登入Sepuluh tahun.
Selama sepuluh tahun aku menunggu malam ini. Menghitung hari, menghitung salju yang turun, bahkan menghitung berapa kali aku muntah hanya karena membayangkan wajahnya kembali muncul di hadapanku. Dan malam ini, akhirnya tiba. Tempat ini kotor, berisik, dan pengap. Bau alkohol murah bercampur dengan aroma serigala-serigala yang putus asa, keringat tubuh yang sudah berhari-hari tidak dibersihkan, serta sesuatu yang lebih menjijikkan daripada semuanya. Keputusasaan. Ini adalah pelelangan mate. Tempat para Alpha miskin membeli pasangan dengan harga murah, sekaligus tempat para wanita menjual diri demi sesuap roti dan atap yang tidak bocor. Lantainya lengket. Lampunya redup. Di atas panggung, tali tambang mengikat pergelangan tangan para wanita yang berdiri dengan kepala tertunduk. Mata mereka kosong. Seolah-olah sebagian dari diri mereka sudah mati jauh sebelum malam ini. Dan di antara mereka, berdirilah aku. Elara Black. Bukan siapa-siapa. Wajahku sengaja ku coreng dengan debu. Rambut cokelat kusam kubiarkan berantakan seperti seseorang yang belum makan selama seminggu. Aku mengenakan pakaian bekas yang dahulu milik Nenek Selma, ukurannya terlalu besar dan sudah penuh tambalan. Aku sengaja membuat diriku terlihat menyedihkan. Karena cantik itu berbahaya. Wajah cantik akan membuat harga jual ku terlalu tinggi dan bisa membuatnya curiga. Aku justru ingin terlihat tidak berharga. Aku ingin dia merasa kasihan. Aku ingin dia merasa berkuasa. Dan yang paling penting, aku ingin dia membeli aku dengan harga yang menurutnya remeh. Di ujung ruangan, seseorang duduk dengan sikap angkuh di kursi kayu paling tinggi. Dikelilingi dua pengawal bertubuh besar. Alpha Rowan Blackwood. Sepuluh tahun. Dan dia masih sama. Masih tinggi hingga aku harus mendongak hanya untuk melihat matanya. Masih dingin hingga keberadaannya membuat ruangan ini terasa semakin beku. Masih seperti patung es yang, jika disentuh, justru akan melukai tanganmu. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang. Jas hitam yang dikenakannya terlihat mahal dan tidak memiliki setitik debu pun. Sementara mata emasnya menyapu seluruh ruangan dengan tatapan jijik, seolah-olah semua yang ada di sini hanyalah sampah yang suatu saat harus dia singkirkan. Jantungku sakit ketika melihatnya. Namun, rasa sakit itu bukan karena rindu. Bukan pula karena cinta. Melainkan karena benci. Kebencian yang telah ku pelihara selama sepuluh tahun, sampai akhirnya tumbuh begitu besar dan menjadikannya rumah di dalam dadaku. Tanganku mengepal di balik rok lusuh. Kuku-kukuku menancap ke telapak tangan hingga terasa sakit. Bagus. Biarkan sakit. Aku membutuhkan rasa sakit itu untuk mengingatkan diriku sendiri mengapa aku datang ke tempat ini. Untuk mengingatkan siapa yang sedang kuhadapi. Untuk mengingatkan siapa yang harus ku bunuh. "Pelelangan dimulai!" Suara pelelang yang serak memecah keributan. Matanya merah, sementara senyum licik menghiasi wajahnya. "Lot pertama! Wanita muda, sehat, pinggul lebar, mampu melahirkan anak Alpha!" Satu per satu wanita naik ke panggung. Ada yang menangis pelan. Ada yang hanya menundukkan kepala dengan bahu gemetar. Ada pula yang masih menatap kerumunan dengan harapan bahwa seseorang yang baik akan membelinya. Aku muak melihat semua itu, tapi bukan karena mereka. Aku muak karena tempat ini mengingatkanku pada sepuluh tahun lalu, ketika pack kami juga diperlakukan seperti ternak. Dibantai. Disembelih. Tanpa pernah diberi kesempatan untuk melawan. Kemudian, akhirnya, pelelang itu menunjuk ke arahku. "Lot ketujuh! Elara Black, dua puluh satu tahun, yatim piatu, tidak memiliki pack, dan tidak memiliki riwayat penyakit!" Aku menaiki panggung. Kayu tua di bawah kakiku berderit setiap kali aku melangkah. Kepalaku ku tundukkan dalam-dalam. Tanganku gemetar. Kali ini bukan sepenuhnya akting. Tapi karena gugup dan amarah bercampur menjadi satu. Inilah akting terbaik yang pernah kulakukan seumur hidup. Karena taruhannya bukan uang, tapi taruhannya adalah nyawaku. "Harga awal lima puluh koin emas!" Ruangan mendadak sepi. Tidak ada satu pun yang mengangkat tangan. Beberapa Alpha bahkan mencibir. "Kurus." "Tak ada dagingnya." Aku menahan senyum. Awal yang bagus. Rencanaku berjalan sesuai perkiraan. Aku menarik napas panjang, kemudian mengangkat kepala perlahan. Rambutku sengaja kubiarkan menutupi sebagian wajah. Mataku memerah karena sejak tadi ku cubit agar terlihat seperti baru saja menangis. Lalu aku berteriak dengan suara pecah yang telah ku latih selama tiga bulan terakhir. "AKU BUTUH ALPHA YANG KUAT!" Suaraku menggema di seluruh ruangan. "Aku lelah kelaparan! Aku lelah tidur di jalan! Aku lelah dipukuli tuan tanah!" Aku menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. "Beli aku! Siapa pun boleh, asalkan dia kuat dan bisa melindungiku! Aku akan menjadi istri yang penurut!" Ruangan mendadak hening. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Kemudian pecahlah tawa. Beberapa Alpha bahkan menepuk meja. "Gila! Perempuan ini benar-benar menjual dirinya sambil berteriak!" Aku tidak peduli. Justru itu yang kuinginkan. Semua mata kini tertuju kepadaku. Termasuk sepasang mata emas di sudut ruangan. Aku menatapnya. Rowan. Aku ingin dia melihatku sebagai perempuan yang putus asa. Aku ingin dia melihatku sebagai seseorang yang lemah. Seseorang yang tidak berbahaya. Namun, Rowan tidak bergerak sedikit pun. Punggungnya tetap tegak. Satu tangannya bertumpu di sandaran kursi, sementara jari-jari besarnya mengetuk permukaan meja dengan ritme pelan. Tok. Tok. Tok. Seolah-olah dia sedang menghitung waktu sampai akhirnya bosan. "Seratus koin!" Suara serak seorang Alpha botak terdengar dari baris kedua. "Seratus lima puluh!" Alpha lain yang giginya ompong ikut menawar. Jantungku mulai berdebar. Bagaimana kalau bukan dia yang membeli? Bagaimana kalau dia hanya menonton lalu pergi? Sepuluh tahun persiapan bisa hancur hanya karena lima puluh koin emas. Aku menggigit bibir hingga terasa perih. Setetes darah muncul. Air mata pun mulai menggenang di mataku. Dan kemudian... Suara itu terdengar. Suara yang langsung membungkam seluruh ruangan. Suara yang sedingin salju sepuluh tahun lalu. "500 koin emas." Semua orang menoleh. Bahkan pelelang itu sampai tersedak ludahnya sendiri. Rowan Blackwood hanya mengangkat satu jari. Santai dan tenang. Wajahnya datar, seolah-olah dia baru saja membeli sekarung beras di pasar, bukan seorang manusia yang akan dibawanya pulang. "Lima ratus..." Pelelang itu menelan ludah. "Lima ratus sekali." Dia menatap seluruh ruangan. Tidak ada yang berani menawar. "Lima ratus dua kali..." Jantungku berdetak semakin keras. "Lima ratus tiga kali." Palu pelelang diketuk kan. "Terjual kepada Alpha Rowan Blackwood!" Aku menundukkan kepala. Namun, di balik rambut yang menutupi wajahku, bibirku perlahan membentuk senyum tipis. Dia membeli aku. Dia benar-benar membeli ku. Aku diturunkan dari panggung oleh dua penjaga. Tangan kasar mereka mencengkeram lenganku hingga meninggalkan bekas memar, lalu menyeretku melewati kerumunan yang masih mencibir. Semakin dekat aku dengannya, semakin jelas aroma yang memenuhi penciumanku. Bau cedar dan darah kering. Aku membeku sesaat. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun berlalu, tetapi aromanya masih sama. Aku kembali mengingat malam itu. Salju, darah, api dan sepasang mata emas yang menatapku dari balik lemari. Aku segera menekan semua ingatan itu. Bukan sekarang, belum saatnya. Rowan berdiri. Dia jauh lebih tinggi dariku hingga bayangannya menutupi tubuhku. Tatapannya bergerak perlahan dari kepalaku hingga ke ujung kaki. Lambat. Teliti. Seolah-olah dia sedang menilai seekor kuda yang baru saja dibelinya. Kemudian matanya berhenti di leherku. Pada kalung kayu kusam yang menggantung di sana. Kalung peninggalan Nenek Selma. Retak dan tua, tetapi merupakan satu-satunya bukti bahwa Lyra Voss pernah hidup. Alis Rowan sedikit berkerut. "Kamu berisik." Hanya dua kata. Namun, suaranya terasa sampai ke tulangku. Aku segera menundukkan kepala. Bahuku ku buat bergetar, lalu berbisik dengan suara serapuh mungkin. "Maaf, Tuan. Aku takut. Aku tidak ingin kembali ke jalanan." Dia diam. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Rasanya seperti setahun. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri. Kemudian Rowan melangkah maju. Dia melewatiku tanpa menyentuh sedikit pun tubuhku. "Ikut." Hanya satu kata. Namun, kata itu hampir meruntuhkan seluruh pertahananku. Sepuluh tahun penantian akhirnya membuahkan hasil. Aku mengikutinya keluar dari ruangan pengap itu menuju udara malam yang dingin. Di luar, kereta kudanya telah menunggu. Kereta besar berwarna hitam yang ditarik beberapa ekor kuda. Aku menaikinya tanpa banyak bicara. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku menuju tempat yang paling ku benci di dunia. Istana Rowan. Istana yang berdiri di atas bukit yang dahulu merupakan tanah milik pack-ku. Tanah tempat keluargaku hidup. Tanah tempat keluargaku dibantai. Tanah yang kini menjadi sarang serigala yang menghancurkan hidupku. Sepanjang perjalanan, Rowan tidak mengatakan apa pun. Dia hanya duduk di seberangku sambil memandang keluar jendela, menatap hutan gelap yang perlahan kami lewati. Aku pun diam. Namun, tanganku meraba sesuatu yang tersembunyi di balik korset. Sebuah pisau kecil. Senjata sederhana yang telah ku persiapkan untuknya. Aku menatap pantulan wajahku di kaca jendela. Elara Black. Begitulah namaku sekarang. Rencana tahap pertama selesai. Aku sudah masuk ke dalam dunianya. Aku sudah berada di dalam rumahnya. Di dalam wilayahnya. Dan yang lebih penting... Aku sudah berada cukup dekat untuk membunuhnya. Tinggal menunggu waktu yang tepat. Waktu ketika pisau ini akan menembus tubuhnya dan berhenti tepat di jantung yang, menurutku, telah mati sejak sepuluh tahun lalu. Aku menundukkan kepala, menyembunyikan senyum tipis yang muncul di bibirku. Selamat datang kembali dalam hidupku, Alpha Rowan Blackwood. Kali ini, aku tidak datang sebagai korban. Aku datang sebagai orang yang akan mengakhiri hidupmu.Pagi itu, aku terbangun oleh suara gedoran pintu yang begitu keras hingga membuat tubuhku tersentak.Aku langsung duduk di tepi tempat tidur. Jantungku berdetak kencang, sementara pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.“Siapa?”“Buka pintunya, Elara.”Aku mengenali suara itu. Martha.Dengan tangan yang masih gemetar, aku bangkit dan membuka pintu. Di belakang Martha berdiri dua pelayan lain yang membawa nampan berisi pakaian dan handuk.“Selamat ya, Nak,” ucap Martha dengan senyum yang entah kenapa justru membuatku semakin tidak nyaman. “Mulai hari ini, kamu menjadi pelayan pribadi Tuan Alpha.”Darahku seolah mengalir turun ke kaki. Aku menatapnya, memastikan telingaku tidak salah mendengar.“Pelayan pribadi, Bu?”“Iya.”Martha mendekat, lalu menurunkan suaranya menjadi bisikan. “Kerja dua puluh empat jam. Tidur di kamar sebelah. Makan kalau sempat. Dan satu lagi…”Tatapannya berubah serius.“Jangan pernah membuat Tuan marah. Kalau dia marah, tidak akan ada yang bisa menolongm
Jam lima pagi.Tanganku sudah lecet akibat terlalu lama terendam air es. Kulitnya memerah dan terasa perih setiap kali terkena sabun.Aku mengupas kentang sambil terus menunduk. Bukan karena lelah, melainkan karena takut bertemu tatapan siapa pun. Takut jika ada yang mampu membaca rasa bersalah yang bersembunyi di balik mataku.Hangat sup semalam masih terasa di lidahku. Begitu pula tatapan mata emasnya—tajam, dingin, dan terus menghantuiku hingga membuatku tidak bisa tidur.“Alpha yang makan sendiri,” gumamku pelan.Aku segera menggeleng.“Tidak... tidak. Jangan memikirkannya.”“Baru, ya?”Suara perempuan yang parau membuatku terkejut. Pisau di tanganku hampir terlepas.Di sebelahku berdiri seorang pelayan tua. Rambutnya diikat ketat menggunakan kain lusuh. Tangannya bergerak gesit memotong daging dengan satu tangan. Meskipun punggungnya telah membungkuk dimakan usia, sorot matanya masih sangat tajam.Namanya Martha. Katanya, dia sudah lima belas tahun bekerja di istana ini—sejak tem
Jam tiga pagi.Aku tidak bisa tidur. Sudah tiga malam sejak aku masuk ke istana ini, tetapi mataku masih terbuka lebar setiap kali cahaya obor di koridor padam.Sangkar emas ini terasa begitu pengap. Dindingnya terlalu tinggi, langit-langitnya terlalu jauh, dan keheningannya terlalu keras sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.Jadi, aku menyelinap keluar.Memang dilarang. Namun, kalau ketahuan, paling-paling aku hanya akan dimarahi atau dipecat. Dan dipecat rasanya jauh lebih baik daripada mati bosan di kamar itu.Aku berjalan menyusuri koridor yang gelap dengan kaki telanjang agar tidak menimbulkan suara. Aku sudah menghafal jalan menuju dapur karena semalam mendengar para pelayan melewatinya.Aku hanya ingin mencari air. Tenggorokanku kering setelah seharian berpura-pura menjadi gadis ketakutan. Namun, ketika sampai di depan pintu dapur yang terbuka setengah, langkahku terhenti.Dia ada di sana. Alpha Rowan Blackwood.Dia duduk sendirian di ujung meja panjang yang biasan
Kereta berhenti dengan bunyi roda yang menggerus salju.Pintu kereta dibuka dengan kasar. Hawa dingin langsung menerobos masuk, menusuk hingga ke tulang dan paru-paruku sampai setiap tarikan napas terasa menyakitkan.Di hadapanku berdiri Istana Blackwood.Bangunannya sangat besar, tetapi gelap dan suram. Seluruh dindingnya terbuat dari batu hitam yang telah diguyur hujan dan darah selama puluhan tahun. Jendela-jendelanya tinggi menjulang, tetapi hampir tidak ada cahaya yang terpancar dari baliknya. Menara-menara runcingnya menusuk langit malam, menyerupai taring raksasa yang siap mencabik siapa pun yang berani mendekat.Istana ini lebih mirip sebuah kuburan raksasa daripada sebuah rumah.Sepuluh tahun lalu, tempat ini juga menjadi saksi kehancuran pack-ku.Aku masih mengingat asap yang membubung dari bukit ini, membakar langit malam hingga berubah merah.Tanganku gemetar hebat di balik lengan baju yang kebesaran. Bukan karena dingin. Melainkan karena aku sedang menahan amarah.Amarah
Sepuluh tahun.Selama sepuluh tahun aku menunggu malam ini. Menghitung hari, menghitung salju yang turun, bahkan menghitung berapa kali aku muntah hanya karena membayangkan wajahnya kembali muncul di hadapanku.Dan malam ini, akhirnya tiba.Tempat ini kotor, berisik, dan pengap. Bau alkohol murah bercampur dengan aroma serigala-serigala yang putus asa, keringat tubuh yang sudah berhari-hari tidak dibersihkan, serta sesuatu yang lebih menjijikkan daripada semuanya.Keputusasaan. Ini adalah pelelangan mate. Tempat para Alpha miskin membeli pasangan dengan harga murah, sekaligus tempat para wanita menjual diri demi sesuap roti dan atap yang tidak bocor.Lantainya lengket. Lampunya redup. Di atas panggung, tali tambang mengikat pergelangan tangan para wanita yang berdiri dengan kepala tertunduk.Mata mereka kosong.Seolah-olah sebagian dari diri mereka sudah mati jauh sebelum malam ini. Dan di antara mereka, berdirilah aku.Elara Black.Bukan siapa-siapa. Wajahku sengaja ku coreng dengan
Salju yang turun malam itu begitu putih dan lembut, menyerupai kapas yang berjatuhan dari langit. Namun, keindahan itu hanyalah kebohongan.Di bawah lapisan putihnya, darah mengalir deras dan meresap ke tanah, perlahan mengubah hamparan salju menjadi merah.Saat itu, aku baru berusia sebelas tahun. Tanganku masih kecil. Tangan yang biasanya menggenggam tangan Mama ketika kami berjalan ke pasar, atau diam-diam menyelinap ke dapur untuk mengambil kue kesukaanku. Namun malam itu, tangan kecilku hanya mampu mencengkeram gaun Mama yang telah basah kuyup. Bukan oleh salju. Melainkan oleh darah yang terus mengalir dari tubuhnya, menghangatkan jemariku yang sejak tadi membeku."Lyra, lari... jangan melihat ke belakang." Itulah bisikan terakhir Mama.Suaranya gemetar, terputus-putus di antara napas yang semakin berat. Dadanya naik turun seperti seseorang yang sedang berusaha bertahan dari tenggelam. Matanya menatapku dengan tatapan yang tak akan pernah bisa kulupakan. Seolah-olah dia sedang me







