Beranda / Romansa / Balas Dendam Sang Pendamping Setia / Bab 3 – Pengorbanan Pertama

Share

Bab 3 – Pengorbanan Pertama

Penulis: perdy
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-08 08:29:25

Pagi itu, sinar matahari belum sepenuhnya menyelinap melalui celah jendela kecil kamar kos mereka. Jam dinding berdetak pelan, menunjukkan pukul 05.12. Udara masih dingin, menyisakan embun di permukaan kaca dan rasa enggan di tubuh siapa pun yang ingin beranjak dari kasur.

Tapi Nayla sudah bangun lebih dulu.

Dengan rambut digelung seadanya dan kaki telanjang menyentuh lantai yang dingin, ia berjalan pelan ke dapur mungil di sudut kamar. Ia membuka laci kecil tempat mereka menyimpan bahan makanan, mengambil sebungkus mi instan dan dua butir telur yang tersisa.

Ia menyalakan kompor portable, mengisi panci kecil dengan air, lalu mulai memasak dengan hati-hati. Tangannya bergerak cekatan, tapi tatapannya penuh kehangatan. Setiap gerakan seperti menyulam cinta ke dalam sarapan pagi.

Ia memecahkan telur, mengocoknya dalam mangkuk plastik, lalu menuangkannya ke wajan. Suara desis telur bersentuhan dengan minyak panas menjadi irama pertama pagi itu. Aroma sedap mulai memenuhi ruangan.

“Hmm… bau enak banget,” gumam Galan dari balik selimut, suaranya serak dan masih mengantuk.

Nayla menoleh sambil tersenyum. “Bangun, sayang. Sarapan dulu. Hari ini kamu harus tampil maksimal.”

Galan mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya bangun dan duduk di pinggir kasur. Ia menatap Nayla yang sedang menata dua piring kecil di atas meja lipat. “Kamu bangun sejak kapan?”

“Baru saja,” jawab Nayla. “Aku tahu kamu butuh energi. Hari ini penting, kan?”

Galan mengangguk pelan, lalu menatap tumpukan kertas di rak. Proposal bisnis yang ia susun selama berhari-hari, dengan semangat, cemas, dan harapan yang bertumpuk-tumpuk. Hari ini, ia akan mempresentasikannya ke calon investor kecil—bukan perusahaan besar, tapi cukup untuk menjadi batu loncatan.

Setelah sarapan, Galan bersiap. Ia mengenakan kemeja biru langit yang sudah disetrika Nayla malam sebelumnya, lalu mengambil jaket favoritnya. Tapi saat ia mencoba mengancingkan, satu kancing di bagian depan copot begitu saja.

“Ah,” keluhnya pelan, menghela napas. “Kancingnya copot. Jaket ini memang sudah tua…”

Nayla mendekat, mengambil jaket itu dari tangannya. “Kenapa nggak bilang dari kemarin? Ini penting, kamu harus tampil rapi.”

Galan mengangkat bahu. “Nggak sempat. Lagian, yang penting kan isi proposalnya, bukan jaketnya.”

Nayla menatapnya lama. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia duduk di lantai, membuka kotak kecil berisi benang dan jarum, dan mulai menjahit kancing itu dengan hati-hati. Setiap tusukan jarum ia lakukan perlahan, memastikan kancing itu terpasang kuat. Ia tahu, meski Galan tak mengatakan, pria itu gugup dan butuh semua dorongan kecil hari ini.

“Kalau kamu berhasil hari ini,” ucap Nayla sambil menjahit, “aku mau traktir kamu makan bakso di tempat langganan kita.”

Galan tertawa. “Bakso lima ribuan?”

“Kalau dapat investor, kita naik level—yang isi urat dan pakai sambal dua sendok!” balas Nayla dengan mata berbinar.

Tawa mereka pecah sejenak. Ringan, hangat, dan jujur.

Namun, setelah Galan pergi membawa proposal dalam map plastik bening dan secercah harapan, Nayla duduk diam di tepi ranjang. Ia menatap kotak perhiasan kecil yang selalu ia simpan di bawah bantal. Di dalamnya ada sebuah gelang emas tua—pemberian mendiang neneknya saat Nayla lulus SMA. Nilainya mungkin tak seberapa, tapi artinya sangat besar.

Namun pagi tadi, saat Galan memeriksa kertas proposalnya, Nayla melihat raut cemas di wajahnya. Kertas itu buram, hasil cetakan printer lama. Ia tahu Galan ingin mencetak ulang di kertas yang lebih tebal dan rapi, tapi uang mereka bahkan tak cukup untuk beli satu rim kertas premium.

Tanpa ragu, Nayla mengenakan jaket dan keluar.

**

Sinar matahari mulai menanjak ketika Nayla tiba di toko emas di pasar kecil. Ia menyerahkan gelang itu kepada petugas, lalu menerima uang tunai secukupnya. Ia tak menangis, tak menyesal. Karena dalam hatinya, ia tahu: pengorbanan kecil ini akan membawa mereka lebih dekat pada mimpi yang besar.

Dengan uang itu, ia membeli satu rim kertas kualitas tinggi, map presentasi yang elegan, dan bahkan sisanya ia simpan untuk membeli dua bungkus kopi instan favorit Galan—yang belakangan ini tak pernah mereka beli lagi.

**

Malam harinya, Galan pulang dengan langkah cepat, napas memburu, dan mata bersinar seperti anak kecil yang baru saja menemukan harta karun.

“Nayla!” serunya dari luar pintu. “Mereka tertarik! Kamu dengar itu?! Mereka tertarik!”

Nayla buru-buru membukakan pintu. “Serius?!”

“Mereka bilang idenya ‘segar dan ambisius’!” Galan menurunkan tasnya, lalu memeluk Nayla dengan penuh semangat. “Mereka bilang akan mempelajari lebih lanjut dan mengajak pertemuan lanjutan minggu depan!”

Nayla memeluknya erat. “Aku bangga padamu… Kamu pantas mendapatkannya.”

Galan menarik diri sebentar, menatap wajah Nayla. “Aku nggak akan bisa tanpa kamu. Tanpa dukunganmu, tanpa semangatmu…”

Ia melihat map presentasinya dan mengerutkan kening. “Kertas ini... kelihatan bagus ya. Lebih tebal. Aku bahkan lupa kapan beli ini…”

Nayla mengelak dengan senyum. “Kamu mungkin beli tanpa sadar waktu terakhir belanja.”

Galan masih menatapnya, curiga. Tapi ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Ia percaya Nayla, dan lebih dari itu—ia merasa dicintai tanpa syarat.

**

Malam itu, mereka makan bakso di warung pinggir jalan. Kursinya plastik, meja sedikit lengket karena kuah, tapi mereka duduk seperti raja dan ratu.

“Sambal dua sendok, ya?” kata Nayla ke penjual, membuat Galan tertawa.

“Kalau nanti investor setuju, kita makan di restoran,” kata Galan.

“Restoran? Wah… asal jangan restoran all you can eat. Bisa rugi mereka,” jawab Nayla bercanda.

Namun di balik tawa itu, Nayla tahu pengorbanannya bukanlah yang terakhir. Akan ada banyak hal yang harus mereka lepas untuk bisa membangun masa depan. Tapi ia juga tahu, selama mereka saling mendukung, kehilangan apa pun akan terasa ringan.

Dan di kamar kos kecil itu, saat malam kembali sunyi dan mereka berbaring berdampingan, Nayla menyadari satu hal penting: bahwa cinta yang benar tak selalu datang dengan bunga atau puisi, tapi dengan keberanian untuk berkorban, sekecil apa pun.

Ia membelai rambut Galan yang sudah mulai tertidur, lalu berbisik pelan di dalam hati:

"Aku akan terus di sini, sampai kamu berhasil. Karena impianmu, adalah impianku juga."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 355

    Surat itu datang di pagi yang cerah, dibawa oleh kurir bersetelan rapi. Nayla baru saja selesai menyiram tanaman ketika amplop putih bersegel kementerian itu disodorkan padanya.“Untuk Ibu Nayla Pradipta,” ujar kurir itu sopan.Nayla menerimanya dengan kening sedikit mengernyit. Jarang sekali ia mendapat surat fisik. Hampir semuanya kini digital. Tapi amplop ini—bersegel emas, dengan logo kementerian yang tidak asing—jelas berbeda.Ia membuka perlahan. Harra yang sedang makan roti di meja ruang makan memperhatikan dengan rasa ingin tahu.“Apa itu, Ma?”Nayla tidak langsung menjawab. Matanya membaca isi surat dengan hati yang tiba-tiba terasa berat.Program Nasional Pemberdayaan Perempuan Muda.Mentor utama.Kisah inspiratif.Percontohan ketahanan perempuan di sektor bisnis dan sosial.Kalimat-kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada tampak di kertas.Harra bangkit, berjalan menghampiri, lalu membaca dari samping. Bibirnya terangkat membentuk senyum yang ia coba tahan—tapi gagal.“

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 354

    Hujan semalam telah berhenti, menyisakan aroma tanah basah dan udara yang tenang. Kota masih dalam fase bangun—lampu jalan mulai padam satu per satu, dan suara kendaraan mulai terdengar perlahan di kejauhan. Di ruang kerjanya yang masih setengah gelap, Nayla duduk dengan secangkir kopi yang belum tersentuh.Ponselnya bergetar.Satu pesan masuk. Dari Alya.“Kamu akan melihat… dunia tidak selalu adil.”Tidak adaemoji, tidak ada tanda tanya, tidak ada jeda. Hanya kalimat dingin yang terasa seperti ujung dari sesuatu yang panjang.Nayla menatap layar itu lama. Dulu, pesan seperti ini bisa membuat hatinya bergetar—antara amarah, rasa bersalah, dan luka lama yang belum sembuh. Tapi kali ini, ia hanya membaca. Tanpa reaksi.Tangannya bergerak tenang, menekan tombol hapus pesan.Tidak dengan dendam. Tidak dengan kepuasan. Hanya… selesai.Ia menghela napas, menatap jendela besar yang memperlihatkan matahari pelan-pelan naik di balik gedung-gedung tinggi.“Dunia memang nggak selalu adil,” gumam

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 353

    Hujan turun tanpa jeda sore itu. Langit Jakarta gelap, seperti menyesuaikan diri dengan kabar yang memenuhi headline: “Alya Wijaya Diduga Menyebar Fitnah terhadap Tokoh Bisnis Muda, Nayla Rachman.”Di layar-layar televisi kafe, di portal berita, bahkan di grup-grup bisnis, nama Alya kembali menjadi bahan pembicaraan—bukan karena prestasi, melainkan karena kebohongan.Ia pikir, satu rumor kecil bisa mengguncang reputasi Nayla. Ia pikir dunia masih sama seperti dulu, ketika satu bisikan saja bisa mengubah arah opini publik. Tapi dunia telah berubah. Dan Nayla bukan lagi perempuan yang bisa dijatuhkan dengan gosip murahan.Alya duduk di halte kosong di pinggir jalan, menatap langit yang meneteskan air seperti mengolok-oloknya. Mantelnya sudah basah kuyup, rambutnya menempel di pipi, dan ponselnya berkali-kali bergetar—bukan panggilan bantuan, tapi notifikasi berita baru yang menulis ulang kebohongannya.Ia membuka satu per satu.“Alya Wijaya kembali gagal membersihkan nama.”“Nayla Rachm

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 352

    Angin sore membawa aroma tanah basah dari halaman rumah sakit. Langit baru saja berhenti menangis, tapi tanah masih menyimpan jejak hujan yang deras. Di salah satu bangku panjang dekat taman kecil rumah sakit itu, Nayla duduk dengan jaket abu-abu, menatap ke arah danau buatan yang permukaannya bergetar lembut diterpa angin.Langkah cepat terdengar dari arah belakang. Alya datang, mantel lusuhnya kini tampak lebih kusam karena air hujan, rambutnya berantakan, wajahnya letih. Tapi yang paling mencolok bukan penampilannya — melainkan matanya. Ada sesuatu yang baru di sana: bukan lagi amarah, melainkan kepanikan.“Aku butuh bantuanmu, Nayla,” katanya terburu-buru, tanpa basa-basi.Nayla menoleh pelan. “Bantuan apa?”Alya menelan ludah. “Perusahaanku… sudah di ujung. Investor mundur semua. Rekening dibekukan. Aku… aku nggak punya siapa-siapa lagi.”Suara itu nyaris pecah. “Kau tahu rasanya, kan? Ketika semua orang menjauh begitu saja.”Nayla menatap lurus, ekspresinya sulit ditebak. “Aku t

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 351

    Hujan turun pelan malam itu, membasahi halaman depan gedung rumah sakit. Lampu-lampu parkir memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal basah. Di bawah atap kecil dekat lobi, dua perempuan berdiri berhadapan—bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai.Alya masih mengenakan mantel lusuhnya. Rambutnya basah, bibirnya pucat, tapi matanya menyala—bukan oleh kehidupan, melainkan oleh amarah yang terlalu lama dipendam.Nayla berdiri tegak di depannya, tenang, dengan payung kecil di tangan kanan dan tatapan lembut yang tidak menghindar.Beberapa jam sebelumnya, keduanya sama-sama menerima kabar: Galan Prasetya, lelaki yang pernah mengikat dan menghancurkan keduanya, dirawat dalam keadaan kritis setelah kecelakaan di jalan tol. Dunia yang dulu mengikat mereka dalam lingkaran ambisi dan luka kini menarik keduanya kembali ke tempat yang sama.Dan di situlah, di depan pintu rumah sakit, semua yang tak pernah diucapkan akhirnya meledak.“Kenapa kamu datang?” suara Alya pecah di antara

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 350

    Langit sore itu memantulkan warna oranye lembut ketika acara kewirausahaan tahunan diadakan di aula besar Hotel Arya. Spanduk besar bertuliskan “Empowering Women in Business” terpasang di depan panggung. Musik lembut mengalun dari pengeras suara, sementara para tamu—pebisnis muda, investor, dan mahasiswa—berkumpul, menunggu pembicara terakhir naik ke panggung: Nayla Arindya, CEO perempuan yang belakangan ini menjadi simbol kebangkitan bisnis etis dan kepemimpinan empatik di tengah dunia korporat yang keras.Namun di luar gedung yang megah itu, di parkiran yang sudah mulai gelap, seorang perempuan berdiri terpaku di balik tiang beton. Mantelnya lusuh, rambutnya acak-acakan, dan kacamata hitam menutupi mata yang sembab. Di genggamannya, sebuah ponsel dengan layar penuh notifikasi—semuanya tentang dirinya.ALYA PRAMESWARI: BISNISNYA RESMI BANGKRUT, TERLIBAT SKANDAL MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN.INVESTOR MENARIK DANA, PROYEK BESAR GAGAL.Ia membaca judul-judul itu berulang kali, seperti in

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status