MasukShen Lihua yang masih bersandar di dada Lin Ye Su mendadak mengangkat wajahnya, matanya membelalak ketika cahaya putih seperti kabut tipis kembali menyelimuti tubuh mereka berdua. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, dunia di hadapan mereka kembali terdistorsi, memutar ruang dan waktu. Dalam sekejap, kemegahan aula istana lenyap, digantikan oleh hamparan langit senja yang membara di cakrawala. Namun ini berbeda, sepertinya mereka telah melompat beberapa tahun, mungkin sekitar dua tahun, karena dia melihat pengasuh istana mengendong balita perempuan, berdiri di sisi Xian Yi."Bukankah kampanye Sunset diadakan lebih cepat, kenapa kita bisa melompat dua tahun?" tanya Shen Lihua."Aku juga tidak tahu, mungkin ada beberapa alasan, yang membuat kampanye Sunset dibatalkan, dan baru diadakan lagi hari ini."Shen Lihua mengangguk, tidak ingin banyak bertanya lagi. Cahaya matahari yang hampir tenggelam menyiram daratan luas dengan warna keemasan yang didominasi kemerahan, menciptakan
Cahaya putih seperti kabut tipis itu membawa Shen Lihua dan Lin Ye Su entah ke tahun ke berapa.Yang pasti istana tengah meriah dengan hiasan dan keramaian. Ini seperti pesta pernikahan.Benar saja, hari ini adalah pesta pernikahan Lin Shue dan Xian Yi. Sekaligus penobatan Lin Shue sebagai putra mahkota menggantikan Lin Que Yang, yang gelarnya dicopot karena semua mengatakan jika Lin Que Yang tidak mampu memiliki keturunan.Shen Lihua berdiri di sana di aula yang megah, di sisinya Lin Ye Su tengah setia menggenggam tangan orang yang dia cintai."Kalau tidak kuat, kita pergi. Aku tahu, perbuatan ayahmu tak termaafkan lagi." Lin Ye Su menghela napas lagi. "Dulu aku sangat membanggakan ayahku, Kaisar Kin. Aku pikir dia orang yang berhati mulia. Namun, pada kenyataannya dialah orang yang menghancurkan segalanya.""Aku tetap di sini, aku hanya ingin melihat Ibu berdiri di atas singgasana, menjadi seorang permaisuri. Biarkan aku egois kali ini," ujarnya.Namun matanya terus saja menatap sos
Shen Lihua dan Lin Ye Su masih terjebak di tahun itu. Malam ini datang dengan sunyi yang mencekam, menyelimuti Istana Yanqing setelah gelar Putra Mahkota dicabut dari Lin Que Yang. Angin berembus pelan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, seakan ikut meratapi nasib seorang pangeran yang kini kehilangan segalanya. Sejak saat itu, Lin Que Yang lebih banyak mengurung diri di kediamannya. Paviliun timur yang kini ia tempati tampak sunyi dan dingin, jauh dari kemegahan yang dulu melekat pada dirinya yang sebelumnya tinggal di paviliun barat. "Bagaimana bisa begini… Lin Ru, bagaimana mungkin...." Suara Shen Lihua bergetar pelan, namun kalimatnya terhenti di tenggorokan, seolah ada sesuatu yang menahan kata-kata itu untuk keluar. Di sampingnya, Lin Ye Su hanya menggeleng pelan. Tatapannya tertuju lurus ke depan, ke arah sosok Lin Que Yang yang duduk tenang di beranda kediamannya. Jemarinya bergerak perlahan di atas senar guqin, memetik nada demi nada yang mengalun lirih
Shen Lihua maupun Lin Ye Su sama-sama tertegun. Kebenaran yang tersingkap di hadapan mereka begitu mengguncang hingga sulit untuk dicerna, seakan seluruh keyakinan yang selama ini mereka pegang perlahan runtuh menjadi serpihan tak beraturan. Mereka tidak pernah menyangka, bahwa di balik sikap tenang dan wibawa yang selama ini ditunjukkan oleh sang Kaisar, ternyata menyimpan kebencian yang begitu dalam terhadap Lin Que Yang. Shen Lihua menutup mulutnya dengan gemetar, napasnya terasa tercekat di dada. "Kenapa… kenapa Ayah bisa sekejam itu?" bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Untungnya, hanya Lin Ye Su yang mampu mendengar kata-katanya. Lin Ye Su mengerutkan kening, matanya tetap terpaku pada pemandangan di hadapan mereka, seolah takut kehilangan satu detik pun dari kebenaran yang perlahan terkuak. "Ini… sama persis dengan yang tertulis dalam manuskrip milik Ayah Lin Que Yang," ucapnya pelan, "Aku tidak mengerti… kenapa orang yang kita anggap jahat ternyata tidak seperti
Meski kebingungan masih menyelimuti mereka, keduanya tetap melangkah perlahan menyusuri halaman istana yang luas dan megah itu. Angin berembus lembut, menggerakkan tirai-tirai sutra yang tergantung di setiap paviliun, sementara cahaya matahari sore memantul di permukaan batu giok yang menghiasi jalan setapak. Kabar baiknya, tak satu pun orang di tempat itu mampu melihat ataupun merasakan kehadiran mereka, karena pada kenyataannya, hanya jiwa mereka yang terjebak dalam distorsi ruang dan waktu. Shen Lihua memperlambat langkahnya, sorot matanya mengamati setiap sudut dengan saksama. Wajah-wajah yang ia lihat terasa begitu familiar, namun tampak jauh lebih muda. Langkahnya terhenti ketika pandangannya tertumbuk pada sebuah pemandangan yang membuat napasnya tercekat sejenak. Di bawah bayangan pohon plum yang sedang berbunga, seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun tampak merengek sambil menggerakkan kedua tangannya ke arah seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Wajah anak
Lin Shue mundur satu langkah ke belakang, lalu satu langkah lagi, seolah lantai di bawah kakinya tiba-tiba berubah menjadi jurang tak berdasar. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini pucat pasi, darah seakan tersedot habis dari sana. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya memburu tak beraturan, dan untuk sesaat—hanya sesaat—dia benar-benar tampak seperti pria tua yang rapuh, bukan seorang kaisar yang berdiri di puncak kekuasaan.Namun hanya dalam satu tarikan napas panjang, segalanya berubah.Tatapannya kembali mengeras, punggungnya kembali tegak, dan aura dingin yang selama ini membuat semua orang tunduk padanya kembali menyelimuti seluruh ruangan. Seolah kelemahan barusan hanyalah ilusi sesaat yang tak pernah benar-benar ada.Di hadapannya, puluhan pasang mata menatap tanpa berkedip—para pejabat, pengawal, bahkan anggota keluarga kerajaan—semuanya menunggu, menekan, menuntut jawaban atas kalimat yang baru saja terucap dari bibir Lin Ye Su.Suasana menjadi begitu sunyi hingga su
Shen Lihua kembali ke pondok setelah tengah malam. Meski hutan terlampau mencekam, dia tidak takut. Lebih baik dia kembali ke pondok gurunya daripada harus berada di kediaman Qu bersama orang-orang sialan itu. "Qingyu," ujarnya. Dia tidak berteriak, namun tangannya beberapa kali mengetuk pintu.
Tabib senior meletakkan kembali potongan akar itu ke atas meja Shen Lihua, lalu mengangguk pelan."Lanjutkan," katanya singkat.Nada suaranya tak lagi netral, ada sedikit penghargaan di sana.Shen Lihua menunduk hormat, lalu kembali bekerja. Tangannya bergerak semakin tenang, seolah hiruk-pikuk di
Aula utama kediaman Qu mendadak hening. Cambuk di tangan Shen Lihua bergetar pelan. Namun bukan karena wanita itu takut, tetapi emosi yang bergerak liar di dalam kepalanyalah yang membuat tak mampu menguasai dirinya sendiri. Tiga bulan lalu adalah saksi kehancuran dirinya oleh Qu Liang. "Kena
"Cambuk saja jika bisa." Shen Lihua berdiri angkuh, wajah lugunya tak lagi terlihat. Hanya tatapan bengis yang tersisa. Dia tidak ingin menjadi bodoh lagi, disakiti dan hanya menangis. Sudah cukup, dia butuh bahagia. Semua yang menjadi miliknya telah direnggut paksa. Gelar wanita terhorma







