Home / Fantasi / Ayah, Jangan Bunuh Aku! / Chapter 6 - Pelayan

Share

Chapter 6 - Pelayan

Author: Nyx
last update publish date: 2026-03-20 23:13:26

“Apakah kamu ingin pergi sendiri atau ingin aku menambah waktu kurungannya? “Tanya Kaisar Ning.

Ning Xueqin berpikir sejenak dan tentu saja tidak ingin hukuman ditambah, tidak apa apa jika satu tahun dibandingkan lebih lama lagi.

Jadi Ning Xueqin berlutut dan bersujud di belakang Kaisar Ning dengan tata krama resmi yang sangat sopan.

“Kalau begitu maka Ning Xueqin berterima kasih atas anugerah dari Yang Mulia, Ning Xueqin meminta maaf karena tidak bisa melayani di sisi Yang Mulia. “ Ucap Nin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 200 - Menang atau Kalah

    Ning Xueqin bercanda lagi dengan Nyonya Gu bahkan terkadang juga melibatkan Tuan Xie, keduanya adalah orang yang baik dan ramah.Yang terpenting adalah keduanya tidak memandangnya rendah meskipun status dan kedudukannya di Istana tidak tinggi.Kedua orang ini menghormatinya selayaknya menghadapi Tuan Putri yang sesungguhnya, hal ini membuat Ning Xueqin merasa tenang.Ning Xueqin bahkan mengatakan bahwa suatu saat nanti jika ada waktu luang maka Ning Xueqin pastinya akan mengundang mereka ke halamannya yang baru saja selesai di bangun.Keduanya tidak menolak tawaran baik hati dari Ning Xueqin bahkan merencanakan untuk membawakan hadiah apa untuk Ning Xueqin nanti ketika mereka datang.Ning Xueqin mendengarkan semua kata kata ini namun berpura-pura tidak mendengarnya agar pasangan di sebelahnya ini tidak merasa canggung.Setelah saling menyapa untuk waktu yang cukup alan akhirnya Kaisar Ning datang dan kali ini mengenakan jubah emas dengan ornamen hitam yang mempertegas auranya.Ning Xu

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 199 - Pasangan Jenderal

    Yue Long menganggukkan kepalanya dan memberi hormat padanya, Ning Xueqin tidak ingin berbincang lebih lama dengan Yue Long dan melihat sosok yang tidak asing dari kejauhan.Ternyata itu adalah kakaknya, berbeda dengan saat dirinya datang. Orang orang menyambut Ning Chuan dengan penuh kemeriahan dan antusiasme.Namun Ning Xueqin tidak marah atau sedih, lagipula itu hanya akan melelahkan membalas puluhan orang yang hanya ingin berbasa-basi saja.“Kakak, kamu sudah pulih. Senang rasanya bisa melihatmu lagi di sini.” Sapa Ning Xueqin dengan sopan.“Adik juga terlihat jauh berbeda hari ini, tampak jauh lebih cantik dan mempesona.”Balas Ning Chuan dengan suasana hati yang baik.Setelah saling menyapa dan memberikan kesan kakak beradik yang harmonis di hadapan semua orang maka Ning Xueqin tidak memiliki alasan untuk berbincang lebih lama dengan Ning Chuan.Lagipula meski tidak diajak bicara olehnya pun masih ada lusinan orang yang menanti giliran untuk berbincang dengan Ning Chuan.Sementara

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 198 - Perjamuan

    Sampai akhir pun Kaisar Ning tidak menyebutkan sama sekali tentang siapa yang akan diundang oleh Kekaisaran untuk perjamuan ini tapi tidak masalah, bukan Ning Xue Qin namanya jika tidak sabar. “Karena sudah selesai maka Xueqin izin pamit terlebih dahulu, Ayahanda. “ “Tunggu sebentar. Kamu jangan lupa untuk gunakan pakaian yang bagus malam ini. “ Ucap Kaisar Ning. Ning Xueqin menganggukkan kepalanya dan langsung kembali ke halamannya sambil berpikir keras. “Sayang sekali bahwa kita tidak mendapatkan petunjuk sedikitpun . “ Keluh Mei Qian dengan gelisah. “Tunggu saja, siapapun yang datang bukan masalah besar kan? Yang penting mengenakan pakaian bagus dan tidak mempermalukan martabat Kekaisaran. “ Balas Ning Xueqin dengan acuh tak acuh. “Tuan Putri, apakah kamu tidak merasa penasaran? “ Tanya Zilan dengan heran. “Bukannya tidak penasaran hanya saja penasaran juga percuma. “ Jawab Ning Xueqin dengan ringan. Dengan begitu waktu berlalu dengan sangat cepat. Ning Xueqin mengen

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 197 - Catur?

    “Catur? Tentu. Tapi Xueqin tidak ahli dalam hal ini, harap Ayahanda tidak menertawakan. “ Ucap Ning Xueqin dan duduk di depan Kaisar Ning. Ning Xueqin mengamati bidak dengan tenang, dia pernah mempelajari cara bermain catur ini di dunia modern. Awalnya hanya penasaran namun tidak disangka sangka bahwa kemampuan ini akan berguna pada saat ini. Ning Xueqin tidak gentar meskipun ditekan beberapa kali oleh Ayahnya, beberapa jalan yang dia siapkan telah ditutup. Awalnya Kaisar Ning bermain cukup santai bahkan menyisakan celah untuk Ning Xueqin karena mengira bahwa Ning Xueqin masih pemula. Namun semakin lama, baru disadari bahwa Ning Xueqin sama sekali bukan pemula biasa. Dia memiliki kemampuan yang mumpuni dalam bermain catur. Dengan begitu Ning Xueqin mengerutkan dahinya dan terlihat sangat fokus untuk menyusun bidaknya. “Kamu jelas bukan pertama kalinya bermain ini. “ Ucap Kaisar Ning. “Maaf mengecewakan Ayahanda tetapi ini benar benar baru pertama kalinya Xueqin menyentuh papa

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 196 - Cara Bermain Catur

    “Benar, Ayahanda. Putri ini memang memiliki sesuatu untuk ditanyakan kepada Ayahanda, namun sebelum itu putri ini ingin memberikan hadiah kepada Ayahanda. “Ucap Ning Xueqin mengambil kue buatannya. Lalu menyerahkannya kepada Kaisar Ning, Kaisar Ning mengamati dengan hati hati bentuk dari kue yang dibuat putrinya ini, tampak aneh dan asing. “Kue macam apa ini? Darimana kamu mendapatkannya? “ Tanya Kaisar Ning. “Ini adalah buatan Xueqin sendiri, Ayahanda bisa mencicipinya. Mungkin secara penampilan tidak sebaik milik Koki Kekaisaran namun secara rasa, Xueqin yakin tidak akan kalah. “ Jawab Ning Xueqin. Kaisar Ning menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya Kasim Yu mengambil kue itu dan menusukkan nya dengan jarum perak untuk memeriksa ada racun atau tidak. Ning Xueqin tidak merasa tersinggung, begini juga baik. Dengan begitu jika terjadi sesuatu pada Kaisar Ning maka tidak akan menyalahkannya karena telah membawakan makanan. Ada banyak bahaya yang mengintai di Istana yang luas ini

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 195 - Hadiah Kecil

    Ning Xueqin terlihat sibuk di dapur untuk beberapa waktu, bahkan ada jejak jejak tepung di wajahnya. Semuanya bukan tanpa alasan, sebelumnya dia mengatakan bahwa dia akan mengunjungi Ayahnya. Setelah pertengkaran panjang dan situasi yang canggung di antara Ayah dan anak ini, Ning Xueqin merasa bahwa tidak ada salahnya untuk mengambil inisiatif. Jika dia berdamai dengan Ayahnya maka bukannya itu merupakan hal yang buruk kan? Bisa saja setelah ini kehidupannya akan berubah menjadi jauh lebih nyaman setelah dirinya bebas. Jadi Ning Xueqin memikirkan apa yang kemungkinan disukai oleh Ayahnya. Karena berpikir panjang akhirnya dia memutuskan untuk membuatkan Ayahnya sebuah permen osmanthus dan kue bunga persik yang dia kombinasikan dari pengetahuannya sebagai gadis modern. Tidak tahu apakah hal ini akan sesuai selera Ayahnya atau tidak namun sejauh yang dia cicipi ini rasanya sangat enak. “Tuan Putri, masakan macam apa ini? Sangat enak namun sangat asing . “ Tanya Mei Qian dengan terke

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 42 - Terluka

    Ning Xueqin dan Ning Chuan saling membuang wajah ke arah lain namun tetap berpegangan erat untuk mempertahankan citra ‘kakak adik yang rukun’ itu di hadapan semua orang termasuk Ayah mereka. Walaupun mereka yakin bahwa Ayah mereka tidak akan mempercayai akting murahan mereka ini. Tidak lama kemud

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 41 - Umpan

    “Lumayan.” Ucap Kaisar Ning pada akhirnya. Ning Xueqin menganggukkan kepalanya dan lumayan senang, lumayan berarti tidak buruk hal ini menandakan bahwa Kaisar Ning cukup senang dengan pemberiannya. Jadi Ning Xueqin pun menundukkan kepalanya dan ingin kembali ke tempat duduknya sebelum akhirnya Ka

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 40 - Es Krim

    Orang yang melihat seringaian Ning Xueqin bukanlah Su Changyue seorang melainkan Su Ming juga melihatnya dengan jelas. Pada saat itulah Su Ming merasa merinding seluruh tubuhnya, merasa bahwa dirinya telah berhasil diintimidasi oleh seorang gadis kecil. Ning Xueqin berbalik dan memasang kembali t

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 39 - Kalah Taruhan

    Nada bicaranya dalam sekejap berubah, dari lembut dan lirih menjadi datar dan dingin seolah olah apa yang ingin dia cari sudah dia ketahui dan sisa pertunjukkannya tidak penting lagi baginya. Tapi itu tidak sepenuhnya salah karena sikap dan tindakan Kaisar Ning padanya tadi sudah menggambarkan ban

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status