แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Suya
Jordy hanya tersenyum, mengabaikan semua itu dengan santai.

"Bayar."

Saat keluar, mereka berdiri di pintu, dan Nindy bertanya dengan ragu-ragu, "Pak Jordy, waktu kemarin kamu berikan gaunnya kepadaku, wajah Nyonya kelihatan nggak senang."

"Sekarang kan aku sudah ganti baru. Yang lama itu, kalau Nyonya memang suka ...."

"Nggak usah."

Jordy mengisap rokok, asapnya mengaburkan ekspresi di wajahnya.

Hanya suaranya yang terbawa angin dingin, menerpa telingaku.

"Aku juga nggak mau menikah secepat itu."

Setiap penjelasan dan alasan yang pernah dia berikan hancur berkeping-keping di hadapan komentar ringan itu.

Benar.

Ada ribuan alasan, tapi yang paling mendasar hanyalah satu.

Hanya tidak mau saja.

Tidak mau menikah denganku, tidak mau menepati janji. Sesederhana itu.

Nindy menarik napas pelan.

"Tapi, aku lihat di story Nyonya, dia sudah diumumkan tanggal pernikahannya."

"Bukan cuma itu. Bahkan katanya sudah kirim undangan ...."

"Jadi, Nyonya ... mau memaksamu menikah, ya?"

Mendengar itu, senyum Jordy menjadi sedikit dingin.

"Bisa apa dia? Bisanya cuma bawa-bawa ibunya buat mendesakku menikah."

Angin bertiup lebih kencang, daun yang beterbangan menutupi pandangan.

Aku mengencangkan jaketku, memegang gaun pengantin, berbalik pergi.

...

Setibanya di rumah, aku menghubungi toko gaun pengantin, meminta mereka datang ke rumah untuk mengambil gaun dan mengurus pengembalian.

Setelah menutup telepon, aku duduk di depan meja, menatap templat undangan pernikahan di layar komputer.

Huruf berlapis emas, motif yang indah, semuanya persis seperti yang pernah kubayangkan bersama Jordy, hangat dan romantis.

Hanya saja, nama mempelai pria yang tertulis di sana bukan dia.

...

Keesokan paginya, aku membawa undangan yang sudah dicetak, lalu pergi ke rumah sakit, ingin menunjukkannya kepada ibuku lebih dulu agar dia tenang.

Tapi, sesampainya di depan kamar rawat, begitu membuka pintu, aku terdiam.

Jordy dan Nindy sedang berdiri di depan tempat tidur ibuku.

Mereka mengobrol asyik, dan saat melihatku, senyum Nindy semakin lebar.

"Oh, Bu Erika! Kami sudah ngobrol dengan Tante lumayan lama, lho!"

Matanya berkilat dengan rasa bangga dan provokasi.

Amarah mendadak meluap di hatiku, disertai sedikit rasa panik, takut mereka mengatakan sesuatu kepada ibuku.

Aku bergegas maju, berdiri di depan tempat tidur dan menanyai Jordy, "Mau apa kalian datang ke sini? Siapa yang suruh kalian masuk?"

Wajah Jordy sekilas tampak terkejut saat melihatku, lalu segera menjadi dingin dan keras, nada suaranya penuh dengan tuduhan.

"Aku cuma mau jenguk Tante. Kamu kan terus-terusan ngomel kalau kondisi Tante memburuk dan nggak bisa nunggu lebih lama lagi?"

"Erika, maumu apa sebenarnya? Membohongiku dengan kondisi ibumu demi memaksaku menikah? Kamu memang hebat, ya."

Kata-katanya bagaikan pisau tajam yang menusuk-nusuk hatiku, dan membuat ekspresi di wajah ibuku seketika berubah.

Dia menatapku dengan bingung, lalu menatap Jordy, bibirnya bergerak seolah ingin berkata sesuatu, tapi tidak kunjung mengatakannya.

Melihat itu, mataku memerah, dan aku mendorong Jordy, mencoba mengusirnya dari kamar rawat.

"Keluar!"

"Kalian nggak diterima di sini. Keluar!"

Tapi, Nindy tiba-tiba maju ke depan, menarik lenganku. Matanya berkaca-kaca.

"Bu Erika, jangan marah. Kalau kamu masih marah soal gaun pengantin, aku bisa mengembalikannya sekarang juga, oke?"

Suaranya keras, seolah sengaja mengatakannya kepada ibuku di ranjang rumah sakit.

Benar saja, ibuku mengerutkan kening. Dengan lemah, dia mendesak bertanya, "Gaun pengantin apa? Erika, ada apa sebenarnya?"

Jantungku berdebar kencang, dan aku segera menghentikan Nindy, tidak ingin dia melanjutkan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 10

    Jordy mengepalkan tangan, seolah tidak bisa menahan diri lagi."Apa-apaan, dasar bajingan ...."Tepat sebelum dia hendak memukul, polisi tiba.Seperti yang sudah diduga, Jordy pun dibawa pergi.Masalah pun selesai. Aku bergegas masuk ke ruang rawat dan baru bisa merasa lega setelah melihat ibuku baik-baik saja.Beberapa waktu berikutnya, Jordy menjadi tenang setelah ditegur polisi.Tapi, dia sesekali masih mengirimiku pesan, atau muncul dalam hidupku.Suatu hari, Sean mengatakan bahwa dia benar-benar merasa terganggu.Aku pun bertanya padanya, "Jadi, apa rencanamu?"Aku sebenarnya sudah bisa menebak apa yang ingin dia lakukan, dan benar saja, Sean mengusulkan seketika itu juga."Ayo kita liburan, keliling dunia. Bukan cuma buat menenangkan hati, tapi sekaligus menyingkirkan masalah."Kami langsung memulai perjalanan keesokan harinya.Sean membuatkan kartu baru untukku. Yang lama sudah kubuang.Tanpa gangguan Jordy, aku tidak teringat masa lalu lagi. Ditambah dengan perhatian Sean yang

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 9

    Jordy sangat marah dan langsung memecat Nindy.Dia juga menyebarkan nama Nindy agar diblokir di semua perusahaan.Dia sangat marah dan tidak bisa duduk tenang di kantor, lalu mengambil ponselnya untuk meneleponku, tapi nomornya sudah kublokir.Semakin dipikir-pikir, semakin tidak tenang.Akhirnya, dia meminta bantuan seseorang untuk mencari tahu informasi tiket penerbanganku.Setelah tahu aku benar-benar menikah, akal sehatnya kembali hilang.Faktanya, dia tidak pernah bertanya "kenapa" pada dirinya sendiri.Kenapa dia tidak ingin menikah, tapi juga tidak ingin melihatku menikah dengan orang lain.Kontradiktif dan tidak waras....Aku digendong ke dalam kamar.Jordy mengirimiku banyak sekali pesan.Mulai dari ancaman di awal, hingga kemudian berubah, mencoba mengubah pikiranku.Aku tidak mengerti mengapa dia masih merasa berhak mengatakan semua itu.Di akhir, ada satu kalimat dengan nada yang berbeda dari sebelumnya.[Erika, beri aku sepuluh menit, ayo kita bicara.]Aku tidak membalas

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 8

    "Erika, kamu segitu nggak sabarnya?!""Nggak bisa menikah denganku, jadi langsung asal cari orang lain? Ini kan taktik licikmu? Ini memang demi ibumu? Atau sengaja buat mancing emosiku?!"Sean mengerutkan kening, raut wajahnya suram.Dia membungkuk dan menurunkanku dengan lembut."Tunggu sebentar."Lalu, dia menyingsingkan lengan bajunya.Jordy tertawa sinis."Mau adu denganku? Kamu pikir siapa dirimu? Dasar bodoh, nggak sadar sedang dimanfaatkan. Kamu pikir dia suka denganmu? Dia cuma ...."Plak!Tangan Sean yang tadinya sudah terangkat segera ditarik kembali.Dia meraih tanganku dengan panik.Sambil mengerutkan kening, dia berkata, "Kenapa kamu sendiri yang pukul? Kamu sudah terluka.""Tanganmu sakit? Sini aku lihat ...."Jordy yang baru saja menerima tamparan berubah dari marah menjadi terkejut.Dia menatapku tidak percaya."Erika, kamu tampar aku?"Aku menatapnya, entah kenapa, tiba-tiba merasa adegan ini agak lucu.Sambil memikirkannya, aku benar-benar tertawa."Jordy, waktu aku m

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 7

    Mempelai pria dadakan dalam pernikahan ini.Sean Sasongko....Dia menangkapku dengan mantap dan tepat waktu.Meskipun begitu, rasa sakit yang tajam masih terasa di pergelangan kakiku.Bibirku refleks mengaduh.Sean pun berhenti dan bertanya dengan suara pelan, "Mana yang sakit?"Aku memaksakan senyuman dan menegakkan tubuh."Nggak apa-apa, ayo lanjut."Sean tidak berkata apa-apa.Dia hanya menatapku selama dua detik dan berkata pelan, "Peluk aku."Sebelum aku sempat memahami maksudnya, dia memegang belakang lututku dan menggendongku.Pemandangan ini sontak memicu sorak-sorai dan tepuk tangan dari penonton.Di tengah semarak suasana dan hujan kelopak bunga, Sean mantap menggendongku kembali ke tengah aula.Aku masih terkejut, tapi tubuhku ditopang dengan kokoh.Sean berbisik, "Kamu bisa bersandar padaku.""Kalau memang sakit, bilang saja. Nggak apa-apa pernikahannya ditunda sebentar, yang terpenting keselamatanmu."Aku mengangguk.Tapi, keinginan agar ibuku melihat pernikahan yang semp

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 6

    ...Pernikahan berlangsung lancar sesuai jadwal.Musik pun mengalun.Dengan mengenakan gaun pengantin rancangan desainer, aku melangkah memasuki aula pernikahan, diiringi dua gadis penabur bunga.Aku melangkah perlahan, sementara kelopak bunga dan kupu-kupu beterbangan di udara, membawa aroma harum yang lembut, lalu mendarat di ujung kerudungku, bahuku, dan tanganku.Saat hampir sampai di tengah panggung, melalui celah di kerudung seputih salju, aku melihat ibuku di bawah panggung.Dia bersandar di pelukan ayahku, air mata mengalir perlahan.Tapi, itu adalah air mata bahagia.Pikiranku kembali ke hari sebelumnya.Aku berdiri di depan pintu kamar rawat sambil mendorong koper, ragu-ragu untuk melangkah.Tepat pada saat itu, pintu terbuka.Ayahku melihatku, dan senyum bahagia muncul di wajahnya.Sebelum sempat menyapaku, dia lebih dulu melihat koper besar di kakiku.Dia terdiam. Sejenak, seolah teringat sesuatu, dia mengambil koper dari tanganku dan bertanya, "Kamu lapar? Ayo makan sama A

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 5

    Tapi, dia menepis tanganku, nada bicaranya sengaja dibuat polos."Tante, Bu Erika suka gaun pengantinku. Karena nggak kuberikan, dia jadi marah.""Tapi kan, itu dipesankan Pak Jordy khusus untukku. Kalau aku berikan pun ukurannya nggak akan muat."Begitu kata-katanya selesai, wajah ibuku langsung pucat pasi.Dia jelas menangkap makna di balik ucapan Nindy.Dadanya naik-turun dengan hebat, menatap Jordy dengan mata penuh kekecewaan dan kesedihan.Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba memegangi dadanya dan batuk hebat, kesulitan bernapas."Ibu! Ibu kenapa?!"Aku panik, menopang Ibu dan berteriak, "Dokter! Dokter!"Dokter dan perawat segera datang, dengan terburu-buru mendorong ibuku ke ruang operasi.Pintu ruang operasi tertutup, lampu merah menyala, menyilaukan mataku hingga terasa perih.Nindy berjalan menghampiriku, masih memasang nada polos."Bu Erika, apa aku salah bicara lagi? Aku cuma mau minta maaf. Aku nggak tahu Tante sampai sekaget itu ...."Sikapnya yang pura-pura mera

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 3

    "Ayah tahu ini momen penting dalam hidupmu, jadi harus dipersiapkan dengan baik. Nggak boleh terburu-buru.""Tapi ... tadi sore perawat bilang, kondisi ibumu memburuk. Kondisi vitalnya kurang optimis ....""Dia mungkin nggak akan sempat ....""Nggak!" Aku segera memotong ayahku, sambil memaksakan se

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 2

    Aku menepis tangannya dengan lembut dan masuk ke kursi belakang mobil.Di tengah perjalanan, aku menatap ke luar jendela dan tiba-tiba memanggil namanya."Gaun itu memang sudah kamu pesankan buat dia sebelumnya, 'kan?"Tangan Jordy yang memegang setir sejenak kaku.Setelah hening sejenak, Jordy tida

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 1

    Di tengah suasana yang agak kaku, seorang teman mencoba meredakan ketegangan."Mungkin aku salah dengar. Di sana masih banyak model lain, ayo kita coba lagi ...."Teman lain pun ikut menimpali mendukungnya.Jordy tertawa pelan dan kembali menunduk menatap ponselnya.Suasana kembali menghangat, seola

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status