LOGINKania mengangguk. Napasnya ia tahan karena jarak wajah mereka terasa begitu dekat. Ia juga tak menyangka jika pria yang tidak sengaja ia siram tadi adalah Bagas Adipati Wiratmodjo–bosnya saat ini.
"Iya, tuan. Sekali lagi maafkan saya." Bagas tidak membalas dia hanya menghela napasnya yang bisa Kania rasakan menerpa wajahnya. Pria itu kemudian berdiri. Dia melepas jasnya, berusaha menghilangkan rasa kesal yang masih tersimpan dalam dirinya. "Kamu sudah tahu kan apa saja tugasmu disini?" "Ya, mbak Ratih sudah memberitahu saya, tuan," jawabnya sopan. "Coba katakan?" "Saya harus, rawat Naren dan sayangi Naren." Bagas manggut-manggut. "Selain itu saya juga mau kalau saya butuh bantuan kamu, kamu harus ada untuk saya." Kania menelan ludah, apa maksud dari pernyataan pria itu? "Saya mau kamu bisa sayangi anak saya, bukan cuma karena kamu mau uang, saya ga mau kamu kerja semena-mena." Kania menelan ludahnya lagi. Kata-kata Bagas terasa seperti menamparnya. "Baik, Tuan." "Saya ga mau kamu egois. Suasana hati kamu itu berpengaruh untuk anak saya. Usahakan kamu seneng terus biar mood untuk merawat anak saya juga bagus," kata Bagas lagi. "Tuan, tenang aja. Asal tuan ga ngacaukan mood saya, saya pasti bakal seneng terus." Bagas menghentikan gerakannya seketika. Tatapannya langsung mengunci pada wajah Kania. Ia tidak menyangka gadis itu berani mengucapkan kalimat seperti itu padanya. Sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. Namun segera kembali datar. "Berapa usia kamu?" tanya Bagas. Sekarang ia melepas kancing kemejanya. Kania menoleh dan tertegun, secara perlahan dada telanjang pria itu nampak. Bagas dapat melihat tatapan menanti dimata Kania. Ia tersenyum tipis. Hingga tangannya berhenti sampai kancing tengah saja. Bagas sengaja ingin melihat respon Kania. Dan benar gadis itu kini terlihat kecewa lantaran ekspektasi tatapannya tak terpenuhi. "Kamu belum jawab pertanyaan saya." "Umur saya 20 tahun, Tuan." Bagas mengerutkan keningnya. "Kamu masih begitu muda, apa kamu sudah pengalaman punya anak?" tanya Bagas karena ia pikir perempuan di depannya ini sudah pengalaman merawat anaknya sendiri hingga mau menerima pekerjaan ini. "Saya belum menikah, Tuan," jawab Kania. Bagas mengerutkan keningnya. "Saya suka anak kecil, jadi saya sudah biasa mengurus anak kecil walaupun belum pernah menikah atau hamil." Melihat Naren nyaman dengannya membuat ia sedikit lega. Hening sejenak. Hanya terdengar tawa kecil Narendra. "Saya harap kamu bisa bekerja dengan baik dan betah bekerja disini." "Baik, Tuan." Kania mengangguk. Bagas kemudian tidak berkata apa-apa lagi dia segera mengambil jasnya dan berlalu keluar dari kamar itu. Kania menarik napasnya setelah melewati satu proses yang menegangkan, namun meski begitu senyumnya terbit di bibirnya lantaran kejadian memalukan siang tadi bisa di abaikan dengan cepat oleh pria itu. Tidak lama Bagas pergi, pintu itu kembali terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul. Kania tahu itu ibu Bagas. "Naren lagi apa?" "Naren sebentar lagi dia akan tidur, Nyonya," jawab Kania. Wanita itu terus memperhatikan Kania. Rautnya terlihat sedikit masam apalagi setelah tahu Bagas baru saja masuk ke kamar ini. "Kamu kalau malam jangan pakai pakaian terbuka. Soalnya kalo malam anak saya suka tiba-tiba masuk ke kamar ini untuk tengokin Naren," katanya dengan nada sedikit tak suka. Kania tertegun. Namun bukan merasa takut atau cemas justru insting liarnya muncul, ia merasa tertantang. Seolah ingin membuktikan apa benar pria itu sering masuk tiba-tiba, dan bagaimana reaksi pria itu padanya jika ia mengenakan pakaian terbuka. "Iya, nyonya saya mengerti." Angguk Kania. Wanita itu tidak berkata lagi ia kemudian berdiri dan pergi dari sana. *** Saat malam Naren sudah tidur, Kania mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Tadinya ia hendak membuktikan perkataan nyonya besar, tapi Kania urungkan. Karena ia berpikir bosnya itu orangnya sedikit cuek. Jadi jika ia menggodanya maka hanya akan mempermalukan dirinya. Kania mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Bi Asih. "Bi, aku barusan dapat tawaran kerja magang di kantor. Aku bisa kerja sambil kuliah. Kayanya aku mau ngekost aja biar lebih hemat di ongkos. Kebetulan di kerjaan ini aku juga udah dapat makan." Tidak lama kemudian ia mendapat balasan dari Bi Asih. "Apa ngga kemahalan kalau ngekost? Takutnya kamu ga bisa atur keuangan." Kania menyadari ada kecemasan dari kalimat Bi Asih. "Bisa kok bi, bisa. Lagian aku udah gede, masa aku mau terus-terusan andelin mas Angga si. Pokoknya aku disini pengen belajar mandiri, sambil bantu-bantu mas Angga juga." Tak cukup sampai disitu Kania pun menambahkan untuk meyakinkan. "Bibi juga nggak usah khawatir. Aku pasti bisa jaga diri kok. Aku ngga akan terpengaruh sama pergaulan luar." Akhirnya Bi Asih menyetujui niat Kania setelah berhasil di buat yakin. *** Sampai pukul satu dini hari ia belum bisa tidur. Tiba-tiba Narendra terbangun dan menangis. Kania menuruni tempat tidur dan mendekatinya. Ia sudah mengecek kondisi Naren, dia tidak sedang buang air. Tubuhnya juga tidak demam. Begitu ia memberi botol susunya Naren tetap tidak mau meminum susunya. Ia menggendongnya namun Naren terus menangis, ia sudah lelah dan mengantuk. Akhirnya ia mencoba membuka gaunnya dan menyusui Naren. Mungkin karena nyaman, akhirnya Naren terdiam. Walaupun ia merasa sedikit tak nyaman, tapi ia senang karena Naren bisa berhenti menangis. Pada saat itu tiba-tiba pintu kamarnya terbuka bayangan tubuh tinggi seorang Bagas muncul di depan pintu. "Kenapa Naren?" Pertanyaan pria itu berhenti tepat ketika dirinya melihat penampilan Kania yang seperti ini. Kania kaget karena pria itu sedang menatap ke arahnya, ke arah tubuhnya yang terbuka, dengan tatapan yang lekat.Kania tidak menyangka jika dirinya akan menjalin hubungan dengan pria yang masih berstatus suami orang ini. Bagaimana kelanjutan hidupnya? Ia benar-benar merasa cemas, dan takut jika dirinya akan di kasuskan dalam hubungan mereka. Sebenarnya jika Bagas akan rujuk dengan Frisca itu bukan masalah untuknya. Hanya saja ia khawatir kalau suatu saat perbuatannya itu akan di ketahui dan berujung membawa masalah besar untuknya. Tentu ia tidak mau perbuatannya itu di ketahui orang-orang. Apalagi kakaknya? Ia tidak mau Angga tahu. Ia tidak mau Angga syok dan jatuh sakit karenanya. Seusai sarapan selesai, Kania ikut berjibaku bersama para pelayan membereskan meja makan. Ia bisa melakukan ini tentu karena Naren bersama ibunya. "Nanti setelah ini kamu pindah semua barang-barangmu ke kamar pelayan. Kamar Naren akan di pakai Frisca dan Naren untuk bermain,” ucap nyonya Helena yang kini mendekati Kania. Kania mengangguk. "Baik, Nyonya." Setelah itu ia segera naik ke lantai atas ke kam
"Maaf, maafkan saya, Nyonya, Tuan." Kania kikuk, dia lalu berjongkok untuk membersihkan tumpahan susu itu yang mengotori lantai. Sambil menggigit bibirnya ia mengelap noda itu dengan tisu. Pandangan Bagas tertuju pada Kania sebentar. Bisa-bisanya ia sampai tidak memperhatikan Kania di ruangan ini. Akhirnya masalah pribadi yang seharusnya hanya di ketahui oleh mereka berdua bisa di ketahui oleh Kania. "Siapa yang menyuruh kamu ada disini? Keluar!" perintah Bagas pada Kania. Nadanya terdengar seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Padahal sebelum ini Bagas baru saja menggodanya. Tapi mau tidak mau, Kania memang harus segera pergi. Ia sadar akan posisinya, ia tidak boleh berharap di perlakukan baik setiap saat oleh Bagas. "Maaf, tuan. Saya tadi sedang mau siapkan susu." "Biar Frisca yang siapkan susunya." Kania mengangguk patuh. "Baik, kalau begitu saya permisi, tuan." Gadis itu segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Sementara Bagas kembali menata
"Aku ... aku lagi masak nyonya." Kania segera mengambil piring berisi nasi gorengnya dan menaruh ke atas meja makan. "Maaf nyonya aku izin makan sebentar." Karena ia pikir Naren sedang bersama ibunya jadi ia punya waktu untuk sarapan. Nyonya besar seakan tak percaya dia memicingkan matanya dan memindai seisi dapur dengan tatapannya, seolah ingin tahu apa yang sedang di sembunyikan Kania. "Tadi saya dengar ada suara orang lain disini, suara pria. Kamu gak lagi bohongi saya kan?" "Nggak, Nyonya. Aku gak bohong. Tadi aku emang masak sambil telponan sama kakakku. Mungkin itu yang nyonya kira suara pria." Nyonya Helena terus melirik kesana kemari tak percaya dengan yang Kania jelaskan, ia masih percaya jika ada orang lain disini. Sekarang tatapannya ke arah bawah meja itu. Nyonya Helena mendenguskan napasnya karena tak mendapatkan apa-apa dari arah kabinet yang tertutup tirai itu. "Setelah selesai segera balik ke atas siapkan perlengkapan Naren sebelum Frisca bangun. Jangan sa
"Kenapa diem hem? Katanya mau kerja, ayo kita ke kamar," imbuh Bagas. Kania langsung memasukan nasi goreng yang baru matang ke dalam piring. Kemudian memutar tubuhnya menatap Bagas. Tangan pria itu masih memeluk pinggang Kania. "Mas. Apa kamu tahu kalau di kamar kamu saat ini ada mbak Frisca?" terang Kania. Pria itu seketika melepas pelukannya di pinggang Kania lantaran agak kaget. "Nggak mungkin lah." "Mas lihat aja sendiri ke atas kalau gak percaya." Bagas terdiam, tapi Kania tidak mungkin berbohong. "Kapan dia kesini?" tanya Bagas akhirnya. "Tadi malem, waktu mas pergi." Kania menjawab dengan tenang. "Yaudah, kalau begitu disini saja." Kania tidak segera merespon ia memilih menaruh nasi goreng yang baru selesai dia buat itu ke dalam piring. Wangi nasi goreng itu semerbak di dalam ruangan ini. "Kamu jam segini udah sarapan?" tanya Bagas. Bagas tentu saja tahu jika Kania tidak makan sejak kemarin sore, karena moodnya yang tidak bagus setelah mendapat perlakuan tak me
Nyonya besar muncul dari belakang tubuh Kania dengan tiba-tiba. Gerakan tubuhnya yang kuat membuat Kania sedikit terdorong ke samping. Akhirnya Kania pun terpaksa menjauh. "Ma!" Frisca langsung menyapa dan memeluk tubuh Nyonya besar ketika wanita itu muncul. "Frisca, sayang." Bak menerima hadiah di saat dirinya baru akan membujuk Frisca. Nyonya besar dengan senang hati langsung membalas pelukan itu dengan lebih erat. "Mama apa kabar?" Suara yang ramah dan lembut Frisca menyapa. Ini pertama kalinya Kania bisa melihat dan mendengar langsung suara Frisca. Dan ternyata perempuan ini hampir mendekati sempurna. Dia cantik, ia sebagai perempuan pun mengagumi kecantikannya. Suaranya, tutur katanya terlihat sopan dan ramah. Visual itu membuat Frisca terlihat seperti perempuan baik-baik yang tidak neko-neko. Jadi apa yang sebenarnya membuatnya berpisah dengan Bagas? "Kabar mama baik. Mama baru saja ingin menghubungi kamu. Karena mama juga kangen sama kamu.""Kamu sendiri gimana
Bagas terdiam, pertanyaannya tadi terjawab. Rupanya yang membuat Kania bersedih adalah ketika perempuan itu tahu statusnya dengan Frsica masih belum resmi bercerai."Ga penting aku tahu dari mana," ujar Kania ketus."Jawab pertanyaan saya Kania?" Bagas mencengkram rahang Kania dan menarik wajahnya agar menatap kearahnya.Kania meringis tapi dia tak memberi jawaban apa-apa. Hingga membuat Bagas tampak geram. Pria itu mencengkram pipi Kania semakin kuat."Saya ga main-main sama kamu. Kamu udah setujui tawaran saya, dan saya udah kasih kamu 600 juta sampai pengobatan kakakmu bisa di proses. Jadi saya harap kamu hanya becanda dengan perkataanmu hari ini ketika tidak ingin berhubungan dengan saya lagi," tekan Bagas membuat pipi perempuan itu merah.Kania meringis kesakitan dia memegangi tangan Bagas berharap pria itu akan melepaskan tangannya dari pipinya. "Sakit, Tuan.""Kamu tahu saya bisa sakitin kamu lebih lagi jika kamu berani bermain-main dengan saya," ancamnya."Saya sudah tahu ruma
Tak lama Kania muncul dengan wajah yang terlihat segar. Kaus milik Bagas yang ia kenakan terlihat kedodoran, menutup sampai ke lututnya."Tuan," sapa Kania.Bagas berbalik. Seolah tahu apa yang sedang Kania nantikan saat ini.Pria itu berjalan memasuki kamar masih dengan menggendong Naren. Kemudian
Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matan
"Ma–maaf, maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja."Kania buru-buru meminta maaf dengan suara gemetar.Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria yang baru saja melepas kacamata hitamnya. Namun, begitu tatapan mereka bertemu, Kania langsung menunduk lagi, tidak berani me
"Kan, biaya tagihan rumah sakit mamasmu sudah membengkak beberapa hari ini. Ini bibi bayarkan dulu pakai uang pinjaman dari bank keliling. Soalnya, bibi sudah nggak punya simpanan lagi."Ucapan bibinya tempo hari masih terngiang jelas di kepala Kania. Sudah sebulan terakhir, kakaknya bolak-balik ru







