ホーム / Fantasi / Ayah, Jangan Bunuh Aku! / Chapter 7 - Papan Target

共有

Chapter 7 - Papan Target

作者: Nyx
last update 公開日: 2026-03-24 23:29:09

Ning Xueqin pun memanggil Meiqian untuk membawakannya kertas dan alat tulis lalu menatap barang barang itu dengan agak terperangah.

Ning Xueqin bahkan agak merasa terpukul ketika melihat barang barang ini, sebenarnya dia sudah menyiapkan dirinya sendiri bahwa benda benda aneh ini memang akan menemani dirinya selama dirinya tinggal di tempat ini.

Namun, siapa yang menyangka setelah melihat langsung justru terasa lebih aneh? Kertas yang harus digulung serta batu tinta dan tinta yang harus digi
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 115 - Pembicaraan

    Dengan pakaian serba hitam miliknya, Ning Xueqin dengan lincah menyelinap melewati jendela. Memastikan bahwa tidak ada satupun orang yang tahu bahwa dirinya telah keluar dari kamarnya. Karena pintu depannya telah dijaga oleh dua orang pengawal yang bergantian dan menjaganya dengan sangat ketat. Ning Xueqin dengan tenang memanjat pohon lalu naik ke atas tembok, tubuhnya ringan dan gerakannya cepat dan pasti. Setiap gerakannya penuh kepercayaan diri, sehingga dia bisa menyeberangi tembok dengan mudah. Sebelumnya saat melabrak Xu Yuan, dirinya sudah mempertimbangkan. Jika memang harus melarikan diri, kemana dia harus pergi? Kebetulan pandangannya tertuju ke tumpukan kotak kotak yang tidak digunakan lagi di halaman belakangnya. Itu bisa digunakan olehnya sebagai pendaratan, pada saat ini sudah malam hampir pukul sepuluh. Halaman dalam begitu sepi, sehingga mempermudah Ning Xueqin untuk menyelinap ke halaman Xu Chang. Ning Xueqin juga sengaja membuat keributan sebelumnya untuk men

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 114 - Kabar

    “Apakah itu berarti Tuan Putri telah berhasil? “ Tanya Mei Qian dengan terkejut. Ning Xueqin menganggukkan kepalanya dan tersenyum puas, rencananya bisa dikatakan cukup berjalan. “Bagus sekali! Tuan Putri benar benar sangat hebat. “ Puji Mei Qian dengan semangat. Ning Xueqin hanya tersenyum tipis menanggapi lalu memandang ke arah langit yang mulai gelap. “Aku masih ada sesuatu yang harus aku lakukan. “ Ucap Ning Xueqin. “Apa? “ Tanya Mei Qian dengan bingung. Ning Xueqin membisikkan sesuatu kepada Mei Qian lalu Mei Qian pun menganggukkan kepalanya dengan patuh setelah mendengarkan kata kata Ning Xueqin. Ning Xueqin juga tidak membuang buang waktunya, setelah dirinya selesai untuk membersihkan dirinya lalu pergi makan malam, Ning Xueqin langsung berganti pakaian. Pakaian yang digunakan olehnya adalah pakaian serba hitam yang didapatkannya dari dasar peri harta yang dibawa olehnya dari Ibukota. Sebenarnya hal ini bisa dikatakan termasuk ke dalam rencana awalnya, jadi dia memang

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 113 - Surat Budak

    “Apakah kamu sudah tidak mendengarkan perkataan Ayah lagi?! “ Tanya Xu Chang dengan pura pura marah. Xu Yuan menundukkan kepalanya dengan sedih, tampak tidak percaya bahwa dirinya akan dikalahkan oleh orang baru. “Maafkan aku, aku bersalah. “ Ucap Xu Yuan menampar dirinya tiga kali. “Sudahlah, aku tidak akan melanjutkan masalah ini lagi. Kakak, di masa depan jangan mengulangi hal yang sama lagi. “ Ucap Ning Xueqin berpura pura melunak. “Xueqin benar benar berhati lembut, cepat berterima kasih pada Tuan Putri! “ Bentak Xu Chang. “Terima kasih, Tuan Putri. “ Ucap Xu Yuan dengan berat hati. Lalu Xu Chang segera mengajak Ning Xueqin untuk pergi dan meminta pelayan agar membawa Xu Yuan pergi. “Xueqin, ikutlah dengan Ayah angkat. Ayah angkat akan memberikanmu hadiah yang dapat memenangkan amarah di dalam hatimu. “ Bujuk Xu Chang sembari merangkumnya. Ning Xueqin memaksakan diri tetap tersenyum seolah olah dia sangat bahagia dengan perlakuan semacam ini padahal dia merasa jijik sampa

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 112 - Xu Yuan

    Tidak lama kemudian, Mei Qian dengan beberapa pelayan lain dari Kediaman Xu kembali dengan ember air hangat untuk mengisi bak mandi milik Ning Xueqin. Ning Xueqin berbaring dengan santai di atas ranjangnya, wajahnya agak pucat dengan rambutnya yang tergerai bebas. Kakinya yang jenjang dan putih mulus tersingkap karena kakinya yang diluruskan di atas ranjang. Seandainya ini adalah usianya di sekitar 18 sampai 20 tahun maka itu akan menjadi puncak kecantikannya. Dengan rambut panjang sekitar tinta, lurus dan lebat ditambah dengan alis yang tebal dan tegas. Dihiasi dengan sepasang mata phoenix yang indah, bulu mata yang penuh dan panjang disertai dengan tulang hidung yang tinggi dan ramping. Belum lagi bibirnya yang tipis dan semerah buah ceri dan kulitnya yang putih pucat bagaikan salju jatuh. Awalnya, kecantikan ini tidak terlihat saat dirinya tinggal di Kekaisaran Zhong. Pada saat itu jangankan terlihat cantik. Bisa melihat hari esok saja sudah merupakan keberuntungan baginya.

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 111 - Lubang Rahasia

    “Mei Qian, aku masih ingin meminta bantuanmu. “Ucap Ning Xueqin mengeluarkan satu kotak yang lebih kecil. Kotak itu berisikan peralatan medis yang membuat Mei Qian langsung merinding dan merasa tidak nyaman. Lalu Ning Xueqin pun melepas pakaiannya dan berbaring telungkup di atas ranjang dengan tenang, dia meletakkan kain putih di bibirnya. “Lepaskanlah jahitannya , jika tidak dilepas maka akan meninggalkan bekas luka yang mengerikan. “ Ucap Ning Xue win. Mei Qian menganggukkan kepalanya lalu segera memotong kedua ujung jahitan secara perlahan lahan. Tangan Mei Qian agak gemetar jadi Mei Qian menarik napas beberapa kali untuk menenangkan diri, barulah memulainya lagi. Ning Xueqin sudah memperhitungkan bahwa dirinya harus melepas jahitan saat berada di Kediaman Xu. Jadi dirinya sudah mempersiapkan satu kotak peralatan medis yang sudah disterilisasi saat masih di dalam Istana.Karena Ning Xueqin tidak dapat membayangkan jika dirinya harus melepaskan jahitan saat berada di kereta k

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 110 - Zilan

    “Kalau begitu maka pasti sangat nyaman untuk tinggal di Kediaman Xu, bukan? “ Tanya Ning Xueqin sekali lagi. “Ya… “Jawab pelayan wanita itu dengan ragu. Ning Xueqin menganggukkan kepala dan melihat bahwa pelayan ini cukup keras kepala dan enggan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika begitu maka dirinya juga tidak dapat membantu banyak, namun Ning Xueqin juga tahu kenapa orang orang seperti pelayan wanita ini enggan untuk mengatakan kesulitan mereka kepadanya. Di hadapan para pelayan yang sama sekali tidak tahu rencananya maka dirinya sekarang adalah anak angkat Xu Chang. Otomatis hubungannya dengan Xu Chang sangatlah erat dan baik, jika para pelayan ini memang mengalami tindakan buruk orang Xu Chang dan menceritakannya padanya… Jika ternyata dirinya memberitahu Xu Chang, bukankah pelayan wanita ini akan mati dengan sia sia. Jadi Ning Xueqin tidak terlalu menyalahkan pelayan wanita ini, hanya dapat menghela napas kasar kala mendengarkan sanggahan pelayan wanita ini.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status