로그인Melihat keadaan tersebut, Rey akhirnya sedikit menghembuskan napas lega. Walau sejak awal dia bersikap tenang, dalam hati dia tahu pertarungan terbuka bukanlah pilihan yang bijaksana. Jika berhadapan langsung, peluang menangnya hampir tidak ada.Untungnya, kekuatan terbesar yang dimilikinya bukanlah duel frontal. Keahliannya terletak pada kemampuan bersembunyi, menunggu kesempatan, lalu menghabisi lawan dalam satu serangan mematikan. Semua itu berasal dari teknik siluman yang selama ini menjadi andalannya.Teknik Langkah Senya, selama teknik itu digunakan, bahkan kultivator yang memiliki tingkat kekuatan beberapa level di atasnya pun sangat sulit menemukan jejak keberadaannya. Karena keyakinan itulah, Rey percaya dirinya masih memiliki peluang mengalahkan Harris.Tatkala merasa waktu yang ditunggu akhirnya tiba, dia langsung bergerak.Whossh!Tubuhnya melesat tanpa suara dari belakang Harris, sementara belati di tangannya menebas lurus ke arah leher dengan kecepatan yang nyaris mustah
Ucapan itu langsung memicu kegemparan.Tatapan penuh keterkejutan dan rasa penasaran memenuhi arena.Semua mahasiswa mengetahui bahwa Universitas Arcapura memiliki seorang yang menduduki peringkat pertama, tetapi identitasnya selalu menjadi misteri. Tidak ada yang pernah benar-benar melihatnya, sehingga keberadaannya nyaris seperti legenda di dalam kampus.Dion dan Raditya, yang masing-masing menempati posisi kedua dan keempat, tentu mengenal Rey jauh lebih baik daripada siapa pun di tempat itu. Kemampuan silumannya benar-benar sulit dipercaya. Bahkan jika pria itu berdiri tepat di samping seseorang, keberadaannya tetap nyaris mustahil disadari.Mereka pernah beberapa kali menantang Rey untuk berlatih tanding. Namun hasilnya selalu sama, keduanya dikalahkan hanya dalam satu gerakan.Kekuatan Rey sudah berada pada tingkatan yang benar-benar berbeda dibandingkan para ahli bela diri lainnya di Universitas Arcapura. Kekuatan Rey memang sudah berada di tingkatan yang berbeda dibandingkan p
Tatapan dingin Harris membuat Raditya dan Dion tanpa sadar menegang. Tekanan yang dipancarkan pria itu terasa seolah mereka sedang berhadapan langsung dengan seekor singa jantan, memaksa naluri mereka memperingatkan bahaya.Dion menjadi orang pertama yang bereaksi. Ia segera mengangkat kedua tangan sebagai tanda tidak berniat menyerang, lalu berkata dengan nada hati-hati, "Harris, jangan salah paham. Kami datang bukan untuk mencari masalah.""Namun, Universitas Arcapura memiliki aturan mutlak yang melarang pembunuhan. Meski Bastian memang pantas menerima hukuman atas perbuatannya, dia tetap tidak boleh mati."Raditya yang berdiri di sampingnya langsung mengangguk membenarkan.Keduanya berbicara dengan sangat sopan karena sudah menyaksikan sendiri kekuatan Harris. Mereka sadar betul bahwa jika benar-benar bertarung, peluang menang nyaris tidak ada. Karena itulah, mereka berusaha menghindari kesalahpahaman yang dapat memperkeruh keadaan.Sikap hati-hati mereka segera menarik perhatian s
Raditya terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara datar. "Bukan sekadar melampaui. Jarak kekuatannya sudah terlalu jauh."Seandainya mendengar ucapan itu beberapa saat sebelumnya, Dion pasti akan menganggap Raditya sedang melebih-lebihkan. Namun setelah menyaksikan sendiri apa yang baru saja terjadi, ia benar-benar tidak memiliki alasan untuk membantah.Di atas arena, Harris sama sekali tidak memedulikan Arkan beserta tiga rekannya yang terkapar di luar arena. Seusai melepaskan cengkeramannya dari kepala Bastian, ia perlahan berdiri dengan ekspresi tetap setenang sebelumnya.Keadaan Bastian saat itu sudah mengenaskan. Seluruh wajahnya dipenuhi darah hingga bentuk hidung dan matanya nyaris tak lagi bisa dikenali, sementara setiap erangan yang keluar terdengar begitu lemah seolah nyawanya dapat putus kapan saja.Meski begitu, ketika Harris akhirnya melepaskan tangannya, Bastian tetap merasakan secercah kelegaan karena siksaan yang baru saja dialaminya akhirnya berhenti.Meski kondisin
Sementara itu, para penonton hanya bisa menggeleng pelan. Keempat orang yang menyerbu merupakan petarung papan atas Universitas Arcapura, sehingga serangan gabungan mereka nyaris mustahil dihindari.Dalam pandangan mereka, sekalipun Harris mampu bereaksi, hasil akhirnya tetap tidak akan berubah. Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik.Tepat ketika empat serangan itu hampir mencapai sasaran, Harris akhirnya bergerak. Bahkan tanpa mengangkat pandangan sedikit pun, ia hanya mengangkat sebelah tangan lalu mengibaskannya dengan santai ke arah mereka."Enyahlah!"WHOOSSHH!Gelombang energi yang mengerikan langsung meledak dari telapak tangannya dan menyapu keempat orang itu tanpa ampun.Ekspresi Arkan beserta tiga rekannya seketika berubah drastis. Sebelum sempat melakukan apa pun, tubuh mereka sudah terpental keluar arena seperti dedaunan yang diterjang badai, lalu menghantam tanah dengan keras."Ugh—!"Keempatnya memuntahkan darah hampir bersamaan. Wajah mereka memucat, napas menj
Selesai berteriak, Kayla menoleh ke arah Vina Lestari dengan senyum penuh kemenangan. "Bagaimana? Masih mau bilang Harris cuma omong besar?"Wajah Vina langsung memucat. Meski begitu, ia tetap menggertakkan gigi dan mendengus sinis. "Huh! Apa yang bisa dibanggakan? Bastian memang yang paling lemah di antara lima petarung terkuat Sentra Bela Diri Garuda Merah. Kalaupun Harris bisa mengalahkannya, bukan berarti dia sanggup menghadapi yang lain."Kayla hanya membalas dengan senyum mengejek. "Kalau begitu, buka matamu lebar-lebar dan lihat sendiri sampai akhir!"Di atas arena, kondisi Bastian kini benar-benar mengenaskan. Hidungnya remuk, seluruh giginya tanggal, wajahnya dipenuhi darah dan luka, bahkan beberapa bagian kulitnya telah robek akibat benturan bertubi-tubi.Kesombongan yang tadi memenuhi wajahnya telah lenyap tanpa bekas."Aaargh! Wajahku! Sakit... sakit sekali!"Bastian menjerit histeris. Darah terus mengucur dari wajahnya yang sudah nyaris tak berbentuk, sementara rasa takut
Entah kenapa, perasaan aneh tiba-tiba muncul di hatinya, seolah ada sesuatu yang sangat penting baru saja disentuh.Ia segera melanjutkan pertanyaannya. “Teknik apa?”Rudolf tidak terlalu memikirkannya dan menjawab dengan nada santai. “Segel Tanpa Wujud.”“Apa? Segel Tanpa Wujud?”Begitu mendengar
Senyum tipis muncul di bibirnya. “Rudolf, ada banyak hal yang belum kau ketahui. Aku dan kakakmu sudah saling mengenal sejak lama, dan aku pernah berjanji akan memberinya pernikahan paling megah. Sampai sekarang, aku tidak pernah melupakan janji itu.”Nada suaranya tenang, tetapi ada kerinduan yang
Setelah mendengar perkataan Harris, Rudolf benar-benar tercengang. Tatapannya langsung berubah tajam, seolah berusaha memastikan apakah pria di depannya sedang bercanda atau memang tidak waras.Bagaimana mungkin orang ini mengenal kakaknya?Evelyn sudah memasuki Sekte Cakrawala Arunika sejak usia m
Namun Harris sama sekali tidak memperdulikan hal tersebut. Pikirannya masih tertahan pada rasa familiar yang terus mengganggu sejak tadi.Ia menatap pemuda itu beberapa saat sebelum akhirnya bertanya langsung. “Siapa namamu? Rasanya kita pernah bertemu sebelumnya.”Pemuda berjubah putih itu tampak







