hari ini?” tanya Kenanga. “Yap! Dan kita harus ke ruang rapat sekarang. Udah ada pemberitahuan di grup W******p, kalian pasti belom liat,” ucap Arga sembari berlalu. Kenanga dan Sania memeriksa ponsel mereka, lalu menyusul Arga dengan terburu-buru. Di ruang rapat, beberapa karyawan mulai berbisik, mempertanyakan siapakah yang akan menjadi ketua tim baru mereka. Hingga akhirnya, suasana berubah menjadi sunyi, saat pintu terbuka. Seorang lelaki tinggi dengan sorot mata yang tajam masuk ke dalam ruangan. Di sampingnya, seorang wanita cantik berjalan dengan langkah pasti, senyumnya penuh dengan keanggunan. Hingga beberapa karyawan memusatkan perhatian kepadanya. DEG! Jantung Kenanga berdegup, matanya membelalak, seakan tak percaya pada apa yang dia lihat. Lelaki yang telah lama pergi dari pandangannya, sosok yang senantiasa dirindukannya, kini hadir tepat di depan matanya. Perlahan, hatinya menghangat, ada rona kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. “Damdam ….” Nama itu terlepas begitu saja dari bibir Kenanga, lirih, bahkan nyaris tak terdengar. Tapi entah bagaimana, panggilan khas itu tetap sampai pada pemiliknya. Rahang Damar menegang samar mendengar panggilan itu. Hanya sepersekian detik sudut matanya tertuju pada Kenanga, namun Damar memilih mengabaikannya begitu saja, seolah nama itu tak ditujukan padanya. “Pagi semuanya. Perkenalkan, nama saya Damar Tama Atmaja, mulai hari ini, tim ini saya yang pimpin,” ucap Damar tegas. Kenanga tersenyum kecil, ternyata yang ada di depannya memanglah Damar. Sudah berapa lama? Sejak terakhir kali ia melihat Damar, perasaannya mendorongnya untuk bangkit menghampiri lelaki tersebut, namun pada akhirnya ia hanya mampu terdiam. Seolah takut pertahanannya akan runtuh begitu saja. Kenanga meremas jemarinya pelan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia bertemu dengan Damar? Kenangan terakhirnya akan Damar, hanyalah tentang kepergian tanpa pamit yang menyisakan rasa sakit di relung hatinya. Di sisi lain, Arga tersenyum getir kala menyaksikan Kenanga yang tak berkedip saat melihat Damar, ada rasa perih yang muncul di hatinya. Di satu sisi, Arga merasa bahagia dapat kembali melihat Damar. Namun di sisi lain, ia sadar, bahwa perasaan Kenanga pada Damar masih tetap sama. “Perkenalkan juga semuanya, saya Rosalia Rengganis Dhinakara. Saya di sini sebagai wakil dari Pak Damar,” ucap Rosa. Kenanga mengalihkan pandangannya pada Rosa. Perlahan, senyumannya memudar, terutama saat ia memperhatikan Damar dan Rosa. Hatinya menciut dan ia hanya dapat mematung di tempatnya. “Rosa? Ternyata dia juga ada di perusahaan ini,” batin Kenanga. “Kenanga, are you okay?” Sania menyentuh pundak Kenanga. “Aku gak apa-apa kok,” jawab Kenanga. “Kamu yakin?” Tatapan Sania menelisik. Tak ada jawaban dari mulut Kenanga, ia hanya tersenyum getir pada Sania. Sania melemparkan pandangannya pada Arga, namun Arga hanya mengangkat bahunya. Sania menghela napasnya dan memilih tak bertanya lebih dalam. “Perkenalan singkatnya sudah cukup, kita lanjut meeting terkait proyek pengembangan,” tegas Damar, “sebelumnya, saya ingin tau struktur keanggotaan tim inti dulu.” Lanjutnya tenang. Damar membuka Map di atas meja dan membaca isinya sekilas dengan serius. “Oke, untuk struktur keanggotaan di ketuai oleh saya dan Rosa. Tim survey & teknik di pimpin oleh Arga Nabastala Baskara, tim keuangan Krisania Cahaya Nayanika dan Kenanga Arunika Maheswari sebagai penanggung jawab dari tim perencanaan,” papar Damar. Ucapannya datar, tenang namun terasa begitu tegas. Damar mulai menjelaskan proyek sambil membuka beberapa lembar berkas. Sesekali ia menunjuk layar infokus dengan penjelasan yang tenang dan sistematis. Ia berjalan mengelilingi meja rapat dengan penjelasan yang terampil. Hingga tanpa sengaja, langkahnya terhenti tepat, di samping kursi Kenanga. Jarak yang dekat, membuat napas Kenanga tercekat, terlebih saat samar aroma parfum lelaki itu menyentuh indera penciumannya. “Untuk tim perencanaan, bisa tolong jelaskan isi dari proposal proyek ini?” Tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu. Dua detik, singkat namun mampu menembus relung hati Kenanga. Damar mengalihkan pandangannya lebih dulu dan kembali duduk ke posisinya yang semula. Kenanga berdiri dengan gugup sambil membuka map di tangannya. Ia menarik napas perlahan dan mulai menjelaskan isi proposal itu dengan rinci. “Baik, saya akan tampilkan konsep perencanaannya terlebih dahulu,” ucap Kenanga pelan. Kenanga melangkah menuju meja di dekat layar infocus, lalu menyerahkan flashdisk miliknya ke salah satu petugas yang mengoperasikan presentasi. Ia menghela napasnya, mengatur perasaannya agar tenang sebelum memulai presentasi. Dahi Damar berkerut pelan saat mendengarkan penjelasan Kenanga. Ujung jarinya mengetuk meja perlahan, sebuah kebiasaan kecil saat ia berpikir. Matanya yang tajam memperhatikan layar di depannya. Suasana ruang rapat terasa hening, beberapa anggota tim mengangguk pelan memahami penjelasan Kenanga. “Oke cukup,” jawab Damar singkat. Kenanga kembali duduk dengan perasaan tak menentu. Cara bicara Damar terasa begitu asing, seolah lelaki itu benar-benar telah berubah. Nama, suara, dan tatapan Damar perlahan menarik Kenanga kembali pada masa lalu, masa yang belum benar-benar selesai dalam hidupnya. Tentang hari itu, hari di mana Kenanga mulai mempertanyakan segalanya. Tentang persahabatan, tentang perasaannya dan tentang Damar. Hari di mana gemuruh di hatinya menjelma menjadi luka dan kecewa. Saat itu, tangisan pun nampak tak berarti lagi. Pertemuan yang datang setelah sekian purnama… Akhirnya datang menemui rindu yang sulit mereda… Ada kehangatan dalam sukmaku Namun seketika kehangatan itu perlahan sirna Oleh dinginnya tatapanmu Kala itu… Aku membeku bersama pandanganku yang nanar Apakah, aku kehilanganmu lagi?Malam itu semuanya berkumpul di vila. Damar mengadakan pesta barbekyu, Sudarma dan Parman pun hadir.“Bagaimana Pak Sudarma, ada kabar dari pemilik perkebunan teh?” tanya Damar.“Oh, masih belum, Pak. Jika sudah ada kabar, saya pasti hubungi Pak Damar,” jawab Sudarma, sekilas pria itu melirik ke arah Rosa, dan hal tersebut di sadari oleh Damar.“Pak Parman, saya ingin bertanya tentang kejadian hari ini, Pak Parman kenapa tiba-tiba menghilang? Bukannya sejak awal mendampingi Kenanga, Arga dan Sania ya?” Damar menatap Parman.Parman yang tengah menikmati makanannya tiba-tiba tersedak. Ia mulai gelisah ketika mendengar pertanyaannya Damar.“Mmm anu Pak, saya kebelet buang air kecil. Waktu saya kembali, semuanya sudah tidak ada di tempat semula,” jawab Parman.“Oh ya? Kenapa gak bilang?” sahut Arga.Parman terdiam beberapa saat, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mencoba berpikir untuk menemukan jawaban yang tepat.
“Untuk sekarang, kita kembali ke villa, kita bicarakan semuanya dengan Damar dan Kenanga, tapi jangan sampai Rosa tau. Aku masih curiga pada Rosa, tapi belum punya bukti yang kuat,” ujar Sania.“Oke.” Arga tersenyum kecil, pandangannya kembali terkunci pada gadis yang ada di hadapannya.“Ada apa? Kok ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Sania dengan canggung.“Enggak.” Arga menggeleng kecil.“Kalau gitu … kita balik ke vila sekarang,” ajak Sania.Sementara itu, Damar beberapa kali mondar mandir di depan kamar Kenanga. Beberapa kali ia hendak mengetuk pintu, namun kembali ia urungkan.“Duh, ganggu gak ya.” Damar mengusap tengkuknya.Damar menghela napas panjang, mencoba mengetuk pintu itu kembali. Akan tetapi, ketika ia hendak mengetuk, pintu itu terbuka.Kenanga mengernyit melihat Damar tengah berdiri dengan sebelah tangannya yang mengepal itu terangkat. Matanya bergerak bergantian, melirik tangan dan wajah pria itu
“Hmm … sepertinya, tidak ada orang,” gumam Rosa.Rosa kembali menemui Parman dan Sudarma. Ia meminta mereka untuk lebih berhati-hati.“Ingat, berhati-hatilah, kalau ada yang mengetahui hal ini, jangan sekali-kali membawa namaku, paham?” ucap Rosa.Parman dan Sudarma mengangguk. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Rosa.Sementara itu, Sania dan Arga masih bersembunyi. Pelukan yang tak lepas, serta tatapan yang terkunci di antara keduanya, membuat irama jantung mereka berpacu lebih cepat.“Gawat, perasaanku ….,” ucap Sania dalam batin.“Aku … kenapa, jantungku ….,” Arga menelan ludah.Langkah seseorang kembali terdengar. Arga dan Sania terkesiap, pelukan Arga kian erat, hingga setelah beberapa saat, keadaan mulai terasa aman. Arga melihat keadaan sekitar dengan hati-hati, tak ada siapa pun di dapur.“Sudah aman,” ucap Arga.“Syukurlah.” Sania bernapas lega, tanpa sadar ia menyandarkan kepalanya ke dada
Perlahan, hubungan ketiganya kembali seperti semula. Hangat dan saling menguatkan.Di sisi lain, Rosa memperhatikan Arga, Kenanga dan Damar dengan ekspresi kesal. Tangannya mengepal pelan, dan ia membuang muka seolah tak ingin melihat tiga sahabat itu kembali dekat.Sania menyilangkan tangannya, ia tersenyum miring ketika melihat Rosa dari kejauhan. Ada satu benang merah yang ia temukan.“Sepertinya ada yang merasa kesal,” gumam Sania.“Sekarang, kita kembali ke villa, dan bersiap untuk pulang, ada pekerjaan yang menunggu kita,” ucap Damar.Setelah mendengar ucapan Damar, mereka mulai berjalan meninggalkan danau. Kenanga berjalan beriringan dengan Arga dan Sania, sementara Damar berjalan di depan mereka. Sesekali Damar menoleh untuk memastikan Kenanga baik-baik saja. Setiap kali pandangan mereka bertemu, Kenanga tersenyum kecil. Damar pun membalasnya.“Senyum terus, gak kering tuh gigi?” Arga terkekeh sembari merangkul Damar.
Tanpa pikir panjang Damar melompat ke danau untuk menolong Kenanga. Rasa bersalah menumpuk di hatinya, ia sendiri tidak bermaksud berbuat buruk pada Kenanga, namun mengapa akhirnya harus seperti ini?Damar meraih Kenanga dan membawanya ke pinggir danau. Kenanga masih sadarkan diri, gadis itu memuntahkan air yang tertelan.Sementara itu, Arga mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, amarah nampak jelas di matanya, dengan kasar ia menarik kerah Damar.“Kamu kenapa sih! Hubungan kita bertiga baru saja mereda. Tapi kenapa sikapmu kembali acuh? Lihat Kenanga, dia nyaris tenggelam karenamu!”Damar terdiam. Napasnya mulai sesak, melihat keadaan Kenanga yang terbaring lemah, ketakutan dalam dirinya kembali hadir, pikirannya tak karuan. Bagaimana jika Kenanga tak selamat? Haruskah ia kembali mengalami hal menyakitkan lagi?“Damar! Jawab! Apa yang membuatmu kembali menjaga jarak dari Kenanga? Sejak tadi aku memperhatikanmu terus-menerus menjauhi
Arga dan Kenanga masih bersembunyi di balik pohon besar. Arga merasakan perih di tangannya, ia tak sadar, ketika mencoba melawan pria bertopeng tadi, tangannya sempat tergores. Darah segar menetes di lengannya.Kenanga menoleh dan melihat wajah pucat Arga. Matanya beralih pada tangan Arga yang terluka, Kenanga terbelalak.“Ya ampun, Ar. Tanganmu!” seru Kenanga. “Gapapa, aman kok,” ucap Arga menahan perih.Arga memejamkan matanya, enggan melihat tangannya yang terluka. Arga memiliki ketakutan ketika melihat darah, saat melihat darah, ia akan teringat tentang traumanya, dan Kenanga tahu hal itu.Kenanga mengeluarkan kotak p3k di dalam tasnya, dengan telaten ia membersihkan luka di tangan Arga dengan cairan NaCl dan membalutnya dengan kasa steril. Kenanga memperhatikan Arga, pria di hadapannya ini terlalu rapuh, dibalik sifatnya yang dewasa, Arga menyimpan kerapuhan.“Sudah ku obati, Ar,” ucap Kenanga.“Than







