Home / Romansa Dewasa / BATARI / Kepompong Berdarah

Share

Kepompong Berdarah

last update Last Updated: 2026-02-28 23:56:00

Rumah lama peninggalan keluarga Lenka itu berdiri sunyi, sebuah bangunan kolonial yang seolah membeku dalam waktu. Mereka tiba dengan sisa tenaga yang ada dan jatuh tertidur hingga fajar menyentuh ufuk, seolah tidur adalah satu-satunya pelarian sebelum mereka harus menghadapi kenyataan yang lebih berat.

Keesokan harinya, saat matahari bahkan belum sepenuhnya bangun, Freya sudah bergerak. Dengan tubuh yang masih biru lebam dan sendi yang seolah hendak lepas, ia menumpang kendaraan penduduk lokal menuju kota. Di bank, ia menarik sejumlah besar uang tunai. Ia mengabaikan tatapan iba sekaligus ngeri dari orang-orang yang melihat luka di wajahnya.

Dengan cekatan yang menakutkan, Freya menyewa teknisi untuk memasang listrik, memesan tumpukan stok makanan, hingga tenaga pembersih untuk menyapu debu dekade dari rumah itu. Segalanya harus selesai dalam satu hari. Sebelum senja jatuh, Freya memastikan rumah itu layak huni, tepat sebelum kabut mistis milik Lenka kembali turun dan menyembunyikan keberadaan bangunan itu dari peta dunia.

Penyelarasan Jiwa dan Jeritan Tengah Malam

Sementara Freya mengurus urusan duniawi, Lenka membawa Batari ke sebuah air terjun tersembunyi di balik bukit. Airnya sedingin es, namun terasa seperti api saat menyentuh kulit Batari yang trauma.

"Selaraskan napasmu dengan air ini, Batari," bisik Lenka. "Biarkan jiwamu dan jiwaku mencari titik temu di dasar rasa sakit."

Malam-malam berikutnya menjadi neraka yang baru. Siang hari, Batari berlatih fisik di bawah bimbingan Freya yang tak kenal ampun. Namun saat malam tiba, ia harus menghadapi penyiksaan yang jauh lebih perih dari sekadar lebam otot. Penyatuan dua jiwa yang terluka.

Di tengah ruang tamu yang gelap, Batari dan Lenka duduk berhadapan. Saat kedua tangan mereka bersentuhan, memori mereka melebur. Lenka merasakan dinginnya bangsal rumah sakit jiwa tempat ibu Batari mendekam, sementara Batari merasakan setiap tarikan napas kasar para perampok yang menghancurkan lenka dulu.

Tiba-tiba, Lenka mendongak. Mulutnya terbuka lebar, dan sebuah jeritan mencekam keluar dari tenggorokannya—suara yang tidak terdengar seperti manusia. Itu adalah suara dari ribuan wanita yang dikhianati, sebuah teriakan melengking yang membuat bulu kuduk Freya di sudut ruangan berdiri tegak. Jeritan itu begitu menyeramkan, seolah-olah sanggup meretakkan kaca-kaca jendela dan memanggil kematian untuk datang lebih cepat.

Batari menyusul, meraung melepaskan kemarahan yang tersumbat di dadanya. Mereka menangis dan menghancurkan apa pun di sekitar mereka hingga emosi itu habis tak tersisa. Proses ini dilakukan setiap malam selama satu bulan penuh. Hingga akhirnya, tak ada lagi air mata. Tak ada lagi rasa trauma. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang dingin dan niat yang murni.

Tarian Iblis dan Rayuan Maut

Setelah emosi mereka benar-benar mati, tahap kedua dimulai: Seduction. Batari harus belajar menjadi wadah bagi sensualitas Lenka yang liar. Baginya, ini jauh lebih sulit daripada dipukul oleh Freya.

Batari berdiri di depan cermin besar yang retak. Ia mencoba menatap bayangannya sendiri, namun matanya tetap terlihat seperti gadis kecil yang ketakutan.

"Kau terlihat seperti kelinci yang menunggu serigala," suara Lenka berbisik tepat di telinga Batari. Sosok Lenka muncul di cermin, berdiri di belakang Batari, melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. "Gerakkan pinggulmu. Gunakan instingku. Tatap pria itu seolah-olah kau sedang memutuskan bagian mana dari tubuhnya yang akan kau makan pertama kali."

Batari gemetar, wajahnya kaku. "Aku... aku tidak bisa melakukannya, Lenka. Aku merasa jijik pada diriku sendiri."

Lenka mencengkeram dagu Batari dengan kasar, memaksa matanya menatap tajam ke cermin. Aura di ruangan itu seketika menjadi mencekam, suhunya turun drastis.

"Dengar, Gadis Kecil!" desis Lenka dengan nada yang sangat menakutkan. "Jika kau gagal di tahap ini, maka sebulan penyiksaan yang kita lalui akan sia-sia! Kau ingin kembali menjadi jalang yang dihina Adrian? Kau ingin membiarkan ibumu membusuk di sana sementara mereka tertawa di atas penderitaanmu?!"

Lenka mendekatkan wajahnya, matanya berkilat merah. "Pilih sekarang, Batari. Belajarlah untuk menjadi pemangsa, atau aku akan membiarkan jiwamu mati di sini dan mengambil tubuhmu secara paksa. Aku tidak punya waktu untuk kelemahanmu!"

Batari terengah, menatap matanya sendiri yang kini mulai terpengaruh oleh kegelapan Lenka. Pelan-pelan, ia menggeser badannya, mengubah sudut bibirnya menjadi senyuman yang tipis namun mematikan. Suaranya berubah menjadi rendah dan menggoda saat ia berbisik, "Ajari aku... semuanya."

Enam Bulan Menuju Badai

Di luar sana, dunia mengira Batari Amara Wijaya telah lenyap dalam api yang melahap vila di Bali. Tak ada yang mencarinya. Seline dan Adrian mungkin sedang merayakan kematiannya dengan champagne mahal.

Hanya Theo, pengacara Robert, yang secara berkala menerima kabar rahasia dari Freya. Melalui pesan terenkripsi, Theo menyarankan agar Batari menghilang untuk sementara. Kuliahnya ditangguhkan ke semester berikutnya.

"Kau punya waktu enam bulan, Batari," kata Freya suatu sore saat mereka beristirahat di teras rumah. "Enam bulan untuk mati, dan enam bulan untuk lahir kembali sebagai sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan dalam mimpi buruk mereka sekalipun."

Batari menatap kabut yang menyelimuti rumah mereka. Enam bulan. Baginya, itu waktu yang lebih dari cukup untuk menyiapkan liang kubur bagi seluruh keluarga Wijaya.

~~~~🖤

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BATARI   Jeritan di Ruang Hampa

    Pagi itu, Jakarta terbangun dengan sebuah guncangan digital. Freya, dengan ketangkasan jemari yang dilatih oleh Theo, mulai menaburkan benih-benih kehancuran. Melalui forum-forum anonim dan akun-akun gelap yang tak terlacak, ia mengunggah cuplikan video bejat Adrian—sebuah rekaman yang diambil dari ponsel Erick yang menunjukkan betapa rendahnya moral sang putra konglomerat. Dalam hitungan jam, video itu meledak, menjadi viral dan memicu gelombang kemarahan publik. Nama keluarga Wijaya yang selama ini dipuja sebagai simbol kesuksesan, kini terseret ke dalam lumpur kehinaan.Di saat kericuhan itu memuncak di dunia luar, di dalam apartemen mewah yang sunyi, suasana justru terasa sangat kontras. Batari berdiri di depan cermin, sementara Lenka—dalam wujud bayangan yang mulai menghangat—sedang merayu dengan cara yang tak terduga."Batari... aku ingin 'hadiah'," bisik Lenka. Suaranya tidak lagi dingin mencekam seperti tanah kuburan, melainkan terdengar seperti gadis

  • BATARI   Digilir 2 Iblis

    Mobil sport itu membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris gila. Erick mencengkeram kemudi seolah-olah benda itu adalah leher musuhnya, napasnya menderu berat, tersengal-sengal oleh campuran adrenalin, alkohol, dan pengaruh mistis aroma mawar Lenka. Dahaganya bukan lagi soal minuman; ada rasa lapar yang membakar di dalam perutnya, sebuah tuntutan biologis yang dipicu oleh sentuhan Batari di kelab tadi.Di kursi penumpang, Batari bersandar dengan keanggunan yang dingin. Di dalam kepalanya, suara Lenka bergema, terkekeh dengan nada yang membuat merinding."Haruskah kita bermain sebentar, Sayang? Sudah sangat lama jemari dan lidahku tidak menari di atas kulit yang malang..." bisik Lenka, auranya mulai merembes keluar, membuat suhu di dalam kabin mobil terasa anjlok."Tunggu, Lenka. Biarkan dia yang memulai," jawab Batari dalam hati, suaranya lirih, nyaris tak terdengar namun penuh otoritas.Batari melirik ke arah Erick yang tampak kalap. "Kau

  • BATARI   Lumatan di bawah Lampu Strobe

    Lampu strobe berwarna ungu dan biru gelap berdenyut selaras dengan dentuman bass yang menggetarkan dada di dalam Onyx Club. Erick melangkah masuk dengan angkuh, tangannya menggenggam jemari Batari seolah ia baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia. Ia membawa Batari menuju meja VVIP di sudut terjauh—sebuah sofa kulit melingkar yang gelap, tempat para penguasa malam biasanya berkumpul.Di sudut ruangan lainnya, Victor dan Adrian sudah terpaku sejak detik pertama Batari menapakkan kaki di sana. Bagi mereka, Batari seolah menjadi pusat gravitasi; setiap mata di ruangan itu tersedot ke arahnya. Adrian tak lagi peduli pada Victor, ia bahkan melupakan pesan adik kandungnya, Seline, untuk menjaga sang tunangan. Isi kepala Adrian mendadak riuh, dipenuhi oleh bayangan adik tirinya yang kini tampak sangat berbeda. Ia tak menyangka bahwa wanita yang duduk dengan anggun di depan matanya adalah gadis yang sama yang enam bulan lalu merintih, memohon ampun dengan suara pe

  • BATARI   Belati dalam Beludru

    Jakarta yang lembap dan berisik menjadi latar belakang sempurna bagi teror yang perlahan namun pasti mulai menyusup ke kediaman Wijaya. Batari tidak menyerang dengan pedang, ia menyerang dengan bayangan. Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya bangun, sebuah kiriman misterius mendarat di atas meja kelas yang biasa diduduki Seline di universitas—sekuntum mawar merah yang bukan hanya layu, tapi tampak menghitam seolah terbakar oleh kebencian.Di kediaman Wijaya, teror itu lebih nyata. Karangan bunga mawar merah yang segar namun berlumuran cairan merah kental menyerupai darah dikirimkan tanpa nama pengirim. Veronica Wijaya menanggapi kiriman itu dengan histeria yang tak terkendali. Ia menjerit, memerintahkan pelayan untuk membuang bunga-bunga itu, sementara Seline hanya bisa mematung dengan wajah pucat, tangannya tanpa sadar meremas perutnya yang mulai membuncit.Mereka belum curiga pada Batari. Terlalu banyak dosa yang telah mereka tanam selama bertahun-tahun;

  • BATARI   Benih Cemburu

    University of Astoria International kembali ke ritme sibuknya saat semester baru dimulai. Bagi sebagian besar mahasiswa, ini adalah awal dari pengejaran gelar dan gengsi. Namun bagi Batari, ini adalah panggung sandiwara di mana ia akan mementaskan tragedi bagi musuh-musuhnya.Berita kembalinya Batari dari "kematian" telah menjadi desas-desus liar di koridor kampus, namun tak ada yang berani bertanya langsung saat melihat sosoknya yang kini memancarkan aura otoritas yang dingin. Batari harus mengejar ketertinggalan akademisnya, namun prioritas utamanya adalah membedah kehidupan Erick.Melalui Theo, Freya telah mendapatkan berkas lengkap. Erick hanyalah seorang pemuda labil yang mabuk oleh harta haram ayahnya—seorang pejabat negara yang korup. Erick adalah pion yang sempurna; ia sering digunakan oleh Adrian dan Victor sebagai tumbal atau "pembersih" skandal mereka menggunakan koneksi ayahnya di pemerintahan. Namun, Erick memiliki satu titik lemah: ia selalu mera

  • BATARI   Tarian Iblis di Balik Pupil Mata

    Pesta pertunangan itu seharusnya menjadi puncak kejayaan bagi Seline dan Victor, namun kehadiran Batari telah mengubah atmosfer hotel berbintang itu menjadi sebuah peti mati berlapis emas. Saat lilin-lilin mulai meredup dan para tamu mulai beranjak, Batari melangkah dengan keanggunan seorang ratu menuju pintu keluar. Namun, sebelum jemarinya yang lentik menyentuh gagang pintu kaca, sebuah tangan kasar mencekal pergelangan tangannya.Cengkeraman itu panas, lembap oleh keringat dingin, dan bergetar.Victor berdiri di sana. Tuksedo mahalnya kini tampak kusut, senada dengan wajahnya yang pucat pasi. Ia menatap Batari dengan tatapan seorang pria yang baru saja melihat hantu, namun sekaligus pria yang haus akan dahaga yang tak terjelaskan."Batari... kau... bagaimana mungkin?" Victor tergagap, suaranya parau, pecah di udara yang dingin. "Kau selamat? Kenapa tidak memberiku kabar? Aku... aku hampir gila mencarimu setelah malam di Bali itu."Kebohong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status