Compartir

KUA

Autor: Fredy_
last update Fecha de publicación: 2026-03-22 22:35:26

Gilang memarkirkan motornya di pelataran gedung Pengadilan Agama. Mesin dimatikan, lalu ia melirik jam digital di pergelangan tangannya. Seharusnya sidang perceraian Mayang sudah selesai.

Tanpa membuang waktu, ia mempercepat langkah menuju ruang persidangan. Sepatu sneakers putihnya berdetak cepat di lantai koridor yang hampir sepi.

Tiba di depan pintu ruangan yang sudah terbuka, sayup-sayup dia mendengar suara seorang pria yang tengah memohon-mohon kepada Mayang.

"Mau apa kamu, Cipto?!" tanya
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   KUA

    Gilang memarkirkan motornya di pelataran gedung Pengadilan Agama. Mesin dimatikan, lalu ia melirik jam digital di pergelangan tangannya. Seharusnya sidang perceraian Mayang sudah selesai.Tanpa membuang waktu, ia mempercepat langkah menuju ruang persidangan. Sepatu sneakers putihnya berdetak cepat di lantai koridor yang hampir sepi.Tiba di depan pintu ruangan yang sudah terbuka, sayup-sayup dia mendengar suara seorang pria yang tengah memohon-mohon kepada Mayang."Mau apa kamu, Cipto?!" tanya Mayang setengah berteriak dan menepis tangan mantan suaminya."Rumah itu aku yang beli, Mayang! Berlian! Perabot rumah tangga yang kamu pakai! Itu semua uang aku, Mayang!" seru Cipto mengabsen segala sesuatu yang menjadi bagian dari kawajiban suami untuk menafkahi istrinya. Mayang hanya menatap Cipto tak bergeming."Kam -" Mayang mengeraskan rahangnya. Haruskah dia menghabiskan sisa energinya untuk mengatai-ngatai Cipto?Melihat reaksi Mayang, entah apa yang ada dipikiran Cipto, pria tak tahu ma

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   KETOK PALU!

    Kejadian pemukulan malam itu benar-benar membuka mata Sigit. Untuk pertama kalinya, ia melihat sendiri sisi gelap Cipto-bukan sekadar kakak yang keras kepala, melainkan pria yang kehilangan kendali. Derai tangis Amira malam itu masih terngiang di telinganya, membuatnya bertekad untuk melindungi istri dan anaknya, apa pun risikonya.Terlebih ketika Amira menceritakan tentang seorang pria yang pernah datang, mengaku bisa membantu mereka mencari solusi atas masalah yang membelit keluarga itu.Dan hari ini, Amira terperanjat. Ia baru menyadari kalau pria yang dulu berbincang panjang dengannya itu-ternyata adalah pengacara Mayang.Hatinya menguat. Kebenaran harus diungkap. Tentang pernikahan Cipto dan Risma yang selama ini disusun diam-diam, begitu rapi seakan tak menyisakan celah.Dengan jemari meremas ujung jaket longgarnya, Amira melangkah ke depan. Bukan untuk menjadi saksi Cipto. Melainkan untuk Mayang."Pernikahan itu dilakukan tanggal empat belas Januari," ucapnya, suaranya sedikit

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   AKHIR PERJALANAN PANJANG

    Semakin mendekati pintu ruang persidangan, langkah Mayang terasa kian berat.Udara di sekelilingnya seperti menekan dada. Rasa takut menyergap, membuat jemarinya dingin dan tubuhnya bergetar halus. Kalau saja Rossy tidak menggenggam tangannya erat-erat, mungkin ia sudah berbalik arah-kabur saja dari tempat itu.Belum lagi rasa mual yang sejak pagi tak kunjung reda. Perutnya bergolak, kepalanya sedikit pening, dan tubuhnya sedikit lemas."Tenang, Mayang. Sidangnya nggak akan lama," ujar Rossy lembut. Tangan satunya mengusap pundak Mayang, memberi kehangatan yang sangat dibutuhkan."Aku takut, Rossy..." bisik Mayang lirih, langkahnya terhenti tepat beberapa meter dari pintu.Rossy memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. "Mayang, lihat aku."Mayang mengangkat wajahnya perlahan."Kita punya Charles. Dia pengacara andalanku. Sembilan puluh persen kasus pasien-pasienku yang dia tangani, berhasil dimenangkan. Kita pasti bisa."Mayang mengangguk pelan.Ya, Charles sudah berjanji aka

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   SIDANG MAYANG

    "Sudah – sudah, kamu berangkat saja sama Chandra. Pecahan gelasnya biar ibu saja yang bereskan," ucap Dahlia. Tangannya mengibas-ngibas menyuruh Gilang cepat pergi bersama Chandra.Tanpa menunggu perintah Dahlia untuk kedua kalinya, Gilang segera mengikuti Chandra. Masuk ke mobil mewah yang dikendarai sendiri oleh pria itu. Duduk bersebelahan dengan pria yang katanya akan membuat hidupnya berubah dalam sekejap. Tapi entah mengapa hatinya terasa tidak tenang. Seolah akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya."Kamu nggak apa-apa, Lang?" tanya Chandra setelah beberapa menit hening yang canggung.Gilang mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat rumah-rumah yang perlahan berganti menjadi gedung-gedung tinggi."Aku nggak apa-apa, Om," jawabnya singkat. "Cuma… gugup."Chandra tersenyum tipis. "Om ngerti. Kamu nggak usah tegang. Om dan tante-tante kamu pada dasarnya orang baik-baik." Ia melirik Gilang sekilas dari sudut mata. "Mereka juga sudah penasaran pengen lihat keponaka

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   PERSIAPAN GILANG

    Dahlia membuka lebar-lebar pintu lemari yang berisi deretan kemeja dan jas Irawan. Setelan pakaian yang dulu menjadi busana sehari-hari Irawan saat berangkat bekerja. Lengkap dengan dasi aneka warna dan juga ikat pinggang berbahan kulit. Kemeja putih itu juga masih ada di sana, kemeja yang dipakai Irawan saat menyematkan cincin di jarinya.Wanita itu tersenyum sembari membayangkan kembali saat-saat dia menyiapkan setelan kerja untuk dipakai oleh suaminya itu. Rutinitas yang membuatnya merasa bahagia telah menjadi istri seorang Irawan Mahendra. Kemudian tangannya mengambil kemeja biru langit dengan dasi biru dongker. Padanan warna yang menurutnya paling membuat Irawan terlihat begitu menawan."Lang ... kamu coba pakai kemeja ayah, nih. Ibu rasa ukuran badan kamu sudah sama dengan badan ayah dulu. Coba deh ..." ujar Dahlia, membawa kemeja pilihannya ke kamar Gilang.Gilang yang masih mengeringkan rambutnya sehabis mandi terkejut dengan kehadiran Dahlia di kamarnya. Ia sedikit mengeryitk

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   CIPTO EDAN

    Belajar dari apa yang dialami Mayang, Amira tak ingin menghabiskan belasan tahun hidupnya dalam kesengsaraan yang sama-tinggal serumah dengan ibu mertua yang tak pernah benar-benar menghargai pengorbanan menantu. Setiap usaha dianggap kurang. Setiap kesalahan dibesar-besarkan. Kata-kata kasar seperti menjadi santapan harian.Dia juga sudah jenuh mendengar urusan rumah tangga kakak iparnya yang selalu saja bertengkar karena uang."Kamu kenapa bertanya begitu, Mira?" Sigit menatapnya heran. "Bukannya dulu kamu sendiri yang ingin tetap tinggal di sini karena mau menjaga Ibu? Sekarang kondisi kita lagi harus berhemat. Bukan malah nambah pengeluaran lagi.""Aku punya sedikit tabungan, Mas," suara Amira mulai bergetar, tapi ia memaksa tetap tenang. "Kita keluar dari rumah ini. Tinggal di kontrakan sederhana saja. Aku bisa jualan makanan lagi buat bantu tambah penghasilan. Aku yakin kita pasti bisa, Mas."Ia mengguncang lengan suaminya pelan, berharap mendapat dukungan. Namun reaksi Sigit ju

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   CEMBURU BU DOSEN

    Gilang dan Sabrina tampak bermandi keringat di pojok kantin kampus. Napas mereka tersengal, bibir merekah, dan mata merem-melek, menahan sensasi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata."Aduh, ga tahan gue!" Sabrina mengerang, mengipasi wajahnya yang sudah tak karuan.Dia menampar pergelangan tanga

    last updateÚltima actualización : 2026-03-18
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   BAYAR, BU!

    Di sebuah toko perhiasan mewah, seorang pria paruh baya berdiri di depan etalase, matanya menyapu satu per satu deretan kalung berkilauan. Senyuman terus menghiasi wajahnya, sementara jemarinya yang kokoh mengetuk-ngetuk kaca etalase dengan ritme pelan. Hatinya berbunga-bunga, membayangkan kalau se

    last updateÚltima actualización : 2026-03-18
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   DASAR BOCAH TENGIL!

    "Kamu kenapa nanya yang begitu? Kamu nggak boleh kepo sama kehidupan pribadi saya," sahut Mayang sewot."Duuhh ... abis enak-enak, udah jutek lagi. Saya penasaran saja. Soalnya punya kamu masih kenceng banget, kayak perawan. Oh, Ibu pasti rutin ikut senam kebugaran, ya?" Gilang menyerudukkan wajahn

    last updateÚltima actualización : 2026-03-17
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   TOILET BERGOYANG

    Jemari Gilang menyentuh puncak dada Sabrina yang mengencang terangsang. Dia mengusap dan memilin titik sensitif itu dengan sedikit kasar. "Ciuman sama kamu juga enak banget, Sab." Gilang mengecup ringan bibir Sabrina, dan menatap sayu gadis itu. "Gimana kalau kamu praktekin juga ke bawah. Pasti bak

    last updateÚltima actualización : 2026-03-18
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status