Share

33. Memulihkan Diri

last update Last Updated: 2025-11-02 22:27:36

Tatapannya kemudian terpaku pada halaman buku yang masih terbuka. Nama keluarga Rael terpampang jelas. Halim menghela napas panjang.

“Sepertinya dia sudah membaca terlalu banyak.”

Mak Risa segera menyiapkan ramuan dan obat. Ia mengangkat kepala Rael dengan hati-hati dan menyentuh pipinya yang dingin.

“Anak ini keras kepala… tapi aku bisa lihat matanya. Ia menyimpan beban jauh lebih besar dari yang ia akui,” gumam Mak Risa lirih.

Halim mengangguk, wajahnya serius.

“Kita harus mempercepat rencana itu.”

Mak Risa menatap suaminya, cemas. “Kau yakin? Kerajaan sedang diawasi. Jika mereka tahu kita membantu…—”

“Kita sudah terlibat sejak kita menolongnya,” jawab Halim mantap. “Dan jika anak ini benar, keluarga kerajaan mungkin menyembunyikan sesuatu yang besar.”

Tangan Rael bergerak sedikit, napasnya bergetar. Mak Risa menatapnya lembut.

“Kau tak sendiri lagi, Nak. Mulai sekarang, kami akan menjagamu.”

Sore menjelang ketika Rael perlahan membuka mata. Pandangannya masih kabur, cahaya matahari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   85. tahun yang berakhir tanpa perayaan

    Tahun itu berakhir tanpa perayaan besar. Justru di situlah letak keanehannya—kerajaan bertahan tanpa perlu sorak-sorai. Di pelabuhan kecil, Rael menyadari bahwa ketenangan yang panjang sering kali menandai perubahan yang lebih dalam.Suatu pagi, ia menerima tamu yang tidak ia duga: guru hukum muda yang dulu ia kirimi surat. Wajahnya lebih matang, sorot matanya tegas. “Aku diutus bukan oleh Raja,” katanya, “melainkan oleh Dewan Hukum baru.”Rael mengangkat alis. “Dewan Hukum?”“Kami membentuknya,” jawab sang guru. “Tanpa pengumuman. Tanpa lambang. Untuk menafsirkan aturan—bukan hanya menegakkannya.”Rael tersenyum kecil. “Itu berbahaya.”“Dan perlu,” balasnya. “Kami butuh satu hal darimu.”Rael menuangkan teh. “Aku tidak kembali ke istana.”“Bukan itu,” kata sang guru. “Kami butuh catatanmu.”Rael terdiam. Catatan—bukan arsip resmi, bukan laporan—melainkan lembaran-lembaran berisi kegagalan, kompromi, dan keputusan yang ia ambil dengan tangan gemetar namun kepala dingin. Catatan yang t

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   84. Ingatan lama

    Beberapa bulan kemudian, keseimbangan yang rapuh itu diuji oleh sesuatu yang lebih berbahaya daripada tekanan luar: **ingatan lama**.Sebuah pamflet muncul di pasar-pasar pagi. Kertas murah, tinta pudar, bahasanya sederhana—namun isinya tajam. Bukan tuduhan. Bukan fitnah terang-terangan. Melainkan cerita: tentang masa lalu Rael, tentang asal-usulnya yang bukan bangsawan, tentang keputusan-keputusan “dingin” yang menyelamatkan kas namun menutup bengkel kecil, tentang orang-orang yang pernah kalah agar banyak yang selamat.Orang-orang membacanya, lalu menaruh kembali pamflet itu. Tidak marah. Tidak membela. Mereka mulai **mengingat**.Rael membaca satu salinan, melipatnya rapi. “Ini bukan serangan,” katanya pada kepala pengawal. “Ini pengujian legitimasi.”“Perintah?” tanya pengawal.“Tidak ada penangkapan. Tidak ada bantahan resmi.” Rael menggeleng. “Biarkan orang menilai.”---Di Dewan, beberapa anggota gelisah. “Kita harus menjelaskan!” seru seorang bangsawan.“Penjelasan terdengar s

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   83. Refolusi

    Beberapa minggu berlalu. Istana tampak tenang, terlalu tenang—seperti danau setelah badai, permukaannya rata namun dasarannya masih bergerak. Rael tidak lengah. Ia tahu, kekuasaan yang kehilangan pusat akan mencari jalan baru untuk mengeras.Komisi independen mulai bekerja. Nama-nama lama kembali muncul, bukan dengan teriakan, melainkan dengan tanggal, angka, dan tanda tangan. Banyak yang jatuh pelan—dipindahkan, dipensiunkan, diasingkan ke jabatan tak berpengaruh. Tidak ada kepala dipancung. Rael memastikan itu. Ketakutan yang berlebihan melahirkan dendam; ia butuh kesunyian.Suatu pagi, Raja memanggil Rael ke taman dalam. Angin berdesir di antara pepohonan tua.“Kerajaan berutang padamu,” kata Raja tanpa basa-basi.Rael menunduk. “Kerajaan hanya membayar utangnya sendiri, Yang Mulia.”Raja tersenyum tipis. “Aku ingin kau menjadi Perdana Menteri.”Kata itu menggantung. Rael mengangkat kepala, matanya tenang. “Saya tidak akan menerimanya.”Raja terkejut. “Mengapa?”“Karena satu orang

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   82. Penyelidikan

    Pagi penyelidikan dibuka seperti pesta yang dipaksakan. Aula besar dipenuhi wajah-wajah tersenyum kaku, bangku disusun rapi, panji kerajaan digantung lebih rendah—seolah-olah kerendahan itu bisa menenangkan ketegangan. Pangeran Mahkota duduk di kursi pemimpin sidang, sikapnya anggun, suaranya hangat.“Atas nama rekonsiliasi,” katanya, “kita cari kebenaran bersama.”Rael berdiri di sisi, tidak menentang, tidak mendukung. Ia memilih menjadi bayangan di tepi cahaya.Satu per satu saksi dipanggil. Juru pelabuhan, perwira logistik, kepala gudang. Pangeran bertanya dengan lembut, mengarahkan—cukup halus untuk tampak adil, cukup cerdas untuk menghindari lubang. Beberapa jawaban mengambang. Beberapa berputar. Dewan mengangguk-angguk, lega melihat sidang berjalan “tenang”.Hingga Rael meminta bicara.“Yang Mulia,” katanya sopan, “izinkan saya mengajukan satu saksi tambahan.”Pangeran tersenyum. “Tentu. Transparansi.”Pintu samping terbuka. Seorang pria tua masuk dengan langkah berat—Jenderal H

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   81. Permainan yang baru dimulai

    Hari-hari berikutnya berjalan seperti air tenang yang menyembunyikan arus deras di bawahnya. Rael tidak lagi sering terlihat di aula besar. Ia memilih bergerak di ruang-ruang kecil: arsip lama, kantor pajak wilayah, barak pengawal, dan rumah-rumah bangsawan kelas menengah yang jarang disapa kekuasaan. Di sanalah simpul-simpul nyata kerajaan berdenyut.Suatu sore, di ruang arsip yang pengap, seorang penjaga tua menyerahkan buku besar berdebu. “Catatan sebelum reformasi pajak,” katanya. “Tak banyak yang mau membacanya.”Rael membuka halaman demi halaman, jarinya berhenti pada pola yang ia kenal: aliran dana kecil, rutin, tak mencolok—menuju rekening perantara yang sama. “Ini bukan pencurian besar,” gumamnya. “Ini jaring.”Malamnya, di rumah seorang bangsawan kecil bernama Lady Merien, Rael duduk tanpa pengawalan. Teh dihidangkan sederhana. Wajah Merien tegang.“Apa yang Tuan Rael inginkan?” tanyanya.“Kejujuran,” jawab Rael. “Dan keberanian yang sering terlupakan.”Merien tertawa hambar

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   80. Kehadiran

    Malam kian pekat ketika pintu ruang kerja Rael diketuk tiga kali—cepat, terukur. Itu sandi lama dari jaringan timur. Rael tidak langsung menyahut. Ia menutup peta, memadamkan satu lampu, menyisakan cahaya temaram, baru berkata pelan, “Masuk.”Seorang pria kurus dengan mantel abu-abu menyelinap, wajahnya tegang. “Tuan,” bisiknya, “Dewan Utara bergerak lebih cepat dari perkiraan. Besok pagi mereka ajukan mosi pembatasan wewenang bendahara istana. Nama Anda disebut.”Rael tersenyum tipis, bukan karena terkejut—melainkan karena yakin. “Berarti umpan kita termakan.” Ia berdiri, melangkah ke jendela. Dari sana, halaman istana tampak tenang, padahal di baliknya arus intrik berputar seperti pusaran. “Siapa yang mendorong?”“Lord Varek,” jawab utusan itu. “Didukung dua keluarga dagang pelabuhan.”“Dua keluarga yang utangnya menggunung pada kas kerajaan,” gumam Rael. “Baik. Sampaikan pada orang kita di pelabuhan: tutup keran kredit mereka. Jangan kasar. Cukup berhenti menolong.”Utusan itu ragu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status