Beranda / Fantasi / Ayah, Jangan Bunuh Aku! / Chapter 119 - Tambang

Share

Chapter 119 - Tambang

Penulis: Nyx
last update Tanggal publikasi: 2026-05-23 23:32:10

Zilan tampak menghela napas kasar karena sepertinya mengingat bagian yang menyakitkan dalam hidupnya.

“Kemudian, Tuan merasa bahwa aku sangat cantik dan ingin membawaku sebagai selir. Aku menolak namun apa dayaku? Aku hanya seorang pelayan rendahan. “

“Namun… Nyonya rumah melihatku sekali dan sangat membenciku , mengatakan bahwa aku terlalu cantik dan membawa bencana. “

“Jadi, Tuan dan Nyonya terus menerus bertengkar masalah ini sehingga aku pun ditunda untuk dikirimkan ke halaman mana pun. “
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 218 - Dicampakkan

    Kemudian Mei Qian pun menceritakan seluruh kejadian yang terjadi sejak pertemuan dengan Yue Long termasuk pertemuan mereka dengan Nona Li.Kaisar Ning mendengarkan ini dan menghela napas, selama menjadi anggota Kekaisaran maka selalu akan ada peluang untuk mendapatkan kesempatan ini.“Apakah sudah diselidiki?” tanya Kaisar Ning.“Saat ini sedang diselidiki oleh Tuan muda Xie,” jawab Zilan.Kaisar Ning menganggukkan kepalanya dan mengirimkan perintah untuk menambah orang yang menyelidiki ini namun tetap membiarkan kasus ini teredam agar tidak terlalu menarik perhatian lawan.Di sisi lain, Xie Zhong dengan pakaian resminya kembali lagi ke Kediamannya dengan wajah kecewa.“Kenapa? Bukankah Yang Mulia sedang mengadakan rapat dadakan untuk situasi perbatasan?” tanya Nyonya Gu dengan kebingungan.“Kondisi Tuan Putri menjadi semakin parah, tabib mengatakan bahwa dia tidak sadarkan diri dan saat ini saja sudah enam ember air bercampur darah yang dibawa keluar dari kamarnya,” jawab Xie Zhong.

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 217 - Pingsan

    Sementara di sisi lain, Mei Qian terlihat mencari-cari Xie Guang sampai akhirnya dia menemukan Xie Guang yang sedang duduk di batu halaman belakang.“Tuan muda Xie, hamba ini datang membawa pesan dari Tuan Putri,” sapa Mei Qian dengan datar.Meski Tuan Putrinya tidak mengatakan apapun, namun sudah jelas bahwa Tuan Putrinya pasti mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan selama tinggal di Kediaman Xie.Xie Guang tidak membalas hanya menatap Mei Qian dan menunggu perkataan Mei Qian.“Tuan Putri mengatakan bahwa dia akan menunggu laporan hasil penyelidikan pembunuh bayaran yang menyerangnya. Tuan muda Xie dapat menyerahkan hasil penyelidikannya kepada biro resmi Kekaisaran,” ucap Mei Qian.“Lalu… Tuan Putri juga ingin meminta maaf karena telah mengganggumu, jadi Tuan Putri kembali terlebih dahulu,”lanjut Mei Qian.Wajah Xie Guang berubah menjadi agak terkejut ketika mendengarkan perkataan Mei Qian.“Tuan Putri sudah kembali? Bukankah Tuan Putri berjanji akan menikmati makan bersama dengan

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 216 - Benci

    Lalu pandangannya beralih ke pohon tempat ayunan ini menggantung dan secara tidak sengaja membaca satu kata kata yang agak memukul hatinya.Yaitu, kata kata pudar berbentuk ‘zhizhi', tidak sulit untuk menebak siapa pemilik nama ini.Mengingat bahwa tidak ada satupun orang di Kediaman Xie ini yang memiliki nama Zhi di dalam nama mereka maka ini hanya bisa merupakan nama Zhu Yuezhi.Tidak heran, Xie Guang dengannya adalah teman masa kecil yang tumbuh bersama. Mengukir nama di pohon yang mereka tanam bersama, bagaimana rasanya ? Ning Xueqin tidak dapat mengatakan apapun, dia turun dari ayunannya dan tiba-tiba merasa tidak bersemangat lagi.Dia tidak tahu apa yang salah dengan dirinya, namun melihat hubungan Xie Guang dengan Zhu Yuezhi ini membuatnya merasa tidak nyaman.Ayunan ini juga bukannya ayunan bagus yang tiada harganya, Ayahnya baru saja membuatkannya sebuah ayunan yang sangat indah.Jika dia menginginkannya maka biarkan dia bermain saat pulang nanti, Ning Xueqin melangkah pergi

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 215 - Gaun Baru

    Ning Xueqin menoleh ke belakang dan menatap dengan rumit ke arah pemuda di belakangnya ini, tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh pemuda ini.‘Jika begini, bukankah orang tuanya akan salah paham? Apa sih maunya orang ini?'pikir Ning Xueqin dengan kesal.Namun karena citranya sebagai seorang Tuan Putri yang lembut dan anggun, dia mempertahankan ekspresinya dan bertindak biasa saja.“Tuan Putri terluka menyelamatkan kamu? Dasar tidak berguna!”bentak Xie Zhong dengan marah kepada putranya.Xie Guang langsung berlutut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani membalas bentakan Ayahnya.“ Hambamu meminta maaf kepada Tuan Putri atas kelalaian ini, bukan hanya tidak melindungi Tuan Putri namun justru membutuhkan Tuan Putri untuk melindungiku,”ucap Xie Guang dengan sungguh-sungguh.“Tidak apa-apa, bangunlah. Setiap orang bisa melakukan kesalahan, Tuan Xie kamu maafkanlah Tuan muda Xie. Anggap memberi wajah padaku ya?” tanya Ning Xueqin dengan ramah dan membantu Xie Guang un

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chaptee 214 - Salah Paham

    “Tuan muda Xie sekarang sudah kembali ke setelan awal, sayang sekali bahwa aku kemarin terlalu lemah untuk menikmati wajah kecemasanmu,”goda Ning Xueqin.Xie Guang hanya diam saja dan tidak membalas, hanya menatapnya dengan tatapan yang dalam dan rumit.“Kenapa menatapku seperti itu, Tuan muda Xie? Apakah kamu melihat sesuatu yang tidak pantas?” canda Ning Xueqin sekali lagi.Ning Xueqin tidak takut Xie Guang melihat sesuatu yang tidak pantas darinya, hanya berpikir bahwa Xie Guang tidak akan berani melakukannya.Xie Guang adalah seorang pemuda yang sangat teguh pada pendiriannya dan aturan kesopanan, sehingga memiliki wajah yang sangat tipis.Sedikit godaan dan candaan sudah berhasil membuatnya merasa malu, baru Ning Xueqin sadari bahwa meski Xie Guang memasang wajah yang tidak tersentuh dan dingin.Tetapi telinganya tidak dapat berbohong, telinganya yang putih pucat itu berubah menjadi kemerahan ketika merasa malu.“Tuan Muda Xie, telingamu memerah!”seru Ning Xueqin.Xie Guang denga

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 213 - Pingsan

    “Aku akan memanggil tabib,” ucap Xie Guang setelah tiba di dalam kamarnya namun Ning Xueqin dengan susah payah menahan tangannya dan menggelengkan kepalanya.“Tidak boleh… ada orang luar yang tahu bahwa aku terluka!”seru Ning Xueqin dengan penuh penekanan.“Lalu bagaimana dengan luka ini?” tanya Xie Guang tampak kebingungan.Jika pada waktu santai maka Ning Xueqin pasti akan menertawakan Xie Guang yang cemas dan gelisah seperti ini.Sayang sekali bahwa kali ini dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk melakukan itu, dia bahkan kesulitan untuk mengatakan sepatah kata yang utuh.Dengan tangan yang gemetar, dia meraba dadanya sendiri dan mengambil sesuatu sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah botol giok kecil.“Oleskan… ini!”perintah Ning Xueqin sambil terbatuk-batuk.Xie Guang tidak ragu-ragu lagi dan langsung membuka jubah luar Ning Xueqin dan menyisakan pakaian dalamnya yang lebih tipis.“Maafkan aku, Tuan Putri.”Xie Guang mengoleskan obat itu dengan hati-hati dan Ning Xueqin terlihat m

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 4 - Jebakan

    Ning Xueqin tiba tiba terbangun dari tidurnya dengan kondisi keringat bercucuran di dahinya. Lalu Ning Xueqin melirik ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya dia menghela napas lega. “Untunglah… untunglah semua itu hanya mimpi. “Gumam Ning Xueqin dengan puas. Di samping Ning Xueqin ada sebuah meja

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 3 - Terluka

    Ning Xueqin melihat sebuah pemanah yang berada di sudut kanan Istana tampaknya membidik pemuda tampan itu jadi Ning Xueqin berteriak. Namun tampaknya anak panah itu melesat terlalu cepat jadi pemuda tampan itu pun tidak sempat menangkis anak panah itu. Ning Xueqin mengulurkan tangannya dan melomp

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 2 - Penyelamat Tampan

    Ning Xueqin memejamkan matanya erat erat dan berteriak untuk meredakan rasa sakitnya namun besi panas yang dia tunggu tunggu itu justru tidak kunjung datang. Bahkan cengkraman di kedua tangannya telah melemah dan Ning Xueqin akhirnya bisa membebaskan dirinya sendiri dari kedua pelayan gagah itu.

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 1 - Penyiksaan

    “Cepatlah kemari! Kamu sudah akan dikirim ke negara asalmu! “ Seru seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan di pintu masuk. Di balik pintu itu, terlihat seorang anak perempuan dengan penampilan mengenaskan. Pakaian dan wajahnya kotor, dan kedua tangan mungilnya memeluk erat dirinya sendiri

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status