Home / Fantasi / Ayah, Jangan Bunuh Aku! / Chapter 145 - Kecohan

Share

Chapter 145 - Kecohan

Author: Nyx
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-08 23:34:29

Kemudian, mereka pun menyewa sebuah halaman rumah selama satu hari. Tidak aneh, karena ada banyak pedagang kaya yang melalui Kota ini jika ingin menuju Ibukota.

Karena kebanyakan di antara mereka tidak suka berbaur dengan orang lain saat tinggal di penginapan.

Atau mungkin mereka membawa rombongan besar seperti Ning Xueqin sehingga lebih nyaman untuk menyewa sebuah rumah dengan beberapa halaman.

Kebetulan rumah yang disewa oleh Cheng Xu ini memiliki dua halaman utama dan dua halaman samping.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 245 - Kedai Wangxiao

    Mei Qian menyusul dengan napas terengah-engah dan menatap ke arah depan yang kosong tanpa ada tanda-tanda dari orang yang mereka ikuti sebelumnya.“Tuan Putri, orangnya sudah menghilang,” ucap Mei Qian dengan heran karena Ning Xueqin berhenti mengejar.Ning Xueqin menyerahkan kertas itu dan Mei Qian membacanya tapi membaca tulisan ini membuat Mei Qian semakin bingung.“Apa hubungan tulisan ini dengan menghentikan pengejaran?” tanya Mei Qian dengan kebingungan.“Tidak perlu terburu-buru, aku sudah tahu harus mengejar kemana. Mari kita kembali dan berganti pakaian terlebih dahulu, “ jawab Ning Xueqin.Ning Xueqin segera kembali ke halamannya tanpa menoleh ke belakang lagi sementara Mei Qian masih sangat kebingungan.Sesampainya di halaman, Zilan terkejut bahwa mereka telah kembali secepat ini ke sini.“Apakah tidak tertangkap?” tanya Zilan dengan kebingungan.“Tertangkap,” jawab Ning Xueqin sembari tersenyum semu.Dia melangkah masuk ke dalam rumahnya dan menanggalkan gaunnya yang inda

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 243 - Bantuan lagi?

    Ning Xueqin merasa terharu dengan kata-kata yang disampaikan oleh kedua pelayannya, meskipun mungkin tidak akan semudah yang mereka katakan.Namun mereka ada benarnya, selama masih mampu membalikkan keadaan maka mereka dilarang untuk menyerah.Lebih baik mencoba bangkit, Ning Xueqin menekan perasaan kecewa dan pasrahnya kemudian menggantikannya dengan semangat.Dia ingin melawan, dia tidak menerima takdirnya yang seperti ini. Dia juga tidak akan membiarkan orang-orang mengambil keuntungan darinya!Benar, sejak kapan dirinya menjadi begitu pasrah? Sejak kapan dia membiarkan dirinya di bawah kaki orang lain?Dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Bahkan jika pada akhirnya dia kalah pun, dia tidak akan kalah dengan memalukan.Dia pada dasarnya sudah meninggal di kecelakaan itu, tapi bukannya pergi ke Surga atau Neraka, dia justru masuk ke dalam Neraka manusia ini.Dia mendapatkan tambahan usia tujuh tahun sampai saat ini, bisa dikatakan dia cukup puas dengan kondisinya saat ini.Tib

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 243 - Kurungan

    Ning Xueqin yang sedang sibuk dengan burung barunya tiba-tiba mendengarkan kata-kata yang membuat seluruh bulu kuduknya ini merinding.Dia tahu itu adalah suara Kasim Yu, sehingga dirinya dengan cepat bangkit dan menoleh ke belakang.Dirinya memasang senyuman palsu dan menyambut Kasim Yu dengan ramah, sembari meletakkan burung itu ke dalam genggaman Mei Qian.Lalu Ning Xueqin pun berlutut untuk menerima titah yang diberikan oleh Kaisar Ning, entah kenapa dia merasakan firasat buruk mengenai hal ini.“Putriku, Ning Xueqin, sebelumnya bekerja keras untuk mendapatkan hewan spiritual, berlatih dengan tekun dan tanpa lelah. Karena itu aku memerintahkan mu untuk beristirahat selama satu tahun penuh!”Kasim Yu membacakan titah ini dalam satu tarikan napas, namun Ning Xueqin merasa bahwa titah ini sangat panjang dan lambat.Kepalanya terasa agak pusing, dirinya merasa agak mual pada saat ini. Istirahat? Merasa kasihan? Omong kosong!Itu hanya upaya untuk mengurungnya di dalam Istana yang ding

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 242 - Titah Kaisar

    Ning Chuan tentu saja tahu bahwa yang dimaksud oleh Chu Xinling tadi adalah kejahatannya beberapa tahun yang lalu, lebih tepatnya sepuluh tahun yang lalu.Ning Xueqin dan Ning Chuan sama-sama tahu bahwa hubungan mereka berdua tidak rukun seperti yang dikatakan oleh orang-orang.Hubungan mereka berdua juga didasari pada tipu muslihat dan penuh kekejaman, saling membunuh tidak akan terhindarkan.Jadi kata-kata Ning Chuan di awal tadi hanya untuk menggertak, tidak menyangka bahwa Adiknya ini bukan hanya tidak merasa takut justru mampu menggertak balik.“Kakak, aku sarankan kamu untuk lebih tenang dan sabar. Jika aku secara tidak senang mengungkit ini di hadapan Ayahanda, maka takutnya…. Kamu juga tidak akan tenang,”ejek Ning Xueqin.Ning Chuan mendengus dingin dan mengabaikan Ning Xueqin sepenuhnya, sementara Ning Xueqin menyandarkan kepalanya di lengan Ning Chuan sambil berjalan santai.“Lepaskan tanganku!” seru Ning Chuan dengan suara tertahan.“Kenapa? Bukankah kita Kakak Adik? Wajar

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 241 - Saling Mengancam

    Bukan Ning Xueqin namanya jika tidak menyiapkan jalan keluar untuk dirinya sendiri di saat terdesak.Dia sudah tahu bahwa Paman Ketiganya, Chu Xinling bukanlah orang yang bisa dipercaya, jadi tentu saja dia tidak akan mengikat mati hubungannya dengan Paman Ketiganya.Untunglah Paman Ketiganya ini bodoh dan mempercayai kata-katanya sebelumnya, sehingga dia bisa membangun hubungan di dua belah pihak.Sekarang Paman Pertamanya sudah meninggal, tidak akan ada lagi yang bisa bersaksi untuk Paman Ketiganya yang bodoh ini.Keluarga Chu ditakdirkan untuk menemui jalan kehancuran, ditambah lagi kaki Chu Xingjun sudah dipatahkan sepenuhnya dan menjadi cacat.Di masa depan tabib mengatakan bahwa dia memerlukan bantuan tongkat dan tidak bisa menunggang kuda lagi.Anggaplah jika Keluarga Chu kehilangan Keluarga Paman Ketiganya, maka hanya tersisa keluarga Paman Pertamanya.Paman Pertamanya, Chu Xincheng memiliki dua orang anak, yang pertama adalah Chu Xingjun dan yang kedua Chu Xingqi.Chu Xingqi

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 240 - Tuduhan

    Jika tidak sedang menyamar maka Ning Xueqin pasti akan tertawa sinis di hadapan Chu Xinling.Seperti yang diharapkan dari seorang Tuan muda yang dimanjakan di dalam kediaman dan mencoba untuk mengisi keserakahan nya sendiri.Serakah namun bodoh, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sikap dan perilaku Chu Xinling saat ini.Ning Xueqin tidak tahu harus mengatakan apa lagi terhadap Chu Xinling ini, hanya saja dia tidak terkejut bahwa Chu Xinling ini mengaku hanya karena sedikit tekanan yang diberikan oleh Ayahnya.Seperti yang diharapkan dari mentalitas pecundang Paman Ketiganya, namun dia harus berterima kasih atas mentalitas pecundang ini.Karena itu rencananya berhasil dan berjalan dengan lancar. Paman Pertamanya memang lebih cerdik dan cerdas, namun tidak dapat dipercaya.Dia layak untuk menerima hukuman itu karena mengkhianati Ning Xueqin dan berusaha untuk menjual Ning Xueqin demi bersekutu dengan Ning Chuan.Sebenarnya hal ini tidak aneh juga, hanya saja membayangkannya saja

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 98 - Hewan Spiritual

    Mendengar ini membuat Ning Xueqin tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum miris. Dirinya ternyata hanyalah seorang anak yang lahir dari kesalahan, pantas saja… Kaisar Ning selalu menatapnya dengan tatapan rumit. Seolah olah pria itu selalu mengalami perdebatan batin setiap kali melihat dir

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 5 - Pilih Kasih

    Sebuah jarum perak yang tajam telah menancap di telapak tangan pelayan kanan itu sampai sampai dirinya pingsan setelah meraung kesakitan. Jarum perak itu mungkin sepanjang dua inci dan itu memaku di telapak tangannya sampai menembus kedua sisi telapak tangannya. Sebelumnya, Ning Xueqin telah berh

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 2 - Penyelamat Tampan

    Ning Xueqin memejamkan matanya erat erat dan berteriak untuk meredakan rasa sakitnya namun besi panas yang dia tunggu tunggu itu justru tidak kunjung datang. Bahkan cengkraman di kedua tangannya telah melemah dan Ning Xueqin akhirnya bisa membebaskan dirinya sendiri dari kedua pelayan gagah itu.

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 1 - Penyiksaan

    “Cepatlah kemari! Kamu sudah akan dikirim ke negara asalmu! “ Seru seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan di pintu masuk. Di balik pintu itu, terlihat seorang anak perempuan dengan penampilan mengenaskan. Pakaian dan wajahnya kotor, dan kedua tangan mungilnya memeluk erat dirinya sendiri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status