LOGINEntah pada memori mana lagi Guqin Ruangsang akan membawa Shen Lihua dan Lin Ye Su pergi. Setiap masa yang mereka lewati bukanlah sekadar potongan kenangan, melainkan serpihan luka yang terus terbuka, seakan takdir sengaja memaksa mereka menyaksikan penderitaan demi penderitaan tanpa jeda. Hingga pada saat itu, cahaya putih yang menyelimuti mereka perlahan memudar, memperlihatkan sebuah pondok sederhana beratapkan salju. Udara di tempat itu begitu dingin, napas mereka bahkan berubah menjadi uap tipis yang melayang di udara malam. Shen Lihua membeku sejenak, matanya menelusuri setiap sudut tempat itu dengan perasaan yang tak asing. Ada kenangan lama yang terbangkitkan, sesuatu yang pernah ia lalui, namun kini terasa begitu jauh. "Bukankah ini… pondok milik guru di Gunung Qishan?" Suara Shen Lihua terdengar lirih. Lin Ye Su mengangguk pelan. Tentu saja ia mengenal tempat ini. Bagaimana mungkin ia melupakannya? Pondok sederhana ini adalah tempat pelariannya dahulu, tempat di mana ia
Shen Lihua yang masih bersandar di dada Lin Ye Su mendadak mengangkat wajahnya, matanya membelalak ketika cahaya putih seperti kabut tipis kembali menyelimuti tubuh mereka berdua. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, dunia di hadapan mereka kembali terdistorsi, memutar ruang dan waktu. Dalam sekejap, kemegahan aula istana lenyap, digantikan oleh hamparan langit senja yang membara di cakrawala. Namun ini berbeda, sepertinya mereka telah melompat beberapa tahun, mungkin sekitar dua tahun, karena dia melihat pengasuh istana mengendong balita perempuan, berdiri di sisi Xian Yi."Bukankah kampanye Sunset diadakan lebih cepat, kenapa kita bisa melompat dua tahun?" tanya Shen Lihua."Aku juga tidak tahu, mungkin ada beberapa alasan, yang membuat kampanye Sunset dibatalkan, dan baru diadakan lagi hari ini."Shen Lihua mengangguk, tidak ingin banyak bertanya lagi. Cahaya matahari yang hampir tenggelam menyiram daratan luas dengan warna keemasan yang didominasi kemerahan, menciptakan
Cahaya putih seperti kabut tipis itu membawa Shen Lihua dan Lin Ye Su entah ke tahun ke berapa.Yang pasti istana tengah meriah dengan hiasan dan keramaian. Ini seperti pesta pernikahan.Benar saja, hari ini adalah pesta pernikahan Lin Shue dan Xian Yi. Sekaligus penobatan Lin Shue sebagai putra mahkota menggantikan Lin Que Yang, yang gelarnya dicopot karena semua mengatakan jika Lin Que Yang tidak mampu memiliki keturunan.Shen Lihua berdiri di sana di aula yang megah, di sisinya Lin Ye Su tengah setia menggenggam tangan orang yang dia cintai."Kalau tidak kuat, kita pergi. Aku tahu, perbuatan ayahmu tak termaafkan lagi." Lin Ye Su menghela napas lagi. "Dulu aku sangat membanggakan ayahku, Kaisar Kin. Aku pikir dia orang yang berhati mulia. Namun, pada kenyataannya dialah orang yang menghancurkan segalanya.""Aku tetap di sini, aku hanya ingin melihat Ibu berdiri di atas singgasana, menjadi seorang permaisuri. Biarkan aku egois kali ini," ujarnya.Namun matanya terus saja menatap sos
Shen Lihua dan Lin Ye Su masih terjebak di tahun itu. Malam ini datang dengan sunyi yang mencekam, menyelimuti Istana Yanqing setelah gelar Putra Mahkota dicabut dari Lin Que Yang. Angin berembus pelan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, seakan ikut meratapi nasib seorang pangeran yang kini kehilangan segalanya. Sejak saat itu, Lin Que Yang lebih banyak mengurung diri di kediamannya. Paviliun timur yang kini ia tempati tampak sunyi dan dingin, jauh dari kemegahan yang dulu melekat pada dirinya yang sebelumnya tinggal di paviliun barat. "Bagaimana bisa begini… Lin Ru, bagaimana mungkin...." Suara Shen Lihua bergetar pelan, namun kalimatnya terhenti di tenggorokan, seolah ada sesuatu yang menahan kata-kata itu untuk keluar. Di sampingnya, Lin Ye Su hanya menggeleng pelan. Tatapannya tertuju lurus ke depan, ke arah sosok Lin Que Yang yang duduk tenang di beranda kediamannya. Jemarinya bergerak perlahan di atas senar guqin, memetik nada demi nada yang mengalun lirih
Shen Lihua maupun Lin Ye Su sama-sama tertegun. Kebenaran yang tersingkap di hadapan mereka begitu mengguncang hingga sulit untuk dicerna, seakan seluruh keyakinan yang selama ini mereka pegang perlahan runtuh menjadi serpihan tak beraturan. Mereka tidak pernah menyangka, bahwa di balik sikap tenang dan wibawa yang selama ini ditunjukkan oleh sang Kaisar, ternyata menyimpan kebencian yang begitu dalam terhadap Lin Que Yang. Shen Lihua menutup mulutnya dengan gemetar, napasnya terasa tercekat di dada. "Kenapa… kenapa Ayah bisa sekejam itu?" bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Untungnya, hanya Lin Ye Su yang mampu mendengar kata-katanya. Lin Ye Su mengerutkan kening, matanya tetap terpaku pada pemandangan di hadapan mereka, seolah takut kehilangan satu detik pun dari kebenaran yang perlahan terkuak. "Ini… sama persis dengan yang tertulis dalam manuskrip milik Ayah Lin Que Yang," ucapnya pelan, "Aku tidak mengerti… kenapa orang yang kita anggap jahat ternyata tidak seperti
Meski kebingungan masih menyelimuti mereka, keduanya tetap melangkah perlahan menyusuri halaman istana yang luas dan megah itu. Angin berembus lembut, menggerakkan tirai-tirai sutra yang tergantung di setiap paviliun, sementara cahaya matahari sore memantul di permukaan batu giok yang menghiasi jalan setapak. Kabar baiknya, tak satu pun orang di tempat itu mampu melihat ataupun merasakan kehadiran mereka, karena pada kenyataannya, hanya jiwa mereka yang terjebak dalam distorsi ruang dan waktu. Shen Lihua memperlambat langkahnya, sorot matanya mengamati setiap sudut dengan saksama. Wajah-wajah yang ia lihat terasa begitu familiar, namun tampak jauh lebih muda. Langkahnya terhenti ketika pandangannya tertumbuk pada sebuah pemandangan yang membuat napasnya tercekat sejenak. Di bawah bayangan pohon plum yang sedang berbunga, seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun tampak merengek sambil menggerakkan kedua tangannya ke arah seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Wajah anak
Ketiganya terdiam. Bahkan Shen Lihua sendiri terkejut oleh ucapan gurunya. "Janin?" ulangnya lirih. Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Apakah ia sedang bermimpi? Selama tiga tahun menjadi istri Jenderal Qu, ia dicap mandul—wanita tak berguna yang tak mampu melahirkan darah keturunan keluarg
Jauh di dalam hutan lebat, ribuan li dari Pegunungan Qishan, tiga sosok bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Shen Lihua bersandar pada batang pohon tua yang menjulang tinggi. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak teratur. Energi spiritualnya terkuras hampir habis, meninggalkan rasa hamp
Langit di atas Istana Yanqing membentang pucat, tertutup kabut tipis yang belum sepenuhnya sirna oleh matahari siang. Angin musim semi berembus lembut, menggerakkan lonceng-lonceng kecil di sudut atap sehingga dentingannya terdengar lirih, nyaris seperti bisikan roh-roh masa lalu. Shen Lihua be
Kabut Gunung Qishan bergerak pelan, menelan sosok tinggi yang berdiri di antara abu dan arang. Angin berembus dari utara, membawa sisa panas kebakaran yang belum sepenuhnya padam. Bau kayu terbakar dan tanah gosong menusuk hidung, bercampur samar dengan aroma obat-obatan yang dulu sering tercium d







