Beranda / Fantasi / Ayah, Jangan Bunuh Aku! / Chapter 118 - Tawaran

Share

Chapter 118 - Tawaran

Penulis: Nyx
last update Tanggal publikasi: 2026-05-22 23:31:23

Ning Xueqin membuang seluruh harga dirinya dan melompat ke arah Xu Chang lalu memeluk lengan Xu Chang dengan erat.

“Ayah angkat! Kakak pertama benar benar keji, menyimpan pandangan dan keinginan yang tidak pantas terhadapku! “ Seru Ning Xueqin.

“Omong kosong! Ayah, semuanya hanya salah paham. Sebelumnya putra ini mabuk dan salah mengenali Tuan Putri, semua ini karena pelayan sialan ini yang berani beraninya lari ke arah halaman Tuan Putri! “ Seru Xu Qian segera menunjuk Zilan.

Ning Xueqin ak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 231 - Kematian Chu Longqi

    Ning Xueqin menganggukkan kepalanya dan menganggap bahwa ini mungkin sudah hukum alam bagi Kediaman Chu yang sudah melakukan banyak kejahatan.“Selidiki paman ketigaku baik-baik, jangan tinggalkan sedikitpun detail. Hingga waktunya tiba, maka mereka semua tidak akan bisa meloloskan diri,” ucap Ning Xueqin kembali datar seperti biasa.“Kamu ingin menghancurkan seluruh Kediaman Chu, apakah karena upaya pembunuhan sebelumnya?” tanya Xie Guang dari belakang.“Ya dan tidak, ya karena itu salah satu yang mempengaruhinya. Tidak karena ini juga merupakan bagian dari keegoisanku,” ucap Ning Xueqin.Xie Guang tidak menanggapi dan menatapnya, menunggunya untuk menjelaskan lebih lanjut.“Bagimu mungkin aku terlalu picik atau pendendam, meskipun mereka telah berusaha membunuhku namun itu mungkin salah paham. Bagaimanapun mereka adalah satu satunya anggota keluarga ku dari pihak ibu.”Ning Xueqin memaksakan dirinya untuk tersenyum ketika mengatakan ini namun senyumnya justru terlihat jelek.“Tapi b

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 230 - Satu Tahun

    “Jadi apa tujuanmu?” tanya Xie Guang setelah tiba di atas kereta kuda.“Aku hanya ingin melihat pertunjukan dari keserakahan manusia, mari kita lihat seberani apa Chu Xinling ini,” jawab Ning Xueqin.Xie Guang menghela napas dan sepertinya paham dengan rencana miliknya, Ning Xueqin hanya tersenyum tipis di dalam cahaya yang redup ini.“Kenapa? Terkejut bahwa aku selicik ini? Menyesal telah bekerja untukku?” tanya Ning Xueqin sambil bertopang dagu.“Tidak, aku hanya berpikir… bahwa kehidupan Kekaisaran mungkin tidak sebaik yang orang katakan,”jawab Xie Guang.“Kamu benar. Kamu lihat di antara kakakku dan aku, siapa yang tangannya tidak berlumuran darah ? Di balik kemilau emas, terdapat lumuran darah yang tidak akan bisa dibersihkan sampai puluhan tahun kemudian,” balas Ning Xueqin tertawa ringan.Namun tawanya mengandung kesedihan yang tak tertahankan, sejujurnya dia merindukan kehidupan lamanya.Hidup dengan tenang tanpa kekhawatiran, dengan dua orang tua yang menyayanginya dan seoran

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 229 - Tawaran Jabatan

    “Tidak perlu terlalu serius, aku hanya bercanda. Lagipula kita semua adalah keluarga kan? Tidak perlu sampai merepotkan Ayahanda,”bisik Ning Xueqin.“Namun, kakek… aku penasaran untuk siapa kamu melakukannya? Apakah untuk kakakku yang baik atau kalian justru diperintahkan olehnya?”tanya Ning Xueqin.Chu Longqi hampir muntah darah karena marah dan ingin pergi namun tangannya tidak dapat bergerak seinci pun karena tekanan dari Ning Xueqin.“Apakah aku sudah memerintahkan mu untuk pergi? Apakah begini cara Guru Kekaisaran Chu melayani atasannya?” tanya Ning Xueqin dengan mendominasi.“Apa maumu?” tanya Chu Longqi dengan dingin.“Apa mauku ya? Kalau begitu maka ini adalah yang paling rumit. Bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku ingin kamu mengundurkan diri dari posisimu saat ini? Maka aku akan menganggap semua ini tidak pernah terjadi,”ucap Ning Xueqin dengan seringaian.Sejak awal dia tidak pernah berniat melaporkan hal ini kepada Kaisar Ning apalagi jika berkaitan dengan Keluarga Chu.

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 228 - Keluarga Chu

    Xie Guang terdiam dan menatapnya dengan rumit sebelum akhirnya menghela napas, tampaknya Xie Guang sudah tahu tabiatnya yang asli.“Baiklah, kamu memiliki rencana. Jadi bagaimana sekarang?” tanya Xie Guang.“Tentu saja kita akan menyelidiki asal muasal dari pembunuh bayaran ini,” balas Ning Xueqin.“Bukan itu. Antara Zhen Ming dan aku, siapa yang akan kamu pertahankan?” tanya Xie Guang.“Oh… kamu tetap menjadi guruku saja, Zhen Ming akan menjadi pengawalku. Bagaimanapun kamu akan pergi berperang sewaktu-waktu, pada saat itu maka aku akan kesulitan,”jawab Ning Xueqin.“Baiklah, sesuai pengaturanmu saja,” balas Xie Guang dengan pasrah.“Tuan Putri, sekarang kita akan melakukan apa lagi?” tanya Zilan sambil merapihkan pakaiannya.“Kita akan mengikuti jalan setapak ini dan melihat dimana jalan setapak ini berakhir, mana tahu akan menghasilkan penemuan baru,” jawab Ning Xueqin.Tiba-tiba di saat Ning Xueqin melangkah ke depan, sebuah anak panah melesat beberapa langkah dari kepalanya.Semu

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 227 - Rencana Baru

    Ning Xueqin memikirkan ini berhari-hari dan dia mulai memahami bahwa Xie Guang mungkin merasa tidak nyaman dengan dirinya karena batasan di antara mereka yang tidak jelas.Wajar jika merasa tidak nyaman jika tidak merasa ada batasan yang jelas, jadi demi hubungan yang profesional di masa depan maka Ning Xueqin memutuskan untuk berbuat seperti ini.Kali ini dia mendapatkan dukungan dari Kediaman Xie dan Kediaman Su, kedua Jenderal berada di pihaknya hanya saja para pejabat sipil masih berlawanan dengannya .Tapi setidaknya kehidupannya akan lebih baik dan aman, tidak serentan sebelumnya lagi. Setidaknya di pengadilan Istana dia memiliki pendukung untuk mendukungnya.Namun jawaban dari Xie Guang selanjutnya membuat Ning Xueqin terdiam, sangat terdiam sampai-sampai tidak bisa bereaksi lagi.“Aku menolak.”“Menolak? Kenapa?”tanya Ning Xueqin dengan kebingungan.“Aku ingin interaksi kita tetap seperti sebelumnya, aku sudah terbiasa,”jawab Xie Guang.Ning Xueqin mendongak dan menatap Xie Gu

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 226 - Permintaan Maaf

    Dengan lolosnya dia mengikuti tarikan itu tanpa perlawanan, hanya saja dia merasa bahwa matanya agak pedih sehingga dia memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya.Ning Xueqin hanya merasa bahwa dirinya dibawa masuk ke dalam rumah yang ada di sekitar sana. Karena suara pertarungan masih terdengar jelas.“Basuh matamu dengan kain basah ini, agar tidak pedih lagi,” ucap orang yang menariknya.Ning Xueqin menerima kain basah itu dan membasuh matanya, setelah agak lama dia akhirnya bisa melihat dengan normal kembali.Orang di hadapannya ini adalah Xie Guang, tidak disangka-sangka bahwa pemuda ini akan benar-benar datang.Inilah keuntungan rahasia yang dia sebutkan sebelumnya, dia selalu bertaruh bahwa Xie Guang akan datang.Hanya saja jika hati Xie Guang benar-benar dingin dan tidak ingin datang juga tidak masalah, dia tidak keberatan.Namun siapa yang menyangka bahwa pemuda ini benar-benar akan datang untuk melindunginya?“Tuan muda Xie? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ning Xue

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 41 - Umpan

    “Lumayan.” Ucap Kaisar Ning pada akhirnya. Ning Xueqin menganggukkan kepalanya dan lumayan senang, lumayan berarti tidak buruk hal ini menandakan bahwa Kaisar Ning cukup senang dengan pemberiannya. Jadi Ning Xueqin pun menundukkan kepalanya dan ingin kembali ke tempat duduknya sebelum akhirnya Ka

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 39 - Kalah Taruhan

    Nada bicaranya dalam sekejap berubah, dari lembut dan lirih menjadi datar dan dingin seolah olah apa yang ingin dia cari sudah dia ketahui dan sisa pertunjukkannya tidak penting lagi baginya. Tapi itu tidak sepenuhnya salah karena sikap dan tindakan Kaisar Ning padanya tadi sudah menggambarkan ban

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 5 - Pilih Kasih

    Sebuah jarum perak yang tajam telah menancap di telapak tangan pelayan kanan itu sampai sampai dirinya pingsan setelah meraung kesakitan. Jarum perak itu mungkin sepanjang dua inci dan itu memaku di telapak tangannya sampai menembus kedua sisi telapak tangannya. Sebelumnya, Ning Xueqin telah berh

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 4 - Jebakan

    Ning Xueqin tiba tiba terbangun dari tidurnya dengan kondisi keringat bercucuran di dahinya. Lalu Ning Xueqin melirik ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya dia menghela napas lega. “Untunglah… untunglah semua itu hanya mimpi. “Gumam Ning Xueqin dengan puas. Di samping Ning Xueqin ada sebuah meja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status