로그인“Tentang rumor antara kamu dan Damar, itu bagaimana?” tanya Kenanga.
“Rumor apa?” Damar mengerutkan keningnya.“Jadi, saat kamu pergi ke Singapura, ada rumor yang menyebar di sekolah, kalau kamu dan Rosa memiliki hubungan istimewa,” papar Arga.Damar tak habis pikir, ia pergi ke luar negeri untuk pengobatan kanker ibunya. Tapi, tanpa sepengetahuannya ada rumor yang beredar tentangnya dan Rosa. Bagaimana bisa hal itu terjadi?“Ayolah. Come on, aku gak pernah“Tentang rumor antara kamu dan Damar, itu bagaimana?” tanya Kenanga.“Rumor apa?” Damar mengerutkan keningnya.“Jadi, saat kamu pergi ke Singapura, ada rumor yang menyebar di sekolah, kalau kamu dan Rosa memiliki hubungan istimewa,” papar Arga.Damar tak habis pikir, ia pergi ke luar negeri untuk pengobatan kanker ibunya. Tapi, tanpa sepengetahuannya ada rumor yang beredar tentangnya dan Rosa. Bagaimana bisa hal itu terjadi?“Ayolah. Come on, aku gak pernah sekalipun menyebarkan rumor antara aku dan Damar. Itu hanya spekulasi teman-teman saja,” kilah Rosa.“Tapi kamu tak pernah menyangkal hal tersebut,” ucap Kenanga.Rosa merasa dihakimi oleh Damar, Arga dan Kenanga. Ia semakin geram, rahangnya kian mengeras dan napasnya memburu.“Karena bagiku itu hanya asumsi teman-teman kelas yang akan berlalu begitu saja,” ucap Rosa.“Oh begitu rupanya,” ujar Kenanga.“Masih ada hal yang perlu aku urus. Aku permisi.
“Apa maksud pertanyaan kalian? Hubungan istimewa apa?” tanya Damar.“Mereka masih bersama sampai sekarang, Ar. Setidaknya itulah yang aku dengar,” ucap Kenanga.“Itu yang dia dengar? Dari siapa?” tanya Damar dalam batin.Damar semakin bingung, bersama? Sejak kapan? Hubungannya dengan Rosa tak lebih dari rekan kerja. Apa Kenanga salah paham padanya? Kebaikan Damar pada Rosa hanya bentuk menghargai keluarga Dhinakara yang telah lama menjalin kerjasama dengan keluarganya, tak lebih dari itu, dan hal yang tak diketahui Kenanga adalah bahwa Damar selalu menjaga jarak dan batasan dari Rosa.Mungkin pernah ia bersikap lunak pada Rosa, ketika Rosa membawakannya makanan ke kantor, tapi itu hanya karena ada Kenanga di dekatnya. Lantas apa yang membuat Kenanga dan Arga berpikir bahwa hubungannya dengan Rosa istimewa?“Aku dan Rosa hanya rekan. Tak pernah lebih dari itu,” ujar Damar.“Benarkah? Tapi kenapa aku ragu?” tanya Arga.“Te
“Ini … bukan yang aku kerjakan, data pada lembar ini berbeda,” ucap Kenanga. “Waktu kita sudah mepet, lusa kita akan survey. Kenapa kamu bisa ceroboh seperti ini?” cecar Damar. Kenanga terdiam, apa ia memang melakukan kesalahan ketika proses pembuatan dokumen tersebut? Tapi ia sudah teliti dan merevisinya berulang kali sesuai arahan Damar. Tapi kenapa kali ini kesalahan itu kembali? “Saya, izin memeriksa file di komputer, Pak,” pinta Kenanga. Kenanga mengeluarkan flashdisk yang ada di sakunya dan menyambungkannya ke komputer atasannya itu. Dengan teliti ia mencari file data teknis proyek. Klik! Ia membuka file tersebut dan mencocokan sebuah data pada halaman yang dimaksud, dan ternyata data yang ada dalam file dan yang telah dicetak memang berbeda. Damar turut memperhatikan data tersebut. Alisnya mengernyit, kenapa data itu bisa berbeda? Apa ada yang menukarnya? Ataukah ada kesalahan ketika mencetak? Namun ji
Rosa menggerakkan jemarinya di atas keyboard, mengetik beberapa kalimat dan mencetaknya. Hanya satu halaman, namun senyum tipisnya mulai tergambar di wajahnya.Ia menyelipkan kertas itu di antara map dan berjalan keluar ruangan. Jam istirahat, ruangan mulai sepi, ia memperhatikan sekitar dengan seksama dan menemukan Kenanga dan Arga yang tengah mencetak beberapa dokumen.“Kali ini, Damar minta revisi apa lagi?” tanya Arga.“Oh enggak kok. Aku lagi cetak dokumen data teknis proyek terbaru untuk keperluan survey,” papar Kenanga.Rosa yang mendengar hal tersebut tersenyum. Sebelumnya ia sudah mengecek dokumen apa saja yang telah siap dan belum siap. Dengan langkah gontai, Rosa berjalan mendekati Kenanga.“Arga, aku mau bicara sama Kenanga sebentar berdua ya,” pinta Rosa.Arga menoleh pada Kenanga, seakan meminta izin dari gadis tersebut. Kenanga hanya tersenyum dan mengangguk pelan.“Oke, aku permisi dulu,” pamit Arga.
“Apa kamu … curiga padaku?” Rosa menyipitkan matanya. “Enggak, aku cuma nanya aja,” jawab Kenanga sekenanya. Hening. Tak ada yang bicara. Hanya tatapan keduanya yang seolah menciptakan jarak dingin di antara mereka. “Ayolah, move on. Apa kamu masih menaruh hati pada Damar?” Rosa bangkit dan menyilangkan lengannya. “Jawaban seperti apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Kenanga sembari tersenyum miring. Rahang Rosa mulai mengeras, ia tak habis pikir dengan sikap Kenanga terhadapnya. Dari mana gadis itu mendapat keberanian untuk menantangnya? Rosa tersenyum tipis lalu menatap Kenanga dengan tajam. “Kenanga, kalau seseorang punya pilihan, tentu dia akan memilih pasangan yang pantas untuknya. Kamu pasti tahu maksudku,” ucap Rosa. “Apa kamu takut? Atau, apa posisimu sekarang mulai terancam?” tanya Kenanga. Kenanga enggan mengalah. Ia sudah cukup bersabar selama ini. Jika kesalahpahaman yang dialami oleh Damar memang ada sangkut pautnya dengan Rosa, maka Kenanga tak akan tingg
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Kenanga dan tim proyek lainnya tengah menyiapkan keperluan untuk survey lokasi proyek. Namun, tanpa Kenanga sadari, seseorang mulai memperhatikan setiap langkahnya.Rosa, gadis itu tak melakukan sesuatu yang terlihat mencurigakan, ia hanya mengamati, menunggu dan mencari satu celah yang bisa ia manfaatkan, hingga akhirnya, kesempatan itu datang padanya.“Kenanga, berkas-berkas keperluan survey lokasi, bawa ke ruanganku,” titah Damar melalui telepon.“Baik,” jawab Kenanga singkat.Kenanga memilah dokumen-dokumen yang berjejer di mejanya. Ia ambil beberapa untuk di bawa ke ruangan atasannya itu, namun ada satu dokumen yang tak ia temukan. Dokumen perizinan yang wajib di bawa untuk survey lokasi.“Dimana ya … perasaan di sini deh, kok gak ada,” gumam Kenanga.“Cari apa?” tanya Sania.“Dokumen perizinan untuk di bawa ke lokasi survey gak ada,” ucap Kenanga panik.“Kamu lu







