LOGINQu Liang berdiri kaku di hadapan Shen Lihua, sosoknya tampak jauh berbeda dari pria gagah yang pernah ia kenal. Di sisinya, Nyonya Tua Qu berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, napasnya berat, seolah usia dan penyesalan telah menekan pundaknya tanpa ampun. Wajah Qu Liang terlihat pucat, jauh lebih pucat dari sebelumnya, dan kerutan samar kini tergambar jelas di sudut mata serta dahinya. Sejak awal, Lin Ye Su telah melarang pertemuan ini. Ia tahu betul luka seperti apa yang pernah ditinggalkan oleh Jenderal Qu dalam hidup Shen Lihua. Namun, Shen Lihua tetap bersikeras. Dia ingin menyelesaikan masa lalunya, agar semuanya usai, guna membalasa rasa sakit di hatinya. Kini mereka berdiri berhadapan. Angin berembus pelan, mengibaskan ujung lengan baju mereka, membawa suasana menjadi semakin tegang. Lin Ye Su berdiri di belakang Shen Lihua, tubuhnya tegap bagai tembok yang tak tergoyahkan. Kedua tangannya terlipat di depan dada, tatapannya dingin dan tajam, penuh kewaspadaan, seolah
Malam merayap turun ke kedalaman istana, membawa hawa dingin yang meresap hingga ke tulang. Di bawah tanah, jauh dari cahaya lentera istana yang megah, terdapat sebuah penjara sunyi yang diperuntukkan bagi para pengkhianat kerajaan—tempat di mana kehormatan terakhir seorang bangsawan perlahan dilucuti sebelum pengadilan menentukan nasib mereka.Di sanalah, Kaisar Lin Shue, kini berada.Rantai besi menggantung di dinding batu yang lembap, sementara cahaya obor yang redup menari-nari, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti roh-roh masa lalu yang belum pergi. Di balik jeruji besi yang dingin, Lin Shue duduk dalam diam, punggungnya bersandar pada dinding, namun sorot matanya tetap tajam.Di luar sel, berdiri Lin Que Yang.Pria itu tidak mengenakan jubah kebesaran seperti biasanya. Ia hanya berdiri dengan pakaian sederhana, seolah melepaskan segala simbol kekuasaan yang selama ini melekat padanya. Tatapannya tertuju pada sosok di balik jeruji, bukan sebagai seorang pejabat tinggi
Malam itu turun lebih sunyi dari biasanya, membungkus istana dalam kesunyian yang nyaris sakral. Angin berembus pelan, membawa aroma dedaunan basah yang tersisa dari hujan sore tadi. Di kejauhan, lampion-lampion merah menggantung redup, cahayanya berayun lembut seolah menahan dingin yang perlahan merayap. Di atas atap paviliun, sosok lelaki duduk menyendiri. Dia adalah Lin Ye Su. Jubahnya yang panjang berkibar ringan tertiup angin malam. Di tangannya, seruling Jianyi terangkat anggun, mengalunkan melodi yang lirih—begitu sendu hingga seakan mampu merobek hati siapa pun yang mendengarnya. Nada-nada itu mengalir seperti air yang mencari jalan pulang, penuh kerinduan, dan luka yang tak terucap. Setiap hembusan napasnya menyatu dengan lagu itu. Setiap nada… adalah perasaan yang tak pernah ia ungkapkan. Rasa sakit akan takdir yang membuat hidupnya terseret ke dalam arus yang tak kunjung usai. Sementara itu, jauh di Paviliun Timur—tempat yang dikenal paling dingin di antara selu
Dunia ini menyimpan terlalu banyak misteri yang tak tersingkap oleh akal manusia. Waktu seakan memiliki kehendaknya sendiri—menggulung, memutar, lalu melemparkan siapa pun yang terjebak di dalamnya ke dalam pusaran takdir yang tak dapat dielakkan. Kabut putih yang tebal, dingin, dan sunyi perlahan menyelimuti tubuh Shen Lihua dan Lin Ye Su, membungkus mereka seperti kepompong tanpa suara. Dalam sekejap yang terasa begitu panjang, kesadaran mereka ditarik kembali, hingga saat mata mereka terbuka, keduanya telah berdiri di kediaman Lin Que Yang—seolah perjalanan melintasi ruang dan waktu barusan hanyalah ilusi yang tak pernah benar-benar terjadi. Namun, tidak ada yang benar-benar sama. Meski tempat itu tampak tak berubah sedikit pun—tiang-tiang kayu yang kokoh, lantai giok yang dingin berkilau, serta aroma dupa yang masih menggantung tipis di udara—hati mereka telah porak-poranda oleh kebenaran yang baru saja tersingkap. Di tengah keheningan yang menyesakkan, suara amarah tiba-ti
Ketika mereka kembali, langit malam telah tercabik oleh asap yang membumbung tinggi. Api menjilat tanpa ampun, melahap Paviliun Timur hingga hanya menyisakan rangka kayu yang menghitam dan runtuh satu per satu. Bara merah menyala di antara reruntuhan, sementara asap hitam pekat menggulung naik, seolah hendak menelan bulan yang pucat di atas sana. Aroma hangus memenuhi udara—menusuk, pahit, dan menyisakan rasa sesak di dada. Di tengah kekacauan itu, tangisan memilukan terdengar memecah malam. Permaisuri Xian Yi terjatuh di tanah yang dingin, tubuhnya gemetar hebat. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini terurai berantakan, wajahnya basah oleh air mata. Ia meraung tanpa henti. "Putriku… putriku, Lin Mei Yi!" Di sampingnya, Putra Mahkota Lin Shue turut berlutut. Namun berbeda dengan sang permaisuri, pria itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya diam seperti patung. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, hingga urat-uratnya menonjol jelas. Wajahnya tertunduk, tersembu
Entah pada memori mana lagi Guqin Ruangsang akan membawa Shen Lihua dan Lin Ye Su pergi. Setiap masa yang mereka lewati bukanlah sekadar potongan kenangan, melainkan serpihan luka yang terus terbuka, seakan takdir sengaja memaksa mereka menyaksikan penderitaan demi penderitaan tanpa jeda. Hingga pada saat itu, cahaya putih yang menyelimuti mereka perlahan memudar, memperlihatkan sebuah pondok sederhana beratapkan salju. Udara di tempat itu begitu dingin, napas mereka bahkan berubah menjadi uap tipis yang melayang di udara malam. Shen Lihua membeku sejenak, matanya menelusuri setiap sudut tempat itu dengan perasaan yang tak asing. Ada kenangan lama yang terbangkitkan, sesuatu yang pernah ia lalui, namun kini terasa begitu jauh. "Bukankah ini… pondok milik guru di Gunung Qishan?" Suara Shen Lihua terdengar lirih. Lin Ye Su mengangguk pelan. Tentu saja ia mengenal tempat ini. Bagaimana mungkin ia melupakannya? Pondok sederhana ini adalah tempat pelariannya dahulu, tempat di mana ia
Pengumuman kelulusan Shen Lihua sebagai Tabib Istana secara resmi menutup rangkaian ujian tabib tahun ini. Aula Medis Kekaisaran perlahan kembali hening, meski bisik-bisik penolakan masih terdengar di sudut-sudut ruangan. Banyak yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa seorang wanita berhasil mene
Qu Liang terhuyung ke belakang, wajahnya pucat pasi. Tangannya yang tertembus bilah es bergetar hebat, darah menetes tanpa henti ke lantai marmer yang dingin. Pedang itu tidak biasa. Bilahnya terpancar menyilaukan mata. Aura dingin yang menyertainya merayap seperti kabut salju, membekukan luka
Pagi hari itu, Pasar Yunglong telah berubah menjadi lautan manusia. Suara tawar-menawar bersahutan, lonceng toko beradu, dan teriakan pedagang membelah udara yang masih dingin. Aroma teh panas, daging panggang, dan kain baru bercampur menjadi satu, menciptakan hiruk-pikuk khas ibu kota. Di tenga
Su Minshan menyelinap memasuki Paviliun Timur di tengah malam buta. Cahaya obor yang redup memantulkan bayangannya di dinding koridor panjang, membuat siluet tubuhnya tampak meliuk seperti ular berbisa. Istana berada dalam keheningan mutlak. Hanya beberapa pengawal berjaga di gerbang utama, semen







