بيت / Romansa Dewasa / BATARI / Abu diatas bukit terlarang

مشاركة

Abu diatas bukit terlarang

مؤلف: Lavanya Varsha
last update آخر تحديث: 2026-02-28 23:53:00

Lantai kamar itu terasa seperti bara api bagi kulit Batari yang kian sensitif akibat pengaruh obat. Ia meringkuk di sudut, memeluk lututnya sendiri—sebuah usaha sia-sia untuk menciptakan benteng pertahanan terakhir. Napasnya terengah, matanya nanar menatap pintu yang terkunci. Ia adalah karya seni yang sedang menunggu dihancurkan.

Lalu, bunyi klik itu terdengar. Pintu terbuka.

Tiga bayangan memanjang masuk, menelan cahaya lampu yang temaram. Adrian, Victor, dan Erick. Ketiganya berdiri dengan keangkuhan predator yang telah menyudutkan mangsanya di lubang maut.

"Andrian...?" suara Batari pecah, nyaris tak terdengar. "Kenapa... kenapa kau di sini?"

Andrian melangkah maju, bayangannya jatuh menindih tubuh Batari. Ia tersenyum, sebuah seringai yang tidak memiliki setetes pun darah persaudaraan. "Adikku tersayang... kenapa gemetar? Bukankah kau harus berterima kasih? Kakakmu ini membawa teman-teman untuk merayakan kesuksesanmu di kampus."

Tanpa peringatan, tangan-tangan itu menyambar. Batari berontak, menendang - nendang udara kosong . Berharap ada celah untuk melarikan diri, namun obat di nadinya telah mencuri kekuatannya, ia mencoba menolak sensasi itu, berusaha membenci setiap sentuhan dan setiap napas yang berat yang terasa di kulitnya. Namun ia hanya mampu terkulai menyisakan tubuh yang mengkhianati pikirannya sendiri. Jeritannya diredam oleh tawa mereka yang tuli akan kemanusiaan.

Dunia Batari runtuh saat kain-kain pelindungnya dilucuti tanpa ampun. Ia merasakan sentuhan-sentuhan yang menodai, ciuman kasar yang terasa seperti luka bakar, dan tangan-tangan yang menjamah setiap inci martabatnya. Batari mencoba menutup matanya, berusaha melarikan diri ke dalam kegelapan pikirannya sendiri, namun rasa sakit dan penghinaan itu menariknya kembali ke realitas yang keji.

Air mata Batari tidak berhenti mengalir, pikirannya melayang. Tidak menyangka ia akan berakhir seperti ini. Ia hanya bisa memejam kan mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk.

Batari dibawa ke sofa panjang didekat balkon seraya menggeleng dan memberontak. Namun  tangan dan kakinya sudah lebih dulu di ikat oleh tangan kekar Erick.

Tangan tangan Andrian dan Victor bergerak bersamaan, menjamah seluruh bagian tubuh batari tanpa celah.

Setiap titik disentuh, nipple dan klitoris batari sudah bengkak karena serangan bibir dan lidah tebal mereka berdua.

Tak mau kalah, dari belakang Erick menjelajah ceruk leher dan tulang selangka Batari dengan buas meyisakan lebam merah keunguan disetiap sudut leher, bahu dan punggung Batari.

Victor menahan kedua kaki batari, membukanya dengan paksa tanpa aba aba ia menghentak miliknya lebih dulu kedalam tubuh batari. Tak lama cairan hangat merembes dari inti milik batari.

Batari teriak histeris "Aaaaaaaaaakkkkhh!" Namun hanya dijawab geraman puas dan buas  mereka karena mendapatkan kesucian batari.

Victor mendorong lebih dalam, dan mulai menggerakan gerakannya dengan cepat. Ia menggeram keras seraya  memejamkan mata menikmati setiap sensasi miliknya diliang senggama Batari yang perawan.

Andrian yang tak tahan mulai menjilat, menghisap buah dada dan nipple batari dengan kasar.Tangannya yang bebas memasukkan jemarinya yang kasar ke lubang belakang batari dengan cairan pelumas dingin.

Batari hanya meraung histeris  merasakan sensasi terbakar dan kepedihan diseluruh tubuhnya.

Namun segera teredam dalam lumatan kasar dari bibir adrian yang semakin dalam dan menuntut.

" hhpptdt.." isak Batari dengan raga yang mulai lemah, tubuhnya tak mampu lagi menahan serangan brutal mereka.

Tak lama Victor mengangkat tubuh batari dan menggendongnya, disaat itu pula kesadaran batari perlahan hilang.

Kebejatan Victor, Andrian dan Erick masih terus berlangsung bahkan saat Batari tak sadarkan diri.

Seolah tubuh batari hanya seonggok daging tak berjiwa, yang mereka bisa bolak balik sesuka hati.

Kesadaran Batari sempat memudar  dalam rasa sakit yang hebat disekujur tubuhnya. Namun, saat matanya kembali terbuka, ia melihat mereka bertiga sedang berdiri di balkon, tertawa dan menyesap minuman seolah baru saja memenangkan trofi paling bergengsi.

Batari terisak, sebuah tangisan yang lahir dari dasar jiwanya yang hancur. Mendengar suara itu, Adrian menoleh.

"Ah, kau sudah bangun, Adikku," Adrian mendekat, suaranya rendah dan penuh racun. "Tadi itu benar-benar luar biasa Batari, tubuhmu bahkan bagian dalam tubuhmu membuat kami melayang kelangit ke tujuh.  Tapi kami melakukan kesalahan fatal... kami lupa merekamnya. Bagaimana kalau kita mulai sekali lagi?"

Netra Batari memanas. Rasa sakit di tubuhnya berubah menjadi getaran dingin yang membekukan darahnya. Di titik nadir ini, sesuatu yang purba bangkit dari reruntuhan jiwanya. Bukan lagi rasa takut, melainkan dendam yang menyala seperti api neraka.

Seolah menjawab kemarahan Batari, sebuah gemuruh terdengar dari arah dapur. Vila kayu itu mulai mengerang. Lidah-lidah api muncul dari balik celah dinding, merambat dengan kecepatan yang tidak wajar. Panik seketika menghapus keangkuhan di wajah Adrian dan teman-temannya. Mereka berlari, meninggalkan mangsa yang mereka anggap sudah tidak berguna.

Victor sempat berbalik, rasa takut akan kehilangan mainannya mulai menyelimutinya saat melihat Batari yang tak berdaya. Ia mencoba menarik tangan Batari, namun sebelum ia sempat menyentuhnya, pintu terbanting terbuka.

BUGH!

Sebuah tendangan maut mendarat di dada Victor. Freya berdiri di sana. Lehernya penuh lebam biru keunguan—bekas perjuangan hidup dan matinya melawan para penjaga. Matanya menyala dengan murka yang sanggup memadamkan api.

"Sentuh dia sekali lagi, dan aku akan memastikan kau terbakar di dalam gedung ini!" teriak Freya.

Tanpa memedulikan Victor yang terkapar, Freya mengangkat tubuh Batari yang ringkih ke dalam dekapannya. "Batari, aku di sini. Lihat aku," bisik Freya, suaranya gemetar oleh air mata.

"Freya... maafkan aku... aku membiarkan mereka..." bisik Batari dengan suara yang parau.

"Diamlah. Kau tidak bersalah. Mereka yang akan membayar ini dengan nyawa," balas Freya tegas sembari memakaikan jaket hoodie dan training kepada Batari.

Vila itu mulai runtuh. Freya membawa Batari keluar melalui pintu belakang, menerobos asap hitam yang menyesakkan. Mereka tidak berlari menuju jalan utama di mana ambulans dan polisi akan tiba, melainkan mendaki ke arah bukit yang menjulang di belakang vila—bukit yang menurut penduduk lokal memiliki aura mistis dan terlarang.

Di bawah cahaya bulan yang pucat dan kobaran api yang menghanguskan sisa-sisa kemurniannya, Batari menatap vila yang runtuh itu. Di balik rasa sakit yang merobek tubuhnya, ia merasakan sebuah kelahiran kembali.

Ini adalah awal dari akhir bagi keluarga Wijaya. Di atas bukit sunyi ini, Batari bersumpah pada kegelapan: Ia akan membiarkan mawar dalam dirinya layu, dan membiarkan tanaman berduri yang beracun tumbuh menggantikannya.

Jalan menuju balas dendam dimulai di sini, dan ia akan memastikan setiap tetes air matanya berubah menjadi darah bagi mereka yang telah menghancurkannya.

⚜️⚜️

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • BATARI   Jeritan di Ruang Hampa

    Pagi itu, Jakarta terbangun dengan sebuah guncangan digital. Freya, dengan ketangkasan jemari yang dilatih oleh Theo, mulai menaburkan benih-benih kehancuran. Melalui forum-forum anonim dan akun-akun gelap yang tak terlacak, ia mengunggah cuplikan video bejat Adrian—sebuah rekaman yang diambil dari ponsel Erick yang menunjukkan betapa rendahnya moral sang putra konglomerat. Dalam hitungan jam, video itu meledak, menjadi viral dan memicu gelombang kemarahan publik. Nama keluarga Wijaya yang selama ini dipuja sebagai simbol kesuksesan, kini terseret ke dalam lumpur kehinaan.Di saat kericuhan itu memuncak di dunia luar, di dalam apartemen mewah yang sunyi, suasana justru terasa sangat kontras. Batari berdiri di depan cermin, sementara Lenka—dalam wujud bayangan yang mulai menghangat—sedang merayu dengan cara yang tak terduga."Batari... aku ingin 'hadiah'," bisik Lenka. Suaranya tidak lagi dingin mencekam seperti tanah kuburan, melainkan terdengar seperti gadis

  • BATARI   Digilir 2 Iblis

    Mobil sport itu membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris gila. Erick mencengkeram kemudi seolah-olah benda itu adalah leher musuhnya, napasnya menderu berat, tersengal-sengal oleh campuran adrenalin, alkohol, dan pengaruh mistis aroma mawar Lenka. Dahaganya bukan lagi soal minuman; ada rasa lapar yang membakar di dalam perutnya, sebuah tuntutan biologis yang dipicu oleh sentuhan Batari di kelab tadi.Di kursi penumpang, Batari bersandar dengan keanggunan yang dingin. Di dalam kepalanya, suara Lenka bergema, terkekeh dengan nada yang membuat merinding."Haruskah kita bermain sebentar, Sayang? Sudah sangat lama jemari dan lidahku tidak menari di atas kulit yang malang..." bisik Lenka, auranya mulai merembes keluar, membuat suhu di dalam kabin mobil terasa anjlok."Tunggu, Lenka. Biarkan dia yang memulai," jawab Batari dalam hati, suaranya lirih, nyaris tak terdengar namun penuh otoritas.Batari melirik ke arah Erick yang tampak kalap. "Kau

  • BATARI   Lumatan di bawah Lampu Strobe

    Lampu strobe berwarna ungu dan biru gelap berdenyut selaras dengan dentuman bass yang menggetarkan dada di dalam Onyx Club. Erick melangkah masuk dengan angkuh, tangannya menggenggam jemari Batari seolah ia baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia. Ia membawa Batari menuju meja VVIP di sudut terjauh—sebuah sofa kulit melingkar yang gelap, tempat para penguasa malam biasanya berkumpul.Di sudut ruangan lainnya, Victor dan Adrian sudah terpaku sejak detik pertama Batari menapakkan kaki di sana. Bagi mereka, Batari seolah menjadi pusat gravitasi; setiap mata di ruangan itu tersedot ke arahnya. Adrian tak lagi peduli pada Victor, ia bahkan melupakan pesan adik kandungnya, Seline, untuk menjaga sang tunangan. Isi kepala Adrian mendadak riuh, dipenuhi oleh bayangan adik tirinya yang kini tampak sangat berbeda. Ia tak menyangka bahwa wanita yang duduk dengan anggun di depan matanya adalah gadis yang sama yang enam bulan lalu merintih, memohon ampun dengan suara pe

  • BATARI   Belati dalam Beludru

    Jakarta yang lembap dan berisik menjadi latar belakang sempurna bagi teror yang perlahan namun pasti mulai menyusup ke kediaman Wijaya. Batari tidak menyerang dengan pedang, ia menyerang dengan bayangan. Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya bangun, sebuah kiriman misterius mendarat di atas meja kelas yang biasa diduduki Seline di universitas—sekuntum mawar merah yang bukan hanya layu, tapi tampak menghitam seolah terbakar oleh kebencian.Di kediaman Wijaya, teror itu lebih nyata. Karangan bunga mawar merah yang segar namun berlumuran cairan merah kental menyerupai darah dikirimkan tanpa nama pengirim. Veronica Wijaya menanggapi kiriman itu dengan histeria yang tak terkendali. Ia menjerit, memerintahkan pelayan untuk membuang bunga-bunga itu, sementara Seline hanya bisa mematung dengan wajah pucat, tangannya tanpa sadar meremas perutnya yang mulai membuncit.Mereka belum curiga pada Batari. Terlalu banyak dosa yang telah mereka tanam selama bertahun-tahun;

  • BATARI   Benih Cemburu

    University of Astoria International kembali ke ritme sibuknya saat semester baru dimulai. Bagi sebagian besar mahasiswa, ini adalah awal dari pengejaran gelar dan gengsi. Namun bagi Batari, ini adalah panggung sandiwara di mana ia akan mementaskan tragedi bagi musuh-musuhnya.Berita kembalinya Batari dari "kematian" telah menjadi desas-desus liar di koridor kampus, namun tak ada yang berani bertanya langsung saat melihat sosoknya yang kini memancarkan aura otoritas yang dingin. Batari harus mengejar ketertinggalan akademisnya, namun prioritas utamanya adalah membedah kehidupan Erick.Melalui Theo, Freya telah mendapatkan berkas lengkap. Erick hanyalah seorang pemuda labil yang mabuk oleh harta haram ayahnya—seorang pejabat negara yang korup. Erick adalah pion yang sempurna; ia sering digunakan oleh Adrian dan Victor sebagai tumbal atau "pembersih" skandal mereka menggunakan koneksi ayahnya di pemerintahan. Namun, Erick memiliki satu titik lemah: ia selalu mera

  • BATARI   Tarian Iblis di Balik Pupil Mata

    Pesta pertunangan itu seharusnya menjadi puncak kejayaan bagi Seline dan Victor, namun kehadiran Batari telah mengubah atmosfer hotel berbintang itu menjadi sebuah peti mati berlapis emas. Saat lilin-lilin mulai meredup dan para tamu mulai beranjak, Batari melangkah dengan keanggunan seorang ratu menuju pintu keluar. Namun, sebelum jemarinya yang lentik menyentuh gagang pintu kaca, sebuah tangan kasar mencekal pergelangan tangannya.Cengkeraman itu panas, lembap oleh keringat dingin, dan bergetar.Victor berdiri di sana. Tuksedo mahalnya kini tampak kusut, senada dengan wajahnya yang pucat pasi. Ia menatap Batari dengan tatapan seorang pria yang baru saja melihat hantu, namun sekaligus pria yang haus akan dahaga yang tak terjelaskan."Batari... kau... bagaimana mungkin?" Victor tergagap, suaranya parau, pecah di udara yang dingin. "Kau selamat? Kenapa tidak memberiku kabar? Aku... aku hampir gila mencarimu setelah malam di Bali itu."Kebohong

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status