Share

Bab 4

Author: Alana Karin
last update publish date: 2026-05-25 15:16:25

"Aku ngga tahu tuan. Tiba-tiba Naren terbangun gitu aja." Kania berusaha melepas bagian tubuhnya itu dari mulut Naren, namun bayi itu enggan melepaskannya.

Bagas terus memperhatikan Naren termasuk memperhatikan bagian tubuh perempuan itu juga, dan napasnya terasa tercekat. Buah dada Kania terlihat begitu menggoda, tampak padat dan bervolume. Kulitnya yang putih tampak bersih dengan warna merah muda yang kontras di puncaknya. Hingga membuat tubuh pria itu menegang dengan cepat.

Tentu saja ia jadi tidak terkontrol begini, karena statusnya yang menduda membuat ia tidak lagi bisa merasakan kehangatan.

"Apa ASInya keluar?" Tanya Bagas.

Kania menggeleng. "Ngga, ini Naren sepertinya kangen sama ibunya makanya dia langsung anteng walaupun ga ada ASInya. Soalnya saya udah cek, dia nggak lagi buang air, atau demam. Saya kasih botol susunya juga nggak mau. Tapi pas begini dia baru anteng."

"Maafkan saya tuan kalau sudah lancang," imbuh Kania. Pertama ia lancang sudah menyusui Naren. Kedua ia lancang menyebut-nyebut ibu Naren.

Namun Bagas tidak terlihat tersinggung sama sekali.

"Kenapa harus minta maaf?"

"Karena saya udah menyusui Naren. Soalnya tadi saya bingung. Ini spontan aja."

Bagas tidak merespon dia malah duduk di sofa, kakinya ia silangkan sambil membuka tablet di tangannya.

"Yasudah lanjutkan saja," balas Bagas berusaha cuek.

Kania pun kembali fokus, ia malu terus menerus di perhatikan pria itu. Seumur hidup ia belum pernah privasi tubuhnya di lihat orang lain. Tapi sekarang peduli apa? Ia sudah terlanjur tercebur, pria itu sudah terlanjur melihatnya.

Ia berusaha menarik Naren namun bayi itu malah menggigit putingnya, Kania mendesah secara refleks.

"Ahh..."

Suara itu otomatis mengambil perhatian Bagas karena ruangan ini sangat sunyi dan desahan Kania berhasil menggodanya. Pria itu mengangkat wajahnya menatap Kania lagi. Dan sekarang Naren sudah melepaskan puncak Kania. Bagas bisa melihat puncak merah muda itu terlihat basah dan menegang. Pemandangan itu membuat Bagas serasa ingin bertukar posisi dengan Naren.

Ingin menyentuhnya dan menghisapnya. Sudah lama tidak mendapat belaian, ia merasa hampir gila.

Napas Bagas semakin berat dan memburu. Ia benar-benar semakin kesulitan menahan dirinya.

Di suguhi pemandangan seperti ini jelas saja membuat ia kehilangan kendali. Tubuh bagian bawahnya mulai bereaksi.

Kania dapat melihat arah tatapan pria itu. Dan ia hanya bisa menunduk.

"Ekhem!" Ia pun berdehem untuk menetralkan dirinya.

"Jika nyeri tidak usah di paksa. Saya akan disini jagain Naren kalau-kalau dia nangis lagi."

Kania merapikan pakaiannya sambil terbengong. "Tuan tidur disini?"

Bagas mengangguk.

Kania tertegun dan jadi salah tingkah.

"Kamu tidur saja."

Kania mengangguk kemudian meletakkan Naren kembali ke box bayi setelah bayi itu berubah tenang. Lalu Kania berjalan ke arah tempat tidurnya. Tak lupa juga membalut tubuhnya dengan selimut.

Saat dini hari Kania terbangun untuk buang air kecil. Dia menoleh melihat Narendra yang tampak anteng. Namun pandangannya tak lama teralihkan pada sosok pria yang terlelap di sofa.

Kania menuruni tempat tidurnya dan berjalan mendekati pria itu. Ia tak tega membiarkannya kedinginan. Kania mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh Bagas.

Sebait senyum Kania ulas tipis di bibirnya.

Ia terus memandanginya, pria itu memang benar-benar tampan. Pantaslah jika putranya juga tampan.

Tapi ia jadi heran. Kenapa rumah tangganya bisa berakhir? Selain tampan dia punya segalanya. Keluarga mereka sudah sempurna dengan adanya buah hati mereka.

Setelah berpikir terlalu dalam Kania pun berjalan ke arah kamar mandi. Dan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya, ia khawatir jika Bagas akan terbangun dan memergoki jika ia sudah memandangnya.

Saat waktu hampir subuh Bagas terbangun dia menggeliat sejenak dan melihat sebuah selimut yang membalutnya, ia merasa semalam ia tidak mengenakan selimut apapun. Pandangannya seketika tertuju pada tubuh Kania yang kedinginan di atas kasur.

Dia tahu gadis itu pasti yang sudah memberinya selimut. Senyum sinis berusaha ia tahan di bibirnya.

Bagas mengambil selimut itu dan berjalan ke arah Kania. Tetapi ia harus mengumpat karena gadis ini tak bisa menjaga diri. Gaun yang dia kenakan tersingkap hingga ke atas, menampilkan paha dalamnya yang sangat mulus.

Bagas menahan napasnya kemudian membuang pikiran joroknya. Dan melempar selimut itu ke tubuh Kania.

Ia melihat Narendra sejenak dan merasa lega karena sekarang Naren sudah ada yang menjaganya.

***

Hari pun terus berlalu. Tidak terasa Kania sudah bekerja setengah bulan di rumah ini. Ia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Juga bisa mengenali sikap Narendra, Mbak Ratih, juga Bagas.

Ternyata pria itu sangat sibuk, kegiatannya cukup banyak. Dia di percayai keluarganya menjadi penerus juga pimpinan bisnis keluarga.

Bahkan akhir-akhir ini dia juga sering pulang malam. Hingga membuatnya jarang berinteraksi dengan Narendra maupun Kania.

"Tuan kenapa ya mbak sekarang pulangnya malam terus?" tanya Kania pada Ratih saat mereka sedang mengajak Narendra berjemur di bawah sinar matahari pagi.

"Tuan itu semenjak berpisah dengan mantan istrinya sering kali sibuk dan jarang pulang. Mungkin itu cara dia mengalihkan kekosongannya."

Kania terdiam. Namun di dalam hati dan kepalanya sangat berisik, di penuhi berbagai pertanyaan. Ia sangat penasaran dengan kehidupan pria itu.

Sungguh hati dan kepalanya tengah bertarung saat ini.

Ia tahu selama ini Bagas pasti kesepian, tidak ada lagi yang menemani tidur.

"Kasihan, Tuan Bagas harus melupakan kesepiannya dengan terus sibuk," batin Kania.

"Tapi kok bisa sibuk terus? Walaupun kesepian kalau cuma sibuk aja dan nggak pernah luapin keinginannya pasti lama-lama bakal menumpuk. Bukannya orang kaya itu bebas. Mereka punya banyak uang. Jadi walaupun kesepian mereka tetap bisa penuhi kebutuhan batinnya dengan sewa cewek," batinnya kembali. Tentu saja ia tahu kehidupan gelap para konglomerat. Sebab selama ini beberapa teman kampusnya ada yang bekerja menjadi simpanan orang kaya.

Matahari makin meninggi, terik merenggut dinginnya pagi. Saat ini Narendra sedang tidur siang. Kania memiliki kesempatan untuk istirahat. Dia duduk di lantai sambil melipat pakaian Naren, kerjaan ini tak menguras energi tapi cukup membuatnya ngantuk.

Ponselnya berdering membuyarkan kantuknya, ia melihat nama Bi Asih muncul di layar dan ia menerima panggilan itu. "Halo bi?"

Hening beberapa saat, tak ada respon dari Bi Asih hingga kemudian terdengar suara isakan yang tertahan darinya. Membuat Kania makin cemas.

"Bi, ada apa? Kenapa diem, jangan buat aku jadi kepikiran dong, ayo cerita," desaknya.

"Kan, masmu. Masmu kritis, Kan. Dia butuh operasi ginjal," ucap bi Asih.

Tubuh Kania seketika lemas. Darahnya seperti berhenti mengalir. Baru saja kemarin Angga bilang ingin semangat dan terus hidup untuknya, tapi hari ini ia kembali mendengar ujian untuknya. Rasanya seperti tak berhenti ujian yang di beri untuk mereka.

Air mata seketika berkumpul di pelupuk mata. "Jadi, jadi kita harus gimana bi?"

"Dokter saranin harus segera operasi, dan yang penting harus ada dananya."

"Berapa bi dananya?"

"Kalau rinciannya di total tadi bibi hitung 600 juta, Kan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 78

    Sekitar pukul sepuluh pagi, Bagas yang seharusnya berada di kantor tiba-tiba pulang kembali bersama Bastian.Pada saat yang sama suasana lantai atas sedang sepi. Tuan dan Nyonya Besar pergi ke rumah eyang, sebagian pelayan sibuk di area bawah. Karena itu, kedatangan Bagas yang tampak pucat langsung mengundang bisik-bisik kecil.Bastian segera mencari Kania di halaman belakang. Setelah menemukan gadis itu sedang bersama Naren ia segera berkata. "Tuan Bagas meminta nona ke atas. Naren biar saya yang jaga."Kania sempat melihat ke arah beberapa pelayan yang mulai curiga, tapi ia tak punya pilihan. Ia tetap melangkah ke lantai dua, menuju kamar Bagas.Begitu pintunya terbuka, ia melihat Bagas sudah duduk di sofa dengan pakaian rumahan kaus hitam longgar dan celana training. Wajah pria itu tampak letih, dan dari cara ia bersandar, Kania tahu Bagas tidak sedang baik-baik saja.Namun yang membuat Bagas terfokus justru perempuan itu yan

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 77

    Bagas mendinginkan pikirannya dengan berenang ke dalam kolam renang.Air dingin adalah satu-satunya hal yang sanggup meredam rasa gerah sekaligus amarah yang masih menempel di tubuhnya.Ia kembali menyelam, membiarkan fokusnya beralih sejenak ke aktivitasnya itu.Saat Bagas naik ke permukaan lagi, suara langkah terdengar mendekat."Mas," panggil Damar sambil mengangkat sebotol anggur merah.Bagas hanya menoleh sekilas, lalu kembali berenang tanpa menjawab.Damar duduk di kursi panjang dekat kolam, membuka tutup botol, dan menuang minuman itu ke dua gelas.Ia menunggu tanpa terburu-buru.Tak butuh waktu lama sampai Bagas menepi. Ia mengambil handuk, mengusap rambut dan wajahnya sebelum berdiri di depan Damar."Kamu dari mana?" tanya Bagas sambil meraih gelas yang disodorkan."Tadi ke ruang baca. Ngobrol sama Mbak Kania," jawab Damar."Ngobrol?"Bagas meneguk anggur itu. Hangatnya la

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 76

    Kania merasakan jantungnya berhenti sesaat. Ia menelan ludah."Yang mas nggak suka?""Saya nggak suka hal-hal yang terlalu romantis," jawab Bagas tanpa ragu."Saya suka langsung ke inti. Tanpa basa-basi."Kania mengangguk pelan, mencoba tetap tenang meski hatinya terasa dicengkeram."Kalau pacar baru mas... minta sesuatu, boleh?" tanyanya hati-hati.Bagas tertawa kecil, lalu mengamati ekspresi Kania dengan pandangan yang sangat tajam."Saya juga suka membaca pergerakan lawan bicara saya," ucapnya santai.Kania mengerutkan kening. "Jadi mas tahu aku mau apa?"Bagas tidak menjawab dengan kata-kata.Ia hanya mengangkat dagunya sedikit, seolah mengajaknya berhenti bermain teka-teki."Kamu mau uang berapa?" tanya Bagas akhirnya, to the point.Kania terdiam sejenak... lalu mengucapkannya."Aku mau seratus juta, Mas."Ia butuh melunasi hutang kakaknya pada bosnya itu.

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 75

    Di lantai kamarnya suasana tak lagi menegangkan seperti ketika masih ada eyang. Kania benar-benar bisa bernapas dengan lega lagi.Sampai ketika akhirnya derap langkah terdengar mendekat.Ia melihat siluet Bagas mendekat. Semula masih jauh hingga kini sudah ada di depannya. Pria itu menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Naren yang sedang bermain.Seolah pria itu tak ingin mengabaikan sedetik kesempatan yang ada dengan mencium Kania. Perempuan itu tahu dirinya tak lebih dari sebatas pelampiasan. Beberapa saat mereka berpagutan. Kania kembali menatapnya. Namun ia tetap berusaha tenang.Tapi tangan Bagas sudah menggerayangi pinggangnya di balik seragam nanny yang dia kenakan. Dengan cepat Kania menahannya."Kamu bukannya pergi ke tempat kerja kenapa malah balik lagi? Gak langsung ke kantor?" Tanya Kania."Karena saya masih kangen sama pacar baru saya,""Aku gak kemana-mana, mas. Mas kerja aja."Bagas kemud

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 74

    Hingga pagi ini Kania masih terngiang dengan momen semalam. Setiap kali ia memejamkan mata, momen itu kembali muncul, ketika bagaimana Bagas menyentuhnya, membisikan kalimat-kalimat bernada sensual yang mampu membakar jiwa asmara mudanya. Bahkan ia tak bisa tidur dengan nyenyak hanya karena memikirkan pria itu. Sungguhan jika mengingat rencananya untuk membakar amarah nyonya besar dengan masuk ke keluarga Wiratmodjo akan semakin dekat. Jika itu terjadi ia akan sangat merasa puas karena ketakutan nyonya besar itu berhasil ia wujudkan. Namun ia masih tidak terlalu terlena, hanya karena kata ajakan Bagas untuk menjalin asmara. Ia masih menyisakan sedikit ruang kewaspadaan. Ruang itu mengingatkannya bahwa Bagas adalah bencana yang mempesona, memabukkan, tapi dapat menghancurkan jika ia membiarkan dirinya terhempas terlalu jauh. Ia boleh saja tersentuh oleh perlakuannya. Ia boleh saja gemetar setiap kali mengingat

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 73

    "Aku cuma manusia biasa wajar kalau punya rasa. Tapi aku sadar diri, mas. Perasaan aku salah." Bersamaan dengan itu Bagas melepas dagu Kania. "Mas boleh menjauh setelah ini. Mas boleh singkirin aku." Namun setelah beberapa saat Bagas malah menarik tubuh itu ke dalam pelukannya bukannya menyuruhnya pergi atau memberi peringatan. Dia memeluknya erat seolah memang mereka adalah sepasang kekasih. Kania terkejut, dia hanya mematung sampai Bagas menempelkan hidungnya ke hidung Kania hingga napas mereka menyatu. "Mas gak marah?" Bagas menggeleng. "Di umur segini saya udah gak mau main-main soal perasaan sama perempuan. Saya cuma butuh perempuan yang nurut, perempuan yang rasa sayangnya ke saya sebesar rasa sayangnya ke anak saya. Tapi kenapa di saat saya butuh semua itu justru kamu yang datang, dan cuma kamu yang memenuhi semua

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 6

    Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matan

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 5

    Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hi

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 2

    "Ma–maaf, maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja."Kania buru-buru meminta maaf dengan suara gemetar.Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria yang baru saja melepas kacamata hitamnya. Namun, begitu tatapan mereka bertemu, Kania langsung menunduk lagi, tidak berani me

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 3

    Kania mengangguk. Napasnya ia tahan karena jarak wajah mereka terasa begitu dekat. Ia juga tak menyangka jika pria yang tidak sengaja ia siram tadi adalah Bagas Adipati Wiratmodjo–bosnya saat ini. "Iya, tuan. Sekali lagi maafkan saya." Bagas tidak membalas dia hanya menghela napasnya yang bisa K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status