LOGINSheren memendam amarah atas perkataan Devon. “Aku mengandung anakmu, sedangkan Nazha mengandung anak pria misterius yang nggak jelas!”“Sheren aku tak mau berdebat denganmu, keluar dari kantorku, jangan kamu temui Nazha!”perintah Devon“Kamu harus bertangung jawab atas perbuatanmu, atau, aku sebarkan foto kebersamaan kita di kamar hotel,”ancam SherenDevon tersenyum getir, “Aku merasa kamu telah merencanakan niat busuk terhadapku, seharusnya aku tidak memelihara ular di kantorku,”sarkas Devon“Devon..”gertak Sheren menatap sinis Devon“Pergi Sheren , sudah kukatakan dari awal, aku tak takut dengan semua ancamanmu,”usir DevonSheren melangkah keluar, telapak tangannya mengepal, lalu melangkah pergi.Devon mendesah kasar , mulai gelisah, bukan ancaman Sheren yang ia pikirkan tapi Nazha.“Aku harus bicara pada Nazha sebelum Sheren berbicara padanya,”gumam Devon dengan langkah lebar keluar ruangan.Benar firasat Devon, saat ini Sheren sudah menemui Nazha.“Aku hamil, anak Devon jadi mun
Nazha menutup pintu dengan sangat kencang, jantungnya berdetak cepat,amarahnya membuncah, bukan pada Devon tapi pada Sheren, dia merasakan jika Sheren memperdaya Devon, kisah orang tuanya akan terulang lagi dan ia tak akan menyerah begitu saja.Ceklek..pintu terbuka terlihat Devon diambang pintu menatap nanar Nazha yang terlihat menahan marah.“Sheren mendatangimu?”tanya Devon“Iya ,dia mengatakan banyak hal, dan aku tak bisa menahanya, aku seret dia keluar dari apartemen,”jawab Nazha“Aku juga mengeluarkannya dari Dev’group.”“Kamu memecatnya Dev?”“Iya. Dan ia mengancamku akan menututku, tapi dia tak punya bukti apapun, Sheren mengatakan jika aku menarik paksa masuk ke dalam kamar, aku sudah menyuruh Andi memeriksa cctv hotel, tapi kenyataannya cctv sedang dalam perbaikan selama tiga hari tak berfungsi,”jelas Devon“Aku percaya padamu, lebih baik sesaat kita lupakan masalah ini, bagaimana jika kita makan malam diluar,”ajak NazhaDevon tersenyum ke arah Nazha menarik tubuhnya ke dal
Nazha terdiam di dalam kamarnya, menyakinkan dirinya jika Sheren memang merencanakan hal buruk.’Kamu berhasil Sheren, tapi aku tak menyerah, selama Devon menyangkalnya aku tak menyerah pada tipu muslihatmu, kamu mengunakan taktik yang sama seperti ibumu ,’batin NazhaSementara itu Devon menghubungi Andi.“Bagaimana apa kamu sudah melihat cctv, lorong kamar hotel?”tanya Devon“Maaf pak Devon cctv dalam perbaikan selam tiga hari.”jawab Andi tentu saja ia berbohong“Ck…”decian kesal keluar dari bibir Devon tak menyadari jika ia telah dikelabui Andi.Devon menutup ponselnya menatap kamar Nazha yang tertutup rapat, lalu pria berwajah tegas dan tampan itu keluar dari unit apartemenya. Kini mobil jeebnya menuju kantor Dev ‘group, disana ia mendapati Sheren sedang bekerja seakan ia tak terpengaruh oleh kejadian semalam.“Sheren, datang keruanganku!”perintah DevonSehren hanya mengganguk lalu berjalan ke arah ruangan Devon, setelah pintu ruangan tertutup Devon mulai bicara.“Aku tidak yakin aka
Sementara itu Nazha bersama dengan Salma keduanya berbincang ringan di sebuah kafe dekat apartemen.“Bagaimana keadaan kandunganmu?”tanya Salma terpancar kebahagian sambil meraba perut datar Nazha“Sehat , Bu Salma, kurang tujuh bulan lagi lahir,”jawab Nazha“Syukurlah, Naz…anggaplah aku sebagai ibumu, kamu bisa berbicara apa saja aku akan selalu mendengarkanmu,”Nazha hanya terdiam menatap wanita berusia senja tapi masih terlihat bugar dan cantik“Terima kasih Bu Salma. Salama ini tidak ada orang terdekatku yang mengatakan seperti itu, dan sekarang rasanya aneh, kita baru saja saling mengenal, tapi mengapa aku merasa nyaman saat berada didekatmu,”suara Nazha terdengar lirih.“Aku…merindukan seorang putri sepertimu, “jawab SalmaDeringan ponsel terdengar di dalam tas Nazha, dengan segera ia meraih ponselnya, dan melihat Sheren memangil video call, dengan malas Nazha mengangkatnya.“Hai Naz..saat ini aku bersama Devon, dia menodaiku Naz..”suara tangisan Sheren pecah, lalu terlihat Dev
Nazha kembali ke apartemen kakinya melangkah pelan menyusuri lorong berjalan menuju unit apatemennya, wajahnya terlihat bahagia, karena merasa hidupnya akan kembali berwarna, hatinya diselimuti kebahagian, terlebih hubungannya dengan Devon nyaris sempurna, semakin hari Nazha semakin merasakan jika Devon mencintainya.“Aku harus berterima kasih pada Meira, selain mendonorkan jantungnya, ia juga memberiku seorang suami yang baik,”gumam Nazha sambil melangkah menuju pintu apartemen yang saat ini sudah berada didepannya, dibukanya pintu dan ia terkejut disana ada Sheren dan Andi, yang sedang berbincang dengan Devon“Hai Naz..kamu sudah pulang, “sapa Devon melempar senyum“Selamat malam semuanya, “salam Nazha“Malam Bu Nazha, kami datang ke apartemen karena ada masalah pekerjaan yang harus diselesaikan,”ucap Andi“Tidak mengapa , lanjutkkan saja, aku akan buatkan sesutu untuk kalian,”jawab Nazha bergegas menuju dapur.Sheren mengikuti Nazha.”Aku akan membantumu, membuat sesuatu, kebetul
“Iya Andi, targetku waktu itu adalah Devon, tapi kamu yang terjebak, aku menyesal, kejadian malam itu adalah kesalahanku,”jawab Sheren“Keterlaluan kamu!”“Apa aku salah jika menginginkan Devon, pria mapan kaya raya, aku khawatir dengan masadepanku, aku tak memiliki apapun , aku tak mau menjadi gelandangan, aku iri pada Nazha, ia ,menikah dengan Devon pria tampan dan kaya pemilik perusahaan,”ungkap Sheren sambil menangis.“Pergi dari hadapanku Sheren, aku tak akan membantumu mengugurkan janin itu, pikirkan lagi, penawaranku masih sama, aku akan bertangung jawab!”tegas Andi“Andi kamu akan menyesal, aku lebih baik mati!”ancam Sheren lalu keluar dari unit apartemen dengan berlari.Andi tampak galau, ia takut jika Sheren melakukan hal konyol, dengan cepat Andi menyusul langkah Sheren dan benar saja wanita itu menuju rooftop apartemen.“Dasar gila, apa dia mau bunuh diri,”gumam Andi segera menyusul SherenSheren sampai di roof top dan langsung menuju dan naik pagar pembatas siap untuk ter







