Share

Penjara

Penulis: Blade Armore
last update Tanggal publikasi: 2022-11-19 11:52:50

Baru saja masuk di dalam ruangan yang ditempatinya, Amber sudah menjadi pusat perhatian. Bahkan, seorang wanita yang mengklaim dirinya sebagai ketua ruangan tersebut memandang sinis ke arah Amber, yang bersikap santai.

"Kamu terlihat seperti orang kaya!" celetuk ketua ruangan itu. "Sekarang pesankan makanan yang enak-enak untukku dan juga orang-orang yang ada di sini!" perintah ketua kamar.

Amber hanya melirik dan merebahkan dirinya di atas alas tikar yang sudah disediakan, memilih memejamkan mata dengan melipat kedua tangannya di dada. Melihat kelakuan Amber, ketua ruangan itu meradang. Dia berjalan mendekati Amber dan langsung menarik Amber hingga wanita itu berdiri. Tubuh Amber kalah besar dari wanita yang ada di depannya, hingga tidak mungkin dirinya bisa terlepas dengan mudah dari ketua ruangan itu.

"Aku yang berkuasa di sini! Jaga sikapmu, atau kamu ingin berakhir menderita di sini!" teriak ketua ruangan dengan suara beratnya.

Amber menepis tangan ketua ruangan yang menarik kerah bajunya dengan kasar, enggan meladeni wanita yang sok berkuasa, menurutnya. Namun, justru karena hal itu, membuat ketua ruangan geram dan memukuli Amber. Siapa sangka, Amber dapat mengimbanginya dengan baik, bahkan ketua ruangan sampai tersungkur. Ruangan menjadi riuh dengan saling megunggulkan siapa yang akan menjadi pemenang.

"Brengsek!" maki ketua ruangan dengan mengatur napasnya yang tersengal-sengal, dia kembali berdiri dan menghampiri Amber yang mengelap sudut bibirnya yang berdarah.

Perkelahian tidak dapat dihindari, tubuh ramping Amber hanya mendapatkan beberapa luka saja. Namun, berbeda halnya dengan ketua ruangan yang babak belur, akibat amukan Amber. Semua yang menyaksikan hanya berdecak kagum, tapi karena keributan yang timbul akibat perkelahian Amber dan ketua kamar, mereka berdua mendapatkan hukuman tambahan, yaitu dikurung di ruangan khusus untuk narapidana yang melakukan kriminal di dalam sel. Meski Amber membela diri, tapi hukuman tetap saja diberikan.

"Tunggu pembalasanku, sialan!' ujar ketua ruangan saat berpapasan dengan Amber.

Amber hanya tersenyum sinis mendengarnya dan kembali melanjutkan langkahnya, tidak terpancar rasa takut dalam dirinya.

-

Setelah hukuman selesai, Amber di masukkan ke dalam sel yang berbeda, selain untuk menghindari perkelahian lagi, perpindahannya kali ada campur tangan dari seseorang yang sangat mengharapkan Amber mendapatkan penyiksaan dari para napi.

"Silakan masuk, sekarang anda akan ditahan di sini bersama mereka!" ujar sipir tahanan, Amber masuk dengan santai ke dalam ruangan.

Setelah sipir pergi, Amber mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang ada di dalam. Menghitung jumlah dan mengamati mereka satu persatu.

"Arrrgh!" pekik Amber, lalu merebahkan tubuhnya di atas alas yang digelar di lantai.

Satu orang tahanan, bertubuh tinggi dan berkulit putih mendekati Amber. Menatap wajahnya lamat-lamat, memastikan apa yang dia pikirkan tidak salah.

Amber yang merasa risih ditatap terlalu intens oleh orang yang tidak dikenalnya, memilih memalingkan wajahnya. Amber tidur di posisi miring, untuk menghindari mata yang melihatnya dengan seksama.

"Kenapa kamu berpaling?" Suara lembut itu menyapa telinga Amber, tapi tidak dihiraukan oleh wanita itu.

Dia ingin tenang, berada di penjara. Mengistirahatkan tubuhnya yang telah lama dia forsir untuk berkerja keras mewujudkan mimpinya.

"Cih! Kenapa kamu begitu penasaran dengannya, Bintang! Dia itu penjahat, sama seperti kita!" seru suara lain, dan sukses membuat pandangan Bintang beralih.

"Wajahnya tidak asing, Kak Ina," sahut Bintang dan dia memutar tubuhnya untuk kembali menatap wajah Amber.

Bintang langsung bersorak, setelah memastikan apa yang dia pikirkan tidak salah. Bintang duduk bersila di depan Amber yang masih menutup matanya.

"Hai, Nona Amber!" sapa Bintang dengan sangat riang.

Amber membuka matanya, dan menatap gadis yang ada di depannya, dia hanya menghela napas kasar dan kembali memejamkan netranya. Terlalu malas, jika dirinya menjadi pusat perhatian lagi.

"Aku lelah, jangan ganggu! Menyingkirlah!" ujar Amber dan Bintang hanya duduk memandangi wanita yang menurutnya sangat cantik dan anggun meskipun tanpa makeup.

"Cantiknya," puji Bintang yang terus menatap Amber tanpa mau mengalihkan pandangannya.

Bintang mengipasi Amber, dengan tangannya. Bintang melihat wanita yang dia kagumi belum nyaman saat memejamkan mata. Pandangan mata Bintang tidak lepas dari wajah cantik yang selalu ingin dia lihat dari dekat, sejak remaja.

"Tuhan ternyata terlalu baik padaku," gumam Bintang dan masih bisa di dengar oleh penghuni sel dan hal itu membuat mereka kompak berdecih.

Seorang wanita yang berada di dekat dinding dan duduk bersila, menatap tajam ke arah Bintang yang terlalu polos, menurutnya, sehingga mengistimewakan wanita yang sama-sama terpenjara karena satu kesalahan yang mereka perbuat.

"Kamu terlalu bodoh, Bintang!' ujar wnaita itu, Bintang memanyunkan bibirnya, saat ditegur oleh wanita pendiam dan dingin itu. Akan tetapi pandangannya tidak dia alihkan dari sosok Amber yang tetap santai tiduran.

Suara ribut dari lorong membuat perhatian tiga wanita yang satu sel dengan Amber melirik sejenak, sudah dipastikan ada narapidana baru yang akan bergabung, entah akan masuk ke sel yang mana.

"Hanya lima belas menit, tidak lebih!" pesan sipir pada seseorang yang dibawa masuk ke dalam sel yang di tempati Amber.

"Oke!" tangan lelaki gemulai itu mengayun ke atas, dua jarinya yang lenti membentuk hurup O.

"Oh, Tuhan! Dia begitu sempurna!" Bintang langsung berbinar melihat sosok yang baru saja duduk di dekatnya.

Sedangkan yang ditatap hanya acuh dan berpaling dari tatapan gadis cantik yang terlihat begitu menggemaskan, dengan mulut yang menganga dan mata yang berkedip-kedip.

"Hei, bangun!" Suara serak dan berat mendominasi di seluruh ruangan, semua terkesiap mendengarnya.

Amber tidak memedulikannya, dia tetap pada posisinya, dia ingin merasakan kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk dunia yang ada di luar sana.

Tangan gemulai itu, tiba-tiba menjadi tangan yang kekar. Sehingga bisa menggendong Amber, dan membuatnya duduk. Meski meronta, Amber tetap saja kalah tenaga, dan dia hanya bisa menatap kesal lelaki di depannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Abu yang belum padam

    Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar tidur utama, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Amber membuka matanya perlahan. Rasa sakit di kepalanya masih ada, berdenyut ritmis seperti jam dinding yang tak pernah berhenti, tapi itu bukan lagi rasa sakit yang asing. Itu adalah pengingat. Pengingat bahwa ia selamat. Pengingat bahwa ingatan itu kembali.Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan potongan-potongan memori menyusun diri kembali menjadi mosaik utuh. Wajah Hulton yang hancur saat ditolak. Tatapan dingin Charles sebelum memukulnya. Ledakan di vila Puncak. Dan yang paling penting... janji Hulton di gazebo, di bawah hujan deras, tentang cinta yang tidak menuntut.Amber menghela napas panjang, napas yang terasa berat di dada. Tubuhnya terasa seperti timah. Setiap otot, setiap serat saraf, seolah telah digunakan hingga batas maksimal selama tiga bulan terakhir—tiga bulan hidup dalam kabut amnesia, tiga bulan berjuang melawan bayangan tanpa tahu siapa musuhnya.

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Gema di balik jeruji dan luka yang tersembunyi

    Rasa sakit itu bukan lagi sekadar sensasi fisik. Itu adalah identitas barunya. Lutut kiri hancur. Tulang patela remuk menjadi serpihan kecil oleh peluru berkaliber tinggi milik Hulton Wijaya. Dokter di rumah sakit penjara bilang dia mungkin tidak akan pernah bisa berjalan normal lagi. Mereka memberinya tongkat, obat pereda nyeri, dan pandangan merendahkan. Tapi mereka tidak tahu. Rasa sakit di kakinya ini adalah pengingat harian bahwa dia masih hidup. Bahwa ia masih ada. Bahwa Amber adalah wanita yang dulu menatapnya dengan cinta buta—kini yang ada hanya tatapan seorang eksekutor yang dingin. Sel tahanan ini sempit. Dindingnya berwarna abu-abu kusam, lembap, dan berbau kotoran manusia yang telah menyerah pada nasib. Di sini, tidak ada AC. Tidak ada jendela besar dengan pemandangan kota. Hanya ventilasi kecil di atas sana yang membiarkan sedikit cahaya matahari masuk, cukup untuk melihat debu-debu yang menari dalam keputusasaan. Dia --Charles, duduk di tepi kasur tipis, memegang

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Nona, Bangun!

    Dunia kembali menjadi gelap. Tapi kali ini, kegelapan itu tidak hening. Ia dipenuhi oleh suara tawa yang melengking, gema dari neraka pribadi Amber. "Bangun, Nona." Suara itu terdengar jauh, seolah berasal dari dasar sumur yang dalam. Dingin. Basah. Berbau amis. Amber mengerjapkan matanya. Cahaya redup menyilaukan pandangannya. Kepalanya berdenyut hebat, lebih parah dari sebelumnya. Rasa sakit itu bukan lagi sekadar denyutan, tapi seperti ada paku yang ditancapkan ke dalam otaknya setiap kali ia mencoba bernapas. Ia mencoba menggerakkan tangannya. Terikat. Tali kasar mengikat pergelangan tangannya ke kursi besi yang dingin. Kakinya juga terikat. Ia tidak bisa bergerak. Pemandangan di depannya perlahan memfokus. Sebuah ruangan bawah tanah yang lembap. Dinding beton berlumut. Di sudut ruangan, sebuah lampu neon berkedip-kedip, menciptakan efek strobo yang membuat mual. Dan di hadapannya, duduk seorang pria di atas kotak kayu tua. Pria itu sedang membersihkan kukunya dengan pisau l

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Kehampaan di Altar Pernikahan

    Gedung tua di kawasan itu telah disulap menjadi taman pernikahan yang intim dan elegan. Rangkaian bunga mawar putih dan anggrek hitam—kombinasi favorit Amber—menghiasi setiap sudut. Cahaya lampu gantung kristal memantulkan kilauan lembut pada wajah-wajah tamu undangan yang terbatas: hanya keluarga inti, Nyonya Anggie, Dafa, Olive, Bintang, Ina, dan beberapa anggota AVRON terpercaya. Amber berdiri di ruang ganti, mengenakan gaun pengantin sederhana namun memukau. Kain sutra putih jatuh mengikuti lekuk tubuhnya, sementara mahkota kecil dari berlian bertatahkan batu onyx menghiasi rambutnya yang disanggul rapi. Ia menatap cermin, matanya berbinar bahagia. Di balik pintu, Hulton menunggu dengan gugup, memegang cincin kawin yang telah ia simpan selama bertahun-tahun. "Kau cantik sekali, Nona Amber" bisik Olive, menyesuaikan Amber dengan tangan gemetar karena haru. "Terima kasih, Liv," jawab Amber, tersenyum lebar. "Aku tidak sabar melihat wajah Hulton nanti. Aku juga tidak menyangka, ak

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Setelah Badai, Undangan maut datang

    Dua minggu telah berlalu sejak ledakan, Kota Lama kembali ke ritme normalnya yang hiruk-pikuk, namun bagi mereka yang berada di lingkaran dalam, dunia terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih waspada.Dampak dari pengungkapan data "The Syndicate" oleh Amber dan Hulton memang dahsyat, tapi tidak instan. Saham DIRJAYA CORP anjlok 15% dalam tiga hari pertama karena rumor keterlibatan Pak Hendro dalam pencucian uang internasional. Investor panik. Media menggali setiap skandal lama. Sementara itu, Wijaya Group milik Hulton juga terkena imbas. Reputasi "Raja Hitam" yang bocor sedikit demi sedikit membuat beberapa mitra bisnis asing menarik diri, takut terseret konflik bawah tanah.Di kantor pusat DIRJAYA CORP yang kini lebih sepi, Amber duduk di balik meja kerjanya yang besar. Ia menatap grafik penurunan saham di layar monitor dengan wajah datar. Di seberang meja, Dafa sedang menelepon para kreditor, suaranya lelah namun tetap persuasif."Kita akan segera pulih, Amber" ucap Dafa setelah menutup t

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Dansa maut di puncak kepedihan

    Hujan deras mengguyur kawasan Kota Lama, mengubah jalan berkelok menjadi lintasan licin yang mematikan. Kabut tebal menyelimuti hutan pinus, menciptakan ilusi optik yang membingungkan. Di tengah kegelapan itu, sebuah vila megah bergaya kolonial berdiri kokoh di atas tebing—kediaman peristirahatan Pak Hendro Wijaya. Dari luar, vila itu tampak tenang, lampu-lampu tamannya redup, seolah tidur. Tapi bagi mata terlatih Amber dan Hulton, setiap sudutnya bersinar dengan tanda bahaya: sensor gerak tersamar, kamera CCTV berputar lambat, dan siluet penjaga bersenjata yang berpatroli di balik jendela kaca anti-peluru. "Tim Alpha, posisi siaga di perimeter utara," bisik Dafa melalui earpiece, suaranya datar namun penuh ketegangan. Ia bersembunyi di balik semak belukar bersama lima anggota elit AVRON, wajah mereka dicat hitam untuk menyamarkan diri dalam kegelapan. "Tim Beta, tutup jalur evakuasi selatan. Jangan biarkan satu nyamuk pun lolos." "Siap, Ketua," jawab Ina dari posisinya di pohon ti

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Bawa mereka ke sini!

    Olive memandangi wajah Amber yang masih terlelap akibat bius, wanita itu tersenyum, lalu mengusap wajah ayu atasannya. Setitik air mata jatuh, tidak menyangka, jika wanita yang dia dampingi sejak bertahun-tahun lalu, bisa kalah hanya karena persoalan lelaki, maka pemikirannya untuk tidak meikah sud

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Inikah yang dirasakan Amber2

    Beberapa wanita berseragam, dengan wajah tegas dan sorot mata tajam, menatap ke sekitar. Mimik wajah mereka sangat kentara menyimpan kekesalan. Namun, karena tugas, mereka harus bisa mengendalikan perasaan. Baru saja, salah satu wanita berseragam itu hendak berbicara, beberapa napi sudah mendahului

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Dijebak

    "Lepaskan!" Citra kembali memberontak."Diamlah!" bentak salah satu bodyguard.Dengan santai, dua orang itu melepaskan tangan Citra dan duduk di sisi ranjang. Mereka belum beranjak dari kamar Citra, menunggu instruksi selanjutnya.Amber menuju ke kamar rawat di mana Charles sedang terbaring lemas, O

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Hutang budi

    "Tidak, anakku tidak akan mati hanya karena hal seperti ini!" pekik Citra.Amber yang tadinya mau mencari dokumen miliknya, malah mendapati pemandangan yang di luar perkiraannya. Citra sedang terduduk menahan kesakitan dan ada darah segar di lantai. Amber sungguh tidak peduli, dia masuk dan mengabai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status