MasukBab 4 Terkuaknya Tugas yang Diberikan?
Arhan terus berjalan dengan sesekali menoleh ke arah Naira. Dari raut wajahnya, ia begitu berat untuk meninggalkan adiknya itu. Namun di sisi lain, karena kesepakatan yang ia buat dengan bosnya lah yang membuatnya terpaksa melangkah pergi dengan membawa tujuan yang masih menjadi misteri. *** Seperginya Arhan, Nathan lantas meminta Namu untuk mengantar Naira kembali ke ruang pribadinya. "Apa kamu tau ke mana perginya kakakku?" tanya Naira yang berjalan hampir beriringan dengan sekertaris suaminya itu. Sayangnya, Namu tak menjawab dan terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Naira. "Ternyata dia sama aja dinginnya dengan bosnya," batin Naira, melirik kesal ke arah Namu dan melanjutkan langkahnya. Mendapati sikap Namu yang demikian, Naira hanya menghela napas kasar. Kali ini pikirannya kembali berisik dan tak lagi bisa berpikir positif. Bahkan pikirannya itu terus saja berlangsung hingga ia sampai di ruang pribadi Nathan. "Kalau Nona membutuhkan sesuatu, Nona bisa menghubungi saya," kata Namu, ia lalu pergi. "Menghubungi saya, menghubungi saya, pakai apa?! telepati?!" kesal Naira saat Namu sudah menjauh darinya. Naira lalu terdiam beberapa saat. "Kak ... kenapa kamu bawa barang itu?" batin Naira. "Itu kan berbahaya. Apalagi kakak kan pergi jauh," ucap Naira dalam hati. Naira betul-betul dibuat berpikir keras dengan hal yang katanya tak seharusnya ia pikirkan. Sampai beberapa saat kemudian Naira pun tersadar dan berpikir kalau tugas yang dilakukan kakaknya itu berkaitan dengan sesuatu hal yang dilarang. "Jangan-jangan kak Arhan ...." Naira pun bergegas kembali keluar dari ruangan dan mencari keberadaan Nathan yang ternyata masih di ruang kerjanya. Nathan sendiri mendadak menghentikan percakapannya dengan Namu ketika melihat kemunculan yang tiba-tiba dari wanita yang belum lama menjadi istrinya itu. "Ada apa?" tanya Nathan dingin. Naira bergeming di hadapan pria yang duduk di kursi mejanya itu. Entah, ia mendadak ragu untuk menanyakan perihal kecurigaannya tersebut. Ia juga teringat dengan perkataan Nathan sebelumnya untuk tidak perlu tahu apa yang akan dilakukan kakaknya. Sampailah tiba-tiba Namu beranjak dari tempatnya dan membisikkan sesuatu pada bosnya itu yang membuatnya agak terkejut. Tepat setelah Namu membisikkan suatu itu, Nathan pun langsung beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekati Naira. "Ikut aku," ujar Nathan. Nathan pun berjalan dengan cepat ke luar dari ruang kerjanya. Dan Naira pun mengikuti langkah pria berstatus suaminya itu meski harus sambil sedikit berlari karena ketertinggalannya. Ternyata Nathan pergi ke ruang pribadinya dan langsung menuju ke lemari yang sebelumnya Naira lihat terdapat banyaknya senj*ta api. "Apa ini yang ingin kamu tanyakan?" ujar Nathan dengan tatapan tajamnya. "Iya. Kenapa ada barang-barang seperti itu di sini? buat apa?" balas Naira. Masih dengan tatapannya yang sama, Nathan lantas menjawab," sudah menjadi hal yang biasa untuk orang seperti ku memiliki barang seperti ini. Karena banyak musuh yang sewaktu-waktu bisa mengincar nyawaku. Kamu tenang saja, punya ku ini sudah memiliki izin resmi." "Terus kenapa kakakku juga memiikinya? bukankah dia hanya seorang karyawan biasa di perusahanan mu ini?" Nathan terkejut mendengar pertanyaan Naira barusan. Karena ia tak menyangka kalau gadis berhijab yang terlihat polos di hadapannya itu tahu perihal senj*t* api yang dimiliki Arhan yang juga sebenarnya berasal dari dirinya itu. Naira menatap nyalang Nathan. "Jadi ke mana kakakku pergi? terus tugas apa yang kamu berikan sama dia?" "Lebih baik kamu gak usah tau daripada kamu menyesal." "Kamu salah!" sergah Naira. "Justru aku akan lebih menyesal kalau aku gak tau dari sekarang!" Naira betul-betul terlihat tak bisa lagi menahan emosinya. Sementara itu, Nathan hanya terdiam menahan kesabarannya melihat Naira yang bersikap demikian. Sebab bagaimanapun ia tak bisa memberitahukan apa yang sebenarnya dilakukan Arhan. "Jangan bilang kalau kamu nyuruh kakakku buat ngebu*n*h orang." Kedua mata Naira pun mulai berair bersamaan dengan ucapannya barusan. Dalam hati ia berharap jika dugaannya itu salah. Sayangnya, Nathan malah terdiam yang seolah mengiyakan ucapan Naira tersebut. Dengan cepat Naira lantas merogoh saku gamisnya dan mengeluarkan ponselnya. "Akan ku telepon kakakku untuk menghentikan pekerjaan kotornya itu!" Belum sempat Naira melakukan niatnya itu, Nathan lebih dulu merampas ponselnya. Nathan menatap Naira dengan sangat tajam. "Aku peringatkan! jangan sekali-kali kamu mengganggu pekerjaan kakakmu," tegas Nathan. "Mulai sekarang ponselmu aku sita." Setelah berkata demikian, Nathan pun meninggalkan Naira begitu saja. "Nathan! Nathaaaan!!!" pekik Naira, namun diabaikan oleh Nathan. Hingga akhirnya tubuh Naira pun rubuh dan ia kembali menangisi hidupnya yang terasa amat berantakan. Terlebih dengan pekerjaan yang dilakukan kakaknya hanya demi sebuah uang. Sampai tak lama setelahnya, pandangan gadis berhijab itu pun menghitam. Naira pingsan. *** Entah berapa lama Naira pingsan, ia sendiri tak mengetahuinya. Namun yang jelas, ketika ia sudah tersadar ia sudah berada di atas kasur. Ia melihat ke sekekiling ruangan tetapi tak melihat keberadaan siapapun. Termasuk Nathan, suaminya. Naira terduduk meringkuk di atas kasur dan kembali teringat dengan kakaknya. Tak hanya itu, berbagai peryanyaan perihal ibunya pun ikut muncul dan berputar-putar di kepalanya. "Kenapa, kak? kenapa kakak lakuin ini semua?" batin Naira. "Terus soal ibu? kalau kakak gak sama ibu, ibu sama siapa?" racau Naira, yang malah membuatnya kembali terisak. Saking kalutnya pikiran Naira, ia sampai tak menyadari kemunculan Nathan yang tiba-tiba. Melihat gadis di hadapannya yang menangis dengan keadaan seperti itu, Nathan lantas duduk di belakang Naira dan memeluknya dengan harapan bisa menenangkannya. Naira sendiri yang mendapati pelukan tiba-tiba dari Nathan itu pun dibuat tersentak sejenak. Meski begitu ia hanya bisa pasrah dan membiarkan Nathan memeluknya karena keadaannya yang tak lagi berdaya. Ia juga merasa jikalau harus melawan atau kembali mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi, hasilnya pasti akan tetap sama. "Kakakmu pasti kembali. Itu janjinya padaku. Dan ibumu, dia aman bersama orang-orangku," kata Nathan. Naira bergeming tak menggubris perkataan Nathan barusan. Karena bagaimanapun keadaannya sekarang, Naira tetap menganggap pria yang masih memeluknya itu adalah orang jah*t yang mengorbankan kakaknya demi kepentingannya sendiri. "Naira ...," panggil Nathan lirih. "Lepaskan aku!" Naira membuang tangan Nathan yang memeluknya. Ia lantas sedikit menjauh dari pria itu. "Mulai sekarang jangan bicara apapun sama aku sebelum kamu menarik tugas yang kamu berikan ke kakakku!" ancam Naira. Mendapati sikap Naira yang demikian, Nathan, yang tadinya bersikap lembut mendadak kembali memperlihatkan sikap dinginnya. Ia menatap Naira dengan tajam yang membuat Naira merasa ketakutan. Bersambung ...Bab 17 Pria yang Dibunuh?"Bukan keduanya," jawab Nathan, lirih. Seketika pandangan Naira kembali ke arah Nathan. Dengan masih terisak, wanita berambut panjang itu menatap pria di dekatnya itu begitu lekat."Lalu?" tanya Naira, ia tampak penasaran.Nathan menghela napas berat. "Orang itu yang sebelumnya kamu tanyakan. Devan.""Devan?""Iya, dia kakakku. Kakak kandungku."Naira tercengang. Ia semakin syok. Tak menyangka kalau orang yang menikahinya berbuat sekeji itu terlebih pada saudara kandungnya sendiri."Astaghfirullah, kamu kok bisa sih ngebuhuh kakak kamu sendiri?" Naira menggeleng tak habis pikir. Tubuhnya lemas seketika mendapati kenyataan yang sekalipun tak pernah ada terbesit dalam pikirannya.Naira menarik napas panjang. Mengaturnya dan mencoba menahan air matanya supaya tidak tumpah. Entah mengapa, ia sedih tapi juga merasa geram lantaran apa yang sudah diperbuat pria berstatus suaminya itu. Ia juga betul-betul dibuat untuk berpikir keras, pria macam apa yang sudah menik
Bab 16 Terbongkar? (sang kakak yang ditemukan) Perasaan yang sama rupanya juga dirasakan oleh Naira. Ia begitu bahagia dengan keadaannya sekarang. Rasa kecewa dan sakit yang sebelumnya menghinggapi hatinya itu kini perlahan mulai hilang. Bahkan saat ini jantungnya terus saja berdetak tak beraturan. Ia merasa di malam ini, untuk pertama kalinya Nathan akan menyentuhnya. Tapi tiba-tiba .... "Jangan ada batuk lagi ya," cetus Naira. Seketika Nathan terkekeh. "Iya, iya. Aman kok," balas pria yang duduk di hadapan Naira itu. Dengan tersipu-sipu Naira kembali memejamkan matanya. Sementara Nathan pun kembali bersiap. Lalu secara perlahan Nathan pun mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya itu. Ia hendak memulai "kewajiban" nya itu dengan mencium Naira. Meski terpejam, Naira betul-betul bisa merasakan betapa de
Bab 15 Keinginan Naira Mendengar jawaban Alvin, Naira menghela napas kesal. Ia tak puas dengan jawaban yang baginya sama sekali tak membantunya itu. Ia pun pergi meninggalkan Alvin begitu saja."Masa iya sih aku harus tanya langsung ke Nathan?" pikir Naira dalam hati. Ia bingung sekaligus ragu.***Malam pun tiba. Dan Naira yang terduduk di atas kasur pun masih saja terpikirkan perihal dua nama yang begitu asing baginya. "Zara? Devan? siapa mereka dan apa hubungannya dengan Nathan?" pikir Naira.Ditengah-tengah lamunannya itu, tanpa Naira sadari tiba-tiba Nathan sudah berada sangat dekat di depan wajahnya."Naira?" panggil Nathan. Naira tersentak kaget dan reflek menjauhkan wajahnya dari suaminya itu."Kamu mikirin apa?" tanya Nathan lembut.Naira terdiam sejenak. Ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk menanyakan dua nama asing yang tengah menyelimuti pikirannya saat itu."Boleh aku tanya sesuatu?" ujar Naira."Boleh. Kamu mau nanya apa?" Nathan lantas memposisikan duduknya dan
Bab 14 Dua Nama Asing"Kami akan pergi. Tapi sebelumnya izinkan saya bicara empat mata dengan Anda. Maaf kalau ini tidak sopan," ucap Aland.Nathan terdiam. Ia bingung harus mengizinkan Aland berbicara padanya atau tidak. Karena sebenarnya, Nathan sendiri sudah cukup lama mengenal siapa sosok Aland itu. Hanya saja karena masalah yang ada membuat hubungan keduanya merenggang.Namun pada akhirnya Nathan mempersilakan Aland untuk berbicara empat mata dengannya. Selain karena sudah mengenalnya, Nathan juga sedikit penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh pria yang usianya di bawahnya itu. Setelah mendapat persetujuan, Aland lalu meminta Alvin untuk meninggalkannya terlebih dahulu. Alvin menurut dan akan menunggu Aland di luar."Aku harap kamu tetap baik," pesan Alvin pada Aland. Lalu ia pun pergi.Ternyata, meski Alvin tak tahu pasti apa yang akan disampaikan Aland kepada Nathan, namun dengan pesan yang diucapkannya kepada rekannya itu seakan dirinya mengerti dengan keadaan yang
Bab 13 Apa mungkin aku sudah jatuh cinta dengannya? Ketika perasaan Naira sudah mulai lega, tangisannya juga sudah mereda, ia pun melepas pelukan dari Nathan. Ia menatap suaminya itu dengan serius dan mengatakan satu hal yang membuat Nathan tercengang. "Kalau kamu bisa menyuruh kakakku untuk membu*nuh seseorang, bisakah kamu membu*nuh pria jahat itu untuk ku?" Mendengar ucapan Naira, Nathan tercengang sejenak lalu memeluknya. "Tenanglah, biar aku urus satu manusia itu. Percaya sama aku, aku pastikan setelah ini dia gak akan pernah lagi mengganggu hidup kamu." Sebenarnya Naira merasa tak puas dengan jawaban Nathan. Namun mengingat keadaannya, ia juga tak bisa berbuat lebih. Ia pasrah dan mencoba untuk mempercayai suaminya itu. Cukup lama Naira berada dalam pelukan Nathan. Dan selama itu pula lah gadis berambut panjang itu mulai merasa nyaman dan tenang. Begitu juga dengan Nathan, entah mengapa ia juga merasakan kenyamanan selama bersama gadis yang mulanya terpaksa ia nikahi it
Bab 12 Kemunculan Roy di Rumah Nathan "Sudah aku katakan sebelumnya, jangan pernah ganggu Naira lagi," peringat Aland, menatap tajam ke arah Roy.Mendengar ucapan Aland barusan membuat Nathan bertanya-tanya dalam hati. "Darimana dia tau nama istriku? apa mungkin dia dan Naira sudah saling mengenal sebelumnya?""Pergi!" usir Aland seraya mendorong kasar Roy.Meski takut dengan pistol yang dibawa Aland, Roy tak menyerah. "Akan ku buktikan pada Arhan, selama aku masih hidup, aku gak akan nyerah buat dapetin Naira. Kalaupun aku gak bisa, seeggaknya aku harus menyentuhnya!" Roy tersenyum menyeringai. Roy ingat betul dengan perkataan Arhan waktu itu, yang mana memintanya untuk terus bermimpi mendapatkan Naira. Lantas karena hal ini lah yang menjadikan Roy merasa tertantang sekaligus semakin terobsesi pada Naira. Tak hanya itu, karena perkataan Arhan tersebut lah yang akhirnya membuat Roy dendam pada Arhan. Dan tentu saja, salah satu untuk membalaskan rasa sakit di hatinya itu, Roy haru







