Share

29. Rasa Penasaran

last update Last Updated: 2025-10-28 14:20:12
Mak Risa berjalan pelan mendekati suaminya yang masih duduk di sisi ranjang. Ia bisa melihat jelas kegelisahan di wajah Halim—alis yang berkerut dan tangan yang tak henti mengepal.

“Kenapa kau terlihat begitu resah?” tanya Mak Risa perlahan, duduk di sebelahnya. “Apakah ada informasi penting yang kau dapat hari ini?”

Halim menghela napas panjang, seolah menimbang apakah ia harus mengatakannya atau tidak. Namun pada akhirnya ia menatap istrinya dengan sungguh-sungguh.

“Iya… aku mendapati keluarga itu benar-benar mencurigakan,” ucapnya lirih namun tegas. “Banyak hal yang mereka sembunyikan. Mulai dari ladang yang sengaja dibakar hingga bau kimia yang menguar di bekas gudang.”

Mak Risa terpana. Jemarinya yang tadi ia letakkan di pangkuan kini saling menggenggam lebih erat.

“Tapi…” Halim memalingkan wajahnya, suara berat menahan kekesalan, “raja sudah percaya sepenuhnya pada keluarga Devan. Mereka sudah lama menyumbang hasil panen dan membantu kerajaan. Sulit bagiku mengungkapkan kecurigaa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   90. waktu

    Namun waktu, seperti biasa, tidak puas dengan akhir yang rapi.Beberapa dekade kemudian, peta dunia berubah. Bukan karena perang besar, melainkan karena **pergeseran pelan**—jalur dagang pindah, pelabuhan baru muncul, teknologi sederhana mempercepat perjalanan. Kerajaan yang dulu berada di simpul kini perlahan menjadi pinggiran.Tidak ada kepanikan. Justru itu masalahnya.Pendapatan menurun sedikit demi sedikit. Anak muda pergi ke kota lain. Balai kota tetap rapi, papan pengumuman tetap ada, tetapi isinya semakin tipis. Kebiasaan masih dijalankan, namun tanpa arah baru, ia berubah menjadi ritual kosong.Dan di sinilah kisah Rael menemukan gema terakhirnya.Seorang pemuda bernama **Saren**, anak nelayan, kembali setelah bertahun-tahun merantau. Ia tidak membawa ide besar—hanya pertanyaan yang salah tempat.“Mengapa semua ini dibuat?” tanyanya di rapat desa, menunjuk jadwal, papan, dan laporan.Orang-orang terdiam. Mereka bisa menjelaskan *bagaimana*, tapi tidak *mengapa*.Saren tidak m

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   89. Waktu tidak berhenti

    Waktu tidak berhenti setelah Elin.Justru di sanalah ia mulai bekerja paling keras.Beberapa musim setelah banjir timur, kerajaan menghadapi sesuatu yang lebih sulit dari bencana alam: **kesepakatan besar**. Negara tetangga mengajukan perjanjian dagang jangka panjang—menguntungkan di atas kertas, menenangkan di pidato, tapi mengikat pelan-pelan. Banyak yang tergoda. Stabilitas membuat orang mencintai kepastian, bahkan ketika kepastian itu adalah belenggu halus.Elin kini duduk di kursi rapat, bukan lagi di sudut. Ia mendengar kata-kata yang rapi, angka-angka yang tersenyum. Ia merasakan kejenuhan yang dulu hanya dibaca Rael sebagai gejala awal.Ia tidak menolak perjanjian itu.Ia hanya meminta satu hal.“Masukkan klausul tinjauan lima tahunan,” katanya. “Dan hak keluar tanpa sanksi jika diputuskan lewat sidang terbuka.”Seorang diplomat tertawa kecil. “Kau tidak percaya mitra kita?”Elin menjawab dengan kalimat yang ia temukan di catatan lama, meski tak tahu siapa penulisnya. “Keperca

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   88. tahun yang berganti

    Tahun berganti tanpa perayaan besar. Itu disengaja.Kerajaan memilih menandai waktu dengan laporan singkat—apa yang berhasil, apa yang gagal, dan siapa yang bertanggung jawab. Di balai kota, papan-papan lama diganti. Tulisan diperbarui. Tidak indah, tapi jujur.Rael membaca semuanya sekali, lalu berhenti. Ia belajar kapan harus melepaskan.Namun sebuah catatan kecil menarik perhatiannya: **komisi pelabuhan sementara diperpanjang untuk ketiga kalinya**. Tidak salah. Tapi kebiasaan darurat yang terlalu lama selalu berubah watak.Ia mendatangi rapat komisi. Duduk di belakang. Mendengar alasan-alasan yang masuk akal—cuaca, keamanan, transisi. Lalu ia bertanya satu kalimat, pelan namun tepat sasaran.“Kapan tepatnya sementara ini berakhir?”Ruang hening. Ketua komisi menyebut tanggal. Rael mengangguk. “Tuliskan. Umumkan. Pasang jamnya.”Besoknya, jam pasir besar dipasang di pelabuhan—simbol yang disepakati. Bukan ancaman, melainkan pengingat. Orang-orang menertawakannya. Lalu menunggu.---

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   87. hari ketika raja jatuh sakit

    Hari ketika Raja jatuh sakit, lonceng istana tidak dibunyikan.Bukan karena ingin menyembunyikan, melainkan karena kebiasaan baru: tidak ada keadaan darurat yang diumumkan sebelum kerangkanya siap. Rael sedang di pelabuhan ketika kabar itu sampai—lewat kurir yang kehabisan napas, bukan dekret.Ia tidak berlari. Ia berjalan.Di ibu kota, Dewan Hukum sudah berkumpul. Wajah-wajah yang dulu mudah terbakar kini lebih terkendali, meski ketegangan tetap terasa. Rael berdiri di belakang lagi, tempat yang paling ia sukai. Seorang hakim tua membuka sidang, membaca kerangka darurat yang telah disahkan berbulan lalu. Tidak ada perebutan kata. Hanya jeda-jeda yang diisi napas panjang.“Pelaksanaan dibatasi tujuh hari,” kata hakim itu. “Ditinjau publik. Diperpanjang hanya dengan alasan tertulis.”Rael mengangguk pelan. Kebiasaan bekerja.---Di luar, kota bergumam. Tidak panik, tetapi waspada. Papan pengumuman dipenuhi penjelasan singkat—apa yang dilakukan, siapa bertanggung jawab, kapan berakhir.

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   86. musim dingin

    Musim dingin turun perlahan, bukan dengan salju tebal, melainkan angin tajam yang memotong percakapan. Di pelabuhan, layar-layar kapal digulung lebih awal. Orang-orang belajar pulang sebelum gelap. Di saat seperti itu, keputusan kecil terasa lebih berat dari biasanya.Rael menerima kabar singkat dari selatan: gagal panen kedua menyusul. Bukan bencana—belum—tetapi cukup untuk menekan cadangan. Yang lebih mengkhawatirkan, muncul suara-suara yang mulai merindukan “tangan kuat”. Kalimatnya sama, nadanya sama. Sejarah jarang kreatif.Rael tidak menulis surat. Ia berangkat.Bukan ke istana. Ia menuju desa-desa di selatan, menempuh jalan berlumpur, menginap di rumah-rumah kayu. Ia mendengarkan—lebih banyak daripada berbicara. Petani menyebutkan benih yang tak cocok. Kepala desa menyebutkan gudang yang terlalu jauh. Pedagang kecil menyebutkan ongkos yang melonjak karena perantara.Di satu desa, seorang perempuan tua bertanya, “Apakah Raja tahu?”Rael menjawab jujur. “Ia tahu sebagian. Kita ak

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   85. tahun yang berakhir tanpa perayaan

    Tahun itu berakhir tanpa perayaan besar. Justru di situlah letak keanehannya—kerajaan bertahan tanpa perlu sorak-sorai. Di pelabuhan kecil, Rael menyadari bahwa ketenangan yang panjang sering kali menandai perubahan yang lebih dalam.Suatu pagi, ia menerima tamu yang tidak ia duga: guru hukum muda yang dulu ia kirimi surat. Wajahnya lebih matang, sorot matanya tegas. “Aku diutus bukan oleh Raja,” katanya, “melainkan oleh Dewan Hukum baru.”Rael mengangkat alis. “Dewan Hukum?”“Kami membentuknya,” jawab sang guru. “Tanpa pengumuman. Tanpa lambang. Untuk menafsirkan aturan—bukan hanya menegakkannya.”Rael tersenyum kecil. “Itu berbahaya.”“Dan perlu,” balasnya. “Kami butuh satu hal darimu.”Rael menuangkan teh. “Aku tidak kembali ke istana.”“Bukan itu,” kata sang guru. “Kami butuh catatanmu.”Rael terdiam. Catatan—bukan arsip resmi, bukan laporan—melainkan lembaran-lembaran berisi kegagalan, kompromi, dan keputusan yang ia ambil dengan tangan gemetar namun kepala dingin. Catatan yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status