Home / Zaman Kuno / BAYANGAN PENASEHAT AGUNG / 39. Dalam Pengejaran

Share

39. Dalam Pengejaran

last update Last Updated: 2025-11-09 20:19:05

Di balik pintu besi berukir naga perak, Gerva duduk di meja kayu gelapnya. Lilin-lilin menyala redup, menampilkan bayangan wajahnya yang tampak murka dan penuh siasat. Gulungan surat Rael yang dicuri pandang oleh pengawalnya tergeletak di meja.

Gerva menampar meja itu keras.

“Anak kecil… berani sekali mencampuri urusan bangsawan sepertiku.”

Pengawal pribadinya, seorang pria bertubuh kekar bernama Varron, melangkah mendekat.

“Apa perintah Tuan?”

Gerva mengusap wajahnya pelan lalu tertawa pendek, getir.

“Halim selalu menghalangi. Dan sekarang dia mengirim anak bawahan untuk merusak rencanaku.”

Ia berdiri, berjalan ke arah jendela yang menghadap kota. Cahaya bulan menyinari sebagian wajahnya.

“Kita tidak bisa menyentuh Halim secara langsung. Dia terlalu mulia, terlalu bersih, terlalu dipercaya Raja.”

Gerva mendengus.

“Tapi anak itu… Rael. Tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang akan mempersoalkan jika dia… hilang.”

Varron menunduk sedikit. “Apakah ingin saya kirim orang untuk mengurus
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   83. Refolusi

    Beberapa minggu berlalu. Istana tampak tenang, terlalu tenang—seperti danau setelah badai, permukaannya rata namun dasarannya masih bergerak. Rael tidak lengah. Ia tahu, kekuasaan yang kehilangan pusat akan mencari jalan baru untuk mengeras.Komisi independen mulai bekerja. Nama-nama lama kembali muncul, bukan dengan teriakan, melainkan dengan tanggal, angka, dan tanda tangan. Banyak yang jatuh pelan—dipindahkan, dipensiunkan, diasingkan ke jabatan tak berpengaruh. Tidak ada kepala dipancung. Rael memastikan itu. Ketakutan yang berlebihan melahirkan dendam; ia butuh kesunyian.Suatu pagi, Raja memanggil Rael ke taman dalam. Angin berdesir di antara pepohonan tua.“Kerajaan berutang padamu,” kata Raja tanpa basa-basi.Rael menunduk. “Kerajaan hanya membayar utangnya sendiri, Yang Mulia.”Raja tersenyum tipis. “Aku ingin kau menjadi Perdana Menteri.”Kata itu menggantung. Rael mengangkat kepala, matanya tenang. “Saya tidak akan menerimanya.”Raja terkejut. “Mengapa?”“Karena satu orang

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   82. Penyelidikan

    Pagi penyelidikan dibuka seperti pesta yang dipaksakan. Aula besar dipenuhi wajah-wajah tersenyum kaku, bangku disusun rapi, panji kerajaan digantung lebih rendah—seolah-olah kerendahan itu bisa menenangkan ketegangan. Pangeran Mahkota duduk di kursi pemimpin sidang, sikapnya anggun, suaranya hangat.“Atas nama rekonsiliasi,” katanya, “kita cari kebenaran bersama.”Rael berdiri di sisi, tidak menentang, tidak mendukung. Ia memilih menjadi bayangan di tepi cahaya.Satu per satu saksi dipanggil. Juru pelabuhan, perwira logistik, kepala gudang. Pangeran bertanya dengan lembut, mengarahkan—cukup halus untuk tampak adil, cukup cerdas untuk menghindari lubang. Beberapa jawaban mengambang. Beberapa berputar. Dewan mengangguk-angguk, lega melihat sidang berjalan “tenang”.Hingga Rael meminta bicara.“Yang Mulia,” katanya sopan, “izinkan saya mengajukan satu saksi tambahan.”Pangeran tersenyum. “Tentu. Transparansi.”Pintu samping terbuka. Seorang pria tua masuk dengan langkah berat—Jenderal H

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   81. Permainan yang baru dimulai

    Hari-hari berikutnya berjalan seperti air tenang yang menyembunyikan arus deras di bawahnya. Rael tidak lagi sering terlihat di aula besar. Ia memilih bergerak di ruang-ruang kecil: arsip lama, kantor pajak wilayah, barak pengawal, dan rumah-rumah bangsawan kelas menengah yang jarang disapa kekuasaan. Di sanalah simpul-simpul nyata kerajaan berdenyut.Suatu sore, di ruang arsip yang pengap, seorang penjaga tua menyerahkan buku besar berdebu. “Catatan sebelum reformasi pajak,” katanya. “Tak banyak yang mau membacanya.”Rael membuka halaman demi halaman, jarinya berhenti pada pola yang ia kenal: aliran dana kecil, rutin, tak mencolok—menuju rekening perantara yang sama. “Ini bukan pencurian besar,” gumamnya. “Ini jaring.”Malamnya, di rumah seorang bangsawan kecil bernama Lady Merien, Rael duduk tanpa pengawalan. Teh dihidangkan sederhana. Wajah Merien tegang.“Apa yang Tuan Rael inginkan?” tanyanya.“Kejujuran,” jawab Rael. “Dan keberanian yang sering terlupakan.”Merien tertawa hambar

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   80. Kehadiran

    Malam kian pekat ketika pintu ruang kerja Rael diketuk tiga kali—cepat, terukur. Itu sandi lama dari jaringan timur. Rael tidak langsung menyahut. Ia menutup peta, memadamkan satu lampu, menyisakan cahaya temaram, baru berkata pelan, “Masuk.”Seorang pria kurus dengan mantel abu-abu menyelinap, wajahnya tegang. “Tuan,” bisiknya, “Dewan Utara bergerak lebih cepat dari perkiraan. Besok pagi mereka ajukan mosi pembatasan wewenang bendahara istana. Nama Anda disebut.”Rael tersenyum tipis, bukan karena terkejut—melainkan karena yakin. “Berarti umpan kita termakan.” Ia berdiri, melangkah ke jendela. Dari sana, halaman istana tampak tenang, padahal di baliknya arus intrik berputar seperti pusaran. “Siapa yang mendorong?”“Lord Varek,” jawab utusan itu. “Didukung dua keluarga dagang pelabuhan.”“Dua keluarga yang utangnya menggunung pada kas kerajaan,” gumam Rael. “Baik. Sampaikan pada orang kita di pelabuhan: tutup keran kredit mereka. Jangan kasar. Cukup berhenti menolong.”Utusan itu ragu

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   79. Politik berhenti berteriak

    Pagi berikutnya datang tanpa tanda bahaya, justru itu yang membuat Rael semakin waspada. Istana terlalu rapi, terlalu patuh. Dalam politik, ketenangan yang sempurna biasanya berarti seseorang sedang menyiapkan kejutan.Rael baru saja duduk ketika Lorian masuk dengan wajah lebih serius dari biasanya. Tidak tergesa, tapi jelas menahan sesuatu.“Ada apa?” tanya Rael tanpa mengangkat kepala dari dokumen.“Permintaan audiensi pribadi,” jawab Lorian. “Dari Dewan Dagang. Bukan lewat jalur resmi. Mereka ingin bertemu Anda… tanpa Kaisar.”Rael berhenti membaca. Perlahan ia mengangkat pandangan. “Tanpa Kaisar,” ulangnya.“Ya.”Rael tersenyum tipis. “Menarik. Orang-orang yang biasanya bersembunyi di balik stempel sekarang ingin bicara langsung.”Ia berdiri. “Terima. Tapi di ruang terbuka.”Lorian mengerutkan kening. “Bukankah itu berisiko?”“Justru karena berisiko,” jawab Rael tenang. “Mereka ingin kesepakatan. Aku ingin saksi.”---Dewan Dagang datang lengkap. Enam orang, pakaian mahal, senyum

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   78. Yang mengambil risiko terakhir

    Malam itu hujan turun tipis, seperti ragu-ragu menyentuh atap istana. Rael berdiri di balik tirai jendela, memperhatikan lampu-lampu kota yang redup satu per satu. Ia tidak tidur. Orang-orang seperti Velkan tidak pernah menyerang saat terang—mereka memilih saat semua orang lelah.Ketukan pelan terdengar di pintu.“Masuk,” kata Rael.Seorang penjaga pribadi Kaisar masuk, wajahnya tegang. “Tuanku… ada pergerakan aneh di barak timur. Perwira tertentu dipindahkan tanpa perintah resmi.”Rael menarik napas pendek. Akhirnya.“Siapa yang menandatangani pemindahan?”“Perintah lisan. Mengatasnamakan stabilitas.”Rael tersenyum tipis. “Velkan.”Penjaga itu ragu. “Apakah kita perlu—”“Tidak,” potong Rael. “Biarkan.”Penjaga terdiam, lalu memberanikan diri bertanya, “Tuanku tidak khawatir?”Rael menoleh. Tatapannya tajam, tapi suaranya rendah. “Aku khawatir sejak hari pertama aku duduk di kursi ini. Bedanya, sekarang aku tahu dari mana pukulannya akan datang.”---Keesokan paginya, kabar itu meled

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status