Mag-log in"Beraninya dia pergi begitu saja."Mata Ziandra terpaku pada lembaran kertas di tangannya. Tulisannya rapi, bergaris tipis, namun rasanya seperti menghantam dadanya hingga sesak. Senyum manis Almira semalam, desah napasnya yang tertahan, hingga pelukan erat yang terasa begitu penuh rasa—semuanya mendadak terasa seperti sebuah lambaian tangan perpisahan yang disamarkan dengan sangat sempurna."Dia pergi meninggalkanku? Aku harus mencarinya. Aku butuh penjelasan," gumam Ziandra rendah sambil meremas kertas di tangannya hingga remuk.Ia tidak membuang waktu. Dengan gerakan cepat dan sigap ala militer, ia menyambar celana serta kemeja dinasnya yang berserak di lantai. Pikirannya berputar liar, menyusun setiap potongan teka-teki yang selama ini sengaja ia abaikan demi menjaga senyum polos istrinya."Pipa besi? Bekas sabetan pisau berpola lurus di tangan? Mikro-tracker?"Semua jawaban itu menghantam logikanya sekaligus. Almira bukan sekadar ketakutan. Almira bukan sekadar kehilangan ingata
Tubuh Almira seketika menegang kaku. Matanya membulat lebar, gerakannya terhenti mendadak seolah terpaku, napasnya tercekat di kerongkongan. Rasa cemas perlahan merayap menyelimuti hatinya.“Serius, Bang?” ucap Almira pelan namun berusaha tetap tenang, berjuang sekuat tenaga agar tidak terlihat gugup sedikit pun.Ziandra mengangguk perlahan. “Iya. Aku sendiri baru menemukannya tadi.” Ia menatap wajah Almira lekat-lekat, lalu bertanya lembut namun penuh selidik. “Selama aku pergi, tidak ada orang asing yang datang ke sini, kan?”Almira menelan ludah, pipinya perlahan memerah meski ia berusaha menyunggingkan senyum paling tenang. Jantungnya berdegup kencang—bukan hanya karena ketakutan, tapi juga karena tatapan Ziandra yang begitu tajam dan dekat.“Nggak ada kok, Bang… tenang saja,” jawabnya pelan, sedikit tercekat namun segera menyambung dengan nada manja yang menggoda. “Cuma ada Abang saja yang boleh masuk ke sini dan ke hati aku.”Tanpa menunggu jawaban, tangan kecilnya perlahan naik
"Sersan Irwan! Apa yang terjadi? Kenapa telepon Anda tidak aktif?!"Irwan yang masih duduk di sofa langsung menelan ludah dengan susah payah, sementara jemarinya bergetar hebat menggenggam ponsel. Matanya melirik panik ke arah Almira. Gadis itu berdiri tepat di sampingnya sambil mengangkat ponsel lain. Di layar ponsel tersebut sudah tertulis kalimat dengan huruf besar yang sangat jelas."M-MAAF, KOMANDAN! TADI PONSEL SAYA JATUH. BATERAINYA KENA AIR."Almira menggerakkan telunjuknya, memberi isyarat agar Irwan membaca persis seperti yang tertulis..Irwan menarik napas panjang."M-maaf, Komandan! Tadi ponsel saya jatuh baterainya kena air."Hening sesaat. Lalu terdengar suara Ziandra yang jauh lebih pelan. "Baterai kena air?"Irwan memejamkan mata. "Iya. Siap."Ziandra memotong sebelum ia sempat menyelesaikan kalimat. "Ponsel dinas militermu itu waterproof sampai kedalaman lima puluh meter, Sersan Irwan."Keringat dingin langsung mengucur di pelipis Irwan. Mulutnya terbuka, tetapi tidak
Zena ikut terdiam. Ia mengenal reputasi Mayor Ziandra jauh sebelum menjadi bagian dari jaringan Red Viver. Seorang komandan yang tidak pernah mengandalkan emosi, melainkan logika Viver dan itu jauh lebih menakutkan."Kita harus lebih berhati-hati mulai sekarang," bisik Zena."Ya. Sangat berhati-hati."Sementara itu...Di gang sempit.Salah seorang prajurit kembali berlari mendekati Ziandra. "Komandan! Tidak ada temuan berarti.""Di sini juga nihil.""Area belakang bersih.""Sisi utara juga tidak ada."Semua laporan terdengar sama: tidak ada apa pun.Ziandra memandang langit beberapa saat, kemudian mengambil keputusan. "Sudah."Seluruh prajurit langsung berdiri tegak. "Siap!""Kita kembali ke markas.""Siap!"Semua mulai bergerak menuju kendaraan masing-masing. Namun baru beberapa langkah meninggalkan lokasi, mata tajam Ziandra menangkap pantulan cahaya kecil di sela retakan trotoar. Kilau itu nyaris tidak terlihat. Ia langsung berhenti."Tunggu."Dave ikut menghentikan langkah. "K
“Selena selalu tahu apa yang harus dia lakukan.” Tim pembersih Red Viver yang dikirim oleh Selena setelah menerima sinyal radar darurat langsung melompat keluar dan bergerak cepat bagaikan bayangan.Dengan efisiensi tinggi, anggota Red Viver mengangkut empat orang pingsan tersebut, menyingkirkan pecahan kaca, menderek mobil sedan yang hancur, dan menyapu bersih seluruh area. Sementara itu, Almira dan Zena dengan cekatan memindahkan tubuh Adrian yang masih pingsan ke posisi dibangku belakang. Zena alias Bi Sumi duduk di kursi kemudi lalu membawa mobil pergi. Ketenangan tidak berangsur lama. Adrian mulai tersadar! Kepalanya berkunang-kunang sembari memegangi tengkuknya yang berdenyut nyeri."Aduh... kepala saya... sakit? Apa yang terjadi?" gumam Adrian linglung.Almira langsung menengok kebelakang mengubah raut wajah garangnya dalam satu detik menjadi mode 'gadis polos nan teraniaya'."Dokter Adrian! Ya ampun, Dokter nggak apa-apa?!" pekik Almira histeris dengan wajah kaget setengah
“Sepertinya sudah terjadi sesuatu”Ziandra langsung mematikan panggilan tanpa ragu. Dengan kening berkerut dalam, ia segera mencari kontak lain dan menekan tombol panggil. Sifat telitinya membuat naluri militernya terus berdering menuntut kepastian.Di tempat lain, telepon genggam Sersan Irwan bergetar nyaring. Irwan yang sedang memegang kunci Inggris langsung mengangkatnya cepat."Siap, Komandan!" jawab Irwan tegas."Bagaimana keadaan disana? Almira aman?" tanya Ziandra langsung tanpa basa-basi, suaranya berat dan penuh intonasi menuntut.Irwan menelan ludah, merasa gugup setengah mati. "M-mohon maaf yang sebesar-besarnya, Komandan! Saya... saya saat ini sedang tidak berada di pos pantau."Alis Ziandra menyatu erat, matanya mengeras bagai baja. "Maksudmu?""Anu, Komandan, tetangga sebelah rumah target tiba-tiba minta bantuan darurat. Pipa airnya bocor parah dan rumahnya kebanjiran. Kasihan, Beliau sedang hamil tua dan sendirian di rumah. Jadi saya bantu sebentar untuk membetulkan pi
"Maaf, Nona. Pak Ziandra sudah berangkat," jawab Sumi pelan. Senyum di wajah Almira langsung runtuh. Secepat kilat, bibir mungil yang tadi melengkung indah itu kini berubah menjadi cemberut minor. Bahunya sedikit turun, seperti balon yang kempes perlahan. "Sudah berangkat?" ulangnya, masih tidak
Almira menoleh, matanya berbinar meskipun batuk-batuk karena asap. "Oh, Bang Komandan! Bangun? Maaf, Bang, sedikit insiden teknis." "Insiden teknis, Bang Komandan?" Kening Ziandra mengkerut. “Apa maksudmu?” "Iya, kompor sama wajannya ngajak perang, Bang. Padahal aku cuma mau bikin nasi goreng ce
"Oh... jadi ini alasannya?" gumam Almira dengan nada bicara yang tiba-tiba melas namun penuh pengertian yang salah alamat."Pantas saja gaun satin 'LC ala sugar baby’' aku nggak mempan. Ternyata sainganku bukan pelakor, tapi pemain bek tengah.""Almira, jangan berpikiran macam-macam. Dave hanya ter
"Paket pelet semar mesem ampuh, gak ya?"Almira menghela nafas panjang saat duduk menatap dirinya di depan cermin. Ucapan Nyonya Stella terus terngiang di telinga. Rambut panjangnya di gerai, make up tipis hasil tutorial dari youtube berhasil dilakukan. Hanya satu misinya yang belum berhasil, yait







