تسجيل الدخولKlik
Pintu terbuka, tiga bayangan masuk menenggelamkan tubuh Batari utuh. Batari hanya mampu memeluk lututnya sendiri— Lantai kamar terasa seperti bara api bagi kulitnya. Napasnya terengah, matanya nanar menatap 3 sosok didepannya. “ akkhh..” Rintihan tak sengaja keluar dari bibir batari, seluruh tubuhnya yang kian sensitif akibat pengaruh obat mulai melahap sisa sisa akal sehatnya. Tubuhnya meringkuk, menutup setiap celah. Sebuah usaha sia sia Batari saat menciptkana benteng pertahanan terakhirnya. Membuat 3 predator di pintu menatap Batari dengan Lapar, Batari adalah karya seni yang sedang menunggu untuk dihancurkan. Adrian, Victor, dan Erick. Ketiganya berdiri dengan keangkuhan predator menatap Batari dengan lapar, Batari adalah karya seni yang sedang menunggu untuk dihancurkan. Langkah kaki mereka terdengar berat, mengepung Batari seolah ia hanyalah mangsa yang terjebak di dasar lubang maut. Udara di ruangan itu mendadak terasa tipis dan beracun membuat Batari merasakan nyeri sesak yang aneh didadanya. "An-andrian...?" Suara Batari pecah, tenggelam dalam isak yang tertahan di tenggorokan. "Kenapa... kenapa kau ada di sini?" Andrian melangkah maju. Bayangannya yang besar jatuh menindih tubuh Batari, menciptakan kegelapan yang mengintimidasi. Ia menyeringai—sebuah senyum predator yang tidak menyisakan setetes pun rasa persaudaraan. "Adikku tersayang... kenapa gemetar begitu? Hhmmm?" Andrian menggumam, suaranya rendah dan serak. "Bukankah kau harus berterima kasih? Kakakmu ini membawa teman-teman untuk merayakan... 'kesuksesanmu' di kampus." "Kak... tolong... jangan...Tolong kaa ..darah kita masih mengalir darah yang sama .” Batari berbisik parau, namun rintihan itu justru disambut dengan tawa rendah yang mengerikan. "Tolong?" Andrian mendengus, sebuah geraman kecil keluar dari dadanya. "Permintaanmu justru membuat mereka makin bersemangat, Batari." Tanpa peringatan, tangan-tangan kasar menyambar. “ Darah yang sama? Kau dan ibumu hanya lintah yang menghisap habis kebahagian kami.” Suara Andrian meninggi matanya merah, jemarinya mulai menyambar surai Batari. "Lepas! Lepaskan!" Batari meronta, kakinya menendang-nendang udara kosong dengan sisa tenaga yang ada. Ia ingin lari, ia ingin melompat keluar dari kulitnya sendiri, namun obat yang mengalir di nadinya mulai mencuri kendali. Ugh... Batari mengerang saat kepalanya mendadak berputar. Ia mencoba membenci sensasi panas yang menjalar di kulitnya, menolak setiap napas berat yang menerpa ceruk lehernya. Namun, tubuhnya mulai berkhianat. Otot-ototnya melumpuh, memaksanya terkulai lemas sementara pikirannya menjerit histeris. Tawa para predator memenuhi kamar itu yang tuli akan kemanusiaan meredam setiap sisa teriakannya. Dunia Batari runtuh saat kain pelindungnya disentak paksa. Srak! Bunyi sobekan itu terdengar seperti vonis mati. Victor mulai menjamah bukit kembar milik Batari, ia menyesap dan mulai mengigit kasar puncak bukit kembar Batari , jemarinya meremas dan memilin area yang lain . Di Bawah Andria mulai menjilat pelan, menjelajah, lalu mulai menggoda titik paling sensitifnya dengan putaran lidah yang tahu cara menaklukan Batari menahan napas merasakan sentuhan yang menodai, ciuman kasar yang terasa perih seperti luka bakar, dan jemari yang menjamah setiap inci martabatnya tanpa permisi. Ia terus memejamkan mata rapat-rapat, mencoba lari ke sudut tergelap di pikirannya, namun rasa sakit disekujur tubuhnya dan penghinaan itu terus menyeretnya kembali ke realitas yang keji. “ Tolong.. ahh.. cukup..” rintihan Batari semakin Tipis "Diamlah, Manis," bisik Erick di telinganya. Suaranya berat, diselingi geraman kepuasan saat ia menyeret Batari ke sofa panjang di dekat balkon. Batari menggeleng lemah, air matanya membanjiri bantal sofa. "Tidak... jangan..." Namun, Erick dengan kasar menyatukan pergelangan tangan dan kakinya, mengikatnya dengan lilitan yang menyakitkan. "Lihat dia, Victor. Dia cantik sekali saat menangis," geram Andrian. Tangan Andrian dan Victor mulai bergerak bersamaan, menjalar di atas kulit Batari tanpa celah. Setiap sentuhan terasa seperti racun. Serangan bibir dan lidah mereka begitu buas hingga bagian-bagian paling sensitif tubuh Batari membengkak, meninggalkan rasa berdenyut yang menyiksa. Tak mau kalah, dari arah belakang, Erick memburu ceruk leher dan tulang selangka Batari. Grrhh... Ia menggeram pelan saat menyesap kulit halus itu, meninggalkan lebam merah keunguan yang kontras di bahu dan punggung Batari. Batari hanya bisa terisak dalam diam, memejamkan mata seerat mungkin. Di bawah cahaya lampu yang remang, ia hanya berharap jantungnya berhenti berdetak saat itu juga, agar ia tak perlu merasakan sisa dari mimpi buruk ini. Lantai kayu vila itu berderit, seolah ikut merintih saat Victor menahan kedua kaki Batari. Tanpa aba-aba, tanpa belas kasih, ia menghentak masuk dengan kasar. “Aaaaaaaaaakkkkhh!” Pekikan Batari pecah, menyayat keheningan malam. Suaranya serak, tenggorokannya terasa seperti disayat sembilu. Namun, jeritan itu justru dijawab dengan geraman buas dari dada Victor. “Hngghhh... Batari sempit sekali,” Victor mendesis, memejamkan mata saat ia mendorong lebih dalam, mengabaikan cairan hangat yang mulai merembes dan membasahi sprei di bawah tubuh Batari. Sprei satin itu kusut masai, berbunyi gemerisik kasar setiap kali Victor memacu gerakannya dengan tempo yang makin gila. Di sisi lain, Andrian seolah kerasukan. Ia merunduk, menghisap dan menggigit buah dada Batari hingga meninggalkan bekas gigi yang memerah. "Sakit... Kak... hhh... le-paskan..." rintih Batari, namun suaranya segera hilang saat jemari kasar Andrian merobek pertahanan lubang belakangnya dengan cairan pelumas yang terasa dingin dan menyengat. Batari melengkungkan punggungnya, meraung histeris. Sensasi terbakar merambat dari dua arah sekaligus, seolah tubuhnya sedang ditarik paksa hingga terbelah. Belum sempat ia menghirup udara, Andrian membungkam mulutnya dengan lumatan bibir yang bau alkohol dan tembakau. “Mmpfttt... hhmm!” Isak Batari tertahan di tenggorokan. Raganya mulai menyerah. Kesadarannya perlahan meredup tepat saat Victor mengangkat tubuh ringkihnya dalam gendongan, terus menghujamnya tanpa henti hingga dunia di mata Batari menjadi gelap total. Saat matanya kembali terbuka, hal pertama yang ia rasakan adalah dingin yang menggigit dan rasa nyeri yang berdenyut di sekujur selangkangannya. Ia melihat mereka—tiga monster itu—berdiri di balkon. Suara denting gelas kaca dan tawa renyah mereka terdengar begitu memuakkan, seolah mereka baru saja merayakan kemenangan besar. Batari terisak. Sebuah suara kecil yang lahir dari reruntuhan jiwanya. Andrian menoleh, memutar gelas minumannya. "Ah, kau sudah bangun, Adikku?" Ia mendekat, aroma parfum mahalnya kini tercium seperti racun. "Tadi itu luar biasa, Batari. Kamu bahkan lebih 'nikmat' dari yang kubayangkan. Kami sampai melayang ke langit ketujuh." Andrian berjongkok di depan sofa, menyentuh pipi Batari yang basah dengan ujung jarinya. "Tapi ada satu kesalahan fatal... kami lupa merekamnya. Bagaimana kalau kita ulangi? Kali ini, buat suaramu lebih keras, ya?" Darah Batari mendidih. Rasa sakit itu tak lagi membuatnya ingin mati, melainkan ingin membunuh. Di titik nadir ini, sesuatu yang purba bangkit. Brak! Sebuah dentuman dari arah dapur mengejutkan mereka. Lidah api tiba-tiba menjilat celah dinding kayu, merambat dengan kecepatan yang tak masuk akal seolah kayu itu sudah disiram minyak. Panik seketika menghapus keangkuhan di wajah mereka. "Api! Sialan, vilanya terbakar!" teriak Victor. Mereka berlari tunggang langgang, meninggalkan Batari yang terikat di sofa layaknya barang rongsokan. Victor sempat ragu, ia berbalik ingin menarik Batari—mungkin masih ingin "memakainya" nanti. Namun, sebuah hantaman keras menghantam dadanya. BUGH! "Aakh!" Victor terjengkang. Freya berdiri di sana. Napasnya memburu, lehernya penuh lebam ungu kehitaman, namun matanya menyala seperti iblis. "Sentuh dia sekali lagi, dan aku pastikan kau jadi abu di gedung ini!" Freya tidak menunggu jawaban. Ia segera memotong ikatan Batari dan mendekap tubuh sahabatnya yang tak berdaya itu. "Batari, ini aku. Aku di sini..." bisiknya, suaranya bergetar hebat. "Freya... maaf... aku kotor... aku..." isak Batari parau. "Diam. Jangan katakan itu," Freya memotong dengan tegas, segera menyampirkan hoodie tebal dan memakaikan celana training ke tubuh Batari yang menggigil. "Kau tidak bersalah. Mereka yang akan membayar ini dengan nyawa. Semua dari mereka." Di tengah runtuhnya bangunan yang terbakar itu, Freya memapah Batari keluar melalui pintu belakang, menghindari sorot lampu polisi yang mulai mendekat di kejauhan. Mereka mendaki bukit mistis di belakang vila, menjauh dari peradaban. Batari menoleh ke belakang, melihat api yang melahap sisa-sisa kemurniannya. Di atas bukit sunyi itu, ia bersumpah. Mawar dalam dirinya telah mati, dan kini yang tumbuh adalah duri-duri beracun yang siap mencabik siapa saja yang menyentuhnya. "Mulai hari ini," bisik Batari dalam hati, "keluarga Wijaya akan mengenal apa itu neraka." ⚜️⚜️Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, membasahi kaca mobil Elio dan menciptakan suasana hening yang hanya diisi oleh suara wiper yang beradu ritmis. Bunyi itu terdengar seperti detak jantung yang sedang menghitung waktu menuju sebuah ledakan besar. Di kursi penumpang, Batari menyandarkan kepalanya yang terasa seberat timah pada kaca jendela yang dingin. Hatinya gersang, gundah gulana. Sisa-sisa kehancuran setelah mengetahui fakta tentang Robert Wijaya—sang arsitek yang tega merancang seluruh penderitaan ibunya, Isabel—masih berdenyut nyeri dan perih di balik dadanya.Elio memecah kesunyian dengan suara baritonnya yang tenang, mengalun berwibawa di antara gemuruh badai di luar. "Aku tahu kau sedang menenun sesuatu yang besar, Batari. Sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya dari sekadar pengambilalihan takhta Wijaya Group."Batari tetap bergeming. Tatapannya kosong menembus rintik air, sementara jemarinya yang lentik meremas kain gaun sutra midnight blue-nya hingga kusut masai.
Suara gesekan ban mobil Freya di atas aspal basah mengakhiri hari yang melelahkan setelah RUPSLB yang bersejarah itu. Kemenangan mutlak telah diraih, mahkota Wijaya Group telah diletakkan di kepala Batari Amara Wijaya. Namun, dunia bisnis tidak digerakkan oleh sekadar gertakan di ruang rapat. Hukum formal tidak mengenal intrik berdarah atau dendam yang membeku; ia hanya patuh pada tanda tangan hitam di atas putih di hadapan hukum negara.Sebelum Batari bisa benar-benar menginjakkan kakinya di Bali untuk menuntaskan perang terakhirnya, ia harus menyelesaikan urusan birokrasi yang memuakkan di Jakarta. Ia tidak bisa meninggalkan Theo dalam posisi yang rentan tanpa tameng hukum yang sah.Keesokan paginya, langit Jakarta kembali menangis tipis, menumpahkan rintik hujan yang membuat kaca-kaca gedung pencakar langit di kawasan Sudirman tampak buram dan berembun. Di dalam kantor notaris rekanan utama Wijaya Group—sebuah ruangan VIP yang steril, berpanel kayu ek mahal dengan aroma kopi hita
"Kita harus jeda, Victor," bisik Batari, jemarinya mengusap rahang Victor yang keras, sebuah sentuhan yang terasa hangat namun mengirimkan sinyal penolakan yang dingin. "Aku harus fokus pada RUPSLB perusahaan Ayah. Terlalu banyak serigala yang mengincar kursi itu, dan aku tidak bisa terdistraksi."Mendengar kata 'jeda', rahang Victor kian mengeras. Amarah primitif bergejolak di dadanya—bukan karena ia tidak mendukung Batari, melainkan karena ia benci merasa dikesampingkan, bahkan oleh ambisi wanita itu sendiri. Dengan satu gerakan brutal, Victor menghantam setir mobil dengan tinjunya. BUGH Kulit di pergelangan tangannya robek, darah segar merembes, mengotori jok kulit mewah kendaraan tersebut.Batari hanya menatap noda merah itu tanpa berkedip. Di dalam kepalanya, Lenka terbangun, mendesis dengan tawa sarkas yang menusuk.“Lihatlah anjing pelacak ini, Batari. Dia begitu bersemangat menguasaimu, padahal dia lupa bahwa dialah serigala pertama yang merobek kulitmu di masa lalu. Bi
Di Kediaman Utama Wijaya, keheningan yang biasanya melambangkan kemewahan kini terasa mencekam, seperti udara yang membeku sebelum badai besar melanda. Di tengah aula luas berlantai marmer Italia yang dingin, Veronica Wijaya berdiri mematung. Tubuhnya yang biasanya tegak penuh wibawa kini gemetar hebat, seolah fondasi jiwanya baru saja diguncang gempa dahsyat. Di hadapannya, sebuah kotak kayu hitam tergeletak terbuka. Isinya sederhana, namun dampaknya lebih mematikan daripada peluru mana pun: sebuah jam tangan Patek Philippe milik Adrian. Jam itu, yang dulu melingkar di pergelangan tangan putranya sebagai simbol status dan kejayaan, kini hancur berkeping-keping. Kaca safirnya retak seribu, dan yang paling mengerikan, logam peraknya tertutup noda merah pekat yang sudah mengering—darah yang masih membawa aroma besi yang amis. Sepucuk surat kecil terjatuh di samping kotak itu, dengan tulisan tangan yang rapi namun dingin: “Pembayaran Tuntas." Suara napas Veronica terdengar pende
Victor menatap Batari dari kejauhan, napasnya terasa berat seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis. Langkah kakinya yang berat namun ragu terdengar samar di atas karpet, beradu dengan suara hujan yang menghantam kaca jendela dengan ritme yang makin liar. Ia mendekat, perlahan sekali, hingga bayangannya yang besar menutupi tubuh Batari yang sedang bersandar pasrah di sofa. Tanpa sepatah kata pun, Victor menjatuhkan lututnya ke lantai. Suara gedebuk pelan itu terdengar begitu nyata, sebuah tanda runtuhnya harga diri sang algojo. Lidahnya terasa kelu, namun matanya tidak bisa beralih dari pemandangan di depannya. Victor mengulurkan tangannya yang gemetar, jari-jarinya yang kasar perlahan menyentuh punggung kaki Batari. Ia bisa merasakan kelembutan kulit itu di bawah jemarinya yang kasar—kontras yang membuatnya semakin haus. Victor mendekatkan wajahnya, membiarkan uap napasnya yang panas menyentuh kulit dingin Batari. Ia mulai menciumi punggung kaki itu, pelan dan basah, lalu
Saat Theo pamit, Elio tidak langsung ikut melangkah keluar. Ia mematung di sisi ranjang, membiarkan keheningan rumah sakit yang mencekam merayap di antara mereka. Matanya yang biasanya jernih dan berwibawa kini meredup, beralih dari wajah Isabel yang pucat menuju jemari kurus wanita itu yang seolah kehilangan sisa hidupnya.Ada denyut nyeri yang menghantam dada Elio—Di matanya, Isabel bukan sekadar pasien; wanita ini adalah kepingan teka-teki dari masa lalu Batari, wanita yang mulai ingin ia lindungi. "Batari..." suara Elio rendah, parau oleh emosi yang ia tekan sekuat tenaga di balik jas mahalnya. Ia berbalik, menatap Batari dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan wanita itu. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajahmu... kenapa matamu menyimpan begitu banyak luka yang tidak bicara?"Batari hanya diam, jemarinya meremas kain sprei ranjang ibunya. Namun, Elio melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma oud dan cendana yang hangat menyelimu
"Berapa lama lagi kau mau aku jadi pengasuhmu, Adrian? Polisi sudah mondar-mandir di gerbang depan dua kali pagi ini!"Victor membanting gelas wiskinya ke meja marmer, suaranya bergema tajam di ruang tengah yang luas. Matanya yang lelah menatap Adrian yang sedang duduk di sofa kulit, mas
"Lepaskan! Kau binatang, Adrian! Kau pikir uang keluargamu bisa membeli harga diriku?" "Diamlah, Sayang. Nikmati saja. Besok kau akan berterima kasih karena nilaimu mendadak sempurna," suara Adrian di video itu terdengar menjijikkan, disusul suara robekan kain yang kasar. “ AKHHHHHH.” Suara jerit
Batari berdiri telanjang di depan cermin besar, menatap sisa-sisa trauma yang kini ia poles dengan kemewahan. Tiba-tiba, suhu ruangan anjlok. Sosok Lenka muncul di pantulan cermin, berdiri tepat di belakang Batari. Jemari hantu itu yang panjang dan pucat merayap turun dari bahu, menyusuri lengan Ba
Pesta pertunangan itu seharusnya menjadi mahkota bagi Seline dan Victor, tapi kehadiran Batari justru mengubah lobi Hotel Grand Astoria menjadi peti mati berlapis emas yang menyesakkan. Saat lilin-lilin mulai meredup dan bau alkohol sisa pesta mulai terasa memuakkan, Batari melangkah tenang menuju







