LOGIN"Mimpi apa ya, aku nikah sama Komandan Militer?"Ziandra hanya mengangguk kaku mendengar pesan dari Pak RT dan Pak RW, sebuah gerakan yang lebih mirip seperti robot yang kehabisan baterai daripada sebuah jawaban.Begitu masuk ke dalam mobil SUV hitam yang kedap suara, atmosfer seketika berubah.Ziandra duduk di pojok kanan, Almira di pojok kiri. Jarak di antara mereka cukup luas untuk menampung satu unit motor matic."Bang Ziandra," panggil Almira memecah keheningan."Jangan panggil aku dengan sebutan itu," sahut Ziandra tanpa menoleh, matanya fokus pada layar ponselnya."Terus panggil apa? Sayang? Mas? Hubby? Atau... My Commander?" Almira mencoba berbagai nada suara, mulai dari yang imut sampai yang dibuat-buat seksi.Ziandra memejamkan mata sejenak, tampak sedang mengumpulkan kesabaran yang tersisa di dasar jiwanya. "Panggil namaku atau jangan bicara sama sekali.""Oke, Bang Ziandra. Galak amat sih, padahal kan baru sah. Mana maharnya cuma logam mulia doang, nggak ada cokelat-cokela
"Ulangi panggilan kamu barusan?”“Pak Kulkas dua pintu.”“Beraninya kamu,” geram Ziandra. "Bapak boleh tinggi, boleh ganteng, dikit sih menurut saya, tapi jangan sombong ya. Saya memang kayak anak ayam, tapi saya ini anak ayam petarung! Lagian, saya ke sini karena mau nolongin Nenek saya, dan kebetulan mau nolongin Bapak juga biar nggak dianggap jomblo karatan sama ibu Bapak."Nyonya Stella menutup mulutnya, menahan tawa. Belum pernah ada orang yang berani memanggil Komandan Ziandra dengan sebutan 'Kulkas Dua Pintu'."Ma, keluarkan dia. Aku tidak mau menikah dengan gadis yang otaknya hilang separuh," desis Ziandra tajam."Keputusan sudah bulat, Ziandra. Ingat hutang budi kakekmu pada mendiang suami Nenek Sarmila. Jika kamu menolak, Mama akan pastikan karir kamu di dunia militer selesai dan fokus jadi pengusaha," ancam Nyonya Stella tenang namun mematikan. “Mama sudah mengurus berkas pernikahanmu.”Ziandra terdiam. Rahangnya mengeras hingga otot lehernya terlihat menonjol. Ia menatap
Almira menatap Ziandra dengan sorot mata sendu. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu sebelum ia menjadi istri Ziandra. "Ini surat tagihan pasien atas nama Nenek Sarmila,” ucap salah satu pegawai rumah sakit bagian administrasi.“Makasih, Mbak,” jawab seorang gadis cantik meski wajahnya tanpa make-up dan rambut di kuncir seadanya.Lembaran kertas berlogo Rumah Sakit Medika itu tampak seperti vonis hukuman mati di mata Qiana. Deretan angka yang tercetak di sana membuat matanya yang besar semakin melotot, nyaris keluar dari sarangnya.Rp. 185.000.000,00.Almira menelan ludah. Tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Ia memandang pintu ruang ICU tempat Nenek Sarmila terbaring.Nenek Sarmila, satu-satunya manusia di bumi ini yang memberinya nama, memberinya rumah, dan memberinya alasan untuk tetap bernapas setelah ia mengalami kecelakaan setahun lalu tanpa satu pun ingatan di kepalanya."Seratus delapan puluh lima juta..." gumam Almira pada udara kosong. "Gimana cara bayarnya? K
"Ya ampun, Bang Komandan kenapa?!" teriak Almira panik setengah mati melihat tubuh tegap suaminya terjerembab ke atas lantai lobi dalam rumah.Almira langsung berlutut, tangannya menyentuh kening Ziandra yang biasanya sejuk sekeras batu es. "Aduh, panas banget badannya kayak pantat wajan di atas kompor! Ini Abang habis ikut latihan militer apa habis ikut lomba debus di gurun pasir sih?!"Dengan susah payah, Almira memapah dan mengangkat tubuh berat Ziandra naik ke atas sofa panjang di ruang tengah. Napasnya tersengal-sengal."Aduh, mana Bi Sumi udah pulang ke rumahnya lagi," gumam Almira celingukan bingung. "Ok, tenang Almira, rileks. Anggap aja ini lagi evakuasi korban perang ganteng."Almira bergegas mencari kotak obat di lemari ruang tengah. Setelah membongkar isinya, ia mengeluarkan sebotol obat penurun panas dosis tinggi. Ia kembali ke sisi sofa, berlutut di samping wajah suaminya yang tampak luar biasa pucat namun tetap terlihat menawan."Bang, bangun, Bang, " bisik Almira, mene
"Jika kamu terbukti terlibat kriminal, mungkin aku akan melakukannya," sahut Ziandra tanpa keraguan, nadanya sedingin es yang membekukan atmosfer di dalam mobil.Kalimat itu menghantam dada Almira, menciptakan getaran dramatis yang menguras emosi di balik senyumnya yang mendadak kaku. Detik itu, sebuah dilema besar mulai berakar di hatinya, haruskah ia terus mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya, atau tetap menjadi 'Almira yang amnesia' demi bisa tetap berada di sisi pria ini?Almira langsung mengerucutkan bibirnya, menutupi rasa sesak yang sempat mampir dengan celetukan konyolnya yang khas. "Abang tega banget sih! Nggak ada romantis-romantisnya pisan jadi suami. Jawab yang enakan didenger gitu napa, Bang. Anggap aja ini lagi main sinetron azab!""Misalnya?" Ziandra mengerutkan kening, menatap istrinya dengan tatapan bingung sekaligus lelah."Aku akan menjagamu dengan segenap jiwaku, Sayang, bahkan jika seluruh dunia memburumu!" sambung Almira dengan nada yang sengaja dibuat me
Bisikan Ziandra di dekat telinganya terasa hangat, namun sekaligus mengirimkan sinyal bahaya yang membuat bulu kuduk Almira meremang. Di dalam kabin mobil taktis yang kedap suara itu, suasana mendadak berubah menjadi sebuah ruang interogasi berjalan yang sangat dramatis."Aku nggak tahu. Aku nggak sempat kenalan," jawab Almira sekenanya, mencoba memasang wajah sepolos mungkin sambil mengeratkan pelukannya di leher Ziandra, berpura-pura masih lemas. "Bang, aku masih syok berat, jangan diinterogasi dulu dong. Ini jantung aku masih jedag-jedug kayak speaker hajatan tahu."Ziandra menghembuskan napas berat. Karakter dinginnya tidak mudah luntur oleh akting sang istri. Dengan gerakan efisien, ia meraih sebotol air mineral dari holder di dekat kemudi lalu membukakan tutupnya."Ini, minum," Ziandra menyodorkan air mineral itu ke depan wajah Almira.Mata Almira langsung berbinar-binar menggemaskan. Ia menerima botol itu dengan kedua tangan, lalu menatap Ziandra dengan tatapan penuh binar cint
"Non Almira mau pergi?" tanya Bi Sumi, matanya membulat cemas melihat Almira yang sudah rapi dan tampak terburu-buru.Almira mengangguk mantap sambil membetulkan tas selempangnya. "Aku mau ketemu sama Nyonya Stella, Bi.""Apa sudah izin sama Pak Ziandra?""Nggak usah, Bi. Aku kan mau ketemu sama i
"Kepalaku rasanya mau pecah."Ziandra duduk di ujung meja dengan seragam dinas yang belum sepenuhnya lengkap. Sebelah tangannya memegang koran laporan pagi, sementara tangan lainnya sesekali mengambil makanan tanpa benar-benar menikmati rasanya. Sejak semalam pikirannya tidak tenang. Memikirkan Al
Ucapan Ziandra meluncur begitu saja, jujur, dingin, dan telak menghantam ulu hati Almira. Kenapa begitu sulit mencairkan bongkahan es yang ada di hadapannya? Suasana kamar yang tadinya dipenuhi candaan absurd mendadak berubah drastis. Atmosfernya mendingin, menyisakan rasa sesak yang tak kasatmata
Fokus Ziandra mendadak terbelah antara gairah dan kecurigaan militer.Almira menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Ziandra dengan kerutan di dahi, tampak heran dengan pertanyaan suaminya."Aku istrimu, Bang. Memangnya siapa lagi?" sahut Almira polos, sebelum ekspresinya berubah sedetik kemu







