Share

Bab 2 Menjadi Asing

Author: Sheila
last update publish date: 2026-07-22 12:40:57

Pertemuan kembali dengan Damar membuat perasaan Kenanga campur aduk, antara bahagia, gugup, sekaligus canggung. Setelah perkenalan pagi itu selesai, seluruh karyawan kembali menuju meja kerja masing-masing. Namun, Kenanga masih terdiam di ruang rapat, seolah kakinya enggan melangkah pergi.

"Damdam, kamu apa kabar?" tanya Kenanga pelan, suaranya bergetar kala ia menyapa Damar.

Hening, tak satu pun jawaban keluar dari bibirnya. Sesaat kemudian, Damar melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Kenanga sendirian di tengah ruang rapat yang mendadak terasa asing dan dingin. Bahkan hanya untuk menoleh sebentar saja, tak ia lakukan.

Kenanga sempat berharap lelaki itu akan menyapanya dengan hangat seperti dulu, namun harapan itu runtuh saat Damar bersikap dingin, seolah mereka tidak pernah saling mengenal. Kenanga tertunduk lesu, ada rasa sakit yang perlahan memenuhi relung hatinya.

Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada lelaki itu.

“Kenanga, ternyata kamu bekerja di sini juga. Aku senang kita bertemu lagi, maaf ya. Damar memang begitu, maklumi saja ya,” ucap Rosa seraya mendekati Kenanga.

“Iya, aku juga senang bisa bertemu lagi dengan kalian.” Kenanga tersenyum getir.

“Aku pergi duluan ya, ada hal penting yang harus kubahas dengan Damar. Dan Kenanga, masa lalu tetaplah masa lalu, banyak hal yang berubah. Kuharap, kita bisa bekerja secara profesional supaya kita bisa nyaman dalam bekerja sama. Kamu paham, kan?” Rosa berlalu dengan senyum tipisnya.

Hati Kenanga goyah. Setitik air mata muncul di sudut matanya yang sendu sebelum cepat-cepat ia usap. Kata-kata dari Rosa sedikit melukai hatinya.

Bagaimana mungkin tidak? Sikap Rosa seakan menunjukkan bahwa ia jauh lebih memahami Damar dibanding dirinya. Sementara di ingatan Kenanga, Damar bukanlah sosok pria dingin dan acuh seperti sekarang. Damar adalah pria yang penuh semangat dengan senyum dan sorot mata yang ceria.

“Ada apa dengan sikapnya? Padahal dulu dia sangat ceria,” gumam Kenanga.

Enggan larut dalam kenangannya akan sosok Damar, Kenanga menarik napas panjang dan melangkah keluar dari ruang rapat. Ia memilih menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan, berharap kesibukan mampu meredam sesak yang kembali hadir setelah bertahun-tahun. Setidaknya, angka dan tumpukan berkas terasa lebih mudah dihadapi dibanding tatapan dingin Damar barusan.

“Kenanga, Sania, ini untuk kalian.” Arga menaruh matcha latte di meja Kenanga dan kopi butterscotch sea salt latte di meja Sania.

“Thanks, Ar, hafal banget sama kesukaan kita.” Sania mengambil kopinya dan menyeruputnya, ada rona merah di pipinya kala ia mengambil kopi pemberian Arga.

“Kenanga, minum dulu matcha latte-nya. Bukannya kamu bilang, sesuatu yang manis bisa membuat perasaan jadi lebih baik?” Arga tersenyum, tatapannya pada Kenanga menunjukkan kekhawatiran.

“Jadi, ada hal yang terjadi? Mau cerita?” Sania merangkul Kenanga dengan hangat.

Sedikit ragu, namun akhirnya Kenanga menceritakannya pada kedua sahabatnya itu.

“Damdam … setelah sekian lama, akhirnya aku kembali bertemu dengannya. Tapi, sikapnya aneh. Dia seakan tak mengenaliku,” ucapnya sendu.

“Wait, jadi, Damdam yang pernah kamu ceritakan itu Pak Damar? Teman SMA kalian dulu?” Sania terkejut mendengarnya. Ia mencoba mencerna cerita Kenanga.

“Yap! That's right.” Arga menjentikkan jarinya.

“Pantesan aja kamu langsung bengong tadi,” gumam Sania pelan.

“Aku cuma gak nyangka bakal ketemu dia lagi di sini,” Kenanga tersenyum hambar, lalu menghembuskan napas pelan. “Tapi serius, dia berubah banget”.

Arga terdiam sesaat sebelum menyesap kopinya. Tatapannya tampak rumit, seolah ia juga memikirkan hal yang sama.

“Banyak hal yang berubah sejak waktu itu,” ucap Arga pelan.

Kenanga menunduk, kesedihan masih tampak jelas di matanya. Jemarinya menggenggam matcha latte di hadapannya, lalu menyesapnya sedikit. Rasa manis dari minuman itu sepertinya tak mampu meredakan pelik di hatinya.

“Sebagian orang mungkin berubah, jangan terlalu dipikirkan ya.” Arga mengusap pelan kepala Kenanga.

Arga melihat Kenanga dengan getir, tak hanya pada Kenanga. Namun Damar juga bersikap dingin padanya, sahabatnya itu telah jauh berubah. Bahkan sampai saat ini, Arga masih mempertanyakan apa saja yang terjadi di hidup Damar.

Tapi, yang paling membuat hatinya sesak adalah kenyataan bahwa perasaan Kenanga masih tertuju pada Damar. Sepertinya, Arga hanya bisa tetap menjadi sahabat bagi gadis itu. Hatinya menolak menerima hal tersebut.

Bagaimanapun, Kenanga adalah sosok yang ia sukai sejak dulu.

“Kamu yang dulu dan sekarangpun berbeda.” Arga tertawa.

“Memangnya dulu Kenanga seperti apa?” tanya Sania.

“Bawel, ceria, kalo senyum selalu liatin giginya. Teriakannya bikin telinga sakit.” Arga kembali terkekeh saat menceritakan tentang sosok Kenanga di masa lalu.

“Kamu melebih-lebihkan deh, Ar.” Kenanga cemberut.

“Masa? Kok sekarang agak kalem ya, kecuali bawelnya sih,” ucap Sania.

“Cemberutnya juga masih sama, tuh liat pipinya kayak nyembunyiin cilok.” Arga semakin terkekeh.

“Ikh kalian, malah ledekin aku,” ujar Kenanga jengkel.

Kenanga yang semula merasa sedih akan sikap Damar, kini tertawa bersama kedua sahabatnya. Arga tersenyum, ia merasa lega melihat Kenanga yang mulai kembali tertawa. Di sudut hatinya, Arga masih ingin memperjuangkan Kenanga.

“Nah, gitu dong, ketawa. Kan cantik.” Sania merangkul Kenanga.

“Iya iya, makasih ya buat kalian udah hibur aku. Makasih juga ya, Ar, minumannya.” Kenanga mengangkat gelas minumannya.

“Kenanga, jangan sedih ya. Mungkin dia punya alasan tersendiri, kasih dulu dia ruang,” ucap Sania menguatkan.

Kenanga tersenyum kecil mendengar kalimat Sania dan mencoba menenangkan dirinya. Ia berpikir bahwa ucapan Sania ada benarnya. Mungkin, ada alasan di balik perubahan sikap Damar. Apa pun yang terjadi padanya selama ini, Kenanga hanya bisa menunggu dengan sabar, berharap jarak dan dingin yang kini membentang di antara mereka perlahan runtuh dengan sendirinya. Di sudut hatinya, Kenanga masih percaya bahwa lelaki jahil dengan senyum hangat itu masih ada, hanya tersembunyi di balik luka yang belum ia pahami hingga saat ini.

“Tak apa, jika akhirnya kita menjadi asing satu sama lain. Setidaknya, aku bisa kembali melihatmu dalam keadaan yang baik-baik saja setelah sekian lama. Namun bagaimanapun, aku tak bisa menampik perasaanku, bahwa aku sungguh merindukanmu selama ini. Kamu sahabatku, sekaligus cinta pertama bagiku,” batin Kenanga.

Tak jauh dari meja Kenanga, ada sepasang mata yang memperhatikan. Damar, tatapan dinginnya berpindah dari Kenanga dan Arga. Sebelah alisnya terangkat dan ia raih gagang telepon di mejanya.

“Kenanga, ke ruangan saya sekarang,” ucapannya datar.

“Ada apa?” Kenanga mengernyit.

Hening. Tatapan Damar kembali mengarah pada Arga. Jari telunjuknya mengetuk meja perlahan, lalu mengalihkan pandangannya lagi pada Kenanga.

“Apa kamu bisa ….”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sheila
Kalian pernah asing dengan seseorang? Dengarkan lagu bahagia lagi saat baca bab ini. Biar lebih ngena ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 64 Puzzle yang Mulai Tersusun

    “Untuk sekarang, kita kembali ke villa, kita bicarakan semuanya dengan Damar dan Kenanga, tapi jangan sampai Rosa tau. Aku masih curiga pada Rosa, tapi belum punya bukti yang kuat,” ujar Sania.“Oke.” Arga tersenyum kecil, pandangannya kembali terkunci pada gadis yang ada di hadapannya.“Ada apa? Kok ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Sania dengan canggung.“Enggak.” Arga menggeleng kecil.“Kalau gitu … kita balik ke vila sekarang,” ajak Sania.Sementara itu, Damar beberapa kali mondar mandir di depan kamar Kenanga. Beberapa kali ia hendak mengetuk pintu, namun kembali ia urungkan.“Duh, ganggu gak ya.” Damar mengusap tengkuknya.Damar menghela napas panjang, mencoba mengetuk pintu itu kembali. Akan tetapi, ketika ia hendak mengetuk, pintu itu terbuka.Kenanga mengernyit melihat Damar tengah berdiri dengan sebelah tangannya yang mengepal itu terangkat. Matanya bergerak bergantian, melirik tangan dan wajah pria itu

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 63 Seperti Magnet

    “Hmm … sepertinya, tidak ada orang,” gumam Rosa.Rosa kembali menemui Parman dan Sudarma. Ia meminta mereka untuk lebih berhati-hati.“Ingat, berhati-hatilah, kalau ada yang mengetahui hal ini, jangan sekali-kali membawa namaku, paham?” ucap Rosa.Parman dan Sudarma mengangguk. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Rosa.Sementara itu, Sania dan Arga masih bersembunyi. Pelukan yang tak lepas, serta tatapan yang terkunci di antara keduanya, membuat irama jantung mereka berpacu lebih cepat.“Gawat, perasaanku ….,” ucap Sania dalam batin.“Aku … kenapa, jantungku ….,” Arga menelan ludah.Langkah seseorang kembali terdengar. Arga dan Sania terkesiap, pelukan Arga kian erat, hingga setelah beberapa saat, keadaan mulai terasa aman. Arga melihat keadaan sekitar dengan hati-hati, tak ada siapa pun di dapur.“Sudah aman,” ucap Arga.“Syukurlah.” Sania bernapas lega, tanpa sadar ia menyandarkan kepalanya ke dada

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 62 Satu Rahasia, Dua Perasaan

    Perlahan, hubungan ketiganya kembali seperti semula. Hangat dan saling menguatkan.Di sisi lain, Rosa memperhatikan Arga, Kenanga dan Damar dengan ekspresi kesal. Tangannya mengepal pelan, dan ia membuang muka seolah tak ingin melihat tiga sahabat itu kembali dekat.Sania menyilangkan tangannya, ia tersenyum miring ketika melihat Rosa dari kejauhan. Ada satu benang merah yang ia temukan.“Sepertinya ada yang merasa kesal,” gumam Sania.“Sekarang, kita kembali ke villa, dan bersiap untuk pulang, ada pekerjaan yang menunggu kita,” ucap Damar.Setelah mendengar ucapan Damar, mereka mulai berjalan meninggalkan danau. Kenanga berjalan beriringan dengan Arga dan Sania, sementara Damar berjalan di depan mereka. Sesekali Damar menoleh untuk memastikan Kenanga baik-baik saja. Setiap kali pandangan mereka bertemu, Kenanga tersenyum kecil. Damar pun membalasnya.“Senyum terus, gak kering tuh gigi?” Arga terkekeh sembari merangkul Damar.

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 61 Tiga Luka yang Saling Terhubung

    Tanpa pikir panjang Damar melompat ke danau untuk menolong Kenanga. Rasa bersalah menumpuk di hatinya, ia sendiri tidak bermaksud berbuat buruk pada Kenanga, namun mengapa akhirnya harus seperti ini?Damar meraih Kenanga dan membawanya ke pinggir danau. Kenanga masih sadarkan diri, gadis itu memuntahkan air yang tertelan.Sementara itu, Arga mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, amarah nampak jelas di matanya, dengan kasar ia menarik kerah Damar.“Kamu kenapa sih! Hubungan kita bertiga baru saja mereda. Tapi kenapa sikapmu kembali acuh? Lihat Kenanga, dia nyaris tenggelam karenamu!”Damar terdiam. Napasnya mulai sesak, melihat keadaan Kenanga yang terbaring lemah, ketakutan dalam dirinya kembali hadir, pikirannya tak karuan. Bagaimana jika Kenanga tak selamat? Haruskah ia kembali mengalami hal menyakitkan lagi?“Damar! Jawab! Apa yang membuatmu kembali menjaga jarak dari Kenanga? Sejak tadi aku memperhatikanmu terus-menerus menjauhi

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 60 Bara Api Cemburu

    Arga dan Kenanga masih bersembunyi di balik pohon besar. Arga merasakan perih di tangannya, ia tak sadar, ketika mencoba melawan pria bertopeng tadi, tangannya sempat tergores. Darah segar menetes di lengannya.Kenanga menoleh dan melihat wajah pucat Arga. Matanya beralih pada tangan Arga yang terluka, Kenanga terbelalak.“Ya ampun, Ar. Tanganmu!” seru Kenanga. “Gapapa, aman kok,” ucap Arga menahan perih.Arga memejamkan matanya, enggan melihat tangannya yang terluka. Arga memiliki ketakutan ketika melihat darah, saat melihat darah, ia akan teringat tentang traumanya, dan Kenanga tahu hal itu.Kenanga mengeluarkan kotak p3k di dalam tasnya, dengan telaten ia membersihkan luka di tangan Arga dengan cairan NaCl dan membalutnya dengan kasa steril. Kenanga memperhatikan Arga, pria di hadapannya ini terlalu rapuh, dibalik sifatnya yang dewasa, Arga menyimpan kerapuhan.“Sudah ku obati, Ar,” ucap Kenanga.“Than

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 59 Di Mana Mereka?

    Sania berlari, ia mengandalkan ingatan terakhirnya ketika melihat Damar yang berada di arah barat. Meskipun saat itu pandangannya samar, namun tak ada salahnya untuk berusaha mengejarnya.Apa yang ia khawatirkan sejak kemarin ternyata benar adanya. Kejadian penyerangan ini cukup janggal, pikirannya teringat pada saat ia menguping pembicaraan Rosa dengan seseorang melalui telpon.“Apa ini tugas yang ia maksud?” pikir Sania.Namun Sania tak punya bukti nyata tentang Rosa, ia hanya menduga-duga, dan hal itu tak bisa membuktikan langsung keterlibatan Rosa dengan hal ini. Jika hal ini memang berkaitan dengan Rosa, mengapa ia melakukan hal seperti ini?Dari kejauhan ia melihat Damar. Pencariannya membuahkan hasil, Sania mempercepat larinya.“Damar!” teriak Sania.Damar menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia melihat Sania tengah berlari ke arahnya, namun ada apa dengan ekspresi gadis itu? Kenapa rasanya Sania terlihat panik?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status