LOGIN"Aku ngga tahu tuan. Tiba-tiba Naren terbangun gitu aja." Kania berusaha melepas bagian tubuhnya itu dari mulut Naren, namun bayi itu enggan melepaskannya.
Bagas terus memperhatikan Naren termasuk memperhatikan bagian tubuh perempuan itu juga, dan napasnya terasa tercekat. Buah dada Kania terlihat begitu menggoda, tampak padat dan bervolume. Kulitnya yang putih tampak bersih dengan warna merah muda yang kontras di puncaknya. Hingga membuat tubuh pria itu menegang dengan cepat. Tentu saja ia jadi tidak terkontrol begini, karena statusnya yang menduda membuat ia tidak lagi bisa merasakan kehangatan. "Apa ASInya keluar?" Tanya Bagas. Kania menggeleng. "Ngga, ini Naren sepertinya kangen sama ibunya makanya dia langsung anteng walaupun ga ada ASInya. Soalnya saya udah cek, dia nggak lagi buang air, atau demam. Saya kasih botol susunya juga nggak mau. Tapi pas begini dia baru anteng." "Maafkan saya tuan kalau sudah lancang," imbuh Kania. Pertama ia lancang sudah menyusui Naren. Kedua ia lancang menyebut-nyebut ibu Naren. Namun Bagas tidak terlihat tersinggung sama sekali. "Kenapa harus minta maaf?" "Karena saya udah menyusui Naren. Soalnya tadi saya bingung. Ini spontan aja." Bagas tidak merespon dia malah duduk di sofa, kakinya ia silangkan sambil membuka tablet di tangannya. "Yasudah lanjutkan saja," balas Bagas berusaha cuek. Kania pun kembali fokus, ia malu terus menerus di perhatikan pria itu. Seumur hidup ia belum pernah privasi tubuhnya di lihat orang lain. Tapi sekarang peduli apa? Ia sudah terlanjur tercebur, pria itu sudah terlanjur melihatnya. Ia berusaha menarik Naren namun bayi itu malah menggigit putingnya, Kania mendesah secara refleks. "Ahh..." Suara itu otomatis mengambil perhatian Bagas karena ruangan ini sangat sunyi dan desahan Kania berhasil menggodanya. Pria itu mengangkat wajahnya menatap Kania lagi. Dan sekarang Naren sudah melepaskan puncak Kania. Bagas bisa melihat puncak merah muda itu terlihat basah dan menegang. Pemandangan itu membuat Bagas serasa ingin bertukar posisi dengan Naren. Ingin menyentuhnya dan menghisapnya. Sudah lama tidak mendapat belaian, ia merasa hampir gila. Napas Bagas semakin berat dan memburu. Ia benar-benar semakin kesulitan menahan dirinya. Di suguhi pemandangan seperti ini jelas saja membuat ia kehilangan kendali. Tubuh bagian bawahnya mulai bereaksi. Kania dapat melihat arah tatapan pria itu. Dan ia hanya bisa menunduk. "Ekhem!" Ia pun berdehem untuk menetralkan dirinya. "Jika nyeri tidak usah di paksa. Saya akan disini jagain Naren kalau-kalau dia nangis lagi." Kania merapikan pakaiannya sambil terbengong. "Tuan tidur disini?" Bagas mengangguk. Kania tertegun dan jadi salah tingkah. "Kamu tidur saja." Kania mengangguk kemudian meletakkan Naren kembali ke box bayi setelah bayi itu berubah tenang. Lalu Kania berjalan ke arah tempat tidurnya. Tak lupa juga membalut tubuhnya dengan selimut. Saat dini hari Kania terbangun untuk buang air kecil. Dia menoleh melihat Narendra yang tampak anteng. Namun pandangannya tak lama teralihkan pada sosok pria yang terlelap di sofa. Kania menuruni tempat tidurnya dan berjalan mendekati pria itu. Ia tak tega membiarkannya kedinginan. Kania mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh Bagas. Sebait senyum Kania ulas tipis di bibirnya. Ia terus memandanginya, pria itu memang benar-benar tampan. Pantaslah jika putranya juga tampan. Tapi ia jadi heran. Kenapa rumah tangganya bisa berakhir? Selain tampan dia punya segalanya. Keluarga mereka sudah sempurna dengan adanya buah hati mereka. Setelah berpikir terlalu dalam Kania pun berjalan ke arah kamar mandi. Dan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya, ia khawatir jika Bagas akan terbangun dan memergoki jika ia sudah memandangnya. Saat waktu hampir subuh Bagas terbangun dia menggeliat sejenak dan melihat sebuah selimut yang membalutnya, ia merasa semalam ia tidak mengenakan selimut apapun. Pandangannya seketika tertuju pada tubuh Kania yang kedinginan di atas kasur. Dia tahu gadis itu pasti yang sudah memberinya selimut. Senyum sinis berusaha ia tahan di bibirnya. Bagas mengambil selimut itu dan berjalan ke arah Kania. Tetapi ia harus mengumpat karena gadis ini tak bisa menjaga diri. Gaun yang dia kenakan tersingkap hingga ke atas, menampilkan paha dalamnya yang sangat mulus. Bagas menahan napasnya kemudian membuang pikiran joroknya. Dan melempar selimut itu ke tubuh Kania. Ia melihat Narendra sejenak dan merasa lega karena sekarang Naren sudah ada yang menjaganya. *** Hari pun terus berlalu. Tidak terasa Kania sudah bekerja setengah bulan di rumah ini. Ia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Juga bisa mengenali sikap Narendra, Mbak Ratih, juga Bagas. Ternyata pria itu sangat sibuk, kegiatannya cukup banyak. Dia di percayai keluarganya menjadi penerus juga pimpinan bisnis keluarga. Bahkan akhir-akhir ini dia juga sering pulang malam. Hingga membuatnya jarang berinteraksi dengan Narendra maupun Kania. "Tuan kenapa ya mbak sekarang pulangnya malam terus?" tanya Kania pada Ratih saat mereka sedang mengajak Narendra berjemur di bawah sinar matahari pagi. "Tuan itu semenjak berpisah dengan mantan istrinya sering kali sibuk dan jarang pulang. Mungkin itu cara dia mengalihkan kekosongannya." Kania terdiam. Namun di dalam hati dan kepalanya sangat berisik, di penuhi berbagai pertanyaan. Ia sangat penasaran dengan kehidupan pria itu. Sungguh hati dan kepalanya tengah bertarung saat ini. Ia tahu selama ini Bagas pasti kesepian, tidak ada lagi yang menemani tidur. "Kasihan, Tuan Bagas harus melupakan kesepiannya dengan terus sibuk," batin Kania. "Tapi kok bisa sibuk terus? Walaupun kesepian kalau cuma sibuk aja dan nggak pernah luapin keinginannya pasti lama-lama bakal menumpuk. Bukannya orang kaya itu bebas. Mereka punya banyak uang. Jadi walaupun kesepian mereka tetap bisa penuhi kebutuhan batinnya dengan sewa cewek," batinnya kembali. Tentu saja ia tahu kehidupan gelap para konglomerat. Sebab selama ini beberapa teman kampusnya ada yang bekerja menjadi simpanan orang kaya. Matahari makin meninggi, terik merenggut dinginnya pagi. Saat ini Narendra sedang tidur siang. Kania memiliki kesempatan untuk istirahat. Dia duduk di lantai sambil melipat pakaian Naren, kerjaan ini tak menguras energi tapi cukup membuatnya ngantuk. Ponselnya berdering membuyarkan kantuknya, ia melihat nama Bi Asih muncul di layar dan ia menerima panggilan itu. "Halo bi?" Hening beberapa saat, tak ada respon dari Bi Asih hingga kemudian terdengar suara isakan yang tertahan darinya. Membuat Kania makin cemas. "Bi, ada apa? Kenapa diem, jangan buat aku jadi kepikiran dong, ayo cerita," desaknya. "Kan, masmu. Masmu kritis, Kan. Dia butuh operasi ginjal," ucap bi Asih. Tubuh Kania seketika lemas. Darahnya seperti berhenti mengalir. Baru saja kemarin Angga bilang ingin semangat dan terus hidup untuknya, tapi hari ini ia kembali mendengar ujian untuknya. Rasanya seperti tak berhenti ujian yang di beri untuk mereka. Air mata seketika berkumpul di pelupuk mata. "Jadi, jadi kita harus gimana bi?" "Dokter saranin harus segera operasi, dan yang penting harus ada dananya." "Berapa bi dananya?" "Kalau rinciannya di total tadi bibi hitung 600 juta, Kan."Malam itu rumah sudah sunyi, Kai sudah tertidur pulas di kamar bersama Naren. Hanya Kania yang sibuk sendiri di dapur, sedang sibuk membuat smoothies. Tanpa ia sadari, seseorang sudah berdiri di belakangnya. Dua tangan besar lalu melingkar di pinggangnya. Kania sedikit terkejut, tapi tidak benar-benar kaget. Ia sudah hafal siapa pemilik pelukan itu. "Mas..." Bagas merapatkan tubuhnya, dagunya menyentuh bahu Kania. Nafasnya hangat di dekat telinga perempuan itu. Tiba-tiba Bagas menunduk, bibirnya menyentuh belakang telinga Kania. Sentuhan itu membuat tubuh Kania merinding. Refleks ia menoleh ke belakang. "Mas..." protesnya pelan. Bukannya menjauh, Bagas justru menepuk ringan bokongnya. Kania langsung menjengit. "Ih!" Bagas tersenyum kecil, jelas menikmati reaksinya. Kania menghela napas, mencoba kembali fokus. Ia mengambil mangkuk smoothies yang sudah jadi, lalu mengangkatnya sedikit ke arah Bagas. "Mas kamu mau?" tawarnya. Bagas melirik sekilas, lalu menggeleng tipis. "Ma
"Karena Mama udah jahat ke Kania. Mama udah gelapin uang buat mereka selama bertahun-tahun." "Kamu anak Mama!" teriaknya. "Harusnya kamu di pihak Mama, bukan mereka!" "Aku gak bisa jadi kayak Mama. Aku gak bisa jadi jahat." "Aku laporin Mama... supaya semua ini selesai. Supaya rasa sakit mereka terbayar." Egi merasa bingung. Disatu sisi Sintia memang bersalah namun, rasanya tidak adil jika hanya dia yang dijadikan alat untuk menebus semuanya. Ia juga bersalah, ia jauh lebih bersalah bahkan. Seharusnya ia yang mendapat hukuman lebih banyak. Sore itu suasana rumah Kania terasa tenang. Kai sedang tertidur di dalam kamar, sementara Kania duduk di ruang tengah dengan secangkir teh yang mulai mendingin di tangannya. Pikirannya masih dipenuhi banyak hal terutama tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Bel pintu berbunyi. Ia bangkit, lalu membuka pintu. Di sana Eliana berdiri. "Mbak?" Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sebuah map cokelat di tangannya. "Ak
Pagi itu di kafe milik Angga aroma kopi memenuhi ruangan, sementara Kania duduk di salah satu sudut, menatap layar laptopnya ketika Kai sedang di ajak jalan-jalan oleh Angga di tempat ini. Seseorang masuk melangkah mendekatinya. Kania tidak memperhatikannya hingga ia baru menyadari ketika sosok itu telah berdiri di depannya. Kania refleks mengangkat kepalanya, dan mendapati Eliana dengan wajah yang masih menyimpan sembab. Mungkin menangis karena hal semalam. Keduanya saling menatap dalam keheningan, saling meragu, tetapi kekosongan itu pudar saat Eliana mulai berbicara. "Saya gak nyangka ya kalau kita ternyata saudara." Kania mencoba mencerna kalimat itu. "Duduk dulu, mbak." Akhirnya Eliana memilih duduk di depan Kania. Suara Eliana terdengar ketus, tapi tidak sepenuhnya benci. "Ibu saya bukan pelakor," ucap Kania mengantisipasi sebelum Eliana menambahkan banyak hal. "Kebetulan hubungan ibu saya dan ayah kamu gak direstui. Jadi ibu saya disembunyikan dan ayah kamu nikah dengan
Semua orang langsung diam. "Saya melakukan ini bukan karena uang." Ia melirik sekilas ke arah Bagas. Cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mengerti jika suaminya itu bukan orang yang kekurangan apa pun. Wajah Sintia langsung mengeras. "Saya cuma mau satu hal," lanjutnya. "Setidaknya kalian mengakui kesalahan dan meminta maaf sebagai manusia yang punya hati karena sudah pernah melukai hati ibuku, menyakiti dia bahkan sampai akhir hidupnya dia harus menelan sakit atas perbuatan kalian. Dan kalian gak pernah nunjukin diri untuk sekedar mengatakan kata maaf." Suasana hening sekejap. Egi bahkan tidak menyangka jika sudah tidak ada. Tatapan semua orang tertuju pada Kania—lalu perlahan bergeser ke Bagas. Pria itu akhirnya maju satu langkah. "Baik," ucap Bagas pelan. "Kalau memang kita mau menyelesaikan ini, kita selesaikan dengan jelas." Sintia langsung menyilangkan tangan, bersiap menyerang. Tapi Bagas bahkan belum selesai bicara. "Kania tidak meminta uang," lanjutnya. "It
Hingga satu pekan berita itu beredar Egi masih belum membuat keputusan. Malah keluarga Egi membuat ancaman. Pagi ini Kania kembali mendapati kabar jika Bi Asih buntuti oleh mobil hitam dan orang bersenjata saat ia pergi ke pasar. Dengan begitu Angga pun memutuskan untuk menyebar bukti beberapa foto masalalu Egi dan ibunya, berikut juga foto Angga dan Kania semasa bayi ketika di gendong oleh Egi. Angga menggunakan akun pribadinya sendiri dalam mengungkap foto itu. Yang kemudian di teruskan oleh akun-akun besar lainnya. Karena itu dengan cepat keluarga Egi pun menyoroti akun Angga, mereka mencari Angga dan mengirimi pesan berupa ancaman pada Angga. Angga tidak gentar sama sekali dengan ancaman itu, ia malah memanfaatkan momen ini dengan pamer potretnya dengan Kania saat ini. Karena potret itu membuat Sintia mencari tahu keberadaan mereka. Tapi bukannya Sintia melancarkan niat untuk melenyapkan Angga dan Kania, justru ia yang merasa mendapat ancaman dari keduanya. Dengan munculnya pen
Sebuah berita gosip baru saja menggemparkan publik. Berita itu seperti sebuah teror yang mengerikan bagi keluarga Hendrawan. Karena merusak reputasi keluarga Hendrawan dengan cepat. Berita itu memuat skandal Hendrawan yang diduga memiliki dua anak dari perempuan lain. Dan kabarnya dua anaknya itu sudah besar dan siap menuntutnya jika tidak segera membuat pernyataan mengakuinya di depan publik. Sontak saja berita itu membuat Sintia dan keluarga besar Egi Hendrawan merasa muram. Sebab mereka merasa berita lama itu sudah terkubur lama, dan mereka pikir tidak akan pernah naik ke permukaan setelah mereka sempat menekan dan mengancam Kartika habis-habisan. Tapi sekarang? Justru berita itu kembali naik bahkan langsung membuat heboh di media. Sintia dan Egi sudah berusaha menarik berita itu namun kekuatan mereka ternyata tidak mampu mengalahkan berita tersebut. Sehingga mereka yakin bahwa di balik layar munculnya berita ini pasti ada orang yang begitu berkuasa. Eliana yang tidak tahu apa-
Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matan
Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hi
Kania mengangguk. Napasnya ia tahan karena jarak wajah mereka terasa begitu dekat. Ia juga tak menyangka jika pria yang tidak sengaja ia siram tadi adalah Bagas Adipati Wiratmodjo–bosnya saat ini. "Iya, tuan. Sekali lagi maafkan saya." Bagas tidak membalas dia hanya menghela napasnya yang bisa K
"Kan, biaya tagihan rumah sakit mamasmu sudah membengkak beberapa hari ini. Ini bibi bayarkan dulu pakai uang pinjaman dari bank keliling. Soalnya, bibi sudah nggak punya simpanan lagi."Ucapan bibinya tempo hari masih terngiang jelas di kepala Kania. Sudah sebulan terakhir, kakaknya bolak-balik ru







