Início / Romansa Dewasa / BATARI / Perjanjian Darah dan Mawar Merah

Compartilhar

Perjanjian Darah dan Mawar Merah

last update Última atualização: 2026-02-28 23:54:00

Di puncak bukit yang dijauhi penduduk itu, api dari vila di bawah sana tampak seperti lampion kecil yang tak berarti. Batari meronta dari dekapan Freya, kakinya yang gemetar membawanya lari ke arah tebing. Ia ingin terbang, ingin hilang, ingin menghapus rasa kotor yang merayap di bawah kulitnya.

"Batari, jangan!" Freya menerjang, memeluk pinggang Batari hingga keduanya jatuh tersungkur di atas tanah berbatu.

Di sana, di bawah rembulan yang menyaksikan segalanya, Batari meraung. Suaranya pecah, sebuah jeritan yang mengoyak sunyi malam. Freya memeluknya erat, air mata mengalir di pipinya yang memar. Freya tidak bicara bahwa ia pun memikul luka yang sama; bahwa di gudang gelap tadi, teman-teman Seline telah memperlakukannya seperti sampah. Mereka berdua adalah kuncup yang dihancurkan oleh tangan-tangan iblis yang sama.

Tiba-tiba, angin berhenti berhembus. Keheningan yang tidak wajar menyelimuti tempat itu, disusul oleh hembusan angin kencang yang membawa aroma melati samar namun begitu memabukkan—bau bunga yang mekar di atas tanah kuburan.

Sesosok wanita muncul dari balik kabut tipis. Ia cantik dengan cara yang mengerikan. Rambutnya hitam bergelombang mengalir seperti sungai malam, membingkai wajah blasterannya yang eksotis. Ia mengenakan gaun merah darah dengan belahan dada rendah dan potongan paha yang berani—seolah-olah dia adalah personifikasi dari godaan itu sendiri.

"Siapa kau?!" suara Freya bergetar, namun ia tetap memasang badan di depan Batari. Jemarinya mencengkeram tanah hingga kukunya berdarah.

Wanita itu melangkah mendekat, kakinya tidak menyentuh ranting kering yang berserakan . Ia tersenyum , sebuah lengkungan bibir yang menyimpan ribuan rahasia kelam. "Namaku Lenka," suaranya terdengar seperti gesekan sutra pada logam. "Aku adalah saksi dari setiap rintihan yang tak terdengar di bukit ini. Bertahun tahun lalu, keluargaku dirampok dan dibunuh oleh preman lokal karena dendam pada ayahku. Aku diperkosa berhari-hari hingga napas terakhirku terenggut, dan jasadku dibuang di sini seperti sampah."

Lenka berlutut di depan Batari yang tertegun. "Aku tahu rasa pahit di mulutmu, Batari. Aku ingin menawarkan apa yang tidak bisa diberikan oleh Tuhan saat ini: Keadilan melalui tanganmu sendiri."

Lenka berlutut, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Batari. "Aku bisa membantumu. Aku akan memberimu harum yang membuat pria bertekuk lutut, kecantikan yang membutakan, dan kekuatan untuk mencabik mereka tanpa kau perlu mengotori hatimu sendiri."

Freya menyela dengan napas memburu, "Apa syaratnya? Apa yang kau inginkan dari kami?"

Syaratnya sederhana," kata Lenka, matanya berkilat merah. "Aku akan bersekutu denganmu. Aku akan memberikanmu kekuatan terbaikku, setelah membalaskan dendammu kau harus membalaskan sakitku. Jika saatnya tiba untuk melakukan pekerjaan kotor, aku akan masuk ke tubuhmu dan menyelesaikannya untukmu. Sebagai imbalan, setelah semua dendammu tuntas, aku akan memulihkan tubuhmu—menghapus setiap jejak tangan iblis-iblis itu seolah kau tak pernah terjamah."

"Tapi ingat," suara Lenka berubah menjadi sedingin es. "Selama persekutuan ini berjalan, kau dilarang jatuh cinta. Kau dilarang menikah, apalagi memiliki anak. Karena setiap kali pria menyentuhmu, itu bukan kau yang mereka rasakan... tapi aku."

"Biar aku saja," potong Freya cepat, matanya memohon pada Lenka. "Ambil tubuhku. Jangan Batari."

Batari, yang sejak tadi diam, tiba-tiba memegang tangan Freya. Matanya yang kosong kini berkilat dengan cahaya yang menyeramkan. "Tidak, Freya. Ini bukan dendammu. Ini adalah kutukan keluarga Wijaya, dan aku yang harus menyelesaikannya."

"Lakukan sekarang!" seru Batari tiba-tiba, suaranya parau oleh kebencian. "Masuklah ke tubuhku!"

"Sabar, Bunga Kecil," Lenka menahan dengan jemari dinginnya. "Tubuhmu butuh waktu untuk beradaptasi denganku. Jika aku masuk sekarang, jiwamu yang rapuh akan hancur sebelum kau sempat melihat mereka memohon ampun.

Freya menengahi, menggenggam tangan Batari dengan tekad baja. "Lenka benar, Batari. Kita harus melakukannya pelan pelan jika ingin mereka hancur kejurang terdalam. Dan kau harus tahu satu hal... aku adalah keponakan dari Theo, tangan kanan ayahmu. Paman Theo mengirimku untuk menjagamu. Jika aku menceritakan ini padanya, dia pasti akan membantu, tapi kita tidak punya cukup bukti untuk jalur hukum. Seline telah membuatmu terlihat seperti jalang di pesta tadi. Dunia tidak akan memihakmu saat ini."

Batari mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.

Lenka tersenyum, kilatan mistis muncul di matanya. "Kalian tidak bisa kembali ke rumah Wijaya sekarang. Ikuti aku. Di balik bukit ini, ada sebuah rumah liburan tua milik keluargaku yang tidak pernah dirampas oleh preman-preman itu. Tempat itu tersembunyi, dilindungi oleh rahasia yang tidak bisa ditembus oleh manusia biasa."

"Di sana," Freya menambahkan dengan nada tegas, "aku akan melatih fisikmu. Setidaknya untuk bertahan"

Batari menatap ke arah rumah liburan yang ditunjuk Lenka—sebuah bangunan tua yang tampak sunyi namun menyimpan aura kekuasaan yang purba. Ia tahu, saat ia keluar dari tempat itu nanti, ia bukan lagi Batari Amara Wijaya yang malukat dan rapuh.

Batari menatap Lenka dengan tatapan yang membeku. "Lakukan. Masuklah ke dalamku. Jadikan aku senjata yang akan menghancurkan mereka semua."

Lenka tertawa, suara yang diikuti oleh gugurnya kelopak mawar di sekitar mereka. Ia maju dan mengecup kening Batari. Seketika, rasa dingin yang luar biasa meresap ke dalam sumsum tulang Batari. Ia merasa sesuatu yang lain—sesuatu yang liar dan haus darah—kini bersemayam di balik jantungnya.

"Maka perjanjiannya sah," bisik Lenka sebelum sosoknya memudar menjadi asap merah.

Freya memeluk Batari, menyadari bahwa mulai malam ini, gadis kecil yang ia lindungi telah mati. Yang tersisa hanyalah Batari yang baru; cantik, mematikan, dan membawa serta hantu dari masa lalu.

"Bawa aku ke sana," ucap Batari, suaranya kini terdengar berbeda—lebih berat, seolah ada dua jiwa yang berbicara bersamaan. "Jadikan aku monster indah yang akan membuat mereka memohon untuk mati."

Batari menatap api vila di kejauhan yang mulai padam, digantikan oleh cahaya bulan yang pucat di atas bukit terlarang. Di tempat ini, mawar yang rapuh telah mati. Dan dari abunya, lahir sesuatu yang akan membuat dunia Wijaya bergetar ketakutan.

⚜️⚜️

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • BATARI   Jeritan di Ruang Hampa

    Pagi itu, Jakarta terbangun dengan sebuah guncangan digital. Freya, dengan ketangkasan jemari yang dilatih oleh Theo, mulai menaburkan benih-benih kehancuran. Melalui forum-forum anonim dan akun-akun gelap yang tak terlacak, ia mengunggah cuplikan video bejat Adrian—sebuah rekaman yang diambil dari ponsel Erick yang menunjukkan betapa rendahnya moral sang putra konglomerat. Dalam hitungan jam, video itu meledak, menjadi viral dan memicu gelombang kemarahan publik. Nama keluarga Wijaya yang selama ini dipuja sebagai simbol kesuksesan, kini terseret ke dalam lumpur kehinaan.Di saat kericuhan itu memuncak di dunia luar, di dalam apartemen mewah yang sunyi, suasana justru terasa sangat kontras. Batari berdiri di depan cermin, sementara Lenka—dalam wujud bayangan yang mulai menghangat—sedang merayu dengan cara yang tak terduga."Batari... aku ingin 'hadiah'," bisik Lenka. Suaranya tidak lagi dingin mencekam seperti tanah kuburan, melainkan terdengar seperti gadis

  • BATARI   Digilir 2 Iblis

    Mobil sport itu membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris gila. Erick mencengkeram kemudi seolah-olah benda itu adalah leher musuhnya, napasnya menderu berat, tersengal-sengal oleh campuran adrenalin, alkohol, dan pengaruh mistis aroma mawar Lenka. Dahaganya bukan lagi soal minuman; ada rasa lapar yang membakar di dalam perutnya, sebuah tuntutan biologis yang dipicu oleh sentuhan Batari di kelab tadi.Di kursi penumpang, Batari bersandar dengan keanggunan yang dingin. Di dalam kepalanya, suara Lenka bergema, terkekeh dengan nada yang membuat merinding."Haruskah kita bermain sebentar, Sayang? Sudah sangat lama jemari dan lidahku tidak menari di atas kulit yang malang..." bisik Lenka, auranya mulai merembes keluar, membuat suhu di dalam kabin mobil terasa anjlok."Tunggu, Lenka. Biarkan dia yang memulai," jawab Batari dalam hati, suaranya lirih, nyaris tak terdengar namun penuh otoritas.Batari melirik ke arah Erick yang tampak kalap. "Kau

  • BATARI   Lumatan di bawah Lampu Strobe

    Lampu strobe berwarna ungu dan biru gelap berdenyut selaras dengan dentuman bass yang menggetarkan dada di dalam Onyx Club. Erick melangkah masuk dengan angkuh, tangannya menggenggam jemari Batari seolah ia baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia. Ia membawa Batari menuju meja VVIP di sudut terjauh—sebuah sofa kulit melingkar yang gelap, tempat para penguasa malam biasanya berkumpul.Di sudut ruangan lainnya, Victor dan Adrian sudah terpaku sejak detik pertama Batari menapakkan kaki di sana. Bagi mereka, Batari seolah menjadi pusat gravitasi; setiap mata di ruangan itu tersedot ke arahnya. Adrian tak lagi peduli pada Victor, ia bahkan melupakan pesan adik kandungnya, Seline, untuk menjaga sang tunangan. Isi kepala Adrian mendadak riuh, dipenuhi oleh bayangan adik tirinya yang kini tampak sangat berbeda. Ia tak menyangka bahwa wanita yang duduk dengan anggun di depan matanya adalah gadis yang sama yang enam bulan lalu merintih, memohon ampun dengan suara pe

  • BATARI   Belati dalam Beludru

    Jakarta yang lembap dan berisik menjadi latar belakang sempurna bagi teror yang perlahan namun pasti mulai menyusup ke kediaman Wijaya. Batari tidak menyerang dengan pedang, ia menyerang dengan bayangan. Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya bangun, sebuah kiriman misterius mendarat di atas meja kelas yang biasa diduduki Seline di universitas—sekuntum mawar merah yang bukan hanya layu, tapi tampak menghitam seolah terbakar oleh kebencian.Di kediaman Wijaya, teror itu lebih nyata. Karangan bunga mawar merah yang segar namun berlumuran cairan merah kental menyerupai darah dikirimkan tanpa nama pengirim. Veronica Wijaya menanggapi kiriman itu dengan histeria yang tak terkendali. Ia menjerit, memerintahkan pelayan untuk membuang bunga-bunga itu, sementara Seline hanya bisa mematung dengan wajah pucat, tangannya tanpa sadar meremas perutnya yang mulai membuncit.Mereka belum curiga pada Batari. Terlalu banyak dosa yang telah mereka tanam selama bertahun-tahun;

  • BATARI   Benih Cemburu

    University of Astoria International kembali ke ritme sibuknya saat semester baru dimulai. Bagi sebagian besar mahasiswa, ini adalah awal dari pengejaran gelar dan gengsi. Namun bagi Batari, ini adalah panggung sandiwara di mana ia akan mementaskan tragedi bagi musuh-musuhnya.Berita kembalinya Batari dari "kematian" telah menjadi desas-desus liar di koridor kampus, namun tak ada yang berani bertanya langsung saat melihat sosoknya yang kini memancarkan aura otoritas yang dingin. Batari harus mengejar ketertinggalan akademisnya, namun prioritas utamanya adalah membedah kehidupan Erick.Melalui Theo, Freya telah mendapatkan berkas lengkap. Erick hanyalah seorang pemuda labil yang mabuk oleh harta haram ayahnya—seorang pejabat negara yang korup. Erick adalah pion yang sempurna; ia sering digunakan oleh Adrian dan Victor sebagai tumbal atau "pembersih" skandal mereka menggunakan koneksi ayahnya di pemerintahan. Namun, Erick memiliki satu titik lemah: ia selalu mera

  • BATARI   Tarian Iblis di Balik Pupil Mata

    Pesta pertunangan itu seharusnya menjadi puncak kejayaan bagi Seline dan Victor, namun kehadiran Batari telah mengubah atmosfer hotel berbintang itu menjadi sebuah peti mati berlapis emas. Saat lilin-lilin mulai meredup dan para tamu mulai beranjak, Batari melangkah dengan keanggunan seorang ratu menuju pintu keluar. Namun, sebelum jemarinya yang lentik menyentuh gagang pintu kaca, sebuah tangan kasar mencekal pergelangan tangannya.Cengkeraman itu panas, lembap oleh keringat dingin, dan bergetar.Victor berdiri di sana. Tuksedo mahalnya kini tampak kusut, senada dengan wajahnya yang pucat pasi. Ia menatap Batari dengan tatapan seorang pria yang baru saja melihat hantu, namun sekaligus pria yang haus akan dahaga yang tak terjelaskan."Batari... kau... bagaimana mungkin?" Victor tergagap, suaranya parau, pecah di udara yang dingin. "Kau selamat? Kenapa tidak memberiku kabar? Aku... aku hampir gila mencarimu setelah malam di Bali itu."Kebohong

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status