Share

Bab 26. Sandiwara

Penulis: Andrea_Wu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 20:43:41

Aula Naga malam itu dipenuhi hawa dingin yang menekan urat nadi. Seperti hantu yang siap meneror kapan saja.

Lentera-lentera istana bergoyang pelan tertiup angin, memantulkan bayangan panjang para pejabat yang berdiri berjajar rapi. Tidak ada satu pun yang berani mengangkat kepala.

Di singgasana naga, Kaisar Lin duduk dengan wajah kelam. Urat-uratnya terlihat menonjol dari tangan yang mencengkeram jubahnya sendiri.

"Panggil Putra Mahkota!" perintahnya lantang.

"Baik Yang Mulia." Menteri Hong langsung bergerak, namun tak lama sosok Lin Ye Su muncul dari aula, dan kini berjalan menuju singgahsana kaisar Lin.

Langkahnya tidak terburu-buru. Bahkan terlalu santai untuk ukuran seseorang yang dipanggil menghadap Kaisar dalam keadaan murka. Ia sempat berhenti di depan pintu, menepuk-nepuk sakunya seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.

"Gula-gulaku jatuh ke mana, ya?" gumamnya pelan. Sesekali bibirnya maju dengan pipi menggembung.

Seorang kasim hampir pingsan melihat kelak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 26. Sandiwara

    Aula Naga malam itu dipenuhi hawa dingin yang menekan urat nadi. Seperti hantu yang siap meneror kapan saja. Lentera-lentera istana bergoyang pelan tertiup angin, memantulkan bayangan panjang para pejabat yang berdiri berjajar rapi. Tidak ada satu pun yang berani mengangkat kepala. Di singgasana naga, Kaisar Lin duduk dengan wajah kelam. Urat-uratnya terlihat menonjol dari tangan yang mencengkeram jubahnya sendiri. "Panggil Putra Mahkota!" perintahnya lantang. "Baik Yang Mulia." Menteri Hong langsung bergerak, namun tak lama sosok Lin Ye Su muncul dari aula, dan kini berjalan menuju singgahsana kaisar Lin. Langkahnya tidak terburu-buru. Bahkan terlalu santai untuk ukuran seseorang yang dipanggil menghadap Kaisar dalam keadaan murka. Ia sempat berhenti di depan pintu, menepuk-nepuk sakunya seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. "Gula-gulaku jatuh ke mana, ya?" gumamnya pelan. Sesekali bibirnya maju dengan pipi menggembung. Seorang kasim hampir pingsan melihat kelak

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 25. Tabir Misteri

    Malam telah turun sepenuhnya ketika Shen Lihua tiba di pondok Lan Rui Hong bersama Luo Qingyu. Angin pegunungan berembus pelan, membawa hawa dingin yang merayap hingga ke tulang. Begitu pintu kayu didorong terbuka, aroma obat-obatan yang khas langsung menyergap indra penciumannya. Lan Rui Hong telah menunggu di dalam. Pria tua itu berdiri di dekat meja obat, jubah lusuhnya tampak berayun ringan tertiup angin malam yang menyelinap dari celah jendela. Begitu melihat dua muridnya masuk, raut wajahnya sedikit melunak, namun kekhawatiran di kerut-kerut wajahnya sama sekali belum memudar. "Kalian sudah kembali?" ucapnya pelan, lalu pandangannya menyapu ke belakang Shen Lihua dan Luo Qingyu. "Di mana Lin Ru?" Gurat usia di wajah Lan Rui Hong semakin dalam. Sorot matanya tajam, tetapi kegelisahan tak bisa ia sembunyikan. Shen Lihua segera melangkah maju, menangkupkan tangan, lalu memberi hormat dengan sikap sempurna. "Murid memberi salam pada Guru." Ia lalu menegakkan tubuhnya.

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 24. Taruhan

    Takjub, adalah hal pertama yang mereka semua rasakan. Ketika bilah pedang itu bergetar di udara, memantulkan cahaya dingin yang membuat aula semakin sunyi. Lie Bing. Pedang legendaris yang hanya akan mengakui satu tuan. "Itu Lie Bing." "Kau benar, tidak sembarang orang bisa menaklukann Lie Bing." Semua orang juga tahu, pedang itu hanya mampu dikendalikan oleh orang yang memiliki ilmu pedang tingkat tinggi. Semua mata membelalak. Beberapa pejabat mundur setengah langkah tanpa sadar. Bahkan Lin Hua Su yang tadi sok berani, kini refleks menurunkan tangannya. Namun—Detik berikutnya, sesuatu yang sama sekali tak terduga terjadi. Lin Ye Su menghela napas panjang, lalu… menguap. Ya, menguap. Ia menggaruk kepalanya dengan malas, kemudian memiringkan kepala sambil menatap pedang itu seolah melihat sapu dapur. "Eh?" katanya polos. "Kenapa pedangnya keluar sendiri? Aku kan belum menyuruh apa-apa." Suara itu. Nada bodoh itu. Seisi aula terdiam… lalu bingung. Lie Bing

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 23. Pernyataan Kontroversial

    Aula kediaman Qu seketika hening karena ucapan sembrono putra mahkota. Waktu seolah berhenti. Semua orang menatapnya tak percaya. Kata-kata itu—menggema di telinga setiap orang yang hadir, menghantam kesadaran mereka tanpa ampun. Mangatakan kekasih dengan begitu mudahnya. Apa Lin Ye Su sudah gila? Benar jika kata bodoh tersemat pada sosok putra mahkota. Selain bodoh, Lin Ye Su juga tidak tahu malu. Shen Lihua membeku, begitupula dengan Luo Qingyu yang mengamati sang nona dari kejauhan. Gadis itu hampir menjatuhkan rahangnya. Sikap sembrono ini, begitu familiar bagi Luo Qingyu. "Kenapa dia mirip dengan si perampok gunung itu? Tapi mana mungkin, sungguh mustahil." Luo Qingyu menggelengkan kepalanya cepat. Tak mau menebak hal yang jelas mustahil terjadi. Lin Ye Su begitu tampan dan dia putra mahkota, meskipun bodoh dan tak tahu malu. Sedangkan Lin Ru—wajahnya mengerikan dengan luka memanjang di wajah, dan dia pria mata keranjang. Sementara itu Shen Lihua diam membeku.

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 22. Identitas Tersembunyi

    Tubuh Shen Lihua masih terasa ringan di udara ketika dua lengan kuat itu menahannya dengan kokoh. Suasana aula seketika membeku. Musik pernikahan berhenti mendadak. Para tamu menahan napas, tak satu pun berani bergerak. Bahkan Nyonya Tua Qu yang biasanya lantang, kini membisu dengan wajah pucat, ketika melihat rombongan istana. Shen Lihua menatap pria di hadapannya. Menilai setiap sudut wajah rupawan itu dengan seksama. Jubah kuning keemasan itu— lambang naga berkuku lima— tak mungkin salah. Putra Mahkota Yanqing. Lin Ye Su. Jantungnya sempat berdegub sebentar sebelum dia mampu menguasai dirinya sendiri, dan memperbaiki posisinya. Pria itu menunduk sedikit, memastikan Shen Lihua berdiri dengan benar sebelum melepaskan pelukannya. "Apa Nona baik-baik saja?" tanyanya. Shen Lihua sempat mencerna, suara ini seperti familiar. Namun, dia mengabaikan segala pikiran liarnya. "Mana mungkin dia Lin Ru, tidak mungkin. Lin Ru memiliki luka memanjang di wajah, sedangkan p

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 21. Harga Diri

    Kediaman Qu telah berubah menjadi lautan merah. Lentera bergantung di sepanjang lorong, kain sutra merah membentang dari gerbang hingga aula utama. Musik pernikahan mengalun riuh, megah, dan penuh gairah. Shen Lihua melangkah masuk bersama Luo Qingyu di sisinya. Mengenakan Hanfu sewarna langit, dengan aksen bunga. Meskipun terlihat sederhana, tetapi Shen Lihua cukup memukau dengan wajah cantiknya. Bisik-bisik langsung menyebar, ketika dirinya tiba di aula depan kediaman Qu. "Bukankah itu Shen Lihua?" "Dia masih berani datang?" "Wanita tidak tahu diri, untuk apa dia datang kembali?" Tatapan merendahkan, mengejek, bahkan jijik menghujani dirinya. Ia mengabaikan semuanya. Membiarkan mulut-mulut itu mengejeknya. Dia tak peduli, untuk apa? Hanya membuang energi positifnya saja. Lagipula, kedatangannya ke sini untuk mencari bukti keterlibatan Su Minshan, sekaligus mendekati putra mahkota untuk bisa mengikuti ujian tabib istana. Namun saat tiba di aula utama, langkahn

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status