Share

Bab 2

Author: Suya
Aku menepis tangannya dengan lembut dan masuk ke kursi belakang mobil.

Di tengah perjalanan, aku menatap ke luar jendela dan tiba-tiba memanggil namanya.

"Gaun itu memang sudah kamu pesankan buat dia sebelumnya, 'kan?"

Tangan Jordy yang memegang setir sejenak kaku.

Setelah hening sejenak, Jordy tidak membantah.

"Sebenarnya ... model yang kamu pilih tadi ... nggak cocok buat kamu. "

"Modelnya menonjolkan kekurangan bentuk badanmu. Kamu lebih cocok dengan tipe gaun putri duyung."

"Jadi, nggak apa-apa kan kalau dia yang dapat gaun itu?"

Setelah jeda sejenak, melihat aku masih diam, Jordy menghela napas pelan.

"Erika, itu cuma gaun."

"Kalau kamu masih belum puas, kita pilih-pilih lagi kapan-kapan. Kamu bisa pilih model apa pun yang kamu mau."

"Kamu harus lebih pengertian, jangan terlalu dipermasalahkan."

Lagi-lagi kalimat itu lagi.

Aku harus pengertian, jadi harus bersabar saat dia merusak pesta pertunanganku.

Aku harus pengertian, jadi harus bersabar saat dia memprovokasiku di depan teman-teman.

Aku harus pengertian, bahkan gaun pengantin pun harus kuberikan padanya.

Aku duduk tegak, pandanganku menembus kaca spion, menatap wajah Jordy.

"Aku nggak punya waktu cari-cari gaun pengantin baru, Jordy."

Angin menerobos jendela mobil, menyapu mataku yang sedikit memerah.

"Ibuku mungkin nggak kuat menunggu selama itu."

...

Di tahun pertama aku berpacaran dengan Jordy, penyakit ibuku tiba-tiba memburuk dan dia harus dirawat di ICU.

Dokter mengeluarkan peringatan kritis. Aku ketakutan dan tidak berdaya, berlutut di koridor rumah sakit sambil menangis tersedu-sedu.

Jordy-lah yang pertama kali tiba di rumah sakit, memelukku erat, dan menghiburku agar jangan takut lagi, karena ada dia mendampingiku.

Dia menunda semua pekerjaan, berlari ke sana kemari, menghubungi semua kenalannya, mendatangkan spesialis terbaik di sepenjuru negeri untuk berkonsultasi tentang ibuku.

Dia juga secara pribadi mengatur kamar rawat inap dan mencarikan perawat. Setiap hari setelah selesai bekerja, dia langsung bergegas ke rumah sakit, membawakan makanan untukku, menemaniku menjaga ibuku, sampai-sampai dia tidak sempat minum air seteguk pun.

Selama masa-masa itu, matanya dipenuhi urat merah karena kelelahan, tapi dia tidak pernah mengeluh. Dia selalu mengusap kepalaku sambil berkata, "Erika, Tante pasti sembuh. Mulai sekarang ada aku yang bisa menjaga kalian."

Saat itu, melihat kesibukannya, aku merasa betapa beruntungnya aku bertemu Jordy. Sepanjang hidupku, memiliki dia saja sudah cukup.

Juga karena rasa sayang ini, aku berulang kali memaafkan kelalaiannya, memaafkan sikap acuh tak acuhnya.

Bahkan ketika dia lebih memihak kepada Nindy, aku meyakinkan diri bahwa pikiranku terlalu mengada-ada. Dia perhatian pada bawahannya, karena sifatnya memang terlalu baik.

Tapi sekarang, perbuatannya bagaikan palu yang sedikit demi sedikit menghancurkan semua harapan dan khayalanku.

Dalam keheningan, genggaman Jordy di setir menjadi semakin erat.

Akhirnya, dia mengangguk seolah menyerah.

"Besok, ya?"

Suaranya terdengar dingin dan kaku.

"Besok, aku temani pilih gaun yang baru. Pasti ketemu yang bisa memuaskanmu."

Setelah mengatakan itu, dia tidak berkata apa-apa lagi.

Kesunyian menyelimuti seisi mobil.

Mobil secara bertahap menambah kecepatan, sampai hampir menyerempet kendaraan lain saat berbelok.

Aku juga lelah, bersandar ke belakang, tidak ingin berkata apa-apa.

Setelah mengantarku pulang, Jordy beralasan ada urusan di kantor, lalu mengemudikan mobilnya pergi.

Aku kembali ke kamar, membuka gaun pengantin yang terpaksa kupilih itu, lalu menggantungnya di lemari kamar tamu.

Melihat warna putih itu, hatiku terasa hampa.

Ponselku berdering. Aku melihat nama penelepon, menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol terima.

"Ayah."

"Erika, bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Jordy?"

Aku mengerutkan bibir, hendak memberi tahu ayahku tentang keraguanku, tapi desahan lembut terdengar dari sana.

Ayahku sedikit merendahkan suaranya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 10

    Jordy mengepalkan tangan, seolah tidak bisa menahan diri lagi."Apa-apaan, dasar bajingan ...."Tepat sebelum dia hendak memukul, polisi tiba.Seperti yang sudah diduga, Jordy pun dibawa pergi.Masalah pun selesai. Aku bergegas masuk ke ruang rawat dan baru bisa merasa lega setelah melihat ibuku baik-baik saja.Beberapa waktu berikutnya, Jordy menjadi tenang setelah ditegur polisi.Tapi, dia sesekali masih mengirimiku pesan, atau muncul dalam hidupku.Suatu hari, Sean mengatakan bahwa dia benar-benar merasa terganggu.Aku pun bertanya padanya, "Jadi, apa rencanamu?"Aku sebenarnya sudah bisa menebak apa yang ingin dia lakukan, dan benar saja, Sean mengusulkan seketika itu juga."Ayo kita liburan, keliling dunia. Bukan cuma buat menenangkan hati, tapi sekaligus menyingkirkan masalah."Kami langsung memulai perjalanan keesokan harinya.Sean membuatkan kartu baru untukku. Yang lama sudah kubuang.Tanpa gangguan Jordy, aku tidak teringat masa lalu lagi. Ditambah dengan perhatian Sean yang

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 9

    Jordy sangat marah dan langsung memecat Nindy.Dia juga menyebarkan nama Nindy agar diblokir di semua perusahaan.Dia sangat marah dan tidak bisa duduk tenang di kantor, lalu mengambil ponselnya untuk meneleponku, tapi nomornya sudah kublokir.Semakin dipikir-pikir, semakin tidak tenang.Akhirnya, dia meminta bantuan seseorang untuk mencari tahu informasi tiket penerbanganku.Setelah tahu aku benar-benar menikah, akal sehatnya kembali hilang.Faktanya, dia tidak pernah bertanya "kenapa" pada dirinya sendiri.Kenapa dia tidak ingin menikah, tapi juga tidak ingin melihatku menikah dengan orang lain.Kontradiktif dan tidak waras....Aku digendong ke dalam kamar.Jordy mengirimiku banyak sekali pesan.Mulai dari ancaman di awal, hingga kemudian berubah, mencoba mengubah pikiranku.Aku tidak mengerti mengapa dia masih merasa berhak mengatakan semua itu.Di akhir, ada satu kalimat dengan nada yang berbeda dari sebelumnya.[Erika, beri aku sepuluh menit, ayo kita bicara.]Aku tidak membalas

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 8

    "Erika, kamu segitu nggak sabarnya?!""Nggak bisa menikah denganku, jadi langsung asal cari orang lain? Ini kan taktik licikmu? Ini memang demi ibumu? Atau sengaja buat mancing emosiku?!"Sean mengerutkan kening, raut wajahnya suram.Dia membungkuk dan menurunkanku dengan lembut."Tunggu sebentar."Lalu, dia menyingsingkan lengan bajunya.Jordy tertawa sinis."Mau adu denganku? Kamu pikir siapa dirimu? Dasar bodoh, nggak sadar sedang dimanfaatkan. Kamu pikir dia suka denganmu? Dia cuma ...."Plak!Tangan Sean yang tadinya sudah terangkat segera ditarik kembali.Dia meraih tanganku dengan panik.Sambil mengerutkan kening, dia berkata, "Kenapa kamu sendiri yang pukul? Kamu sudah terluka.""Tanganmu sakit? Sini aku lihat ...."Jordy yang baru saja menerima tamparan berubah dari marah menjadi terkejut.Dia menatapku tidak percaya."Erika, kamu tampar aku?"Aku menatapnya, entah kenapa, tiba-tiba merasa adegan ini agak lucu.Sambil memikirkannya, aku benar-benar tertawa."Jordy, waktu aku m

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 7

    Mempelai pria dadakan dalam pernikahan ini.Sean Sasongko....Dia menangkapku dengan mantap dan tepat waktu.Meskipun begitu, rasa sakit yang tajam masih terasa di pergelangan kakiku.Bibirku refleks mengaduh.Sean pun berhenti dan bertanya dengan suara pelan, "Mana yang sakit?"Aku memaksakan senyuman dan menegakkan tubuh."Nggak apa-apa, ayo lanjut."Sean tidak berkata apa-apa.Dia hanya menatapku selama dua detik dan berkata pelan, "Peluk aku."Sebelum aku sempat memahami maksudnya, dia memegang belakang lututku dan menggendongku.Pemandangan ini sontak memicu sorak-sorai dan tepuk tangan dari penonton.Di tengah semarak suasana dan hujan kelopak bunga, Sean mantap menggendongku kembali ke tengah aula.Aku masih terkejut, tapi tubuhku ditopang dengan kokoh.Sean berbisik, "Kamu bisa bersandar padaku.""Kalau memang sakit, bilang saja. Nggak apa-apa pernikahannya ditunda sebentar, yang terpenting keselamatanmu."Aku mengangguk.Tapi, keinginan agar ibuku melihat pernikahan yang semp

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 6

    ...Pernikahan berlangsung lancar sesuai jadwal.Musik pun mengalun.Dengan mengenakan gaun pengantin rancangan desainer, aku melangkah memasuki aula pernikahan, diiringi dua gadis penabur bunga.Aku melangkah perlahan, sementara kelopak bunga dan kupu-kupu beterbangan di udara, membawa aroma harum yang lembut, lalu mendarat di ujung kerudungku, bahuku, dan tanganku.Saat hampir sampai di tengah panggung, melalui celah di kerudung seputih salju, aku melihat ibuku di bawah panggung.Dia bersandar di pelukan ayahku, air mata mengalir perlahan.Tapi, itu adalah air mata bahagia.Pikiranku kembali ke hari sebelumnya.Aku berdiri di depan pintu kamar rawat sambil mendorong koper, ragu-ragu untuk melangkah.Tepat pada saat itu, pintu terbuka.Ayahku melihatku, dan senyum bahagia muncul di wajahnya.Sebelum sempat menyapaku, dia lebih dulu melihat koper besar di kakiku.Dia terdiam. Sejenak, seolah teringat sesuatu, dia mengambil koper dari tanganku dan bertanya, "Kamu lapar? Ayo makan sama A

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 5

    Tapi, dia menepis tanganku, nada bicaranya sengaja dibuat polos."Tante, Bu Erika suka gaun pengantinku. Karena nggak kuberikan, dia jadi marah.""Tapi kan, itu dipesankan Pak Jordy khusus untukku. Kalau aku berikan pun ukurannya nggak akan muat."Begitu kata-katanya selesai, wajah ibuku langsung pucat pasi.Dia jelas menangkap makna di balik ucapan Nindy.Dadanya naik-turun dengan hebat, menatap Jordy dengan mata penuh kekecewaan dan kesedihan.Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba memegangi dadanya dan batuk hebat, kesulitan bernapas."Ibu! Ibu kenapa?!"Aku panik, menopang Ibu dan berteriak, "Dokter! Dokter!"Dokter dan perawat segera datang, dengan terburu-buru mendorong ibuku ke ruang operasi.Pintu ruang operasi tertutup, lampu merah menyala, menyilaukan mataku hingga terasa perih.Nindy berjalan menghampiriku, masih memasang nada polos."Bu Erika, apa aku salah bicara lagi? Aku cuma mau minta maaf. Aku nggak tahu Tante sampai sekaget itu ...."Sikapnya yang pura-pura mera

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 4

    Jordy hanya tersenyum, mengabaikan semua itu dengan santai."Bayar."Saat keluar, mereka berdiri di pintu, dan Nindy bertanya dengan ragu-ragu, "Pak Jordy, waktu kemarin kamu berikan gaunnya kepadaku, wajah Nyonya kelihatan nggak senang.""Sekarang kan aku sudah ganti baru. Yang lama itu, kalau Nyon

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 3

    "Ayah tahu ini momen penting dalam hidupmu, jadi harus dipersiapkan dengan baik. Nggak boleh terburu-buru.""Tapi ... tadi sore perawat bilang, kondisi ibumu memburuk. Kondisi vitalnya kurang optimis ....""Dia mungkin nggak akan sempat ....""Nggak!" Aku segera memotong ayahku, sambil memaksakan se

  • Badai Berlalu, Bahagia Menyambut   Bab 1

    Di tengah suasana yang agak kaku, seorang teman mencoba meredakan ketegangan."Mungkin aku salah dengar. Di sana masih banyak model lain, ayo kita coba lagi ...."Teman lain pun ikut menimpali mendukungnya.Jordy tertawa pelan dan kembali menunduk menatap ponselnya.Suasana kembali menghangat, seola

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status