INICIAR SESIÓNFreya memapah Batari yang nyaris kehilangan seluruh tenaganya, setelah dipaksa melayani 3 predator dari neraka.
Napas mereka memburu, menciptakan uap putih yang langsung ditelan pekatnya kabut. Langkah kaki Freya terasa berat, sepatu boot-nya menginjak ranting kering dengan bunyi krak yang memilukan di tengah kesunyian bukit. Udara malam itu tidak lagi sekadar dingin; ia terasa seperti selimut es yang membungkus luka-luka mereka. Di bawah sana, vila keluarga Wijaya tampak seperti lampion kecil yang terbakar habis—sebuah monumen atas kehancuran martabat mereka. Tiba-tiba, Batari meronta. Kekuatan nekat muncul dari tubuhnya yang ringkih. Ia melepaskan diri dari dekapan Freya dan berlari limbung ke arah tepian tebing. "Batari, jangan! Berhenti!" teriak Freya, suaranya parau dan pecah. Freya menerjang, menangkap pinggang Batari tepat sebelum gadis itu melompat ke kegelapan. BUGH Keduanya jatuh tersungkur di atas tanah berbatu yang tajam. Batari tidak peduli pada luka baru di lututnya; ia justru memukul-mukul tanah dengan kepalan tangan yang gemetar. “Aaaaaaaaaakkkkhh!” Batari meraung. Sebuah jeritan yang mengoyak sunyi malam, menyuarakan rasa kotor yang seolah merayap di bawah kulitnya, menodai setiap pori tubuhnya. Freya hanya bisa terisak namun lengannya memeluk Batari erat, membiarkan air matanya sendiri jatuh membasahi bahu Batari yang memar. Freya tidak bicara bahwa ia pun hancur. Bahwa di gudang gelap tadi, teman-teman Seline telah memperlakukannya tak lebih dari seonggok daging. Mereka berdua adalah kuncup yang diremukkan oleh tangan-tangan iblis yang sama. Tiba-tiba, angin berhenti berhembus. Kesunyian yang tidak wajar menyelimuti puncak bukit itu. Kemudian, muncul aroma melati yang samar namun memabukkan—bau bunga yang biasanya mekar di atas tanah kuburan. "Siapa di sana?!" Freya menyentak, memasang badan di depan Batari meski seluruh tubuhnya menggigil. Sesosok wanita muncul dari balik kabut tipis. Ia cantik dengan cara yang mengerikan. Rambutnya hitam bergelombang mengalir seperti sungai malam, membingkai wajah blasteran yang eksotis. Ia mengenakan gaun merah darah dengan belahan yang berani, seolah-olah dia adalah personifikasi dari godaan itu sendiri. "Siapa kau?!" suara Freya bergetar hebat. Wanita itu melangkah mendekat, namun anehnya, kakinya tidak menyentuh ranting-ranting kering di bawahnya. Ia tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang menyimpan ribuan rahasia kelam. "Namaku Lenka," suaranya terdengar seperti gesekan sutra pada logam tajam. "Aku adalah saksi dari setiap rintihan yang tak terdengar di bukit ini. Puluhan tahun lalu, aku juga dibuang di sini... seperti sampah, setelah mereka merampas napas dan kehormatanku." Lenka berlutut di depan Batari yang tertegun. Jemarinya yang dingin menyentuh dagu Batari, memaksa gadis itu menatap matanya yang berkilat merah. "Aku tahu rasa pahit di mulutmu, Batari. Aku ingin menawarkan apa yang tidak bisa diberikan oleh Tuhan saat ini: Keadilan melalui tanganmu sendiri." "Apa maksudmu?" bisik Batari, matanya yang kosong mulai terisi oleh percik kemarahan. "Aku akan memberimu harum yang membuat pria bertekuk lutut, kecantikan yang membutakan, dan kekuatan untuk mencabik mereka tanpa kau perlu mengotori hatimu sendiri," bisik Lenka dengan nada menggoda. "Apa syaratnya?" Freya menyela, napasnya memburu. "Apa yang kau inginkan dari kami?" Lenka menoleh pada Freya, seringainya makin lebar. "Syaratnya sederhana. Aku akan bersekutu denganmu, Batari. Aku akan masuk ke tubuhmu saat pekerjaan kotor itu dimulai. Sebagai imbalan, kau harus membalaskan dendamku juga. Dan setelah semuanya tuntas, aku akan memulihkan tubuhmu—menghapus setiap jejak tangan iblis-iblis itu seolah kau tak pernah terjamah." Lenka terdiam sejenak, suaranya berubah sedingin es. "Tapi ingat... selama kita bersekutu, kau dilarang jatuh cinta. Kau dilarang menikah, apalagi memiliki anak. Karena setiap kali pria menyentuhmu, itu bukan kau yang mereka rasakan... tapi aku." "Biar aku saja!" potong Freya cepat, matanya memohon. "Ambil tubuhku. Jangan Batari." Namun Batari justru memegang tangan Freya dengan cengkeraman yang kuat. Matanya kini berkilat dengan cahaya yang menyeramkan. Walaupun jantungnya berdetak kencang. Ia masih menata logikanya untuk menerima kehadiran sosok lenka didepannya. "Tidak, Freya. Ini adalah kutukan keluarga Wijaya, dan aku yang harus mengakhirinya." Ucapnya lagi, tangannya gemetar namun ia tangkup paksa dengan tangan yang lainnya . Batari menatap Lenka tanpa ragu. "Lakukan sekarang! Masuklah ke tubuhmu! Aku ingin mereka mati!" "Sabar, Bunga Kecil," Lenka tertawa rendah, sebuah geraman kepuasan keluar dari dadanya. "Tubuhmu butuh waktu untuk beradaptasi. Jika aku masuk sekarang, jiwamu yang rapuh akan hancur berkeping-keping." "Lenka benar," Freya menengahi, suaranya kini dipenuhi tekad baja. "Kita butuh strategi. Paman Theo—tangan kanan ayahmu—pasti akan membantu, tapi saat ini Seline sudah membuatmu terlihat seperti jalang di mata dunia. Kita tidak punya bukti hukum. Kita butuh cara lain." Lenka tersenyum puas. "Baiklah sekarang Ikuti aku. Di balik bukit ini, ada rumah liburan tua milik keluargaku yang tersembunyi. Tempat itu dilindungi oleh rahasia yang tidak bisa ditembus manusia biasa." "Di sana," Freya menambahkan, "aku akan melatih fisikmu. Aku akan memastikan kau bisa bertahan." Batari menatap ke arah kegelapan yang ditunjuk Lenka. Ia tahu, saat ia keluar dari sana nanti, ia bukan lagi Batari yang malukat. Ia menatap Lenka sekali lagi. "Jadikan aku senjata. Jadikan aku monster yang membuat mereka memohon untuk mati." Lenka tertawa, suara yang diikuti oleh gugurnya kelopak mawar hitam di sekitar mereka. Ia maju dan mengecup kening Batari dengan lembut namun mematikan. Seluruh tubuh Batari meremang membuat bulu halus berdiri. Sshhh... Rasa dingin yang luar biasa meresap ke dalam sumsum tulang Batari. Ia merasakan sesuatu yang lain—sesuatu yang liar, haus darah, dan purba—kini bersemayam tepat di balik jantungnya. "Maka perjanjiannya sah," bisik Lenka sebelum sosoknya memudar menjadi asap merah yang pekat. Freya memeluk Batari, menyadari bahwa gadis kecil yang ia sayangi telah mati malam itu. Yang tersisa hanyalah Batari yang baru; cantik, mematikan, dan membawa serta hantu dari masa lalu. "Bawa aku ke sana," ucap Batari. Suaranya kini terdengar berbeda—lebih berat, bergetar dengan nada ganda yang mengerikan. "Malam ini, mawar itu telah layu. Dan durinya akan mulai tumbuh."Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, membasahi kaca mobil Elio dan menciptakan suasana hening yang hanya diisi oleh suara wiper yang beradu ritmis. Bunyi itu terdengar seperti detak jantung yang sedang menghitung waktu menuju sebuah ledakan besar. Di kursi penumpang, Batari menyandarkan kepalanya yang terasa seberat timah pada kaca jendela yang dingin. Hatinya gersang, gundah gulana. Sisa-sisa kehancuran setelah mengetahui fakta tentang Robert Wijaya—sang arsitek yang tega merancang seluruh penderitaan ibunya, Isabel—masih berdenyut nyeri dan perih di balik dadanya.Elio memecah kesunyian dengan suara baritonnya yang tenang, mengalun berwibawa di antara gemuruh badai di luar. "Aku tahu kau sedang menenun sesuatu yang besar, Batari. Sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya dari sekadar pengambilalihan takhta Wijaya Group."Batari tetap bergeming. Tatapannya kosong menembus rintik air, sementara jemarinya yang lentik meremas kain gaun sutra midnight blue-nya hingga kusut masai.
Suara gesekan ban mobil Freya di atas aspal basah mengakhiri hari yang melelahkan setelah RUPSLB yang bersejarah itu. Kemenangan mutlak telah diraih, mahkota Wijaya Group telah diletakkan di kepala Batari Amara Wijaya. Namun, dunia bisnis tidak digerakkan oleh sekadar gertakan di ruang rapat. Hukum formal tidak mengenal intrik berdarah atau dendam yang membeku; ia hanya patuh pada tanda tangan hitam di atas putih di hadapan hukum negara.Sebelum Batari bisa benar-benar menginjakkan kakinya di Bali untuk menuntaskan perang terakhirnya, ia harus menyelesaikan urusan birokrasi yang memuakkan di Jakarta. Ia tidak bisa meninggalkan Theo dalam posisi yang rentan tanpa tameng hukum yang sah.Keesokan paginya, langit Jakarta kembali menangis tipis, menumpahkan rintik hujan yang membuat kaca-kaca gedung pencakar langit di kawasan Sudirman tampak buram dan berembun. Di dalam kantor notaris rekanan utama Wijaya Group—sebuah ruangan VIP yang steril, berpanel kayu ek mahal dengan aroma kopi hita
"Kita harus jeda, Victor," bisik Batari, jemarinya mengusap rahang Victor yang keras, sebuah sentuhan yang terasa hangat namun mengirimkan sinyal penolakan yang dingin. "Aku harus fokus pada RUPSLB perusahaan Ayah. Terlalu banyak serigala yang mengincar kursi itu, dan aku tidak bisa terdistraksi."Mendengar kata 'jeda', rahang Victor kian mengeras. Amarah primitif bergejolak di dadanya—bukan karena ia tidak mendukung Batari, melainkan karena ia benci merasa dikesampingkan, bahkan oleh ambisi wanita itu sendiri. Dengan satu gerakan brutal, Victor menghantam setir mobil dengan tinjunya. BUGH Kulit di pergelangan tangannya robek, darah segar merembes, mengotori jok kulit mewah kendaraan tersebut.Batari hanya menatap noda merah itu tanpa berkedip. Di dalam kepalanya, Lenka terbangun, mendesis dengan tawa sarkas yang menusuk.“Lihatlah anjing pelacak ini, Batari. Dia begitu bersemangat menguasaimu, padahal dia lupa bahwa dialah serigala pertama yang merobek kulitmu di masa lalu. Bi
Di Kediaman Utama Wijaya, keheningan yang biasanya melambangkan kemewahan kini terasa mencekam, seperti udara yang membeku sebelum badai besar melanda. Di tengah aula luas berlantai marmer Italia yang dingin, Veronica Wijaya berdiri mematung. Tubuhnya yang biasanya tegak penuh wibawa kini gemetar hebat, seolah fondasi jiwanya baru saja diguncang gempa dahsyat. Di hadapannya, sebuah kotak kayu hitam tergeletak terbuka. Isinya sederhana, namun dampaknya lebih mematikan daripada peluru mana pun: sebuah jam tangan Patek Philippe milik Adrian. Jam itu, yang dulu melingkar di pergelangan tangan putranya sebagai simbol status dan kejayaan, kini hancur berkeping-keping. Kaca safirnya retak seribu, dan yang paling mengerikan, logam peraknya tertutup noda merah pekat yang sudah mengering—darah yang masih membawa aroma besi yang amis. Sepucuk surat kecil terjatuh di samping kotak itu, dengan tulisan tangan yang rapi namun dingin: “Pembayaran Tuntas." Suara napas Veronica terdengar pende
Victor menatap Batari dari kejauhan, napasnya terasa berat seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis. Langkah kakinya yang berat namun ragu terdengar samar di atas karpet, beradu dengan suara hujan yang menghantam kaca jendela dengan ritme yang makin liar. Ia mendekat, perlahan sekali, hingga bayangannya yang besar menutupi tubuh Batari yang sedang bersandar pasrah di sofa. Tanpa sepatah kata pun, Victor menjatuhkan lututnya ke lantai. Suara gedebuk pelan itu terdengar begitu nyata, sebuah tanda runtuhnya harga diri sang algojo. Lidahnya terasa kelu, namun matanya tidak bisa beralih dari pemandangan di depannya. Victor mengulurkan tangannya yang gemetar, jari-jarinya yang kasar perlahan menyentuh punggung kaki Batari. Ia bisa merasakan kelembutan kulit itu di bawah jemarinya yang kasar—kontras yang membuatnya semakin haus. Victor mendekatkan wajahnya, membiarkan uap napasnya yang panas menyentuh kulit dingin Batari. Ia mulai menciumi punggung kaki itu, pelan dan basah, lalu
Saat Theo pamit, Elio tidak langsung ikut melangkah keluar. Ia mematung di sisi ranjang, membiarkan keheningan rumah sakit yang mencekam merayap di antara mereka. Matanya yang biasanya jernih dan berwibawa kini meredup, beralih dari wajah Isabel yang pucat menuju jemari kurus wanita itu yang seolah kehilangan sisa hidupnya.Ada denyut nyeri yang menghantam dada Elio—Di matanya, Isabel bukan sekadar pasien; wanita ini adalah kepingan teka-teki dari masa lalu Batari, wanita yang mulai ingin ia lindungi. "Batari..." suara Elio rendah, parau oleh emosi yang ia tekan sekuat tenaga di balik jas mahalnya. Ia berbalik, menatap Batari dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan wanita itu. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajahmu... kenapa matamu menyimpan begitu banyak luka yang tidak bicara?"Batari hanya diam, jemarinya meremas kain sprei ranjang ibunya. Namun, Elio melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma oud dan cendana yang hangat menyelimu
Rumah besar itu adalah paradoks yang menyakitkan. Secara hukum, sebagian fondasinya kini milik Batari Amara Wijaya. Namanya tercetak rapi dalam berkas-berkas, lengkap dengan angka yang membuat Victoria Wijaya ingin mematahkan giginya sendiri. Namun secara atmosfer, Batari tetap menjadi tawanan. Din
⚜️⚜️ Gerbang besi kediaman Wijaya mengerang saat terbuka—suara logam bergesekan, panjang dan serak, seperti napas sesuatu yang baru bangun dari tidur gelapnya. Dari luar, tempat ini tampak seperti istana: megah, rapi, tak tersentuh. Namun bagi Batari Amara Wijaya, ini bukan istana. Ini rahang.
"Berapa lama lagi kau mau aku jadi pengasuhmu, Adrian? Polisi sudah mondar-mandir di gerbang depan dua kali pagi ini!"Victor membanting gelas wiskinya ke meja marmer, suaranya bergema tajam di ruang tengah yang luas. Matanya yang lelah menatap Adrian yang sedang duduk di sofa kulit, mas
"Lepaskan! Kau binatang, Adrian! Kau pikir uang keluargamu bisa membeli harga diriku?" "Diamlah, Sayang. Nikmati saja. Besok kau akan berterima kasih karena nilaimu mendadak sempurna," suara Adrian di video itu terdengar menjijikkan, disusul suara robekan kain yang kasar. “ AKHHHHHH.” Suara jerit







