MasukCerita Bi-la dimulai ketika Bunda-nya Nila ribut soal anaknya yang belum juga memiliki pasangan. Padahal usianya sudah dianggap cukup untuk menikah. Karna tidak tahan mendengar omelan Bunda akhirnya Nila pergi ke cafe milik sahabatnya, Bita. Di sanalah Nila, Bita beserta satu sahabatnya yang lain yaitu Kara. Mereka bergosip mengenai salah satu teman sekampusnya yang di gosipkan Gay. Saat di rumah ternyata Abangnya Nila, Cakra. Ikut berbagi cerita soal gosip di tempat kerjanya, salah satu karyawan dianggap punya orientasi seksual yang beda. Apakah itu orang yang sama?
Lihat lebih banyak“Please don’t do this.” I begged over and over, but no one was listening. I thrashed against their hold, but nothing. “I am your luna.” I screamed at the top of my lungs, but then his laugh from the other room broke all the fight in me. “Luke please.” I begged once more time, my voice horse.
“Kill it once it’s done. Toss her out. She will have to survive on her own from here on out.”
He can’t mean that. This was our baby. “Our baby.”
“Is a mistake from the Moon Goddess. One I will rectify.” His voice called again from the other room. He wouldn’t even face me. “Now do it. That’s an order.”
“Yes, Alpha.”
It was a mistake to come here.
It was a mistake to give him everything.
“Oh, and doctor?” Her sweet voice called from the other room. My stepsister, Shannon. I gritted my teeth. “Don’t use any anesthetic. She should feel everything.”
“Yes, Luna.” The doctor turned back to me with sad eyes, but when he picked up the scalpel, I knew I was screwed.
I’m sorry, baby. Momma couldn’t save you. She wanted you so, so much. I tried to rub my stomach, but the nurses had strapped me down. When the doctor approached, I realized he was using a silver blade.
“Silver?” My whisper was almost silent, but he nodded. I knew then that Shannon didn’t want me to survive. She wanted my life so badly that she lied about me cheating on my mate, showing photos as proof. But I never touched another wolf, nor would I again, not after this betrayal.
Why, Moon Goddess, why would you give him to me just to take him away? My pup.
I cried silently as the doctor cut into my abdomen, and I felt my baby thrash inside. He knew it was too early to be born. This was a death sentence for both of us.
“Bring me the body of the pup.”
“Yes Alpha.” I felt every slice as he cut into me, and finally I could take it no longer. I started to scream, soon I felt the blood trickling down my side, every drip off of me hitting the floor. I thrashed against the restraints. But the silver had made me weak.
I’m sorry, baby.
They weren’t trying to keep me alive, which I expected, but I wished wasn’t true. I used to love my mate, but I felt the love die in me when I saw my pup being ripped from my belly.
“Please, let me hold him once.” I tried to move my arms to reach for him, but I was still tied down. The doctor, who was shedding tears, brought my pup and laid him on my chest.
He was perfect. I rubbed his scent on my face and mine on his. He would forever be a part of my soul.
My missing piece.
“Doctor, now.”
“Yes Alpha.” The doctor picked the baby up and rushed out, leaving me spread open to the elements.
I felt my life slipping away as the door opened and Shannon came in. Her smug smile was firmly in place.
“I told you I would take your life, Amy. I would have your mate. And I have, over and over, since he found out of your betrayal.” Shannon walked over and laid a kiss on my face as I snarled. “He is perfection. And don’t worry. I will give him another son.” She laid her hand on her stomach and I started to laugh. “What’s so funny?”
“I can smell the beta on you. That’s Derek's child, and it’s a girl. Nice try though.”
She snarled and raised her hand, growing her claws to deliver the final blow, but the door was ripped open and my mate, the man I now hated most in the world, stepped inside. His eyes were red, and I started to laugh again.
“You bitch!” He snarled and struck out, whipping Shannon to the other side of the room.
“Brandon!” Shannon shrieked as she hit the wall. “What’s wrong?” She staggered to her feet, but more blood dripped out of me and I closed my eyes.
“You lied!” He screamed, shaking the walls as his aura struck out, but I could barely feel it. I felt the silver travelling in my veins getting closer to my sluggish heart. “This was my pup. I can smell me on him. He was mine.” Brandon's eyes grew redder as the tears gathered. “You said she cheated on me and that it wasn’t my pup.”
“She did cheat on you. I guess I was wrong about the pup.”
“You said you smelt it.” From the sound of it, he lunged for her again, but him clutching our baby in his arm was the last thing I saw. And I wanted to never see it again. He did this to us. Not Shannon.
She played her part well, sure, but him not believing me, not waiting for a few more days to smell the pup, that was his fault. And all of our downfalls.
I prayed for the moon goddess to take me. I no longer wanted to be here. I wanted to be with my pup.
“Save her.”
“No!” Shannon screamed. “I am the Luna now, you marked me last night.” Ah, so that was the pain I felt last night. His betrayal had bile shoot into my mouth. “I am bearing your pup.”
I started to laugh again. I cracked my eyes to see my mate, Brandon, hovering next to me. “Stay with me Amy.”
“Beta’s baby. She is fucking…the beta.” I choked out the words and laughed as horror bloomed in his eyes. Blood flew from my mouth as I smiled again.
“Save her.”
“No!” I slammed out, putting all of my power in it. “Don’t move.” I used my Alpha strength to freeze everyone, including my mate.
“How?” Brandon looked down at me, pleading. “Let me save you.”
“I am descended from the Moon Goddess, and you don’t deserve to save me. You don’t deserve our pup. You were weak. And now you lost everything.” I smiled up at him as I felt my life from my body.
And then I was free.
"Biruuuu..." Laki-laki itu meringis melihat wajah kelelahan gadis disebelahnya. "Mau minum? Saya ambilin ya?" Tawarnya tapi langsung dibalas gelengan Nila. "Capek, lama banget selesainya." Biru dan Nila memang sedang melaksanakan resepsi pernikahan mereka, niatnya hanya mengundang orang terdekat tapi para orang tua rupanya punya rencana lain. Alhasil, sampai jam menunjukkan pukul 22.00 tamu juga masih berdatangan. "Sini," Biru menarik kepala Nila agar bersandar di bahunya, "Gak bikin capek kamu hilang. Tapi, kamu bisa istirahat sebentar." Nila langsung tersenyum dan memejamkan matanya. Dia cukup lelah sampai tak sanggup menggoda seperti biasa. "Heh, pengantin baru! Masih banyak tamu, gak usah sok mesra!" Nila membuka matanya dan mendengus kesal ke arah Karis yang datang bersama pasangannya. Mata gadis itu menyipit ketika
Biru berjalan menuju kebun yang berada disebelah kiri rumah, didepannya ada Cakra yang memang meminta Biru untuk mengikutinya. “Kenapa Mas?” Cakra memandang Biru dengan seksama sebelum berdecak, “Tsk! Mas gak tahu apa yang sebenarnya kalian berdua rencanakan.” Biru menegang di posisi duduknya. Dia kira Cakra tidak akan sepeka ini. “Maksud Mas?” Biru mempertahankan sikap pura-puranya. “Biru, Mas ini Abangnya Nila. Mas yang berdiri di samping Bunda ketika Nila lahir pertama kali ke dunia ini. Mas tahu, gimana dan apa aja pikiran Adik Mas.” Cakra menggeleng lemah, “Mas tahu, kalau kalian menikah tanpa rasa. Tapi, Mas juga tahu kalau kalian akan berhasil.” Biru menatap Cakra bingung, dia kira Cakra akan menyuruhnya untuk menghentikan rencana pernikahan ini. Cakra mendengus, “Mas memang gak suka pernikahan ta
Rumah Nila hari ini penuh, karna nanti malam akan ada acara makan malam untuk kerabat dekat dan teman. Kara sama Bita udah membantu sejak pagi, Bita bahkan rela menutup cafe miliknya demi hari ini. “Nila mana sih?” Kara cukup kesulitan membantu dengan perutnya yang makin besar, Bita yang berada disebelahnya menggeleng. “Masih tidur, mungkin.” Kara langsung mendelik, “Kita rela-relain datang pagi tapi yang punya rumah malah molor? Keterlaluan!” Wanita itu baru berniat memanggil Nila tapi sapaan dari pintu membuatnya berhenti. “Permisi! Pagi!” Bita menatap dua orang wanita yang berada di depan pintu dengan tersenyum. “Cari siapa ya?” Bunda memang tengah pergi berbelanja jadi di rumah ini hanya ada Bita, Kara dan Nila – yang masih tidur. Salah satu wanita tersenyum ke arah Bita, “Ini benar rumahnya Nila?”
Biru masih mengikuti langkah gadis didepannya. Hari ini Nila terlihat santai dengan dress yang dikenakannya, gadis itu bahkan berkali-kali melompat kecil membuat Biru jadi gemas sendiri. “Mas, calon istrinya kelihatan seneng ya?” Chef yang ditunjuk Mama Biru untuk menjadi juru masak pada pernikahan mereka tersenyum membuat Biru menggeleng. “Saya jauh lebih senang karna nikah sama dia, Pak.” Chef itu mendengus, “Biasanya yang dateng kesini selalu ribut. Berantem untuk milih makanan yang cocok disajikan pas acara, eh Mas sama pasangannya kelihatan anteng.” “Saya percaya kalau dia adalah pilihan terbaik untuk jadi istri saya. Jadi, saya juga bakalan percaya apapun pilihan dia.” Nila yang tak sengaja mendengar perkataan Biru langsung mendengus, “Kamu malah kelihatan kaya bucin.”
"Nila.." suara Biru langsung terdengar ketika Nila membuka pintu mobilnya, "Ya?""Soal yang tadi."Nila menggeleng, merasa gemas karna Biru tampak sekali memikirkan soal pembicaraan mereka sebelumnya. "Kamu pikirkan dulu aja baik-baik. Tapi, aku nunggu kabar baiknya.""Kamu b
"Nila, kita ke rumah sakit dulu." Mobil yang tadinya mengarah ke kantor Nila berubah haluan, Nila melirik ke arah Biru yang kelihatan panik dan cemas. Mau tanya, tapi takut dibilang kepo. Akhirnya Nila hanya bisa untuk mengingatkan Biru soal keselamatan mereka berdua. "Ja
"Lo tau kan kalau bisa cerita apa aja sama gue?" Biru menatap ke arah sahabatnya dengan pandangan bingung. "Siapa yang ada masalah?""Lo lah! Yang dari kemarin kerjaannya berantakan emangnya bukan lo?" Abas tersenyum mengejek membuat Biru terdiam.Kemarin memang hampir selu
Nila memang salah satu staff Humas yang paling sering diminta untuk mengurus masalah hubungan eksternal antara perusahaannya dengan relasi. Tapi, dia selalu malas kalau disuruh datang ke Perusahaan tempat Cakra bekerja."Kenapa lo manyun?"Nah, Nila makin sebal kar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.