Home / Fantasi / BOUND IN BLOOD / 2. Pelelangan Daging

Share

2. Pelelangan Daging

Author: lyns_marlyn
last update publish date: 2026-07-14 17:47:10

Sepuluh tahun.

Selama sepuluh tahun aku menunggu malam ini. Menghitung hari, menghitung salju yang turun, bahkan menghitung berapa kali aku muntah hanya karena membayangkan wajahnya kembali muncul di hadapanku.

Dan malam ini, akhirnya tiba.

Tempat ini kotor, berisik, dan pengap. Bau alkohol murah bercampur dengan aroma serigala-serigala yang putus asa, keringat tubuh yang sudah berhari-hari tidak dibersihkan, serta sesuatu yang lebih menjijikkan daripada semuanya.

Keputusasaan. Ini adalah pelelangan mate. Tempat para Alpha miskin membeli pasangan dengan harga murah, sekaligus tempat para wanita menjual diri demi sesuap roti dan atap yang tidak bocor.

Lantainya lengket. Lampunya redup. Di atas panggung, tali tambang mengikat pergelangan tangan para wanita yang berdiri dengan kepala tertunduk.

Mata mereka kosong.

Seolah-olah sebagian dari diri mereka sudah mati jauh sebelum malam ini. Dan di antara mereka, berdirilah aku.

Elara Black.

Bukan siapa-siapa. Wajahku sengaja ku coreng dengan debu. Rambut cokelat kusam kubiarkan berantakan seperti seseorang yang belum makan selama seminggu. Aku mengenakan pakaian bekas yang dahulu milik Nenek Selma, ukurannya terlalu besar dan sudah penuh tambalan.

Aku sengaja membuat diriku terlihat menyedihkan. Karena cantik itu berbahaya. Wajah cantik akan membuat harga jual ku terlalu tinggi dan bisa membuatnya curiga. Aku justru ingin terlihat tidak berharga.

Aku ingin dia merasa kasihan. Aku ingin dia merasa berkuasa. Dan yang paling penting, aku ingin dia membeli aku dengan harga yang menurutnya remeh.

Di ujung ruangan, seseorang duduk dengan sikap angkuh di kursi kayu paling tinggi. Dikelilingi dua pengawal bertubuh besar.

Alpha Rowan Blackwood.

Sepuluh tahun. Dan dia masih sama. Masih tinggi hingga aku harus mendongak hanya untuk melihat matanya. Masih dingin hingga keberadaannya membuat ruangan ini terasa semakin beku. Masih seperti patung es yang, jika disentuh, justru akan melukai tanganmu.

Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang. Jas hitam yang dikenakannya terlihat mahal dan tidak memiliki setitik debu pun. Sementara mata emasnya menyapu seluruh ruangan dengan tatapan jijik, seolah-olah semua yang ada di sini hanyalah sampah yang suatu saat harus dia singkirkan.

Jantungku sakit ketika melihatnya. Namun, rasa sakit itu bukan karena rindu. Bukan pula karena cinta. Melainkan karena benci.

Kebencian yang telah ku pelihara selama sepuluh tahun, sampai akhirnya tumbuh begitu besar dan menjadikannya rumah di dalam dadaku.

Tanganku mengepal di balik rok lusuh. Kuku-kukuku menancap ke telapak tangan hingga terasa sakit.

Bagus.

Biarkan sakit. Aku membutuhkan rasa sakit itu untuk mengingatkan diriku sendiri mengapa aku datang ke tempat ini. Untuk mengingatkan siapa yang sedang kuhadapi. Untuk mengingatkan siapa yang harus ku bunuh.

"Pelelangan dimulai!"

Suara pelelang yang serak memecah keributan. Matanya merah, sementara senyum licik menghiasi wajahnya.

"Lot pertama! Wanita muda, sehat, pinggul lebar, mampu melahirkan anak Alpha!"

Satu per satu wanita naik ke panggung. Ada yang menangis pelan. Ada yang hanya menundukkan kepala dengan bahu gemetar. Ada pula yang masih menatap kerumunan dengan harapan bahwa seseorang yang baik akan membelinya.

Aku muak melihat semua itu, tapi bukan karena mereka. Aku muak karena tempat ini mengingatkanku pada sepuluh tahun lalu, ketika pack kami juga diperlakukan seperti ternak.

Dibantai. Disembelih. Tanpa pernah diberi kesempatan untuk melawan. Kemudian, akhirnya, pelelang itu menunjuk ke arahku.

"Lot ketujuh! Elara Black, dua puluh satu tahun, yatim piatu, tidak memiliki pack, dan tidak memiliki riwayat penyakit!"

Aku menaiki panggung.

Kayu tua di bawah kakiku berderit setiap kali aku melangkah. Kepalaku ku tundukkan dalam-dalam.

Tanganku gemetar. Kali ini bukan sepenuhnya akting. Tapi karena gugup dan amarah bercampur menjadi satu.

Inilah akting terbaik yang pernah kulakukan seumur hidup. Karena taruhannya bukan uang, tapi taruhannya adalah nyawaku.

"Harga awal lima puluh koin emas!"

Ruangan mendadak sepi. Tidak ada satu pun yang mengangkat tangan. Beberapa Alpha bahkan mencibir.

"Kurus."

"Tak ada dagingnya."

Aku menahan senyum. Awal yang bagus. Rencanaku berjalan sesuai perkiraan.

Aku menarik napas panjang, kemudian mengangkat kepala perlahan. Rambutku sengaja kubiarkan menutupi sebagian wajah. Mataku memerah karena sejak tadi ku cubit agar terlihat seperti baru saja menangis.

Lalu aku berteriak dengan suara pecah yang telah ku latih selama tiga bulan terakhir.

"AKU BUTUH ALPHA YANG KUAT!"

Suaraku menggema di seluruh ruangan.

"Aku lelah kelaparan! Aku lelah tidur di jalan! Aku lelah dipukuli tuan tanah!" Aku menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. "Beli aku! Siapa pun boleh, asalkan dia kuat dan bisa melindungiku! Aku akan menjadi istri yang penurut!"

Ruangan mendadak hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Kemudian pecahlah tawa. Beberapa Alpha bahkan menepuk meja.

"Gila! Perempuan ini benar-benar menjual dirinya sambil berteriak!"

Aku tidak peduli. Justru itu yang kuinginkan. Semua mata kini tertuju kepadaku. Termasuk sepasang mata emas di sudut ruangan. Aku menatapnya.

Rowan.

Aku ingin dia melihatku sebagai perempuan yang putus asa. Aku ingin dia melihatku sebagai seseorang yang lemah. Seseorang yang tidak berbahaya.

Namun, Rowan tidak bergerak sedikit pun.

Punggungnya tetap tegak. Satu tangannya bertumpu di sandaran kursi, sementara jari-jari besarnya mengetuk permukaan meja dengan ritme pelan.

Tok.

Tok.

Tok.

Seolah-olah dia sedang menghitung waktu sampai akhirnya bosan.

"Seratus koin!"

Suara serak seorang Alpha botak terdengar dari baris kedua.

"Seratus lima puluh!" Alpha lain yang giginya ompong ikut menawar.

Jantungku mulai berdebar. Bagaimana kalau bukan dia yang membeli? Bagaimana kalau dia hanya menonton lalu pergi?

Sepuluh tahun persiapan bisa hancur hanya karena lima puluh koin emas. Aku menggigit bibir hingga terasa perih. Setetes darah muncul. Air mata pun mulai menggenang di mataku.

Dan kemudian...

Suara itu terdengar. Suara yang langsung membungkam seluruh ruangan. Suara yang sedingin salju sepuluh tahun lalu.

"500 koin emas."

Semua orang menoleh. Bahkan pelelang itu sampai tersedak ludahnya sendiri.

Rowan Blackwood hanya mengangkat satu jari. Santai dan tenang. Wajahnya datar, seolah-olah dia baru saja membeli sekarung beras di pasar, bukan seorang manusia yang akan dibawanya pulang.

"Lima ratus..."

Pelelang itu menelan ludah.

"Lima ratus sekali."

Dia menatap seluruh ruangan. Tidak ada yang berani menawar.

"Lima ratus dua kali..."

Jantungku berdetak semakin keras.

"Lima ratus tiga kali."

Palu pelelang diketuk kan.

"Terjual kepada Alpha Rowan Blackwood!"

Aku menundukkan kepala. Namun, di balik rambut yang menutupi wajahku, bibirku perlahan membentuk senyum tipis.

Dia membeli aku. Dia benar-benar membeli ku.

Aku diturunkan dari panggung oleh dua penjaga. Tangan kasar mereka mencengkeram lenganku hingga meninggalkan bekas memar, lalu menyeretku melewati kerumunan yang masih mencibir.

Semakin dekat aku dengannya, semakin jelas aroma yang memenuhi penciumanku. Bau cedar dan darah kering.

Aku membeku sesaat. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun berlalu, tetapi aromanya masih sama.

Aku kembali mengingat malam itu. Salju, darah, api dan sepasang mata emas yang menatapku dari balik lemari.

Aku segera menekan semua ingatan itu. Bukan sekarang, belum saatnya.

Rowan berdiri.

Dia jauh lebih tinggi dariku hingga bayangannya menutupi tubuhku. Tatapannya bergerak perlahan dari kepalaku hingga ke ujung kaki. Lambat. Teliti.

Seolah-olah dia sedang menilai seekor kuda yang baru saja dibelinya. Kemudian matanya berhenti di leherku. Pada kalung kayu kusam yang menggantung di sana.

Kalung peninggalan Nenek Selma. Retak dan tua, tetapi merupakan satu-satunya bukti bahwa Lyra Voss pernah hidup.

Alis Rowan sedikit berkerut. "Kamu berisik."

Hanya dua kata. Namun, suaranya terasa sampai ke tulangku.

Aku segera menundukkan kepala. Bahuku ku buat bergetar, lalu berbisik dengan suara serapuh mungkin. "Maaf, Tuan. Aku takut. Aku tidak ingin kembali ke jalanan."

Dia diam. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Rasanya seperti setahun. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Kemudian Rowan melangkah maju. Dia melewatiku tanpa menyentuh sedikit pun tubuhku.

"Ikut."

Hanya satu kata. Namun, kata itu hampir meruntuhkan seluruh pertahananku. Sepuluh tahun penantian akhirnya membuahkan hasil. Aku mengikutinya keluar dari ruangan pengap itu menuju udara malam yang dingin.

Di luar, kereta kudanya telah menunggu. Kereta besar berwarna hitam yang ditarik beberapa ekor kuda. Aku menaikinya tanpa banyak bicara. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku menuju tempat yang paling ku benci di dunia.

Istana Rowan.

Istana yang berdiri di atas bukit yang dahulu merupakan tanah milik pack-ku. Tanah tempat keluargaku hidup. Tanah tempat keluargaku dibantai. Tanah yang kini menjadi sarang serigala yang menghancurkan hidupku.

Sepanjang perjalanan, Rowan tidak mengatakan apa pun. Dia hanya duduk di seberangku sambil memandang keluar jendela, menatap hutan gelap yang perlahan kami lewati.

Aku pun diam. Namun, tanganku meraba sesuatu yang tersembunyi di balik korset. Sebuah pisau kecil. Senjata sederhana yang telah ku persiapkan untuknya.

Aku menatap pantulan wajahku di kaca jendela. Elara Black. Begitulah namaku sekarang.

Rencana tahap pertama selesai. Aku sudah masuk ke dalam dunianya. Aku sudah berada di dalam rumahnya. Di dalam wilayahnya.

Dan yang lebih penting...

Aku sudah berada cukup dekat untuk membunuhnya. Tinggal menunggu waktu yang tepat. Waktu ketika pisau ini akan menembus tubuhnya dan berhenti tepat di jantung yang, menurutku, telah mati sejak sepuluh tahun lalu.

Aku menundukkan kepala, menyembunyikan senyum tipis yang muncul di bibirku.

Selamat datang kembali dalam hidupku, Alpha Rowan Blackwood. Kali ini, aku tidak datang sebagai korban. Aku datang sebagai orang yang akan mengakhiri hidupmu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BOUND IN BLOOD   38. Jejak Di Tengah Salju

    Hutan di hadapan kami kembali sunyi bahkan terlalu sunyi.Sosok-sosok bertopeng itu sudah menghilang di antara pepohonan, tetapi keberadaan mereka masih terasa seperti bayangan yang menggantung di udara.Rowan berdiri di sampingku dengan pedang terhunus.Aku masih menggenggam tangannya. "Jangan kejar mereka," ulang ku.Rowan menatap hutan. "Aku tahu.""Kau kelihatan seperti ingin mengejar mereka.""Aku memang ingin mengejar mereka."Aku menghela napas. "Rowan..."Ia akhirnya menoleh kepadaku. "Aku tidak akan mengejar mereka.""Benarkah?"Ia menyarungkan pedangnya. "Karena untuk pertama kalinya, aku setuju denganmu."Aku mengangkat alis. "Catat tanggalnya."Rowan hampir tersenyum.Namun, suara tangisan dari belakang membuat kami kembali serius.Anak kecil yang tadi kutolong masih berada dalam pelukanku. Aku menunduk. "Dia harus segera mendapat pertolongan."Rowan mengangguk. "Alden!""Ya, Tuan.""Bawa semua warga yang terluka ke aula desa. Gunakan bangunan yang masih utuh sebagai tempa

  • BOUND IN BLOOD   37. Desa Yang Terbakar

    Kami baru saja keluar dari ruang sidang ketika Rowan berhenti begitu mendengar suara langkah kaki dari belakang."Rowan!"Aku menoleh.Cedric berdiri di ambang pintu. Namun kali ini ia tidak sendirian. Empat penjaga Dewan berdiri di belakangnya."Jangan membuat keputusan terburu-buru," katanya.Rowan berbalik sepenuhnya. "Desaku diserang. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan nasihatmu.""Kau tidak bisa pergi begitu saja.""Aku bisa.""Kalau kau pergi, perempuan itu tetap di sini."Tangan Rowan yang menggenggam tanganku semakin erat. "Aku tidak akan meninggalkannya."Cedric menghela napas. "Kalau begitu kau harus membawanya bersamamu. Tetapi ketahuilah, begitu kalian meninggalkan Istana Pusat, Dewan tidak lagi menjamin keselamatan kalian."Rowan menatapnya tajam. "Aku tidak pernah meminta jaminanmu."Setelah itu, Rowan menarikku pergi. Kami berlari melewati koridor."Rowan, tunggu!"Rowan tidak berhenti. Aku terpaksa mempercepat langkah."Rowan!""Apa?""Kau terlalu cepat!"Ia akhi

  • BOUND IN BLOOD   36. Istana Pusat

    Matahari belum sepenuhnya muncul ketika kami tiba di Istana Pusat.Bangunan itu jauh lebih besar daripada Istana Blackwood. Dinding-dindingnya terbuat dari batu abu-abu tua, menjulang tinggi seperti benteng yang dibangun bukan untuk melindungi kerajaan, melainkan untuk mengingatkan siapa pun yang masuk bahwa mereka sedang berada di wilayah kekuasaan orang lain.Dua belas lambang pack terpahat di sepanjang gerbang utama.Aku menatapnya dari atas kuda.Entah kenapa, semakin dekat kami dengan tempat ini, semakin berat dadaku terasa.Rowan turun lebih dulu. Kemudian ia berdiri di samping kudaku dan mengulurkan tangan."Turun."Aku menggenggam tangannya. Begitu kakiku menyentuh tanah, Rowan tidak langsung melepaskan tanganku.Rowan menatapku. "Mulai sekarang, jangan pergi sendirian."Aku mengangguk. "Kalau mereka memanggilku?""Kau tetap bersamaku.""Kalau mereka mengatakan aku harus masuk tanpa kau?""Kau tetap bersamaku."Aku tersenyum tipis. "Jadi intinya apa pun yang mereka katakan, ak

  • BOUND IN BLOOD   35. Serangan Di Penginapan

    Aura biru perlahan menyelimuti tubuh Rowan. Udara di sekitar kami mendadak terasa berat.Para penghuni penginapan berlari menuju pintu belakang. Beberapa pelayan bersembunyi di balik meja, sementara pemilik penginapan berdiri gemetar di sudut ruangan.Pria berjubah hitam itu masih berdiri di dekat tangga. Pedangnya terangkat. Namun, yang membuatku waspada bukan dirinya. Melainkan suara langkah kaki yang terdengar dari lantai dua.Satu.Dua.Tiga.Banyak.Elara menoleh. "Rowan...""Aku tahu." Tatapannya tetap tertuju kepada pria di depan kami. "Berapa banyak?""Setidaknya sepuluh."Aku menggenggam pisau lebih erat."Berarti pria itu hanya pengalih perhatian.""Benar."Pria berjubah hitam tertawa kecil. "Alpha Blackwood. Ternyata penciumanmu masih tajam."Rowan melangkah maju. "Siapa yang mengirimmu?""Aku rasa kau sudah tahu.""Dewan?""Anggap saja begitu."Rowan mengangkat pedangnya. "Kalau begitu sampaikan kepada mereka bahwa aku tidak akan menyerahkan siapa pun."Pria itu tersenyum.

  • BOUND IN BLOOD   34. Demam Di Tengah Salju

    Malam semakin larut.Api di perapian perlahan mengecil, tetapi panas tubuh Rowan justru semakin tinggi.Aku duduk di tepi tempat tidur sambil mengganti kain kompres di dahinya. Kain yang tadi dingin kini kembali hangat hanya dalam hitungan menit.Aku mencelupkannya ke dalam baskom, memeras airnya, lalu meletakkannya kembali di atas dahi Rowan."Kalau besok kau masih demam seperti ini, aku akan memanggil dokter."Mata Rowan tetap terpejam. "Jangan."Aku menghela napas kesal. "Kenapa kau keras kepala sekali?""Karena dokter akan bertanya terlalu banyak.""Biarkan dia bertanya.""Aku tidak suka orang lain mengetahui kelemahanku."Aku menatap wajahnya. "Kalau begitu jangan sakit."Sudut bibir Rowan terangkat sedikit. "Aku akan mencoba."Aku mendengus. "Memangnya demam bisa kau perintah?""Tidak."Ia membuka mata perlahan. "Tapi kalau kau yang menyuruh, mungkin aku bisa lebih patuh.""Jangan menggoda orang yang sedang menjaga pasien.""Aku tidak menggoda.""Terus?""Aku sedang mengatakan y

  • BOUND IN BLOOD   33. Satu Kamar

    Salju semakin deras ketika kami kembali ke penginapan.Aku masih menggenggam kotak besi kecil yang kutemukan di toko Agnes. Namun, setelah mendengar pengakuan Rowan tentang ayahnya, aku tidak lagi berani membukanya.Bukan karena takut dengan isinya.Aku takut dengan apa yang mungkin berubah setelah kami membacanya.Rowan berjalan di sampingku dalam diam. Darah masih terlihat di sudut bibirnya akibat pertarungan tadi.Aku beberapa kali meliriknya.Akhirnya aku tidak tahan."Kau terluka."Rowan menyentuh sudut bibirnya dengan ibu jari."Ini?""Iya.""Hanya goresan.""Kalau darahnya keluar, berarti bukan tidak ada luka."Ia menatapku sekilas."Kau mulai cerewet.""Aku belajar dari seseorang.""Siapa?""Alpha yang selalu menyuruh orang lain makan, tetapi dirinya sendiri sering lupa."Rowan tersenyum kecil. "Baiklah. Aku kalah."Aku berhenti berjalan. "Kau mengaku kalah?""Untuk kali ini.""Jarang sekali.""Jangan terlalu senang. Bisa membuatku berubah pikiran."Aku tertawa kecil.Entah se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status