공유

Nyaman

작가: Blade Armore
last update 게시일: 2022-11-19 12:02:30

"Kenapa kamu bisa bertindak bodoh seperti ini!" tegur lelaki gemulai itu dengan suara yang nge-bass.

Amber yang tadinya ingin memejamkan mata, langsung menegakkan tubuhnya. Menatap tajam lelaki yang sudah membersamainya selama dia menjadi model, bahkan sebelum Amber menjadi terkenal seperti saat ini.

"Hei! Kamu mengabaikanku!" Ketus Davi.

"Sudahlah, aku ingin istirahat. Lebih baik kamu keluar dari sini dan mencari pekerjaan baru, karena aku akan sangat lama di sini!" Amber mengusir salah satu asisten yang sangat royal padanya. "Oya, sampaikan juga hal ini pada Olivia, agar segera mencari pekerjaan baru! Aku tidak ingin kalian menjadi miskin karena bertahan dengan pekerjaan yang entah kapan akan dimulai lagi." Amber berkata dengan sangat ketus.

Lelaki gemulai yang ada di hadapan Amber hanya berdecih menahan kekesalannya, tidak menyangka, jika Amber akan mengalah dengan sangat mudahnya, atau dia hanya sedang kesal saja.

"Kamu bukanlah Amber yang aku kenal!" Suara Davi berubah menjadi tegas dan tidak seperti lelaki gemulai.

Amber sempat membulatkan matanya tidak percaya, jika lelaki yang dia kenal bernama Devi itu menjadi tegas dan bersuara berat, sudah dua kali dia mendengar dan meliat Davi berkelakuan berbeda dari biasanya. Menyadari kesalahannya, Davi berdeham dan membenarkan posisi duduknya. Mengusap wajanya dengan gaya yang khas, dan menghela napas panjang.

"Jika kamu berubah menjadi lelaki normal, pasti aku akan langsung jatuh cinta padamu!" ujar Amber dengan mata berbinar, hanya dibalas dengan suara decak kesal oleh Davi.

Tanpa disadari oleh Davi dan Amber, Bintang memandang lelaki itu dengan tatapan memuja. Seumur hidupnya, baru kali ini merasakan debaran jantung yang teramat kencang, saat melihat seorang lelaki. Perlahan, Bintang mendekati Davi dan menyentuh tubuh Davi dengan menggunakan ujung jari telunjuknya.

"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Davi dengan suara yang dibuat segemulai mungkin, agar Bintang menjadi ilfil padanya.

"Kamu tampan." Aku Bintang, dengan tatapan yang masih sama, tanpa memedulikan Davi yang berubah gemulai lagi.

Amber berdecih, saat melihat Bintang yang memandangi Asistennya. Tidak menyangka, ada wanita polos yang menyukai lelaki gemulai seperti Davi. Apa mungkin kharisma seorang Davi memancar di tempat seperti ini. Entahlah!

Davi menggeser tubuh Bintang, agar menjauh darinya dan duduk di dekat Amber, memeluk Amber seolah-olah meminta pertolongan. Sedangkan Amber hanya bisa mendesah kesal, karena kelakuan Davi yang muali absurd lagi.

"Aku rindu padamu, tapi malah mendapatimu di tempat seperti ini. Oliv sedang membereskan masalah yang terjadi karena kasus ini. Kami akan memastikan agar kamu segera keluar dari tempat kumuh ini!" ucap Davi sambil memeluk Amber seperti seorang kakak yang sedang melindungi adiknya, meski dirinya gemulai.

"Sudahlah, aku ingin di sini dulu. Kamu dan Oliv bisa mencari pekerjaan baru, agar selalu produktif dan menghasilkan pundi-pundi!" Amber langsung menolak apa yang akan dilakukan Oliv dan Davi.

Tidak berapa lama, beberapa petugas masuk dan membawa makanan yang tadi di pesan oleh Davi untuk Amber dan beberapa orang tahanan yang ada di sekitar Amber. Lelaki gemulai itu berharap, jika para narapidana akan memperlakukan Amber dengan baik.

"Pergilah!" Amber kembali mengusir Davi, dan lelaki itu hanya bisa bedecih saja.

"Makanlah, sebentar lagi aku akan pergi!" balas Davi dengan suara berat.

Benar saja, setelah makanan dibagiakan, sipir mengatakan jika waktu yang dimiliki oleh Davi sudah habis dan meminta lelaki gemulai itu untuk segera pergi.

"Aku tunggu keputusanmu secepatnya!" ujar Davi sambil berlalu.

Amber menghela napas panjang dan kembali merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemas, sedangkan Bintang mulai merayu wanita yang dia kagumi untuk makan. Namun, Amber menolaknya dengan tegas, membuat Bintang merasa sangat kecewa.

-

"Nyonya Amber, Tuan Charles ingin mengunjungi anda!" ujar sipir yang menghampiri sel Amber.

Amber berdecak dan mendekati sipir itu, "Sudah berapa kali saya mengatakan, jika saya tidak akan pernah mau menemuinya sampai nanti saya dibebaskan!"

Sipir penjara hanya bisa menghela napas panjang, karena ini kesekian kalinya Amber menolak kunjungan dari suaminya sendiri dan hal itu membuat Charles emosi pada polisi yang bertugas di sana.

"Sebaiknya anda menemuinya, Nyonya! Karena suami anda akan melakukan hal-hal bodoh saat anda kembali menolaknya," saran sipir penjara yang jengah dengan kelakuan Charles.

"Tidak!" tolak Amber dengan raut wajah yang tegas.

Amber kembali melakukan kegiatan yang sudah biasa dia lakukan selama hampir satu bulan lamanya, tidak mengindahkan sipir penjara yang menatapnya dengan tatapan memohon. Meski di penjara, pamor Amber tidak serta merta ilang begitu saja. Walau pun Amer sudah berusaha hidup seperti nara pidana lainnya.

"Nona yakin tidak ingin bertemu dengan suami tampan, Nona?" tanya Bintang yang belum mengetahui apa yang menjadi masalah Amber dan suaminya, sehingga dirinya mendekam di balik jeruji.

"Kamu masih muda untuk mengetahui permasalahan yang cukup rumit!" ujar Amber yang enggan menanggapi keingintahuan Bintang.

Bintang, gadis desa yang terpaksa mendekam di bui, karena tidak sengaja membunuh ayah tirinya yang berusaha merebut kesuciannya. Tidak ada yang bisa menolongnya, bahkan ibu kandungnya menuduh Bintang yang merayu suaminya. Untung tak dapat diraih, malang tidak dapat di tolak. Begitulah nasib Bintang.

"Nona, kenapa kamu tidak ingin bebas?" tanya Bintang dan Amber hanya diam dan acuh. "Jika aku yang ada di posisimu, tidak akan menyia-nyiakan hal itu! Kita bisa membenahi dunia kita, agar lebih baik dan juga sesuai dengan yang ada dipikiran kita!" Kali ini Amber memandang Bintang, ucapan gadis itu sepertinya membuat dirinya harus berpikir ulang untuk tetap mendekam di balik jeruji yang tinggi.

"Apa yang ingin kamu lakukan, saat bebas nanti?" Amber malah bertanya tanpa ada niat menjawab pertanyaan Bintang.

Bintang hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tidak akan bisa keluar dari penjara ini. Hukuman yang dia dapatkan adalah seumur hidup, karena semua bukti memberatkannya, termasuk kesaksian ibu kandungnya.

"Jika nanti aku keluar dari tempat ini, maka kamu akan aku bawa pulang dan aku yang akan mengubah kehidupanmu jauh lebih baik!" Amber secara tidak langsung memberikan janjinya pada Bintang.

Hanya Bintang yang selalu menempel pada Amber, wanita itu merasa memiliki seorang saudara yang selalu berada di sisinya. Sedangkan tiga napi yang lainnya hanya sekedar menyapa dan membantu Amber jika ada kesulitan.

"Maka terimalah tawaran banding dari suamimu, Nona!" saran Bintang.

"Tidak! Aku menunggu bukti yang kongkrit," bisik Amber, karena Amber merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya di dalam penjara ini. "Jangan berani-beraninya, membocorkan apapun yang sudah aku katakan padamu!" imbuh Amber dan Bintang mengangguk patuh.

Amber tahu, kasusnya akan berat. Bukan hanya soal penganiayaan, tapi penggelapan dana dan lainnya yang telah dimanipulasi oleh orang yang tidak suka dengannya. Amber merasa ada campur tangan Citra, yang akan menyulitkannya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Abu yang belum padam

    Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar tidur utama, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Amber membuka matanya perlahan. Rasa sakit di kepalanya masih ada, berdenyut ritmis seperti jam dinding yang tak pernah berhenti, tapi itu bukan lagi rasa sakit yang asing. Itu adalah pengingat. Pengingat bahwa ia selamat. Pengingat bahwa ingatan itu kembali.Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan potongan-potongan memori menyusun diri kembali menjadi mosaik utuh. Wajah Hulton yang hancur saat ditolak. Tatapan dingin Charles sebelum memukulnya. Ledakan di vila Puncak. Dan yang paling penting... janji Hulton di gazebo, di bawah hujan deras, tentang cinta yang tidak menuntut.Amber menghela napas panjang, napas yang terasa berat di dada. Tubuhnya terasa seperti timah. Setiap otot, setiap serat saraf, seolah telah digunakan hingga batas maksimal selama tiga bulan terakhir—tiga bulan hidup dalam kabut amnesia, tiga bulan berjuang melawan bayangan tanpa tahu siapa musuhnya.

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Gema di balik jeruji dan luka yang tersembunyi

    Rasa sakit itu bukan lagi sekadar sensasi fisik. Itu adalah identitas barunya. Lutut kiri hancur. Tulang patela remuk menjadi serpihan kecil oleh peluru berkaliber tinggi milik Hulton Wijaya. Dokter di rumah sakit penjara bilang dia mungkin tidak akan pernah bisa berjalan normal lagi. Mereka memberinya tongkat, obat pereda nyeri, dan pandangan merendahkan. Tapi mereka tidak tahu. Rasa sakit di kakinya ini adalah pengingat harian bahwa dia masih hidup. Bahwa ia masih ada. Bahwa Amber adalah wanita yang dulu menatapnya dengan cinta buta—kini yang ada hanya tatapan seorang eksekutor yang dingin. Sel tahanan ini sempit. Dindingnya berwarna abu-abu kusam, lembap, dan berbau kotoran manusia yang telah menyerah pada nasib. Di sini, tidak ada AC. Tidak ada jendela besar dengan pemandangan kota. Hanya ventilasi kecil di atas sana yang membiarkan sedikit cahaya matahari masuk, cukup untuk melihat debu-debu yang menari dalam keputusasaan. Dia --Charles, duduk di tepi kasur tipis, memegang

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Nona, Bangun!

    Dunia kembali menjadi gelap. Tapi kali ini, kegelapan itu tidak hening. Ia dipenuhi oleh suara tawa yang melengking, gema dari neraka pribadi Amber. "Bangun, Nona." Suara itu terdengar jauh, seolah berasal dari dasar sumur yang dalam. Dingin. Basah. Berbau amis. Amber mengerjapkan matanya. Cahaya redup menyilaukan pandangannya. Kepalanya berdenyut hebat, lebih parah dari sebelumnya. Rasa sakit itu bukan lagi sekadar denyutan, tapi seperti ada paku yang ditancapkan ke dalam otaknya setiap kali ia mencoba bernapas. Ia mencoba menggerakkan tangannya. Terikat. Tali kasar mengikat pergelangan tangannya ke kursi besi yang dingin. Kakinya juga terikat. Ia tidak bisa bergerak. Pemandangan di depannya perlahan memfokus. Sebuah ruangan bawah tanah yang lembap. Dinding beton berlumut. Di sudut ruangan, sebuah lampu neon berkedip-kedip, menciptakan efek strobo yang membuat mual. Dan di hadapannya, duduk seorang pria di atas kotak kayu tua. Pria itu sedang membersihkan kukunya dengan pisau l

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Kehampaan di Altar Pernikahan

    Gedung tua di kawasan itu telah disulap menjadi taman pernikahan yang intim dan elegan. Rangkaian bunga mawar putih dan anggrek hitam—kombinasi favorit Amber—menghiasi setiap sudut. Cahaya lampu gantung kristal memantulkan kilauan lembut pada wajah-wajah tamu undangan yang terbatas: hanya keluarga inti, Nyonya Anggie, Dafa, Olive, Bintang, Ina, dan beberapa anggota AVRON terpercaya. Amber berdiri di ruang ganti, mengenakan gaun pengantin sederhana namun memukau. Kain sutra putih jatuh mengikuti lekuk tubuhnya, sementara mahkota kecil dari berlian bertatahkan batu onyx menghiasi rambutnya yang disanggul rapi. Ia menatap cermin, matanya berbinar bahagia. Di balik pintu, Hulton menunggu dengan gugup, memegang cincin kawin yang telah ia simpan selama bertahun-tahun. "Kau cantik sekali, Nona Amber" bisik Olive, menyesuaikan Amber dengan tangan gemetar karena haru. "Terima kasih, Liv," jawab Amber, tersenyum lebar. "Aku tidak sabar melihat wajah Hulton nanti. Aku juga tidak menyangka, ak

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Setelah Badai, Undangan maut datang

    Dua minggu telah berlalu sejak ledakan, Kota Lama kembali ke ritme normalnya yang hiruk-pikuk, namun bagi mereka yang berada di lingkaran dalam, dunia terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih waspada.Dampak dari pengungkapan data "The Syndicate" oleh Amber dan Hulton memang dahsyat, tapi tidak instan. Saham DIRJAYA CORP anjlok 15% dalam tiga hari pertama karena rumor keterlibatan Pak Hendro dalam pencucian uang internasional. Investor panik. Media menggali setiap skandal lama. Sementara itu, Wijaya Group milik Hulton juga terkena imbas. Reputasi "Raja Hitam" yang bocor sedikit demi sedikit membuat beberapa mitra bisnis asing menarik diri, takut terseret konflik bawah tanah.Di kantor pusat DIRJAYA CORP yang kini lebih sepi, Amber duduk di balik meja kerjanya yang besar. Ia menatap grafik penurunan saham di layar monitor dengan wajah datar. Di seberang meja, Dafa sedang menelepon para kreditor, suaranya lelah namun tetap persuasif."Kita akan segera pulih, Amber" ucap Dafa setelah menutup t

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Dansa maut di puncak kepedihan

    Hujan deras mengguyur kawasan Kota Lama, mengubah jalan berkelok menjadi lintasan licin yang mematikan. Kabut tebal menyelimuti hutan pinus, menciptakan ilusi optik yang membingungkan. Di tengah kegelapan itu, sebuah vila megah bergaya kolonial berdiri kokoh di atas tebing—kediaman peristirahatan Pak Hendro Wijaya. Dari luar, vila itu tampak tenang, lampu-lampu tamannya redup, seolah tidur. Tapi bagi mata terlatih Amber dan Hulton, setiap sudutnya bersinar dengan tanda bahaya: sensor gerak tersamar, kamera CCTV berputar lambat, dan siluet penjaga bersenjata yang berpatroli di balik jendela kaca anti-peluru. "Tim Alpha, posisi siaga di perimeter utara," bisik Dafa melalui earpiece, suaranya datar namun penuh ketegangan. Ia bersembunyi di balik semak belukar bersama lima anggota elit AVRON, wajah mereka dicat hitam untuk menyamarkan diri dalam kegelapan. "Tim Beta, tutup jalur evakuasi selatan. Jangan biarkan satu nyamuk pun lolos." "Siap, Ketua," jawab Ina dari posisinya di pohon ti

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Citra sadar dari koma

    Charles terpaksa pulang dengan tangan kosong lagi, geram dengan kelakuan istrinya yang terlalu mengedepankan egonya. Charles hanya merasa dirinya tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini, karena Amber terlalu sibuk menurutnya. Lelaki itu tidak tau, jika hati wanita sudah tersakiti, maka tidak akan ad

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Belum butuh bantuan

    Sudah lebih dari sebulan, Amber berada di balik jeruji dan hampir setiap harinya Charles selalu datang berkunjung. Bukan hanya Amber saja yang jengah, tapi para sipir penjara pun bosan melihat wajah memelas Charles. Ya, dikarenakan Amber selalu menolak untuk menemui suaminya itu, dan Charles sangat

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Tameng untuk Amber

    Sudah beberapa hari Amber berada di dalam sel bersama dengan tiga wanita yang tangguh menurutnya. Mereka berbagi kisah pada Amber, agar tidak ada jarak antara mereka, hanya saja Amber masih menutupi apa yang sedang menimpanya. Amber lebih suka menjadi pendengar yang baik untuk saat ini, dan menyiapk

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Penjara

    Baru saja masuk di dalam ruangan yang ditempatinya, Amber sudah menjadi pusat perhatian. Bahkan, seorang wanita yang mengklaim dirinya sebagai ketua ruangan tersebut memandang sinis ke arah Amber, yang bersikap santai."Kamu terlihat seperti orang kaya!" celetuk ketua ruangan itu. "Sekarang pesankan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status