Share

Bab 3

Author: Alana Karin
last update publish date: 2026-05-25 15:15:17

Kania mengangguk. Napasnya ia tahan karena jarak wajah mereka terasa begitu dekat. Ia juga tak menyangka jika pria yang tidak sengaja ia siram tadi adalah Bagas Adipati Wiratmodjo–bosnya saat ini.

"Iya, tuan. Sekali lagi maafkan saya."

Bagas tidak membalas dia hanya menghela napasnya yang bisa Kania rasakan menerpa wajahnya.

Pria itu kemudian berdiri. Dia melepas jasnya, berusaha menghilangkan rasa kesal yang masih tersimpan dalam dirinya. "Kamu sudah tahu kan apa saja tugasmu disini?"

"Ya, mbak Ratih sudah memberitahu saya, tuan," jawabnya sopan.

"Coba katakan?"

"Saya harus, rawat Naren dan sayangi Naren."

Bagas manggut-manggut.

"Selain itu saya juga mau kalau saya butuh bantuan kamu, kamu harus ada untuk saya."

Kania menelan ludah, apa maksud dari pernyataan pria itu?

"Saya mau kamu bisa sayangi anak saya, bukan cuma karena kamu mau uang, saya ga mau kamu kerja semena-mena."

Kania menelan ludahnya lagi. Kata-kata Bagas terasa seperti menamparnya.

"Baik, Tuan."

"Saya ga mau kamu egois. Suasana hati kamu itu berpengaruh untuk anak saya. Usahakan kamu seneng terus biar mood untuk merawat anak saya juga bagus," kata Bagas lagi.

"Tuan, tenang aja. Asal tuan ga ngacaukan mood saya, saya pasti bakal seneng terus."

Bagas menghentikan gerakannya seketika. Tatapannya langsung mengunci pada wajah Kania. Ia tidak menyangka gadis itu berani mengucapkan kalimat seperti itu padanya. Sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. Namun segera kembali datar.

"Berapa usia kamu?" tanya Bagas. Sekarang ia melepas kancing kemejanya.

Kania menoleh dan tertegun, secara perlahan dada telanjang pria itu nampak.

Bagas dapat melihat tatapan menanti dimata Kania. Ia tersenyum tipis. Hingga tangannya berhenti sampai kancing tengah saja. Bagas sengaja ingin melihat respon Kania. Dan benar gadis itu kini terlihat kecewa lantaran ekspektasi tatapannya tak terpenuhi.

"Kamu belum jawab pertanyaan saya."

"Umur saya 20 tahun, Tuan."

Bagas mengerutkan keningnya. "Kamu masih begitu muda, apa kamu sudah pengalaman punya anak?" tanya Bagas karena ia pikir perempuan di depannya ini sudah pengalaman merawat anaknya sendiri hingga mau menerima pekerjaan ini.

"Saya belum menikah, Tuan," jawab Kania.

Bagas mengerutkan keningnya.

"Saya suka anak kecil, jadi saya sudah biasa mengurus anak kecil walaupun belum pernah menikah atau hamil."

Melihat Naren nyaman dengannya membuat ia sedikit lega.

Hening sejenak. Hanya terdengar tawa kecil Narendra.

"Saya harap kamu bisa bekerja dengan baik dan betah bekerja disini."

"Baik, Tuan." Kania mengangguk.

Bagas kemudian tidak berkata apa-apa lagi dia segera mengambil jasnya dan berlalu keluar dari kamar itu.

Kania menarik napasnya setelah melewati satu proses yang menegangkan, namun meski begitu senyumnya terbit di bibirnya lantaran kejadian memalukan siang tadi bisa di abaikan dengan cepat oleh pria itu.

Tidak lama Bagas pergi, pintu itu kembali terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul. Kania tahu itu ibu Bagas.

"Naren lagi apa?"

"Naren sebentar lagi dia akan tidur, Nyonya," jawab Kania.

Wanita itu terus memperhatikan Kania. Rautnya terlihat sedikit masam apalagi setelah tahu Bagas baru saja masuk ke kamar ini.

"Kamu kalau malam jangan pakai pakaian terbuka. Soalnya kalo malam anak saya suka tiba-tiba masuk ke kamar ini untuk tengokin Naren," katanya dengan nada sedikit tak suka.

Kania tertegun. Namun bukan merasa takut atau cemas justru insting liarnya muncul, ia merasa tertantang. Seolah ingin membuktikan apa benar pria itu sering masuk tiba-tiba, dan bagaimana reaksi pria itu padanya jika ia mengenakan pakaian terbuka.

"Iya, nyonya saya mengerti." Angguk Kania.

Wanita itu tidak berkata lagi ia kemudian berdiri dan pergi dari sana.

***

Saat malam Naren sudah tidur, Kania mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Tadinya ia hendak membuktikan perkataan nyonya besar, tapi Kania urungkan.

Karena ia berpikir bosnya itu orangnya sedikit cuek. Jadi jika ia menggodanya maka hanya akan mempermalukan dirinya.

Kania mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Bi Asih.

"Bi, aku barusan dapat tawaran kerja magang di kantor. Aku bisa kerja sambil kuliah. Kayanya aku mau ngekost aja biar lebih hemat di ongkos. Kebetulan di kerjaan ini aku juga udah dapat makan."

Tidak lama kemudian ia mendapat balasan dari Bi Asih.

"Apa ngga kemahalan kalau ngekost? Takutnya kamu ga bisa atur keuangan."

Kania menyadari ada kecemasan dari kalimat Bi Asih.

"Bisa kok bi, bisa. Lagian aku udah gede, masa aku mau terus-terusan andelin mas Angga si. Pokoknya aku disini pengen belajar mandiri, sambil bantu-bantu mas Angga juga."

Tak cukup sampai disitu Kania pun menambahkan untuk meyakinkan.

"Bibi juga nggak usah khawatir. Aku pasti bisa jaga diri kok. Aku ngga akan terpengaruh sama pergaulan luar."

Akhirnya Bi Asih menyetujui niat Kania setelah berhasil di buat yakin.

***

Sampai pukul satu dini hari ia belum bisa tidur. Tiba-tiba Narendra terbangun dan menangis. Kania menuruni tempat tidur dan mendekatinya.

Ia sudah mengecek kondisi Naren, dia tidak sedang buang air. Tubuhnya juga tidak demam. Begitu ia memberi botol susunya Naren tetap tidak mau meminum susunya.

Ia menggendongnya namun Naren terus menangis, ia sudah lelah dan mengantuk. Akhirnya ia mencoba membuka gaunnya dan menyusui Naren. Mungkin karena nyaman, akhirnya Naren terdiam. Walaupun ia merasa sedikit tak nyaman, tapi ia senang karena Naren bisa berhenti menangis.

Pada saat itu tiba-tiba pintu kamarnya terbuka bayangan tubuh tinggi seorang Bagas muncul di depan pintu. "Kenapa Naren?"

Pertanyaan pria itu berhenti tepat ketika dirinya melihat penampilan Kania yang seperti ini.

Kania kaget karena pria itu sedang menatap ke arahnya, ke arah tubuhnya yang terbuka, dengan tatapan yang lekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 142

    “Iya, mas. Aku percaya kamu kok. Kamu gak akan lakuin itu,” balas Kania mencoba terlihat biasa saja. Bagas tertegun, jelas saja ia merasa berbeda, tidak biasanya Kania tetap tenang begini. Tidak mendebat seperti biasanya ketika kata-katanya terdengar menyakitkan. “Kamu marah? Saya minta maaf. Saya berjanji tidak akan melakukan hal itu, tadi saya cuma spontan gak berpikir sebelum bicara.” “Cuma kamu satu-satunya yang saya mau, cuma kamu yang terakhir buat saya Kania.” Lanjut Bagas ingin meyakinkan Kania. Kania menghela napasnya. “Iya mas aku ngerti kok. Aku juga gak marah. Aku percaya kamu. Karena itu aku merasa gak perlu mendebat kamu.” Bagas semakin heran. Sejak kapan Kania bisa mempercayainya? Semakin di pikirkan ia malah makin merasa sedang ada yang perempuan ini sembunyikan. Tapi apa? “Nggak, kamu nggak biasanya begini dengan saya.” “Mas, aku marah ke kamu kamu biasanya makin menjadi. Jadi sekarang aku berusaha gak marah sama kamu supaya kita berhenti ribut tapi ka

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 141

    Kania menutup panggilan videonya dengan Bagas secara mendadak, bahkan ketika laki-laki itu sedang butuh di temani untuk menuntaskan dirinya. Ini karena Kania sudah benar-benar lelah dengan hubungannya dengan Bagas. Ia sudah memberi aturan dan perjanjian dengan Bagas sebelum menikah tetapi laki-laki itu tidak mau menepatinya. Ia tidak mau di paksa untuk melakukan hal-hal berbau seksual, termasuk ketika Bagas ingin melakukannya lewat video. Namun laki-laki itu tidak pernah mau menghargainya. Dia tetap ingin memaksanya. Ia sudah lelah dengan hubungan yang begini. Sejak awal ia tidak ingin menerima pernikahan ini. Tapi karena satu hal itu ia terpaksa harus menerimanya. “Linda!” Seruan Kania itu membuat Linda segera datang masuk ke kamar. "Kan, kamu udah selesai telponnya?" tanya Linda memastikan. Kania hanya menjawab dengan anggukan. "Kenapa cepat? Ada masalah?" Linda tidak segera mencecar sahabatnya itu dengan pertanyaan soal kehamilannya. "Aku ngerasa kesempata

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 140

    "Nggak ada, cuma ngobrol biasa," balas Kania, masih dengan posisinya yang terduduk lemas. Linda mengulur air putih untuknya. Kania pun meneguknya untuk meredakan kecemasan di tubuhnya tadi. "Nggak usah bohong? Saya bisa lihat dari nada kamu ada yang udah kamu sembunyiin dari saya." Bagas tidak lantas menerima begitu saja penjelasan Kania. Sementara Kania terdiam, menelan ludah. Ia malah menjadi waspada, apakah Bagas sudah tahu tentang kehamilannya? Bagaimana jika dia tahu? Meskipun akhirnya dia harus tahu, tapi ia merasa belum siap untuk tahu reaksinya. "Nggak ada mas, apa yang udah aku sembunyiin? Kalau seluruh hidup aku udah kamu obrak-abrik." Terdengar hela napas dari Bagas. "Kamu masih marah ya sama saya tentang obrolan saya sama Frisca kemarin?" "Aku nggak marah." Selalu saja begini jawaban Kania ketika Bagas bertanya. Di saat Bagas sedang mencari celah untuk melihat kecemburuan Kania, perempuan ini malah menutupinya dan membuat dia kesal. Bagas berdecak.

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 139

    Kania tidak langsung menjawab, sebenarnya beberapa kali Bagas masih suka menyebalkan, meski sudah berusaha untuk lebih baik. Entah, ini karena ia yang terlalu sensitif dengannya atau bagaimana ia tidak tahu. Yang jelas ia malas untuk membahas dan mendengar namanya kembali dalam waktu dekat ini. "Udah nggak, Mas," balas Kania karena ia malas untuk membahas-bahas lagi pria itu. Tujuannya kesini karena ingin mengistirahatkan pikirannya tentang pria itu. Pikirannya terlalu lelah, badannya terlalu capek terus membahasnya. Tujuan ia kembali belajar selain untuk melanjutkan kehidupannya ia ingin mencari pengalihan dari memikirkan pria itu. Namun Angga merasa tak yakin. "Benar? Kalau udah nggak, kenapa kamu malah milih kuliah jauh gini? Mas tahu ini pilihan eyang putri. Tapi mas juga tahu kamu." "Iya, mas. Tapi aku cuma lagi pengen nenangin diri aja. Cari suasana baru. Kamu tahu kan disana itu cuacanya penat." Angga mengerti, ada yang tak ingin Kania ceritakan. Tapi ia merasa perlu tah

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 138

    Keesokan harinya Bagas datang ke rumah eyang putri. Sudah lama Bagas tidak mengunjungi rumah eyang putri. Namun hari ini ia mengunjunginya setelah sekian lama, lebih tepatnya setelah ia merasa kesepian ditinggalkan oleh Kania beberapa hari. Ia tidak sabar ingin segera menemui Kania akhir pekan. Tetapi ia masih perlu menunggu beberapa hari lagi. "Ada apa Bagas?" tanya eyang putri kepada cucunya itu. Bagas lalu duduk di sebelahnya menatap eyang putri dengan wajah tegang, sebelum akhirnya dia berkata, "eyang, aku mau ajak negosiasi soal kemauan kuliah Kania." "Kenapa?" Eyang putri mengerutkan keningnya. "Eyang kan yang udah tentuin kampus Kania? Kenapa eyang lakuin itu. Aku nggak bisa LDR eyang, aku bisa gila kalau jauhan kayak gini terus." Bagas menundukkan wajahnya yang lesu. Helaan napas terdengar dari eyang, wanita tua itu meneguk teh hangatnya lalu berkata, "itu sudah jadi resiko kamu. Kamu gak inget gimana kamu memperlakukan Kania selama itu?" Bagas tidak bisa menjawa

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 137

    Bagas lalu mengangkat wajahnya menceritakan kejadian pagi tadi saat ia menerima telpon dari Frisca dan berujung di dengar oleh Kania. "Menurut kamu dia marah atau nggak?" tanya Bagas. "Kamu goblok banget si mas. Pacaran udah lama tapi mahami sikap perempuan gak bisa," suara Sebasta sedikit naik pasalnya ia merasa geram. Bagas langsung menatapnya dengan lirikan tajam. "Masalahnya kania beda." "Ya itu karena mas udah sering buat dia kecewa makanya sikap mbak Kania gak bisa di tebak." "Ya terus dia marah apa nggak?" "Ya udah jelas marah lah mas. Lagian mas ngapain coba ngomongnya gitu ke Frisca? Hubungan mas dan Frisca udah berlalu, udah gak perlu di bahas tapi mas ngomong kaya gitu kaya seolah posisi mbak Kania itu gak ada. Seolah-olah mas nyesel. Seolah-olah mas pengen balik ke kehidupan dulu. Kalau aku si dukung mbak Kania," sambung Damar. "Aku juga," sambung Sebasta. "Saya cuma ke bawa suasana gak ada maksud apa-apa. Saya cuma kecewa sama keputusan Kania buat pergi. L

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 6

    Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matan

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 5

    Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hi

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 4

    "Aku ngga tahu tuan. Tiba-tiba Naren terbangun gitu aja." Kania berusaha melepas bagian tubuhnya itu dari mulut Naren, namun bayi itu enggan melepaskannya.Bagas terus memperhatikan Naren termasuk memperhatikan bagian tubuh perempuan itu juga, dan napasnya terasa tercekat. Buah dada Kania terlihat

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 1

    "Kan, biaya tagihan rumah sakit mamasmu sudah membengkak beberapa hari ini. Ini bibi bayarkan dulu pakai uang pinjaman dari bank keliling. Soalnya, bibi sudah nggak punya simpanan lagi."Ucapan bibinya tempo hari masih terngiang jelas di kepala Kania. Sudah sebulan terakhir, kakaknya bolak-balik ru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status