Home / Romansa / BATARI / Kepompong Berdarah

Share

Kepompong Berdarah

last update publish date: 2026-02-28 23:56:00

Rumah lama peninggalan keluarga Lenka berdiri sunyi, seperti bangunan yang sengaja dilupakan. Arsitektur kolonialnya masih angkuh, tapi angkuh yang rapuh: cat mengelupas, kayu kusam, dan bau lembap yang tidak hilang meski pintu sudah dibuka lebar. Udara di dalamnya terasa berat, seperti ada kain basah menutupi mulut.

Mereka tiba dengan sisa tenaga. Freya mendorong tubuhnya sendiri melewati rasa sakit, membawa Batari masuk, lalu membiarkannya jatuh di lantai ruang tengah. Batari nyaris tidak sempat berpikir. Dingin lantai menyentuh pipinya, lalu gelap mengambil alih.

Tidur itu bukan istirahat. Lebih mirip pingsan yang berkali-kali disusupi mimpi buruk.

Saat fajar belum benar-benar jadi pagi, Batari terbangun dengan napas tersangkut. Keringat dingin membasahi tengkuk. Tidak ada suara, tapi rasa “ada seseorang” menggantung di udara, persis di belakang bahunya. Bukan perasaan biasa. Bukan paranoia. Rasanya seperti jarak personalnya dirampas.

Lenka.

Tidak terlihat dulu, tapi hadirnya terasa. Udara jadi lebih dingin, kulit di lengan Batari mengencang, dan ada wangi samar—mawar yang terlalu lama direndam air.

“Aku di sini,” bisik suara itu, sangat dekat. “Jangan pura-pura nggak dengar.”

Batari menelan ludah, menatap kosong ke arah jendela yang berembun. “Aku dengar.”

Di sudut ruangan, Freya sudah bangun. Ia duduk dengan punggung bersandar pada tembok, satu tangan menekan sisi rusuk yang lebam. Matanya fokus, terlalu fokus untuk seseorang yang baru bangun tidur. Wajahnya terlihat seperti orang yang tidur dengan satu mata terbuka.

Freya berdiri, meringis, lalu mengambil jaket. “Aku ke kota. Aku butuh listrik, makanan, semuanya.”

Batari hendak menjawab, tapi bibirnya kaku. Ada sensasi kecil yang tidak ia suka: seolah mulutnya bukan sepenuhnya miliknya.

Lenka tertawa pelan di tempat yang tidak terlihat.

Freya berhenti sebentar, menatap Batari lebih lama dari seharusnya. Tatapannya turun sekilas ke leher Batari, ke kulit yang merinding tanpa sebab.

“Kalau kamu ngerasa aneh… panggil aku,” kata Freya, pelan.

Batari menahan napas. “Iya.”

Freya pergi tanpa menunggu.

Freya bergerak cepat sepanjang hari, seperti sedang dikejar sesuatu yang tak kasatmata. Ia menumpang kendaraan penduduk menuju kota, menarik uang tunai dalam jumlah besar di bank, lalu menyewa teknisi untuk memasang listrik. Ia memesan stok makanan, air galon, obat, dan tenaga pembersih untuk mengusir debu puluhan tahun dari rumah itu. Semua harus selesai sebelum senja.

Sebelum kabut Lenka turun.

Menjelang sore, rumah itu mulai “bernapas” lagi. Lampu menyala redup. Kulkas berdengung. Lantai tidak lagi sepenuhnya dingin, tapi dingin di rumah itu tidak berasal dari lantai.

Batari duduk di tangga, memeluk lutut, memperhatikan orang-orang keluar masuk. Kadang-kadang ia merasa pandangannya blank sebentar, seperti ada bagian memori yang meleset setengah detik, lalu kembali. Detik yang singkat, tapi cukup untuk menakuti.

“Aku nggak suka keramaian,” suara Lenka berbisik, datar. “Tapi ini perlu.”

Batari memejam. “Diam.”

Freya mendekat, membawa kantong plastik. “Kamu ngomong sama siapa?”

Batari cepat menggeleng. “Nggak… nggak ngomong.”

Freya menatapnya, tapi tidak memaksa. Ia hanya menghela napas, seolah sudah punya teori sendiri. “Oke. Tapi ingat. Jangan sendirian kalau malam.”

Malam pertama, Lenka tidak membiarkan Batari bersembunyi di kamar.

Lenka membawanya keluar, menembus belakang rumah, melewati tanah basah dan semak. Hutan di bukit itu gelap, dan suara serangga terdengar terlalu dekat, terlalu ramai, seperti mereka sedang berbisik satu sama lain. Air terjun itu tersembunyi, tapi suaranya keras, seperti amarah yang tidak pernah habis.

Kabut tipis menempel di rambut Batari saat ia berdiri di depan air. Percikan air sedingin es mengenai kulitnya, dan rasa dingin itu tidak berhenti di permukaan. Dingin itu merambat ke tulang.

Lenka akhirnya menampakkan diri di sisi Batari—sosok yang cantik dengan cara yang tidak manusiawi. Wajahnya terlalu tenang untuk seseorang yang pernah mati dalam kekerasan.

“Selaraskan napasmu dengan air ini, Batari, Biarkan jiwamu dan jiwaku mencari titik temu di dasar rasa sakit." Bisik Lenka. “Kalau kamu ngelawan, kamu bakal pecah.”

Batari tertawa kecil, putus asa. “Aku sudah pecah.”

Lenka mendekat, lalu meletakkan telapak tangan di dada Batari.

Batari membeku.

Seolah ada dingin yang masuk lewat tulang rusuk, menekan jantung pelan-pelan. Napasnya hilang sejenak. Dunia seperti meredup di pinggir.

“Kamu milik kamu,” bisik Lenka. “Tapi tubuh kamu bisa aku pinjam.”

Batari menggeleng keras. “Aku nggak mau.”

Lenka tidak marah. Ia hanya tersenyum tipis, dan itu lebih mengerikan. “Kita sudah sepakat andai kamu lupa Batari.”

Hari-hari berikutnya berubah jadi pola.

Siang: Freya.

Freya melatih Batari sampai tubuhnya tak lagi punya ruang untuk manja. Pukulan tidak selalu jatuh, tapi disiplin Freya terasa seperti pukulan. Batari jatuh, berdiri, jatuh lagi. Lebam menumpuk. Sendi terasa longgar. Kadang Batari melihat darah di sudut bibirnya dan tidak ingat kapan tergigit.

“Aku nggak butuh kamu jago,” kata Freya suatu kali, napasnya berat. “Aku butuh kamu tahan.”

“Kalau aku nggak tahan?” Batari bertanya.

Freya menatapnya lama. “Berarti kamu balik jadi mangsa.”

Malam: Lenka.

Dan Lenka tidak melatih otot. Lenka melatih luka, sampai luka itu tidak bisa lagi memohon.

Di ruang tamu gelap, mereka duduk berhadapan. Lilin menyala kecil, tapi cahayanya seperti takut. Batari mengulurkan tangan dengan ragu.

“Pegang,” kata Lenka.

Batari memegang tangan Lenka.

Kulit itu dingin, tidak seperti kulit manusia. Begitu sentuhan terjadi, memori bukan hanya muncul—memori menyerbu.

Lenka menunjukkan dinginnya bangsal rumah sakit jiwa, suara pintu besi, bau antiseptik yang menusuk sampai kepala pusing. Batari tersedak, matanya membesar.

“Ibu…” Batari mencoba bicara, tapi suara tercekat.

“Lihat,” kata Lenka, tanpa simpati.

Detik berikutnya, Batari merasakan napas laki-laki yang terlalu dekat, terlalu panas. Tangan kasar. Kain robek. Tawa yang menganggap tubuh perempuan seperti barang.

Batari gemetar, mual naik ke tenggorokan. “Berhenti… aku nggak sanggup.”

Lenka mendekat. Wajahnya sangat dekat, tapi tidak ada hangat. Hanya dingin yang menggigit.

“Kalau kamu nggak sanggup lihat,” bisik Lenka, “kamu nggak akan sanggup balas.”

Lalu jeritan itu keluar dari Lenka.

Jeritan yang bukan satu suara. Seperti ratusan perempuan yang pernah menjerit sendirian, lalu disuruh diam. Suara itu mengisi rumah, membuat kaca jendela bergetar halus. Lilin goyah.

Di sudut ruangan, Freya berdiri kaku. Bulu kuduknya berdiri.

“Lenka!” Freya membentak.

Lenka menoleh perlahan, senyum tipis terlukis di bibirnya. “Kamu dengar? Ini yang kamu latih.”

Dan sebelum Batari sempat menolak, dunia miring.

Udara jadi lebih dingin.

Batari merasa ada sesuatu bergerak dari belakang tengkuknya… masuk. Bukan masuk seperti imajinasi. Masuk seperti orang menutup pintu dari dalam.

Batari membuka mulut.

Jeritan kedua keluar dari Batari.

Suaranya, tapi tidak sepenuhnya miliknya.

Batari menendang kursi sampai jatuh, membanting tangan ke lantai, menangis tanpa air mata. Tubuhnya bergerak liar, tapi kepalanya seperti ditahan. Seperti ada tangan lain memegang kendali, membiarkan Batari menonton dari tempat sempit di dalam diri.

Freya maju, menahan bahu Batari. “Batari. Lihat aku. Kamu dengar aku?”

Batari mencoba fokus. Matanya mencari Freya, tapi pandangannya buram. Ketakutan paling murni muncul: takut tidak bisa kembali.

Lenka berbisik dari dalam, manis seperti racun. “Kalau kamu capek jadi kamu, biar aku yang pegang setir.”

Batari menggeleng, tapi kepalanya terasa berat, seperti ada tangan yang menahan dari dalam. Bibirnya bergetar.

“Aku… aku nggak mau,” katanya, nyaris tidak terdengar.

Lenka tidak tertawa keras. Ia hanya mendesah, seperti seseorang yang bosan dengan penolakan yang sama.

“Kalau begitu, jangan lemah,” bisiknya. “Jangan kasih aku celah.”

Freya mengguncang bahu Batari pelan, tapi tegas. “Dengar. Tarik napas. Pelan. Kamu di sini.”

Batari mencoba mengikuti suara Freya. Tarik. Buang. Tarik. Buang. Tapi tiap kali ia hampir stabil, dingin itu menyusup lagi, seperti air yang mencari retakan.

Lenka menempel di belakang matanya. Batari bisa merasakan itu—seperti ada orang lain yang ikut melihat dari dalam.

“Batari,” Freya berkata lebih keras, “sebutin namaku.”

“Freya,” Batari menjawab, tercekik.

“Bagus. Sekarang sebutin… tanggal hari ini.”

Batari memejam, berusaha mengingat. Angka-angka terasa jauh, mengambang. “Aku… aku—”

Lenka menyela, suaranya lembut sekali. Terlalu lembut. “Kamu capek. Serahin aja.”

Batari menggertakkan gigi. “Diam.”

Udara di ruang tamu tiba-tiba turun beberapa derajat. Lilin bergetar. Bayangan di dinding bergerak sedikit lebih cepat daripada seharusnya.

Freya merasakan perubahan itu. Ia menoleh ke sisi gelap ruangan, mata menyipit, tangan otomatis meraba benda terdekat—bukan untuk menyerang, tapi untuk memastikan ia masih punya kendali atas ruang ini.

“Lenka,” Freya berkata, pelan tapi tajam. “Keluar.”

Tidak ada jawaban langsung.

Yang ada hanya senyum tipis di bibir Batari—senyum yang bukan miliknya.

Batari menegang. Ia merasakan otot wajahnya ditarik ke bentuk itu tanpa ia izinkan. Seperti tubuhnya sedang dipakaikan ekspresi.

“Aku cuma bantu,” suara Lenka keluar dari mulut Batari. Bukan suara Batari. Nada vokalnya lebih rendah, lebih dingin, dan ada jeda-jeda kecil yang terasa “tua”.

Freya tidak mundur. “Aku nggak minta.”

“Ya, kamu nggak pernah minta.” Lenka menggerakkan kepala Batari sedikit miring, seperti kebiasaan orang yang suka menilai. “Kamu cuma suruh. Tonjok. Paksa. Kamu pikir itu cukup buat orang yang udah hancur?”

Batari di dalam kepalanya menjerit tanpa suara. Ia seperti terjepit di kursi belakang, dipaksa menonton tubuhnya bicara.

Freya melangkah mendekat satu langkah. “Balikin.”

Lenka tertawa pelan dari tenggorokan Batari. “Kalau dia mau balik, dia harus belajar pegang pintu. Karena pintunya udah kebuka.”

Freya menatap Batari lurus, tidak menatap Lenka. Seolah ia sengaja mengingatkan Batari: kamu yang utama, bukan dia.

“Batari,” Freya berkata, lebih lembut sekarang. “Kalau kamu masih di sana, kedip dua kali.”

Mata Batari berkedip—sekali… dua kali. Cepat. Panik.

Lenka mendecak, kesal. “Manis.”

Freya menahan amarahnya. Ia mengatur napasnya sendiri dulu, lalu bicara seperti orang yang menuntun anak keluar dari air dalam.

“Batari, dengar aku. Rasain telapak tangan kamu. Rasain lantai. Sebut tiga hal yang kamu lihat.”

Batari berusaha. Ia memaksa dirinya menatap: lilin, retakan cermin, darah kering di buku jarinya.

“Tiga,” Batari berbisik. Suaranya kembali sedikit “punya dirinya”.

Lenka diam beberapa detik.

Freya menyambar momen itu. “Bagus. Sekarang sebut dua suara yang kamu dengar.”

Batari menelan ludah. “AC… dan… hujan jauh.”

Suaranya bergetar, tapi nyata.

Lenka kembali mendesah, kali ini lebih jauh, seolah mundur setengah langkah dari ambang pintu.

Freya berkata cepat, “Satu hal yang kamu rasain.”

Batari menutup mata. “Dingin.”

Lenka berbisik dari dekat, tidak lewat mulut kali ini. “Karena aku masih di sini.”

Batari membuka mata, dan ada tekad yang muncul—kecil, tapi keras. “Aku tahu.”

Freya menangkap perubahan itu dan mengangguk pelan. “Nah. Kamu sadar. Itu kuncinya.”

Malam itu tidak berakhir dengan kemenangan besar. Tidak ada momen “sembuh”. Yang ada hanya Batari yang berhasil menarik setir kembali beberapa sentimeter, cukup untuk membuktikan ia belum hilang.

Dan Lenka… tidak pergi.

Lenka hanya belajar bentuk baru dari kesabaran.

Beberapa malam setelahnya, ketika latihan “rayuan” dimulai di depan cermin retak, Lenka berdiri tepat di belakang Batari—dekat sekali sampai napas dinginnya seperti menyentuh kulit.

“Kamu jangan minta disayang,” bisik Lenka. “Kamu bikin dia lapar.”

Batari menatap pantulannya. Wajahnya pucat. Matanya masih seperti orang yang belum selesai menangis.

“Aku nggak mau jadi kamu,” kata Batari.

Lenka tersenyum, dan jarinya menelusuri leher Batari pelan, seperti uji coba. “Aku juga nggak mau kamu jadi aku.”

“Kau terlihat seperti kelinci yang menunggu serigala," suara Lenka berbisik tepat di telinga Batari. Sosok Lenka muncul di cermin, berdiri di belakang Batari, melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. "Gerakkan pinggulmu. Gunakan instingku. Tatap pria itu seolah-olah kau sedang memutuskan bagian mana dari tubuhnya yang akan kau makan pertama kali."

Batari menarik napas. Ada jijik. Ada marah. Tapi ada juga sesuatu yang lebih gelap: rasa aman yang salah, karena ada monster yang berdiri di dalam tubuhnya dan monster itu memihaknya.

Lenka mendekatkan wajahnya kembali, matanya berkilat merah. "Pilih sekarang, Batari. Belajarlah untuk menjadi pemangsa, atau aku akan membiarkan jiwamu mati di sini dan mengambil tubuhmu secara paksa. Aku tidak punya waktu untuk kelemahanmu!"

“Tidak tidak, ajari aku lenka.. tolong,” Batari berkata pelan.

Lenka berbisik, hampir seperti janji. “Aku ajarin. Tapi ingat. Setiap kali aku masuk… kamu bayar.”

“Bayar apa?”

Lenka tersenyum di cermin. “Kamu bakal mulai suka.”

Batari terengah, menatap matanya sendiri yang kini mulai terpengaruh oleh kegelapan Lenka. Pelan-pelan, ia menggeser badannya, mengubah sudut bibirnya menjadi senyuman yang tipis namun mematikan.

Di luar sana, dunia mengira Batari Amara Wijaya telah lenyap dalam api yang melahap vila di Bali. Tak ada yang mencarinya. Seline dan Adrian mungkin sedang merayakan kematiannya dengan champagne mahal.

Hanya Theo, pengacara Robert, yang secara berkala menerima kabar rahasia dari Freya. Melalui pesan terenkripsi, Theo menyarankan agar Batari menghilang untuk sementara. Kuliahnya ditangguhkan ke semester berikutnya.

"Kau punya waktu enam bulan, Batari," kata Freya suatu sore saat mereka beristirahat di teras rumah.

"Enam bulan untuk mati, dan enam bulan untuk lahir kembali sebagai sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan dalam mimpi buruk mereka sekalipun."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Chill yoy
Sedih banget jadi batari, dasar keluarga stress emang
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • BATARI   Apakah kau puas, Victor?

    Di Kediaman Utama Wijaya, keheningan yang biasanya melambangkan kemewahan kini terasa mencekam, seperti udara yang membeku sebelum badai besar melanda. Di tengah aula luas berlantai marmer Italia yang dingin, Veronica Wijaya berdiri mematung. Tubuhnya yang biasanya tegak penuh wibawa kini gemetar hebat, seolah fondasi jiwanya baru saja diguncang gempa dahsyat. Di hadapannya, sebuah kotak kayu hitam tergeletak terbuka. Isinya sederhana, namun dampaknya lebih mematikan daripada peluru mana pun: sebuah jam tangan Patek Philippe milik Adrian. Jam itu, yang dulu melingkar di pergelangan tangan putranya sebagai simbol status dan kejayaan, kini hancur berkeping-keping. Kaca safirnya retak seribu, dan yang paling mengerikan, logam peraknya tertutup noda merah pekat yang sudah mengering—darah yang masih membawa aroma besi yang amis. Sepucuk surat kecil terjatuh di samping kotak itu, dengan tulisan tangan yang rapi namun dingin: “Pembayaran Tuntas." Suara napas Veronica terdengar pende

  • BATARI   Aahh Vic terlaluu dalam..

    Victor menatap Batari dari kejauhan, napasnya terasa berat seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis. Langkah kakinya yang berat namun ragu terdengar samar di atas karpet, beradu dengan suara hujan yang menghantam kaca jendela dengan ritme yang makin liar. Ia mendekat, perlahan sekali, hingga bayangannya yang besar menutupi tubuh Batari yang sedang bersandar pasrah di sofa. Tanpa sepatah kata pun, Victor menjatuhkan lututnya ke lantai. Suara gedebuk pelan itu terdengar begitu nyata, sebuah tanda runtuhnya harga diri sang algojo. Lidahnya terasa kelu, namun matanya tidak bisa beralih dari pemandangan di depannya. Victor mengulurkan tangannya yang gemetar, jari-jarinya yang kasar perlahan menyentuh punggung kaki Batari. Ia bisa merasakan kelembutan kulit itu di bawah jemarinya yang kasar—kontras yang membuatnya semakin haus. Victor mendekatkan wajahnya, membiarkan uap napasnya yang panas menyentuh kulit dingin Batari. Ia mulai menciumi punggung kaki itu, pelan dan basah, lalu

  • BATARI   kali ini mintalah dengan baik, Victor..

    Saat Theo pamit, Elio tidak langsung ikut melangkah keluar. Ia mematung di sisi ranjang, membiarkan keheningan rumah sakit yang mencekam merayap di antara mereka. Matanya yang biasanya jernih dan berwibawa kini meredup, beralih dari wajah Isabel yang pucat menuju jemari kurus wanita itu yang seolah kehilangan sisa hidupnya.Ada denyut nyeri yang menghantam dada Elio—Di matanya, Isabel bukan sekadar pasien; wanita ini adalah kepingan teka-teki dari masa lalu Batari, wanita yang mulai ingin ia lindungi. "Batari..." suara Elio rendah, parau oleh emosi yang ia tekan sekuat tenaga di balik jas mahalnya. Ia berbalik, menatap Batari dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan wanita itu. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajahmu... kenapa matamu menyimpan begitu banyak luka yang tidak bicara?"Batari hanya diam, jemarinya meremas kain sprei ranjang ibunya. Namun, Elio melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma oud dan cendana yang hangat menyelimu

  • BATARI   Investasi atau obsesi, Tuan?

    Pagi itu, kantor hukum Theo di kawasan SCBD terasa lebih mencekam. Di depan gedung, sebuah sedan hitam dengan pelat diplomatik terparkir tenang, namun kehadirannya sudah cukup membuat staf keamanan berdiri tegak. Elio—Sang Pangeran dari Brunei yang dikenal dunia sebagai diplomat santun dan investor bertangan dingin—duduk di ruang kerja Theo dengan punggung tegak tanpa menyentuh sandaran kursi.Theo mendongak dari tumpukan berkasnya, membenarkan letak kacamata dengan gerakan tenang yang sengaja dibuat lambat. "Tuan Elio? Ini masih terlalu pagi untuk kunjungan mendadak. Apakah ada klausul yang ingin Anda ubah?"Elio tidak duduk. Ia berdiri di depan meja Theo, meletakkan kedua tangannya di atas permukaan kayu mahoni itu. "Batari. Di mana dia sekarang?"Theo menghela napas, jemarinya mengetuk pulpen perak dengan ritme yang terjaga. "Beliau sedang di rumah sakit menemani ibunya, Tuan. Saya baru saja akan berangkat ke sana untuk menyerahkan beberapa dokumen legalitas keamanan.""Aku iku

  • BATARI   Sial! Sedikit lagi, Batari akh

    Di ruangan VVIP, Isabel terbaring lemah. Freya menghampiri dengan wajah pucat. “Tante sudah baik-baik saja, beliau hanya syok... kau butuh dokter untuk memeriksa bibirmu, Batari?” tanya Freya, matanya berkaca-kaca melihat kehancuran fisik nonanya.Batari menghampiri ranjang sang ibu. Pertahanan emosinya runtuh. “Mama... Mama... maafkan Batari,” ia terisak, memendam wajahnya di tangan sang ibu yang kurus.Isabel perlahan membuka matanya. Sebuah keajaiban kecil terjadi; matanya tak lagi kosong. Ia mengusap rambut Batari dengan tangan gemetar. “Si mama ang dapat humingi ng tawad… patawarin mo si mama, sayang, kailangan mong tanggapin ang kapalarang ito,” ucapnya dalam bahasa asalnya yang pilu.“Mama yang harus minta maaf... Mama yang memberimu takdir ini... Maafkan Mama, Sayang.”Batari mendongak takjub. Itu adalah kalimat terpanjang dan paling jernih yang diucapkan ibunya selama bertahun-tahun. Kebahagiaan dan kesedihan melebur dalam pelukan itu. Di sudut ruangan, Freya ikut terisak

  • BATARI   Apakah kali ini kau kalah, Batari?

    Setelah merebahkan tubuh Batari di jok penumpang, Victor mengunci pintu mobil secara sentral hingga Batari hanya bisa menatap melalui kaca yang berembun. Tanpa sepatah kata pun, Victor keluar, langkah kakinya yang berat dan sorot matanya yang gelap.Dari dalam , Victor menyeret Adrian keluar. Adrian yang sudah pingsan, wajahnya babak belur bekas pukulan Victor dan tubuhnya terkulai layaknya tumpukan daging tak bernyawa. Kepala Adrian membentur ambang pintu kayu dengan bunyi thud yang menyakitkan, namun Victor tidak berhenti. Di belakangnya, Seline menjerit histeris, suaranya pecah membelah kesunyian rumah tua itu, namun Victor bahkan tidak menoleh. Baginya, teriakan itu hanyalah gangguan yang tidak berarti.Victor tidak mengarahkan mobilnya ke kantor polisi. Dengan ketenangan yang mengerikan, ia menelepon seseorang. Tak lama mereka sampai ke sebuah gudang Tua berbau karat.Victor melempar tubuh Adrian ke aspal, tepat di bawah sorot lampu mobil hitam lain yang sudah menunggu di sana.

  • BATARI   Jeritan di Ruang Hampa

    "Lepaskan! Kau binatang, Adrian! Kau pikir uang keluargamu bisa membeli harga diriku?" "Diamlah, Sayang. Nikmati saja. Besok kau akan berterima kasih karena nilaimu mendadak sempurna," suara Adrian di video itu terdengar menjijikkan, disusul suara robekan kain yang kasar. “ AKHHHHHH.” Suara jerit

  • BATARI   Benih Cemburu

    Batari berdiri telanjang di depan cermin besar, menatap sisa-sisa trauma yang kini ia poles dengan kemewahan. Tiba-tiba, suhu ruangan anjlok. Sosok Lenka muncul di pantulan cermin, berdiri tepat di belakang Batari. Jemari hantu itu yang panjang dan pucat merayap turun dari bahu, menyusuri lengan Ba

  • BATARI   Sensitif sekali, Batari

    "Berapa lama lagi kau mau aku jadi pengasuhmu, Adrian? Polisi sudah mondar-mandir di gerbang depan dua kali pagi ini!"Victor membanting gelas wiskinya ke meja marmer, suaranya bergema tajam di ruang tengah yang luas. Matanya yang lelah menatap Adrian yang sedang duduk di sofa kulit, mas

  • BATARI   Victor, pelan - pelan..

    Satu minggu bersembunyi di bawah bayang-bayang Victor terasa seperti peti mati bagi harga diri Adrian yang sudah hancur lebur. Reputasinya hangus dan setiap tarikan napasnya kini terasa seperti sedang dicekik oleh tangan tak terlihat.Pintu ruangan terbuka, menampakkan Seline yang masuk dengan ria

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status