ANMELDEN"Bunuh mereka!" "Jangan biarkan satu pun lolos!" Ribuan Murid Elite langsung melesat maju. Cahaya Pedang, Tombak dan berbagai Artefak memenuhi udara. Boom! Boom! Boom! Ledakan demi ledakan terus mengguncang pegunungan hitam. Jeritan langsung terdengar dari pihak Sekte Iblis Darah. "Aaargh!" "Darahku!" Beberapa Murid Sekte Iblis Darah langsung terlempar setelah terkena serangan gabungan para Murid Elite. Darah muncrat memenuhi udara. "Bagus!" "Hancurkan mereka!" Tetua Feng tertawa puas dari atas kapal utama. Namun dia dan empat Tetua lainnya hanya berdiri menonton. Mereka tidak ikut menyerang. Misi kali ini memang ditujukan untuk melatih para Murid Elite
2 hari kemudian. Tiiing Tiiing... Lonceng di Halaman Utama dibunyikan dan menggema ke seluruh Istana. Mendengar suara Lonceng, para Murid Elite pun bergegas meninggalkan rumah mereka. Hanya dalam waktu yang singkat, 5 ribu Murid Elite telah berkumpul di Halaman Utama. Di tengah-tengah kerumunan itu, Lin Chen sang Murid baru juga berdiri di sana. Aura para Murid memenuhi langit dan Energi Qi berputar liar di udara. Di depan para Murid, 6 sosok Tetua berdiri di atas panggung batu giok. Salah satunya adalah seorang pria tua berjubah hijau dengan rambut putih panjang. Aura pria tua itu jauh lebih kuat dibandingkan Tetua yang lain. Dia adalah Tetua Feng dan salah satu Tetua Utama. Tatapan Tetua Feng menyapu
"Menarik." "Dia bersembunyi sangat dalam." Tetua Agung mulai tertarik pada Lin Chen. Ucapan itu membuat para Tetua lain saling menatap. Sudah sangat jarang Tetua Agung tertarik pada seorang Murid baru. "Beberapa hari yang lalu, Kaisar Yan mengirim surat ke Istana Dewa." Ucap Tetua Agung mengibaskan tangan dan gulungan emas melayang keluar. "Di dalam surat ini, Kaisar Yan memuji kontribusimu di perang antara Kekaisaran Yan dan Jing." "Kamu membantu mereka dan membunuh Tetua Darah Hitam dari Sekte Iblis Darah." "Kamu sudah membuktikan kalau kamu layak menjadi Murid Istana Dewa." Ucap Tetua Agung lagi. "Setelah menerima informasi darimu, Istana Dewa melakukan penyelidikan kesana." "Dan ternyata Sekte Iblis Darah yang menjadi dalang atas p
"Kita menang!" "Senior itu membunuh Tetua Darah Hitam!" "Kita menang!" Semangat pasukan Kekaisaran Yan pun langsung melonjak. "Pasukan Kekaisaran Jing mundur!" Sorakan kemenangan pun menggema dan mengguncang langit. Sebagian prajurit bahkan menangis karena berhasil selamat. Jenderal Luo juga menghela nafas panjang dan menatap Lin Chen dengan ekspresi rumit. Pemuda itu telah menyelamatkan pasukannya. "Terima kasih sudah membantu Kekaisaran Yan." Jenderal Luo mendekat dan menangkupkan tangan dengan hormat. Dia tahu kekuatan Lin Chen berada jauh di atasnya. "Aku hanya ingin menyelesaikan Misi dari Istana Dewa." Lin Chen menggeleng dan menyimpan Pedang Kembarnya. "Istana Dewa?" Jenderal Luo dan Jenderal yang lain pun terkejut. Ternyata pemuda itu adal
Seorang ahli berjubah merah baru saja mengangkat tombak untuk bertahan. Namun puluhan bilah Pedang langsung menembus dadanya. "Aaargh..." Teriaknya dan darah menyembur deras dari mulutnya. Belum sempat dia jatuh, ratusan bilah Pedang sudah menghancurkan tubuhnya hingga menjadi kabut darah. "Tidak mungkin!" Ahli lain meraung ketakutan. Dia mencoba melarikan diri ke belakang. Namun puluhan bilah Pedang langsung mengejarnya. Slash Slash... Kedua lengannya terputus dan kakinya hancur. Lalu kepalanya ikut terlempar ke langit dan darah menyembur juga. Setelah membunuh ahli itu, Lin Chen mengerahkan ribuan pedang dan membantai yang lain. "Aaargh... Aaargh..." Jeritan demi jeritan terus terdengar. Ribuan bilah Pedang bergerak di medan perang seperti Naga yang mengamuk.
Boommm!Di saat yang sama, seorang ahli dari Kekaisaran Jing melempar Jenderal Luo hingga menabrak tanah dengan keras."Jenderal!"Pasukan Kekaisaran Yan pun berteriak histeris di saat sang Jenderal terlempar."Mundur! Terus mundur!"Teriak sang Jenderal mencoba bangkit kembali."Hahahaha! Apa hanya ini kekuatan Jenderal Kekaisaran Yan?""Kalian terlalu lemah!"Tawa dari ahli Kekaisaran Jing pun menggema di udara."Bunuh mereka semua!"Tidak jauh darinya, Jenderal Kekaisaran Jing juga mengangkat tombaknya dan memerintahkan untuk terus maju.Bomm! Bomm!Ledakan kembali menggema dengan beruntun dan pertempuran terus berlangsung."Bantu mereka! Kita harus mempertahankan Kota!"Di saat yang sama, para ahli dan tentara bayaran juga menerjang ke depan.Bomm Bomm!Serangan mereka beradu dan menciptakan ledakan dahsyat.Sementara itu di dal







