ホーム / Fantasi / BOUND IN BLOOD / 3. Sangkar Emas

共有

3. Sangkar Emas

作者: lyns_marlyn
last update 公開日: 2026-07-14 18:36:02

Kereta berhenti dengan bunyi roda yang menggerus salju.

Pintu kereta dibuka dengan kasar. Hawa dingin langsung menerobos masuk, menusuk hingga ke tulang dan paru-paruku sampai setiap tarikan napas terasa menyakitkan.

Di hadapanku berdiri Istana Blackwood.

Bangunannya sangat besar, tetapi gelap dan suram. Seluruh dindingnya terbuat dari batu hitam yang telah diguyur hujan dan darah selama puluhan tahun. Jendela-jendelanya tinggi menjulang, tetapi hampir tidak ada cahaya yang terpancar dari baliknya. Menara-menara runcingnya menusuk langit malam, menyerupai taring raksasa yang siap mencabik siapa pun yang berani mendekat.

Istana ini lebih mirip sebuah kuburan raksasa daripada sebuah rumah.

Sepuluh tahun lalu, tempat ini juga menjadi saksi kehancuran pack-ku.

Aku masih mengingat asap yang membubung dari bukit ini, membakar langit malam hingga berubah merah.

Tanganku gemetar hebat di balik lengan baju yang kebesaran. Bukan karena dingin. Melainkan karena aku sedang menahan amarah.

Amarah yang telah kusimpan selama sepuluh tahun dan kini berdiri tepat di depan mataku.

"Jalan."

Bentakan salah satu anak buah Rowan membuatku tersentak. Tangannya mendorong punggungku dengan kasar.

Aku hanya menurut. Kepalaku ku tundukkan dalam-dalam. Bahuku ku buat merosot dan bibirku kubiarkan bergetar. Akting gadis ketakutan. Akting yang telah ku latih berbulan-bulan di depan cermin retak.

Kami memasuki istana. Dingin di dalam ternyata berbeda dengan dingin di luar. Jika udara malam terasa menusuk kulit, dingin di tempat ini terasa berasal dari dinding, lantai, bahkan dari orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Lantainya terbuat dari marmer hitam yang mengilap dan memantulkan bayangan tubuhku yang pucat. Cahaya hanya berasal dari obor-obor yang bergoyang tertiup angin.

Para pelayan berjalan tanpa suara. Mereka selalu menundukkan kepala. Tidak ada yang berani menatap mata orang lain. Tidak ada yang berani tertawa. Bahkan seolah-olah tidak ada yang berani hidup terlalu bebas di tempat ini.

Aroma besi, lilin tua, dan sesuatu yang sulit dijelaskan memenuhi udara. Seperti rasa kesepian yang seolah telah mengendap terlalu lama di antara dinding-dinding istana.

Rowan berjalan di depan tanpa menoleh sedikit pun. Punggungnya lurus. Langkahnya tidak cepat, tetapi juga tidak lambat. Dia berjalan seperti seorang raja yang sudah yakin seluruh dunia akan mengikutinya.

Aku terus membuntutinya hingga kami berhenti di depan sebuah pintu kayu besar yang dihiasi ukiran serigala dan bulan.

"Kamarmu."

Akhirnya, dia menoleh. Mata emasnya menyapu tubuhku dari atas hingga ke bawah. Lambat dan teliti, seolah-olah dia sedang menilai sebuah barang dan mencari bagian yang cacat.

"Kamu akan jadi apa?"

Pertanyaannya tiba-tiba membuatku terdiam. Jantungku serasa melompat ke tenggorokan.

"Maksudnya, Tuan?"

"Kamu berteriak membutuhkan perlindungan di pelelangan." Dia menatapku tanpa berkedip. "Berteriak minta dibeli. Tapi sekarang kamu diam seribu bahasa."

Rowan melangkah maju satu langkah. Jarak kami semakin dekat sampai aku bisa mencium aroma wine yang samar dari napasnya.

"Lalu sekarang kamu diam. Jadi, sebenarnya apa yang kamu butuhkan?"

Tatapannya semakin tajam.

"Uang? Rumah? Atau ada sesuatu yang lain yang kamu inginkan dariku?"

Napas ku tertahan di dada. Jantungku berdebar begitu keras sampai aku takut dia bisa mendengarnya.

Dia mulai curiga. Rowan terlalu pintar untuk seseorang yang selama ini dikenal sebagai Alpha yang tidak memiliki perasaan.

Aku segera menundukkan kepala lebih dalam. Bahuku ku buat bergetar. Diam-diam, ku kukuhkan kuku ke telapak tangan untuk memancing air mata.

"Aku... aku hanya takut sendirian, Tuan."

Suara yang keluar ku buat serapuh mungkin.

"Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Tidak punya pack, tidak punya rumah." Aku menarik napas pendek. "Kalau bukan karena Tuan, aku pasti sudah mati di jalan."

Rowan tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku. Lama. Mata emasnya menelusuri wajahku seakan sedang mencari kebohongan, mencari celah sekecil apa pun dari jawabanku.

Aku memaksa diri untuk tetap diam. Jangan bergerak. Jangan terlihat gugup. Jangan biarkan dia tahu.

Beberapa saat kemudian, Rowan mengeluarkan sebuah kunci besi besar dari sakunya.

Klik.

Kunci itu dimasukkannya ke lubang pintu.

"Ini kamarmu."

Dia mendorong pintu hingga terbuka.

"Ada makanan di meja. Pakaian ada di lemari. Perapian juga sudah dinyalakan agar kamu tidak mati kedinginan."

Dia berhenti sejenak. Kemudian menatapku lagi.

"Jangan keluar tanpa izin." Suaranya berubah lebih tegas.

"Dan jangan bicara dengan siapa pun kecuali aku yang memintamu. Mengerti?"

Aku segera mengangguk. "Mengerti, Tuan."

Rowan berbalik dan mulai berjalan meninggalkanku. Langkahnya bergema di sepanjang koridor marmer.

Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Namun, baru beberapa meter berjalan, dia berhenti. Punggungnya masih menghadapku ketika kepalanya sedikit menoleh.

"Kalung itu."

Darahku seolah berhenti mengalir.

Jarinya menunjuk tepat ke kalung kayu kusam di leherku. Kalung peninggalan Nenek Selma. Kalung yang sudah retak. Satu-satunya bukti bahwa Lyra Voss pernah ada. Satu-satunya bukti bahwa aku bukan Elara Black.

"Dari siapa?"

Denging memenuhi telingaku. Aku menggenggam ujung kalung itu.

"Pen... peninggalan ibu saya, Tuan." Jawabanku keluar terlalu cepat. Aku segera memperbaikinya dengan suara bergetar. "Beliau memberikannya sebelum meninggal."

Rowan tidak menjawab. Dia hanya menatapku lama sekali.

Tatapan mata emas itu membuatku merasa seolah-olah dia bisa melihat jauh ke dalam diriku, menembus semua kebohongan yang telah kubangun selama bertahun-tahun, lalu menemukan Lyra yang selama ini kusembunyikan.

Tidak ada emosi di wajahnya. Tidak ada kasih. Tidak ada kehangatan, hanya kelelahan.

"Hm."

Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Setelahnya, dia pergi.

Aku menunggu sampai suara langkahnya benar-benar menghilang sebelum buru-buru masuk ke kamar dan menutup pintu.

Begitu pintu tertutup rapat, kakiku langsung lemas. Aku merosot ke lantai marmer yang dingin. Aku menarik napas panjang. Nyaris saja. Nyaris saja dia mengetahui siapa aku.

Aku mengangkat kepala dan melihat sekeliling. Kamar ini sangat besar. Terlalu besar untuk satu orang. Sebuah tempat tidur dengan selimut bulu berdiri di tengah ruangan. Perapian menyala di salah satu sisi. Di atas meja, tersedia roti, buah, dan semangkuk sup yang masih mengepul.

Semuanya terlihat nyaman. Namun, di mataku, kamar ini bukanlah tempat tinggal. Ini sangkar emas. Indah dari luar, tetapi tetap mengurung dari dalam. Tanganku meraih kalung kayu di leherku. Kugenggam erat hingga ujung kayunya melukai telapak tangan.

"Nenek..." Suara bisikanku pecah. "Aku sudah di dalam."

Aku menatap api di perapian. "Tahap satu sudah selesai. Aku sudah berada di dalam rumahnya." Mataku menyipit. "Di dalam istananya."

Malam itu aku tidak tidur. Aku duduk di dekat pintu dengan telinga menempel pada permukaan kayu.

Aku mendengarkan. Langkah kaki berat di koridor. Suara para pelayan yang sesekali berbisik. Suara Rowan yang membentak anak buahnya ketika menerima laporan tentang perampok di perbatasan. Bahkan aku mendengar salah seorang pelayan berbisik tentang julukan yang diberikan kepada tuannya.

"Alpha yang tidak pernah tidur."

Aku mengingat semuanya. Nama, jadwal dan kebiasaan. Siapa yang setia, yang takut, yang bisa dipercaya. Dan siapa yang harus kuhindari. Aku menyimpan semuanya di kepalaku.

Besok, aku akan memulai tahap kedua. Masuk lebih dalam. Aku akan mencari cara untuk menjadi pelayan di dapur agar bisa mengakses lebih banyak ruangan. Menjadi bayangan yang tidak terlihat. Tidak mencolok, dan tidak berbahaya.

Sampai akhirnya...

Aku akan menjadi Luna di sisinya. Orang yang paling dekat dengannya. Orang yang bisa menusukkan pisau tepat ketika dia berada di titik paling lengah.

Itulah rencanaku.

Namun, ketika aku akhirnya memejamkan mata sebentar di atas karpet, sesuatu yang tidak kuharapkan justru muncul dalam pikiranku. Bukan wajah Papa yang berlumuran darah. Bukan jeritan Mama. Melainkan mata emas Rowan ketika dia bertanya dengan suara lelah,

"Kamu butuh apa sebenarnya?"

Kemudian aku teringat caranya menunjuk kalungku. Seolah-olah dia mengenali sesuatu.

"Sial." Aku membuka mata. "Sial sekali."

Kenapa dia harus bertanya seperti itu? Kenapa dia harus menatapku seolah-olah sedang mencari sesuatu? Dan kenapa, di tengah semua rencana balas dendam yang telah kususun selama sepuluh tahun, ada bagian kecil di dalam dadaku yang justru goyah ketika dia mendorong semangkuk sup ke arahku malam ini?

Aku menggeleng keras. "Jangan lemah, Elara." Tanganku mengepal. "Dia pembunuh."

Aku menatap api yang terus menyala.

"Dia yang membakar semuanya."

Namun, semakin lama aku memandang perapian, semakin sulit aku mempertahankan kemarahanku. Ruangan ini terlalu hangat, dan sup di atas meja itu terlalu harum. Dan untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun...

Aku tidur di tempat yang tidak membuatku menggigil karena kedinginan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • BOUND IN BLOOD   5. Bisik-bisik Di Dapur

    Jam lima pagi.Tanganku sudah lecet akibat terlalu lama terendam air es. Kulitnya memerah dan terasa perih setiap kali terkena sabun.Aku mengupas kentang sambil terus menunduk. Bukan karena lelah, melainkan karena takut bertemu tatapan siapa pun. Takut jika ada yang mampu membaca rasa bersalah yang bersembunyi di balik mataku.Hangat sup semalam masih terasa di lidahku. Begitu pula tatapan mata emasnya—tajam, dingin, dan terus menghantuiku hingga membuatku tidak bisa tidur.“Alpha yang makan sendiri,” gumamku pelan.Aku segera menggeleng.“Tidak... tidak. Jangan memikirkannya.”“Baru, ya?”Suara perempuan yang parau membuatku terkejut. Pisau di tanganku hampir terlepas.Di sebelahku berdiri seorang pelayan tua. Rambutnya diikat ketat menggunakan kain lusuh. Tangannya bergerak gesit memotong daging dengan satu tangan. Meskipun punggungnya telah membungkuk dimakan usia, sorot matanya masih sangat tajam.Namanya Martha. Katanya, dia sudah lima belas tahun bekerja di istana ini—sejak tem

  • BOUND IN BLOOD   4. Alpha Yang Makan Sendiri

    Jam tiga pagi.Aku tidak bisa tidur. Sudah tiga malam sejak aku masuk ke istana ini, tetapi mataku masih terbuka lebar setiap kali cahaya obor di koridor padam.Sangkar emas ini terasa begitu pengap. Dindingnya terlalu tinggi, langit-langitnya terlalu jauh, dan keheningannya terlalu keras sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.Jadi, aku menyelinap keluar.Memang dilarang. Namun, kalau ketahuan, paling-paling aku hanya akan dimarahi atau dipecat. Dan dipecat rasanya jauh lebih baik daripada mati bosan di kamar itu.Aku berjalan menyusuri koridor yang gelap dengan kaki telanjang agar tidak menimbulkan suara. Aku sudah menghafal jalan menuju dapur karena semalam mendengar para pelayan melewatinya.Aku hanya ingin mencari air. Tenggorokanku kering setelah seharian berpura-pura menjadi gadis ketakutan. Namun, ketika sampai di depan pintu dapur yang terbuka setengah, langkahku terhenti.Dia ada di sana. Alpha Rowan Blackwood.Dia duduk sendirian di ujung meja panjang yang biasan

  • BOUND IN BLOOD   3. Sangkar Emas

    Kereta berhenti dengan bunyi roda yang menggerus salju.Pintu kereta dibuka dengan kasar. Hawa dingin langsung menerobos masuk, menusuk hingga ke tulang dan paru-paruku sampai setiap tarikan napas terasa menyakitkan.Di hadapanku berdiri Istana Blackwood.Bangunannya sangat besar, tetapi gelap dan suram. Seluruh dindingnya terbuat dari batu hitam yang telah diguyur hujan dan darah selama puluhan tahun. Jendela-jendelanya tinggi menjulang, tetapi hampir tidak ada cahaya yang terpancar dari baliknya. Menara-menara runcingnya menusuk langit malam, menyerupai taring raksasa yang siap mencabik siapa pun yang berani mendekat.Istana ini lebih mirip sebuah kuburan raksasa daripada sebuah rumah.Sepuluh tahun lalu, tempat ini juga menjadi saksi kehancuran pack-ku.Aku masih mengingat asap yang membubung dari bukit ini, membakar langit malam hingga berubah merah.Tanganku gemetar hebat di balik lengan baju yang kebesaran. Bukan karena dingin. Melainkan karena aku sedang menahan amarah.Amarah

  • BOUND IN BLOOD   2. Pelelangan Daging

    Sepuluh tahun.Selama sepuluh tahun aku menunggu malam ini. Menghitung hari, menghitung salju yang turun, bahkan menghitung berapa kali aku muntah hanya karena membayangkan wajahnya kembali muncul di hadapanku.Dan malam ini, akhirnya tiba.Tempat ini kotor, berisik, dan pengap. Bau alkohol murah bercampur dengan aroma serigala-serigala yang putus asa, keringat tubuh yang sudah berhari-hari tidak dibersihkan, serta sesuatu yang lebih menjijikkan daripada semuanya.Keputusasaan. Ini adalah pelelangan mate. Tempat para Alpha miskin membeli pasangan dengan harga murah, sekaligus tempat para wanita menjual diri demi sesuap roti dan atap yang tidak bocor.Lantainya lengket. Lampunya redup. Di atas panggung, tali tambang mengikat pergelangan tangan para wanita yang berdiri dengan kepala tertunduk.Mata mereka kosong.Seolah-olah sebagian dari diri mereka sudah mati jauh sebelum malam ini. Dan di antara mereka, berdirilah aku.Elara Black.Bukan siapa-siapa. Wajahku sengaja ku coreng dengan

  • BOUND IN BLOOD   1. Malam Darah Dan Salju

    Salju yang turun malam itu begitu putih dan lembut, menyerupai kapas yang berjatuhan dari langit. Namun, keindahan itu hanyalah kebohongan.Di bawah lapisan putihnya, darah mengalir deras dan meresap ke tanah, perlahan mengubah hamparan salju menjadi merah.Saat itu, aku baru berusia sebelas tahun. Tanganku masih kecil. Tangan yang biasanya menggenggam tangan Mama ketika kami berjalan ke pasar, atau diam-diam menyelinap ke dapur untuk mengambil kue kesukaanku. Namun malam itu, tangan kecilku hanya mampu mencengkeram gaun Mama yang telah basah kuyup. Bukan oleh salju. Melainkan oleh darah yang terus mengalir dari tubuhnya, menghangatkan jemariku yang sejak tadi membeku."Lyra, lari... jangan melihat ke belakang." Itulah bisikan terakhir Mama.Suaranya gemetar, terputus-putus di antara napas yang semakin berat. Dadanya naik turun seperti seseorang yang sedang berusaha bertahan dari tenggelam. Matanya menatapku dengan tatapan yang tak akan pernah bisa kulupakan. Seolah-olah dia sedang me

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status