LOGINKeheningan di tepi kolam itu tidak lagi terasa seperti jeda, melainkan titik balik dari dua takdir besar yang akhirnya saling menemukan. Tangan Shen Lihua masih berada dalam genggaman Lin Ye Su, namun kini bukan sekadar sentuhan hangat—melainkan ikatan yang tidak lagi bisa dipisahkan oleh jarak, status, ataupun rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Shen Lihua menatap pria di hadapannya dalam diam yang panjang. Cahaya bulan memantul di matanya, namun kali ini tidak hanya memantulkan ketenangan—ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia tahan rapat bahkan dari dirinya sendiri. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Ru. Kau tahu, aku adalah Kaisar Yanqing. Aku—""Aku akan memaksa pangeran ketiga untuk naik takhta. Aku tidak mau saat kau melahirkan nanti, aku belum menjadi suamimu."Lin Ye Su benar. Kandungannya akan semakin membesar, dan dia akan melahirkan. Di fase ini dia membutuhkan Lin Ye Su sebagai pendamping. Lagipula, apalagi yang di acara. Semua sudah
Keheningan yang menyelimuti aula Paviliun Seratus Ramuan pecah perlahan, bukan karena suara keras, melainkan oleh napas tertahan yang akhirnya dilepaskan satu per satu. Para tabib yang sebelumnya penuh keraguan kini menatap Shen Lihua dengan ekspresi yang sama—takjub, bahkan nyaris tidak percaya bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda. Beberapa di antara mereka saling berbisik, menyebut-nyebut teknik akupunktur tingkat tinggi yang nyaris punah, sementara yang lain menatap pasien yang kini telah sadar dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Kepala Paviliun melangkah maju, janggutnya sedikit bergetar, bukan karena usia, melainkan karena gejolak emosi yang berusaha ia tahan. Tatapannya kembali tertuju pada Shen Lihua, kali ini tanpa sisa meremehkan. "Metode yang kau gunakan… bukan teknik biasa," ucapnya perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. "Jika bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Namun S
Para penjaga sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan itu. Bukan karena percaya—melainkan karena terkejut dengan keberanian yang nyaris terdengar seperti kegilaan. Lalu, tawa mereka pecah lagi. "Memenggal kepalamu?" Salah satu penjaga menyeringai lebar. "Kau pikir nyawamu berharga sampai kami repot-repot memenggalnya?" Namun penjaga lainnya mengangkat tangan, menghentikan rekannya. Tatapannya meneliti Shen Lihua dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. "Festival hampir dimulai," gumamnya. "Banyak tabib dari berbagai wilayah sudah datang… satu orang lagi tidak akan membuat banyak masalah." Ia menyipitkan mata. "Baik, tapi bukan kami yang akan menilaimu." Liang Zhen langsung menegakkan badan. "Nah, ini baru menarik. Kau Pasti bisa Yang Mulia Shen." "Nonaku memang hebat, dia itu tabib wanita terhebat di Daxia." Luo Qingyu lalu mengalungkan lengannya pada lengan Shen Lihua, dan hal itu membuat dada Liang Zhen berdebar-deb
Pria berjubah gelap itu mundur satu langkah lagi. Kali ini bukan karena perhitungan, melainkan karena naluri bertahan hidupnya berteriak keras di dalam dada. "Kalian…" suaranya serak, "Mustahil…" Shen Lihua tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun tekanan yang terpancar darinya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin dalam, seperti laut tanpa dasar. Lin Ye Su memutar seruling di tangannya, senyumnya tipis namun berbahaya. "Apa? Baru sadar bahwa kau salah memilih mangsa?" Liang Zhen, yang tadi begitu semangat, kini malah sedikit mundur lagi. "Aku rasa… kita tidak perlu membunuhnya, kan? Maksudku, dia sudah kelihatan mau pingsan begitu." "Diam, kau!" sahut Lin Ye Su singkat. Pria berjubah gelap itu menggertakkan giginya. Harga dirinya tidak mengizinkan dia mundur begitu saja. Namun instingnya berkata lain. "Aku…" Ia mencoba menenangkan napasnya, "Aku tidak tahu siapa kalian sebelumnya." "Dan sekarang kau sudah tahu," potong Shen Lihua datar. Hutan kembali sunyi. H
Dua sosok di belakang pria berjubah gelap itu melesat maju hampir bersamaan, gerakan mereka begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, seolah tubuh mereka tidak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum kecepatan biasa, dan niat membunuh yang terpancar dari keduanya langsung mengunci Shen Lihua dan Lin Ye Su tanpa ragu sedikit pun. Liang Zhen langsung panik setengah mati. "Hei, hei, tunggu! Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?!" serunya spontan sambil mundur terburu-buru, hampir tersandung akar pohon sendiri. Lin Ye Su mendesah panjang. "Diamlah, kau membuatku malu," ujarnya tanpa menoleh, nadanya santai seolah tidak ada dua pembunuh yang sedang berlari ke arah mereka. "Bagaimana aku bisa diam?! Mereka mau membunuh kita!" balas Liang Zhen dengan suara setengah berteriak. "Kalau begitu, jangan dibunuh," jawab Lin Ye Su enteng. "ITU JAWABAN MACAM APA?!" Namun sebelum Liang Zhen bisa terus mengomel, salah satu penyerang sudah tiba di hadapan mereka, pedang
Suasana hutan yang sempat tenang kembali berubah mencekam dalam sekejap. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah dipenuhi tekanan tak kasat mata yang perlahan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. Tiga sosok yang muncul dari balik pepohonan itu melangkah perlahan, namun setiap langkah mereka terasa terukur dan penuh keyakinan, seperti pemburu yang sudah memastikan mangsanya tidak memiliki jalan kabur. Liang Zhen tanpa sadar mundur setengah langkah, tenggorokannya terasa kering, sementara matanya terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya dengan gelisah."Hei, Putra Mahkota Lin. Kau tahu siapa mereka?"Lin Ye Su menatapnya malas. "Kau pikir aku peramal. Lagipula, kau ini seorang pria atau bukan. Apa pedangmu itu hanya sebagai hiasan? Memalukan."Liang Zhen tidak mau kehilangan harga diri. Dia maju ke depan, namun baru ditatap oleh salah satu dari mereka, dia sudah mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Lin Ye Su. Pria yang berdiri di tengah tampak paling mencol
Qu Liang terhuyung ke belakang, wajahnya pucat pasi. Tangannya yang tertembus bilah es bergetar hebat, darah menetes tanpa henti ke lantai marmer yang dingin. Pedang itu tidak biasa. Bilahnya terpancar menyilaukan mata. Aura dingin yang menyertainya merayap seperti kabut salju, membekukan luka
Malam kembali sunyi setelah langkah kaki itu benar-benar menghilang. Qu Liang entah menghilang ke mana, yang jelas Shen Lihua tidak peduli, dan tidak mau tahu. Wanita itu berdiri mematung di tengah paviliun, jubah milik Lin Ye Su masih bertengger di bahunya. Jantungnya kembali berdebar tidak ta
Aula masih dipenuhi gemuruh bisik-bisik ketika keputusan itu telah ditetapkan. Meskipun masih banyak peserta yang belum menguji, tetapi tabib Agung Gu Wenhai sudah menetapkan karena teknik Shen Lihua adalah teknik tertinggi yang tertulis di manuskrip kuno. Bahkan tabib agung Gu sendiri tidak mamp
Aula kembali hening. Semua pertanyaan berkecamuk di kepala masing-masing orang yang ada di aula Medis ini. Tabib Agung Gu Wenhai berdiri di hadapan tandu, lalu menoleh ke arah Shen Lihua. Meski dia yakin itu adalah teknik kuno yang telah lenyap. Teknik ciptaan tabib legendaris yang telah menghila







