로그인Pertemuan kembali dengan Damar membuat perasaan Kenanga campur aduk, antara bahagia, gugup, sekaligus canggung. Setelah perkenalan pagi itu selesai, seluruh karyawan kembali menuju meja kerja masing-masing. Namun, Kenanga masih terdiam di ruang rapat, seolah kakinya enggan melangkah pergi.
"Damdam, kamu apa kabar?" tanya Kenanga pelan, suaranya bergetar kala ia menyapa Damar. Hening, tak satu pun jawaban keluar dari bibirnya. Sesaat kemudian, Damar melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Kenanga sendirian di tengah ruang rapat yang mendadak terasa asing dan dingin. Bahkan hanya untuk menoleh sebentar saja, tak ia lakukan. Kenanga sempat berharap lelaki itu akan menyapanya dengan hangat seperti dulu, namun harapan itu runtuh saat Damar bersikap dingin, seolah mereka tidak pernah saling mengenal. Kenanga tertunduk lesu, ada rasa sakit yang perlahan memenuhi relung hatinya. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada lelaki itu. “Kenanga, ternyata kamu bekerja di sini juga. Aku senang kita bertemu lagi, maaf ya. Damar memang begitu, maklumi saja ya,” ucap Rosa seraya mendekati Kenanga. “Iya, aku juga senang bisa bertemu lagi dengan kalian.” Kenanga tersenyum getir. “Aku pergi duluan ya, ada hal penting yang harus kubahas dengan Damar. Dan Kenanga, masa lalu tetaplah masa lalu, banyak hal yang berubah. Kuharap, kita bisa bekerja secara profesional supaya kita bisa nyaman dalam bekerja sama. Kamu paham, kan?” Rosa berlalu dengan senyum tipisnya. Hati Kenanga goyah. Setitik air mata muncul di sudut matanya yang sendu sebelum cepat-cepat ia usap. Kata-kata dari Rosa sedikit melukai hatinya. Bagaimana mungkin tidak? Sikap Rosa seakan menunjukkan bahwa ia jauh lebih memahami Damar dibanding dirinya. Sementara di ingatan Kenanga, Damar bukanlah sosok pria dingin dan acuh seperti sekarang. Damar adalah pria yang penuh semangat dengan senyum dan sorot mata yang ceria. “Ada apa dengan sikapnya? Padahal dulu dia sangat ceria,” gumam Kenanga. Enggan larut dalam kenangannya akan sosok Damar, Kenanga menarik napas panjang dan melangkah keluar dari ruang rapat. Ia memilih menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan, berharap kesibukan mampu meredam sesak yang kembali hadir setelah bertahun-tahun. Setidaknya, angka dan tumpukan berkas terasa lebih mudah dihadapi dibanding tatapan dingin Damar barusan. “Kenanga, Sania, ini untuk kalian.” Arga menaruh matcha latte di meja Kenanga dan kopi butterscotch sea salt latte di meja Sania. “Thanks, Ar, hafal banget sama kesukaan kita.” Sania mengambil kopinya dan menyeruputnya, ada rona merah di pipinya kala ia mengambil kopi pemberian Arga. “Kenanga, minum dulu matcha latte-nya. Bukannya kamu bilang, sesuatu yang manis bisa membuat perasaan jadi lebih baik?” Arga tersenyum, tatapannya pada Kenanga menunjukkan kekhawatiran. “Jadi, ada hal yang terjadi? Mau cerita?” Sania merangkul Kenanga dengan hangat. Sedikit ragu, namun akhirnya Kenanga menceritakannya pada kedua sahabatnya itu. “Damdam … setelah sekian lama, akhirnya aku kembali bertemu dengannya. Tapi, sikapnya aneh. Dia seakan tak mengenaliku,” ucapnya sendu. “Wait, jadi, Damdam yang pernah kamu ceritakan itu Pak Damar? Teman SMA kalian dulu?” Sania terkejut mendengarnya. Ia mencoba mencerna cerita Kenanga. “Yap! That's right.” Arga menjentikkan jarinya. “Pantesan aja kamu langsung bengong tadi,” gumam Sania pelan. “Aku cuma gak nyangka bakal ketemu dia lagi di sini,” Kenanga tersenyum hambar, lalu menghembuskan napas pelan. “Tapi serius, dia berubah banget”. Arga terdiam sesaat sebelum menyesap kopinya. Tatapannya tampak rumit, seolah ia juga memikirkan hal yang sama. “Banyak hal yang berubah sejak waktu itu,” ucap Arga pelan. Kenanga menunduk, kesedihan masih tampak jelas di matanya. Jemarinya menggenggam matcha latte di hadapannya, lalu menyesapnya sedikit. Rasa manis dari minuman itu sepertinya tak mampu meredakan pelik di hatinya. “Sebagian orang mungkin berubah, jangan terlalu dipikirkan ya.” Arga mengusap pelan kepala Kenanga. Arga melihat Kenanga dengan getir, tak hanya pada Kenanga. Namun Damar juga bersikap dingin padanya, sahabatnya itu telah jauh berubah. Bahkan sampai saat ini, Arga masih mempertanyakan apa saja yang terjadi di hidup Damar. Tapi, yang paling membuat hatinya sesak adalah kenyataan bahwa perasaan Kenanga masih tertuju pada Damar. Sepertinya, Arga hanya bisa tetap menjadi sahabat bagi gadis itu. Hatinya menolak menerima hal tersebut. Bagaimanapun, Kenanga adalah sosok yang ia sukai sejak dulu. “Kamu yang dulu dan sekarangpun berbeda.” Arga tertawa. “Memangnya dulu Kenanga seperti apa?” tanya Sania. “Bawel, ceria, kalo senyum selalu liatin giginya. Teriakannya bikin telinga sakit.” Arga kembali terkekeh saat menceritakan tentang sosok Kenanga di masa lalu. “Kamu melebih-lebihkan deh, Ar.” Kenanga cemberut. “Masa? Kok sekarang agak kalem ya, kecuali bawelnya sih,” ucap Sania. “Cemberutnya juga masih sama, tuh liat pipinya kayak nyembunyiin cilok.” Arga semakin terkekeh. “Ikh kalian, malah ledekin aku,” ujar Kenanga jengkel. Kenanga yang semula merasa sedih akan sikap Damar, kini tertawa bersama kedua sahabatnya. Arga tersenyum, ia merasa lega melihat Kenanga yang mulai kembali tertawa. Di sudut hatinya, Arga masih ingin memperjuangkan Kenanga. “Nah, gitu dong, ketawa. Kan cantik.” Sania merangkul Kenanga. “Iya iya, makasih ya buat kalian udah hibur aku. Makasih juga ya, Ar, minumannya.” Kenanga mengangkat gelas minumannya. “Kenanga, jangan sedih ya. Mungkin dia punya alasan tersendiri, kasih dulu dia ruang,” ucap Sania menguatkan. Kenanga tersenyum kecil mendengar kalimat Sania dan mencoba menenangkan dirinya. Ia berpikir bahwa ucapan Sania ada benarnya. Mungkin, ada alasan di balik perubahan sikap Damar. Apa pun yang terjadi padanya selama ini, Kenanga hanya bisa menunggu dengan sabar, berharap jarak dan dingin yang kini membentang di antara mereka perlahan runtuh dengan sendirinya. Di sudut hatinya, Kenanga masih percaya bahwa lelaki jahil dengan senyum hangat itu masih ada, hanya tersembunyi di balik luka yang belum ia pahami hingga saat ini. “Tak apa, jika akhirnya kita menjadi asing satu sama lain. Setidaknya, aku bisa kembali melihatmu dalam keadaan yang baik-baik saja setelah sekian lama. Namun bagaimanapun, aku tak bisa menampik perasaanku, bahwa aku sungguh merindukanmu selama ini. Kamu sahabatku, sekaligus cinta pertama bagiku,” batin Kenanga. Tak jauh dari meja Kenanga, ada sepasang mata yang memperhatikan. Damar, tatapan dinginnya berpindah dari Kenanga dan Arga. Sebelah alisnya terangkat dan ia raih gagang telepon di mejanya. “Kenanga, ke ruangan saya sekarang,” ucapannya datar. “Ada apa?” Kenanga mengernyit. Hening. Tatapan Damar kembali mengarah pada Arga. Jari telunjuknya mengetuk meja perlahan, lalu mengalihkan pandangannya lagi pada Kenanga. “Apa kamu bisa ….”Rosa menatap Kenanga dengan tatapan tajam. Rasa benci pada gadis itu kian memenuhi rongga dadanya, ia merasa Kenanga tak pantas mendapatkan apa yang seharusnya jadi miliknya.“Apa yang istimewa dari gadis itu? Kenapa dia selalu mendapatkan apa yang ku inginkan?” gumam Rosa.Kenanga … nama itu selalu membuat Rosa merasa muak. Rasanya, apa yang Rosa usahakan, selalu berhasil didapatkan oleh Kenanga dengan mudahnya. Sedangkan ia harus berjuang mati-matian, namun apa yang ia dapatkan tak pernah sepadan.Dari mulai nilai di masa SMA, Rosa selalu kalah dari Kenanga. Sehingga ia tak pernah sekali pun mendapatkan perhatian dari Anton.Dan Kenanga selalu menjadi anak kecil bagi Gani. Gadis itu selalu diperhatikan oleh Gani, ayahnya. Sementara Rosa? Tak pernah sekalipun dianggap berarti oleh Anton. Anton selalu menuntutnya sempurna, sebab Rosa adalah satu-satunya penerus keluarga Dhinakara.“Aku … tak akan tinggal diam.” Rosa mengepalkan tangannya.
Arga memutuskan kembali ke kantor. Langkahnya terasa berat, terutama hatinya.“Masa takdirku harus patah hati terus?” keluh Arga.Damar yang baru saja turun ke loby melihat Arga, sahabatnya itu nampak seperti cuaca mendung. Damar menghampiri Arga dan menepuk pelan pundaknya.“Suram amat, kenapa bro?” tanya Damar.Arga menoleh, lalu membuang napasnya. Enggan menjawab Damar, pria berkacamata itu hanya tertunduk lesu.Damar mengernyitkan keningnya. Ia menyamakan langkahnya dengan Arga.“Ar? Are you okay?” tanya Damar sekali lagi.“Sudahlah, Dam. Lagi patah hati aku,” jawab Arga.“Patah hati? Sama siapa? Kenanga?” tanya Damar.“Ayolah, Dam. Aku udah move on ya dari Kenanga, yang aku maksud itu Sania,” jawab Arga.“Kamu suka sama Sania, Ar?” tanya Kenanga yang tiba-tiba berada di belakang Arga dan Damar.Damar dan Arga menghentikan lang
Dengan langkah hati-hati, Arga mengikuti Sania dan Yoga. Hatinya semakin terusik, disaat ia melihat Sania masih memegang tangan Yoga. “Aku harus tau, siapa sebenarnya lelaki bernama Yoga itu,” gumam Arga pelan. Sania dan Yoga masuk ke dalam sebuah kafe yang berada di seberang jalan. Mereka duduk di sudut, di tempat yang tak banyak orang. Arga menyusul beberapa saat kemudian. Ia tidak langsung menghampiri meja yang ditempati Sania dan Yoga. Sebaliknya, ia berjalan menuju meja kosong di sisi lain ruangan, sedikit menyamping dari posisi mereka. Meja itu tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak terlalu jauh. Sebuah tanaman hias berukuran cukup besar berdiri di antara beberapa meja, membuat keberadaan Arga tidak begitu mencolok dari sudut pandang Sania dan Yoga. Arga menarik kursi, lalu duduk dengan santai. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan berpura-pura sibuk membaca sesuatu di layar, ia bahkan menutupi wajahnya dengan daftar menu dan sesekali melirik ke arah Sania dan Yoga mel
Sania melangkahkan kakinya keluar dari lift, Arga pun tak tinggal diam. Ia mengikuti Sania dan berhenti di samping Sania, ketika gadis itu menghentikan langkahnya.“Yoga, ini Arga. Rekan kerjaku, dan Arga, ini Yoga. Teman lamaku,” Sania memperkenalkan keduanya.Arga dan Yoga saling bersalaman. Yoga tersenyum tengil dan mengangkat alisnya sebelah, sementara Arga hanya tersenyum tipis, namun tatapannya cukup tajam di saat ia melihat Yoga.Yoga menyisir sebelah rambutnya dengan tangannya dan merangkul Sania. Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Sania.“Long time no see. I Miss you,” ucap Yoga.Arga membeku. Api cemburu kian membara, pria berkacamata itu mengepalkan tangannya pelan dan membuang napas kasar.“Apa sih, Yog. Ada apa kamu tiba-tiba ke kantorku?” Sania melepaskan rangkulan Yoga.“Ada hal yang harus aku sampaikan, dan hal ini yang kamu tunggu sejak lama,” jawab Yoga.Sania terdiam sesaat. Ia menegang, mu
Sania masih memikirkan ucapan Arga. Apa pria berkacamata itu memang sedang mendekatinya? Sania menggeleng pelan.“Masa sih?” gumam Sania pelan.Tangannya perlahan naik, menopang dagu dengan ibu jari sementara jemari lainnya bersandar di sepanjang lekuk pipinya yang tirus. Matanya menatap kosong ke arah jendela kantor, isi kepalanya mulai riuh tentang sosok Arga.“Sadar, Sania.” Sania menepuk kedua pipinya dengan telapak tangan.Sejak dulu, Sania selalu menyukai Arga dalam diam, bahkan sampai sekarang perasaan itu masih ada menghiasi hatinya. Hanya saja, Arga baru-baru ini telah menyerah pada Kenanga, hingga akhirnya sikap pria itu padanya mulai berbeda. Sania hanya khawatir, jika apa yang Arga lakukan hanya untuk melampiaskan rasa patah hatinya.Gadis itu bersandar pada kursinya. Ia mengusap wajahnya pelan, dan terkejut ketika tiba-tiba Arga ada di hadapannya sembari tersenyum dan mata yang berbinar.“Eh, Ar. Ada apa?” tanya Sani
Damar melangkah mendekati Kenanga. Namun, gadis itu segera mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk mengusap sisa air mata di pipinya.“Keke, lihat aku sebentar,” pinta Damar. “Untuk apa?” jawab Kenanga lirih.Damar terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Kenanga akan menyambutnya dengan sikap sedingin itu.“Boleh kutanya ada apa? Kamu menangis?” tanya Damar.Kenanga menggeleng, enggan menjawab Damar. Rasanya, nyeri di hatinya masih terus menerus menusuk.“Aku sibuk, permisi.” Kenanga berdiri dan hendak pergi.“Jawab dulu aku.” Damar menahan tangan Kenanga.“Aku sudah melihatnya sendiri.” Kenanga menggigit bibir, berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar. “Aku melihat Rosa memelukmu.”“Justru karena kamu enggak tahu apa yang terjadi, aku ingin menjelaskannya.” Damar mengembuskan napas pelan. “Apa yang terjadi, tidak seperti apa yang kamu pikirkan.”







