Home / Zaman Kuno / Balas Dendam Istri Jenderal Qu / Bab 33. Nona Tak Mau Ditindas

Share

Bab 33. Nona Tak Mau Ditindas

Author: Andrea_Wu
last update Last Updated: 2026-01-17 11:28:14

Shen Lihua tertawa, pertama kalinya Qu Liang melihat Shen Lihua tertawa bar-bar.

Biasanya wanita itu akan tertawa dengan mengulum bibirnya, dan menutup mulutnya dengan lengan tangan.

Lalu, apa yang terjadi dengan mantan istrinya ini?

Apa bergaul dengan pria mirip perampok itu menjadikannya berubah kepribadian?

"Shen Lan, jaga tata kramamu. Kau seperti tidak pernah dididik."

Ingin sekali Shen Lihua menendang Qu Liang, meskipun pria itu akan tercebur di sungai, tapi siapa yang peduli. Dia sudah b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Elis Sulistianty
mantap next kak thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 98. Hukuman Cambuk

    Aula Paviliun Naga diselimuti keheningan yang menekan. Ukiran naga emas di pilar-pilar raksasa memantulkan cahaya obor, menciptakan bayangan panjang yang menyerupai cakar-cakar raksasa mencengkeram lantai marmer. Di ujung aula, di atas singgasana tinggi, duduk Kaisar Lin Shue yang telah menunggu kedatangan putranya. Wajahnya tidak menunjukkan amarah. Namun ekspresi datarnya cukup membuat semua orang melangkah mundur. Langkah Lin Ye Su bergema mantap ketika ia memasuki aula. Jubah kebesaran putra mahkota menjuntai panjang, sulaman naga perak di dadanya berkilau samar. Ia berlutut sesuai tata krama, dan aturan negara. "Putra mahkota memberi hormat kepada Kaisar." Kaisar Lin menildongak, lalu berdiri dari duduknya. Melangkah turun guna menghampiri Lin Ye Su. "Bangunlah." Lin Ye Su langsung berdiri. Punggungnya tegak, dengan tatapan lurus ke depan. Beberapa menteri berdiri di sisi kiri dan kanan aula, tak satu pun berani mengangkat kepala. "Kau tahu apa kesalahanmu, hingga aku

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 97. Melepaskan Takhta

    "Nona di belakangmu!" Luo Qingyu berteriak sekencang mungkin. Anak panah itu melesat membelah udara. Cepat, tanpa suara dan mematikan. Waktu seakan melambat. Namun Shen Lihua tidak panik. Selama beberapa bulan ini selain berlatih ilmu pengobatan, dia juga melatih ilmu bela dirinya. Tubuhnya berputar ringan seperti dedaunan tertiup angin. Ujung lengan bajunya menyapu udara—anak panah itu hanya menyentuh kainnya sebelum menancap keras di dinding batu di belakangnya. Dentang tajam menggema, memantul di dinding. Mata Shen Lihua berubah, tak lagi lembut seperti biasanya. Kini sedingin es yang membeku di puncak gunung. "Nona Shen, berhati-hatilah!" teriak Luo Qingyu. Wajahnya pucat pasi. Namun ketika ia melihat sosok jenderal Qu yang hanya diam di tempatnya, amarah langsung memuncak. "Apanya yang melindungi, dia bahkan diam saja seperti orang bodoh. Masih menginginkan Nona kembali ke kediaman Qu." Shen Lihua masih berkonsentrasi. Tidak peduli suara di sekitarnya. Dari b

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 96. Harga Diri.

    Fajar telah lama meninggi di atas Paviliun Qiongi ketika Lin Ye Su membuka matanya. Sinar matahari menembus celah tirai tipis, jatuh lembut di atas ranjang berkanopi tempat ia terbaring. Aroma samar obat-obatan dan bunga plum masih tersisa di udara—aroma yang melekat pada wanita itu. Bayangan semalam berkelebat di benaknya. Tatapan mata yang bergetar namun tegar. Jemari yang dingin namun tidak menolak ketika ia menggenggamnya. Suara pelan yang memanggil namanya dalam gelap. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Namun, ketika ia menoleh ke sisi ranjang—tempat itu sudah kosong. Tak ada jejak kehadiran Shen Lihua. Selimut telah dirapikan. Meja kecil di dekat jendela bersih tanpa secarik kertas pun. Seolah wanita itu tak pernah berada di sini. Senyumnya memudar. "Ke mana dia?" gumamnya pelan. Tatapannya menggelap. Ia bangkit tanpa ragu. Gerakannya cepat, dan tegas. Jubah dalam dikenakan, ikat pinggang emas dirapatkan. Wajahnya kembali pada topeng seorang putra mahkota—dingi

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 95. Kenyataan Pahit.

    "Apa yang kau katakan!" Kaisar mengepakkan lengan jubah naganya ketika mendengar laporan dari Menteri Hong. Suaranya menggema di aula dalam, mengguncang udara pagi yang belum sepenuhnya hangat. "Hamba mengatakan apa adanya, Yang Mulia," jawab Menteri Hong dengan kepala tertunduk. "Putra Mahkota bersama Tabib Shen semalaman di Paviliun Qiongi." Wajah Kaisar Lin memerah padam. Urat di pelipisnya menegang. Sangat kentara sekali jika dia menahan amarah. Ia tidak mungkin membiarkan putranya mengusik kestabilan negara hanya karena urusan perasaan. Terlebih lagi—wanita itu adalah Shen Lihua— putri Mo Lan An. Nama itu saja sudah cukup untuk membangkitkan bara di hatinya. Dendam lama menyakitkan tentang Mo Lan An—tabib istana yang dituduh sebagai dalang kematian Permaisuri Xian Yi. Meskipun belum pernah terbukti secara langsung, luka itu tak pernah benar-benar sembuh dalam hati sang Kaisar. "Seret anak itu ke mari," desisnya dengan suara tajam. "Sekarang juga!" Menteri Hong segera

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 94. Penyatuan.

    Angin malam berdesir panjang di atas permukaan kolam teratai Istana Yanqing. Bayangan bulan terpecah-pecah oleh riak air, seperti hati Lin Ye Su yang kini terbelah antara darah dan cinta. Lin Hua Su menatapnya seolah menatap orang gila. "Baik lah kalau itu menjadi keinginanmu," desisnya pada akhirnya. "Kalau begitu, Putra Mahkota, bersiaplah. Karena mulai malam ini, bukan hanya aku yang akan menentangmu." "Dan aku tidak peduli, meskipun semua faksi akan bersatu dan menggulingkanku." "Dasar kerasa kepala!" seru Lin Hua Su. Jubahnya berputar tajam ketika ia membalikkan badan. Sosoknya menghilang di balik lorong batu, meninggalkan udara yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Keheningan menyelimuti kolam. Hanya suara napas Shen Lihua yang masih gemetar dalam pelukan Lin Ye Su. Beberapa saat kemudian, Lin Ye Su melepaskannya perlahan. Tangannya tetap menahan bahu wanita itu, seolah takut ia benar-benar jatuh. "Jangan dipikirkan, kau akan aman jika di sisiku," u

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 93. Kepercayaan

    Lin Ye Su merasa dadanya seperti dihantam palu raksasa. Kata-kata Lin Hua Su menggema keras di kepalanya—tabib Mo Lan An… dalang kematian Permaisuri Xian Yi—Ibunya. Wanita yang ia cintai sepenuh hidupnya. Wanita yang wajahnya selalu ia ingat setiap malam ketika ia menatap langit istana. Dan kini—Nama itu disandingkan dengan nama Shen Lihua. Shen Lihua. Wanita yang baru saja ia janjikan dalam hatinya untuk ia lindungi, bahkan jika harus melepaskan takhta. Langkahnya terasa goyah, meski ia masih berdiri tegap di balik bayangan pohon plum. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memucat. Di tepi kolam, Shen Lihua tampak seperti kehilangan pijakan. "Tidak… tidak mungkin." Suaranya gemetar. "Ibuku tidak mungkin melakukan itu. Beliau adalah tabib istana. Ia tidak pernah menyentuh urusan politik." Lin Hua Su tertawa, tawa yang menyakitkan untuk didengar. "Tabib istana adalah orang yang paling dekat dengan racun dan obat. Jika ingin membunuh tanpa jejak, siapa y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status